
“Kania.”
“Joshua.”
Flory lebih dulu pergi, sepertinya wanita itu memang benar-benar sibuk menyapa teman-temannya yang datang. Terlihat dari raut wajahnya, Joshua tertarik dengan Kania.
“Kau bekerja di mana—Kania?” tanya Joshua.
“Aku punya bisnis kecil-kecilan.”
“Wow kau hebat. Biasanya wanita lebih memilih bekerja di perusahaan daripada membuat bisnis.”
Kania tersenyum. “Mempunyai bisnis sudah menjadi impianku sejak dulu.”
“Kau tidak ingin minum?”
Kania mengangguk. “Bir please.”
“Kau tidak ingin mabuk rupanya. Okelah—One Bir and one Vodka,” ucap Joshua pada Bartender.
“Jadi sudah berapa lama kau menjalankan bisnismu?”
Kania mengedikkan bahu. “Mungkin lebih dari 3 tahun.”
Joshua tersenyum. “Waah aku iri denganmu. Aku juga ingin mendirikan bisnis sendiri sepertimu. Tapi orang tuaku melarangku dan menyuruhku menjalankan bisnis mereka yang sudah ada.”
Kania tertawa renyah. “Orang tuamu tidak ingin kau kesulitan. Mendirikan bisnis sendiri tidak mudah. Karena aku mulai benar-benar dari bawah—aku merasa sangat lelah dan hampir menyerah. Jatuh berkali-kali menjadi makananku sehari-hari.”
“Buktinya kau berdiri sampai saat ini. Itu sebuah pencapaian—Kania.”
“Thank you. Kau positive vibe sekali,” Kania menerima segelas berisi cairan bir. Meski ragu ia tetap meminumnya. Begitu menerpa tenggorokkannya Ia menyipitkan mata merasakan ada sebuah rasa baru yang terlalu pekat.
“Sepertinya kau tidak terbiasa minum—right?”
Kania mengangguk. Bukan jarang lagi—bahkan ini pertama kalinya ia minum minuman berakohol.
Seorang wanita datang. Tersenyum licik. Di tangannya membawa sebuah gelas berisikan anggur. Langsung mendekati Joshua.
“Hai Josh, kau terlihat sangat tampan malam ini,” ucapnya.
__ADS_1
Lalu dengan tiba-tiba minuman itu goyah dari tangan Laura, kemudian terjatuh begitu saja mengenai rok yang digunakan Kania. “Ups sorry aku tidak sengaja.”
‘Oh ****!’ umpat Kania dalam hati. Roknya yang berwarna krem terkena cairan berwarna merah. Bayangkan saja seperti apa warna Roknya saat ini. Seperti sedang kelunturan pewarna. Jika bukan di tempat umum, pasti ia sudah memarahi perempuan ****** di depannya ini.
“Kania—kau tidak apa?” tanya Joshua. “Kau keterlaluan, Laura.” Menatap wanita itu dengan raut marah.
“Its okay, Joshua. Aku akan pergi ke toilet sebentar.”
“Aku akan mengantarmu.”
“Tidak perlu.” Kania lebih dulu pergi. langkahnya tergesa-gesa mencari keberadaan toilet. Lalu saat sudah sampai, toilet hanya tersisa satu dan itupun telah tertutup. Keluar dengan kecewa. Kania mencegat seorang pelayan yang akan mengantar minuman.
“Permisi, selain di sini ada toilet lain?”
“Anda bisa menggunakan toilet lantai dua, tiga atau empat, nona. Karena toilet lantai satu memang sedang dalam berbaikan.”
“Thank you.”
Kania memutuskan naik ke lantai atas. Tidak sempat melihat apapun, ia langsung masuk ke dalam toilet. Menatap pantulan dirinya di depan cermin. Menghembuskan nafas lelah melihat roknya.
Beberapa kali mengusap roknya tapi tetap saja cairan merah itu tidak bisa hilang begitu sajaa. Mendengar derit pintu yang tertutup membuat Kania menoleh. Tubuhnya kaku mendadak. Pandangannya hanya terpusat pada seorang pria yang tengah menatapnya dengan tajam.
“Yes its me,” jawab Drake. Tangannya dari belakang bergerak mengunci pintu toilet. Kemudian berjalan ke arah Kania yang semakin menghindarinya.
“Bagaimana kau ada di sini?” tanya Kania pelan. Panik, karena melihat tatapan tajam Drake. Mata mereka beradu, saling memecahkan pertanyaan yang berada di kepala masing-masing.
“Sudah puas bersama laki-laki lain hm?”
Kania menghela nafas. “Belum.”
Rahang Drake mengeras. “Kau berani bermain di belakangku? Lagi-lagi kau membiarkan pria lain menyentuh dirimu. Kira-kira hukuman apa yang pantas untukmu?” Drake mengukung tubuh Kania membentur wastafel.
