Obsesi Sang Aktor

Obsesi Sang Aktor
Pertemuan


__ADS_3

Semua berjalan sesuai semestinya. Kania kembali bekerja. Mengenai Rani dan Leo. Hubungan mereka tidak terputus begitu saja. Terkadang mereka masih mengirim pesan satu sama lain. Kania tersenyum melihat foto Leo yang tengah menangis karena tidak mau belajar.


Kania menutup ponselnya dan menyimpannya di dalam saku. Ia kemudian mengambil tasnya, berjalan keluar dari ruangannya. Sampai di luar kantor, ia melihat mobil putih yang tidak asing sedang terparkir tepat di tempatnya berdiri sekarang.


Seorang laki-laki keluar dari mobil itu. Siapa lagi yang memakai kacamata hitam di malam hari jika bukan kakaknya. Aji Bamantara berjalan dengan percaya diri menggunakan kacamata hitamnya.


Hampir saja terpeleset jika Kania tidak cepat memegang lengan kakaknya. “Sudah kubilang jangan memakai kacamata hitam di malam hari.”


“You know fashion? This is fashion,” balas Aji.


Ia membuka kacamata hitamnya perlahan. Seperti slow motion, dia sengaja memamerkan pesonanya. Sekali lagi Kania dibuat geleng-geleng kepala dengan sikap kakaknya. Tidak cukup sampai disitu saja, bahkan kakaknya itu dengan sengaja menyugar rambut agar terlihat lebih keren.


“Astaga… ini bukan tempatmu untuk tebar pesona. Pegawaiku tidak ada yang tertarik denganmu.”


Aji tertawa pelan. “Mereka semua bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya dariku. Kamu bilang mereka tidak tertarik?” memang benar jika pegawai Kania yang masih baru saja keluar dari kantor tidak segan untuk berhenti dan menatap kakaknya yang menurut mereka sangat tampan.


“Lihat! Bu Gina tidak tertarik denganmu.” Tunjuk Kania pada seorang wanita yang baru saja keluar dari kantor.


“Dia sudah ibu-ibu beranak. Dia ditunggu suaminya pulang. Untuk apa tertarik padaku, yang benar saja,” kesal Aji.


Kania tertawa. “Lalu untuk apa kau ke sini?”


“Bunda memintamu memperkenalkan Drake.”


“Kenapa Bunda tidak meminta langsung? Kenapa harus lewat darimu dulu?”


“Bunda berusaha memberitahumu, tapi kau selalu berbelit-belit dan akhirnya bunda tidak jadi. Mangkanya Bunda menyuruhku memintaku memberitahumu langsung dengan jelas.”


Kania menghela nafas. “Aku tidak yakin bisa membawa Drake bertemu dengan orang tua kita. Hubunganku dengan dia…”


“Jadi kau bertepuk sebelah tangan?” tanya Aji. Dari raut wajahnya terlihat ingin sekali mengejek Kania. “Jadi selama ini kau yang mengejar dia? Kania-Kania… coba kau pasang susuk saja agar dia mau denganmu.”


Kania berdecak. “Aku tidak suka hal-hal mistis.”


“Aku yang akan membayar dukunnya jangan kawatir. Kau hanya perlu berangkat.” Aji semakin tertawa puas membuat adiknya marah.


“Hentikan. Kau sungguh membuatku kesal.” Kania menendang kaki kakaknya. “Pergi dari sini.”


Aji meringis pelan. “Kau harus menjelaskan pada Bunda. Jika tidak bisa bilang saja hubunganmu dengan Drake tidak sedekat itu.”


“Aku akan mencoba melakukannya.”

__ADS_1


Aji melirik sebuah mobil hitam yang sedari tadi tidak ada pergerakan. Padahal mobil itu baru saja masuk area parkir. Kania tidak menyadarinya karena terlalu fokus berbicara. Tapi Aji tahu jika ada seseorang yang berada di dalam mobil itu sedang mengawasi mereka.


“Mau aku bantu?”


“Maksudmu?”


“Ada dua tipe pria. Ada pria yang langsung mengungkapan isi hatinya, ada juga pria yang memendamnya lebih dulu lebih tepatnya gengsi. Mungkin dia tipe gengsi. Pria akan mengungkapkan perasaannya jika merasa terancam.”


Kania sulit sekali mencerna perkataan kakaknya. “Berbicaralah lebih jelas.”


“Tunggu.” Aji memeluk Kania.


“Yaaaa!” Kania ingin melepaskan pelukan kakaknya.


“Drake melihat kita. Dari sikapnya—aku yakin dia tidak tahu jika aku kakakmu.” Aji menepuk pelan bahu Kania.


Aji melepaskan pelukannya. Kemudian mencium dahi Kania.


