
Kania mengerjap. Segala perkataan Drake mengundang otaknya berpikiran kotor. “Jangan mesum—Drake.”
“Siapa? Aku? Come on Kania—aku hanya ingin bilang makan ramen akan menghangatkanmu,” balas Drake dengan tawa. “Kau sudah berpikir macam-macam. Aku tidak menyangka—memangnya apa yang ada di kepalamu?”
“Haiissh.” Rutuk Kania turun dari pangkuan Drake. “Masak ramen sana! Aku ingin tidur!” Entah kenapa menjadi kesal seperti ini. Yang pasti Drake selalu bisa bermain-main dengan Kania.
Drake segera meraih tangan Kania. Memutar balikkan badan perempuan itu, lalu menyerbu bibir berwarna pink itu dengan ciuman. Bergerak memangut dengan lembut. Merengekuh pinggang ramping itu lalu memojokkannya ke tembok.
Mengukung dengan tubuhnya yang tinggi nan besar. Kania tidak akan bisa lepas dari Drake. Tangan besarnya merayap masuk ke dalam piyama yang digunakan Kania. Membelai punggung mulus itu, berhenti pada tali yang tipis yang menempel di sana. Kemudian menarik tali itu hingga lepas.
“Drake,” lirih Kania.
“Aku tidak akan berbuat lebih jika kau tidak menginginkannya,” balas Drake tepat di samping telinga Kania.
Mengecup lalu menghisap leher mulus Kania. Drake senang melakukannya karena sebagai tanda Kania hanyalah miliknya. Tangannya melepas tiga kancing teratas piyama yang sedang digunakan Kania. Menarik piyama itu lebih ke bawah, hingga bagian atas lebih terbuka dan menjadikannya lebih menggoda.
Drake mengangkat tubuh Kania sembari terus mencium bibir perempuan itu. Tubuh Kania dijatuhkan pelan di atas kasur. “Kau ingin aku berhenti sampai di sini?”
Kania membuka mata. “Aku…..” sama-sama dibutakan oleh gairah yang membara, Kania tidak tahu apakah ia yakin untuk berhenti.
“Jika kau ingin lanjut—aku tidak akan sampai memasukimu. Mungkin hanya sebatas make out.” Drake tersenyum tipis. Ia memang seorang pemain. Kania tidak akan disentuh jika bukan atas ijin dirinya sendiri.
Setelah berperang dengan ego dan pikirannya. Akhirnya Kania mengangguk. “Lanjutkan.”
“Kau yakin?”
Kania mengangguk. “Aku yakin.” Ia bahkan tidak memikirkan apapun sekarang. Kepalanya terlalu pening menerima segala sentuhan yang Drake berikan padanya.
Drake memberikan kecupan di dahi Kania sedikit lebih lama. Kemudian mengecup seluruh wajah Kania dan semakin turun. Tangannya melepas semua kancing, lalu membukanya. Menampilkan dalaman berwarna hitam yang sudah berantakan. Malam ini Drake menyentuh Kania lebih dalam. Malam ini akan menjadi malam yang tidak terlupakan bagi Kania. Di sentuh oleh pria atas ijinnya sendiri.
Desah Kania yang semakin terdengar di penjuru ruangan kamar ketika tangan Drake memainkan pusat dirinya di bawah.
“Drake….”
__ADS_1
“Yes—say my name, babe.”
~~
Memandangi wajah perempuan yang masih sedang terlelap. Kulit bersih dengan hidung mancung. Bibir yang pink secara alami. Bulu mata lentik dan pipi yang sedikit chubby membuat kania lebih cantik dibanding perempuan lain di luar sana.
Drake menyusuri wajah Kania. Membelai pipi Kania pelan. Menyingkirkan helaian rambut yang berantakan. Tak lama terjadi pergerakan. Perlahan tapi pasti sepasang mata terbuka, mengerjap pelan.
“Morning.”
Sapaan dari samping membuat Kania mengerjap. Segera ia membalikkan badan, memunggungi Drake. Malu! Kania tidak bisa menampakkan wajahnya di depan pria itu setelah kejadian semalam.
“Kau malu?” bisik Drake. Merengkuh tubuh Kania dari belakang. “Tidak usah malu—kau sangat seksi.”
Kania menggeleng. “Tinggalkan aku sendiri—please.”
“No. Aku akan tetap bersamamu sebelum aku pergi syuting.”