Tangannya perlahan menyusuri paha Kania. “Kau bahkan berani menampilkan lekuk tubuhmu pada orang lain. Kania—kupastikan kau menerima hukuman yang sangat berat malam ini.”
Kania mencoba mendorong tubuh Drake. “Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan.”
“Sssst.” Jari telunjuk Drake menyentuh bibir Kania. “Bibirmu ini tidak kuperbolehkan melawan ucapanku apalagi melawan perintahku.”
“Kau bisa berbuat apapun sedangkan aku tidak boleh? Kau lupa? Kau menjadikanku kekasih bukan jalangmu.”
__ADS_1
“No—aku menjadikanmu milikku. Hampir mirip dengan kekasih, babe. Namun kenyataannya berbeda. Aku berhak mengatur milikku. Namun milikku tidak berhak melawanku apalagi mengaturku.” Drake menyelipkan tangannya ke belakang, punggung Kania yang terbuka. Mengusapnya perlahan. Memegang sebuah tali tipis.
Kania menggeleng. “Jadi aku sama saja dengan jalangmu di luar sana?”
Drake menghirup leher Kania. Mengendusnya dengan rakus. “Aku tidak pernah bilang. Tapi jika kau memang menganggapnya seperti itu aku bisa apa?”
“Kau bajingan Drake!” sekuat tenaga Kania mendorong Drake. Memukul dada pria itu, namun akhirnya berhenti kemudian menatap Drake dengan pikiran yang sudah kacau. “Hukum aku—aku jalangmu bukan?!” tanyanya dengan sendu.
Drake mengangkat tubuh Kania hingga berada di atas Wastafel. Menyusuri wajah cantik yang membuatnya uring-uringan malam ini. “No—aku tidak ingin menghukum jalangku. Tapi aku ingin menghukum milikku. Kania sadarkan dirimu. Kau milikku, lebih berharga dari seorang ****** sewaan.”
“Bagiku sama saja.” Tangan Kania meraih tangan Drake, diarahkan tangan besar pria itu menyentuh pinggangnya. “Bukankah tubuh ini milikmu? Kenapa kau ragu sekarang?” tannyanya.
Tangan Drake yang sudah berada di pinggang Kania kini mencengkram dengan erat, membuat sang empu sedikit meringis. Matanya menggelap. Lebih tajam lagi, Drake tentu tidak akan melepaskan Kania malam ini dengan mudah.
“Kau telah membangunkan sisi iblisku—Kania. Kupastikan malam ini kau akan terus memohon untuk berhenti.”
Setelah mengucapkan kalimat yang membuat bulu kuduk Kania merindik serentak, Drake memulai aksinya. Mencium ganas bibir Kania. Melesak masuk ke dalam, mengabsen rentetan gigi rapi wanitanya. Tangan Drake tidak tinggal diam, melepaskan tali tipis yang sedari tadi ingin sekali langsung dirobeknya.
Usai puas membuat Kania kehabisan nafas. Beralih pada leher jenjang wanita itu. Menghisap dan menggigit menimbulkan kemerahan yang nantinya pasti akan berbekas.
“You like it, babe?” bisik Drake.
Kania merutuk dirinya sendiri. Tidak bisa berbohong jika sentuhan yang diberikan Drake menyiksanya sekaligus nikmat. Ia juga membenci dirinya sendiri karena tidak bisa melawan telah diperlakukan layaknya ******.
“Drake!” pekik Kania saat Drake berhasil merobek rok pendeknya. Namun apa, Drake langsung menyumpal pekikan Kania dengan ciumannya.
Kemudian menggendong tubuh Kania. Memasuki salah satu bilik wastafel. Duduk di atas toilet yang tertutup, dengan posisi Kania berada di pangkuannya. Drake memeluk Kania dari belakang. Mengecup punggung polos itu berulang kali.
“Drake….”
Tangan Drake tidak tinggal diam begitu saja. Tangannya bergerak menyentuh setiap inci tubuh atas Kania yang polos tanpa balutan kain.
“Yes, call my name.”
Melakukan tugasnya dengan benar. Drake menyentuh bagian terdalam Kania. Membuat Kania benar-benar pusing merasakan pelepasannya yang terus menerus ditunda Drake.
Pada akhirnya Drake kembali menyentuh Kania lebih dalam. Kania tidak bisa menopang tubuhnya lagi—ia hanya bisa pasrah saat Drake memeluknya. Menyampirkan jas besar pria itu ke tubuhnya. Membungkus tubuhnya yang dingin dengan tubuh hangat pria itu.
“Jangan lakukan kesalahan yang sama atau aku akan menghukummu lebih berat lagi.” sebuah bisikkan yang masih didengar Kania.
__ADS_1