“Yaaa! Dahiku ternodai!” Kania menggosok dahinya.


“Ayo ikut aku.” Aji menarik lengan Kania.


“Ayo—Kania!” sentak Aji. Semakin menarik lengan Kania dengan paksa.


Langkah tergesa-gesa seorang pria. Pria itu langsung menghajar Aji begitu saja. Drake—ya itu memang Drake. Dikuasai oleh perasaan cemburu, dia langsung menghajar Aji yang seenaknya memeluk, mencium dan menyeret Kania.


BUGGH


Drake meninju Aji sampai tersungkur ke bawah. “Jangan berani-berani menyentuh Kania.” Peringat Drake.


Aji menggeleng. Menyuruh Kania agar diam saja tidak usah membantunya. Aji berdiri, ia menatap Drake. “Memangnya kau siapa? Apa hubunganmu dengan Kania?”


“Kania is mine. Jangan menyentuhnya.” Drake menggenggam lengan Kania.


Aji tertawa. “Kalau Kania barang, aku juga bisa memilikinya. Jangan ucapanmu.”


Drake menarik kerah leher Aji. “Jangan berkata sembarangan atau akan membunuhmu!”


“Selagi Kania tidak mempunyai hubungan dengan siapapun. Aku berhak mendekatinya. Aku mengagumi Kania sudah lama. Sekarang sudah waktunya aku memperjuangkan wanita yang aku cintai.” Aji menatap Kania. “Kania adalah wanita yang kuyakini menjadi calon ibu dari anak-anakku.”


Perkataan Aji membuat Kania mual. Ia bergidik ngeri. Bagaimana jika Aji sering berkata seperti itu pada wanita lain untuk merayu. Kakaknya itu memang pemain.

__ADS_1


“Kau benar-benar tidak tahu malu. Aku akan membunuhmu. Kania hanya akan bersamaku. Tidak ada pria lain yang bisa merebutnya dariku.” Drake bersiap akan meninju Aji. Namun Kania lebih dulu menahannya.


Tidak bisa dibiarkan. Aji itu tidak terlalu bisa berkelahi. Jika Kania diam saja—Aji bisa saja dilarikan ke UGD karena babak belur dihajar Drake.


“Dia kakakku.”


Ucapan Kania membuat Drake terdiam sebentar. “Apa?”


“Dia memang sengaja memancingmu, Drake.”


Drake menatap Aji. Segera melepaskan cengkramannya dengan canggung. Ia mundur beberapa langkah dari Aji.


“Benarkah?” tanya sekali lagi Drake pada Kania. “Dia benar-benar kakakmu?”


Kania mengangguk. Ia meringis pelan. Mengambil tisu di dalam tasnya, kemudian melemparnya santai ke arah Aji. “Usap darahmu sendiri. Jangan menangis.”


“Dasar tidak ada sopan-sopannya.” Aji mengambil tisu itu. Menyeka sudut bibirnya yang mulai berdarah karena tonjokkan dari Drake. “Kau lumayan pintar mengotrol dirimu sendiri.” Aji menatap Drake.


Sekarang Drake merasa tidak enak sendiri. Ia membungkuk. “Maaf. Saya tidak tahu jika anda adalah kakak Kania.”


Aji tertawa. “Tidak usah sekaku itu.”


“Sekali lagi, Maaf.” Drake membungkuk sekali lagi. Untung dia tidak jadi menghajar Aji lagi. Bisa-bisa tidak mendapat restu dari kakak Kania.


Sebagai ucapan permintaan maaf. Drake mengajak kaka Kania makan malam bersama. Mereka berada di sebuah restoran yang cukup terkenal. Tidak ada basa-basi, Drake tidak bisa ramah pada orang yang baru ditemuinya sekali.


“Jadi kalian berkencan?” tanya Aji.


Kania mengedikkan bahu.


Drake melirik Kania sebentar. “Bisa dibilang seperti itu.”


Aji tertawa pelan. “Jaman sekarang, hubungan tanpa status lebih populer. Tidak heran melihat kalian.”


“Kau sendiri? Apa kau juga menjalani hubungan seperti itu juga?” tanya Kania. Aji ini suka mencari tahu hubungan orang lain. Tapi saat orang lain ingin tahu hubungannya—Aji akan menutup mulut rapat-rapat tidak akan membiarkan siapapun mengetahui hal lebih tentangnya.


“Hei jangan membahasku.” Aji menuangkan minuman berakohol itu di gelas Drake. “Tidak ada yang menarik dengan diriku. Lebih baik membahas kalian berdua saja.”


“Thank you.” Drake mengangkat gelasnya. Begitupun dengan Aji. Mereka bersulang dengan ringan.


“By the way apa yang kau sukai dari adikku?”

__ADS_1


__ADS_2