“Tidak.” Drake melancarkan aksinya dengan mengecupi punggung Kania berkali-kali. Tangannya juga tidak tinggal diam. Masuk ke dalam selimut dan membelai pinggang mulus itu berakali-kali. “Kau tahu aku sangat ingin melakukannya lagi—tapi aku tidak punya banyak waktu.”
“Drake,” lirih Kania.
“What?” Di balik mukanya yang datar, Drake menyimpan seringaian jahilnya. Dia senang melihat menjahili Kania. Melihat Kania malu-malu adalah hal yang menyenangkan.
Kania akhirnya membalikkan badannya. “Sepertinya kau harus segera berangkat.”
“Tidak sebelum aku memberitahumu perkataanku yang tidak kau dengar kemarin.” Sembari mengusap pipi Kania yang memerah berkata. “Aku tidak ingin melihatmu bersama pria lain—apalagi sampai disentuh. Aku tidak akan main-main untuk langsung menghajarnya di depanmu. Kau harus menjaga dirimu saat tidak ada aku.”
Kania menghela nafas panjang kemudian mengangguk.
Drake tersenyum tipis. Mendekat kemudian menyapukan bibirnya ke bibir perempuan yang sangat candu baginya. Tangan Kania mencengkram kaos yang digunakan Drake. Semakin erat saat Drake kembali menyapukan bibirnya ke lehernya. Berkali-kali memberinya tanda kepemilikan.
“Kania—aku lapar ingin memakanmu.”
__ADS_1
“Cepat pergi.” Kania mendorong tubuh Drake hingga pria itu terjadi di sampingnya. “Kau akan telat, Drake. Cepatlah pergi.”
“Jangan mengusirku, Kania.” Drake menoleh ke samping. Menunjukkan raut wajahnya yang terlihat kesal. “Aku akan semakin berlam-lama di sini jika kau semakin mengusirku.”
Kania menghela nafas. Memutar bola matanya jengah. “Terserah.” Menutup seluruh menaikkan selimut sampai seluruh tubuhnya. Kania enggan berhadapan dengan Drake. Terlalu lama bersama pria itu, justru semakin membuat darahnya tinggi. Awalnya rasa malu yang begitu mendominasi kini berubah menjadi rasa kesal.
“Kania.” Panggilan Drake yang berusaha menurunkan selimut itu. “Buka atau aku yang buka.”
“Tidak.”
“Jika aku yang buka. Aku tidak hanya membuka selimut itu, tapi juga pakaianmu.”
Ancaman Drake berhasil membuat Kania langsung berubah pikiran. Kania segera membuka selimut itu dan mendapati Drake tengah tersenyum.
“Pokoknya ingat ucapanku. Jangan berdekatan dengan pria lain. Atau aku akan membunuhnya.” Possesive Drake memang tidak terelakkan.
“Ya.” Singkat Kania setelah itu langsung berlari secepat kilat ke kamar mandi.
Drake tertawa pelan. Ia menatap pintu yang sudah tertutup itu. Well sampai sejauh ini—Kania masih menjadi wanita yang menarik baginya. Drake sendiri berharap Kania akan selalu menjadi wanita yang menarik.
~~
Mendumel berkali-kali. Tidak cukup dengan fondation berlapis-lapis untuk menutup Kissmark yang dibuat oleh Drake. Kania harus menggunakan syal agar lehernya tidak terlihat oleh orang kali.
“Sial—seharusnya dia tidak memberiku tanda sebanyak ini,” gerutu Kania di depan cermin. Tidak perlu takut—menggerutulah sebanyak mungkin karena Drake sudah pergi dan tidak tahu kapan kembalinya.
Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari sumber kekesalannya pagi ini. Mengenai tadi malam, sebenarnya ia sangat malu. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya—Kania ingin mengubur diri hidup-hidup. Rasanya sangat malu berhadapan dengan Drake lagi. Mereka saling menyentuh dan memuaskan satu sama lain.
“Kau memang gila—Kania!”
Menggeleng beberapa kali—menepuk pipinya dengan keras. Kania meringis pelan lalu mengambil ponselnya. Melihat pesan yang dikirim oleh Drake. Jangan terlalu banyak menggerutu atau aku akan menghukummu.
Kania menutup mulutnya. “Dia cenayang? Kenapa dia tahu?”
__ADS_1