
“Kania,” panggil Flory dengan hati-hati.
Kania yang awalnya hanya berdiam diri kini membalikkan badannya. Tidak ada sahutan namun Kania masih menatap Flory yang tersenyum ceria padanya.
“Aku bawa buah jeruk kesukaanmu—bagaimana kalau kau mencicipinya,” cerocosnya. “Kau tahu sendiri aku tidak pintar memilah jeruk, jadi maafkan aku jika jeruk pilihanku tidak sesuai dengan sleramu.” Tangannya menaruh kantung berisi jeruk di atas nakas.
“Kania—jangan diam saja,” keluh Flory mendekat. Ia memegang tangan Kania. “Bicaralah padaku—Kania. kau marah denganku?” tanyanya meneliti wajah Kania yang menirus.
Flory mencak-mencak sendiri dengan keterdiaman Kania. “Kaniaa….” Rengeknya. “Ayo berbicaralah padaku. Jangan diam saja—Bestie.”
Kania mengerjap kemudian mengangguk. “Aku—“
Flory langsung memeluk Kania. “Aku ingin menangis—kumohon aku tidak ingin melihatmu menderita.”
Perlahan Kania membalas pelukan Flory. “Hm,” gumamnya.
Flory melepaskan pelukannya, beralih mencubit kedua pipi Kania bergantian. “Ututu kau semakin tirus—itu impianmu sedari dulu. Tapi menurutku kau lebih baik chubby saja, lebih lucu. Kau harus makan—Kania. Aku akan memasakanmu setiap hari.”
Kania menggeleng. “Jangan! Masakanmu tidak enak, Flo.”
“Aku bisa memasak air dan mie instan. Tapi demi kau aku akan belajar masak mulai sekarang. Kau mau apa? rendang? Soto? Bakso? Atau seblak? Aku bisa memasaknya dalam rasa sarimie.”
Kania sedikit tertawa. “Aku tidak mau,” jawabnya.
Flory senang akhirnya Kania bisa tersenyum lagi. tangannya bergerak menggelitik pinggang Kania. “Rasakan. Kau senang bukan mengejekku?”
“Stop—Flo.” Kania berusaha menghindar. Ia mengambil bantal dan menimpukkannya pada Flory. Melihat make up Flory yang terjiplak di bantal membuatnya tertawa.
“Kania,” geram Flory. Ia mengambil bantal dan tidak ragu menimpuknya juga pada Kania. “Rasakan.”
“Awh,” ringis Kania pelan. Tak mau kalah ia menimpukkan bantal lagi hingga sekarang rambut Flory berantakan—seperti singa bangun tidur.
“Kania,” jerit Flory frustasi.
Bukannya merasa bersalah—Kania justru semakin tertawa lebar menikmati kekesalan Flory. Memegangi perutnya yang terasa keram akibat terlalu banyak tertawa. Kania mengangkat tangannya. “Game over aku pemenangnya,” ucapnya.
Flory mendekat—spontan Kania menjauh, takut Flory akan menyerangnya lagi. namun Flroy justru memeluknya erat. “Kaniaku kembali—MUACH.” Dengan lancangnya Flory langsung mencium pipi kiri Kania.
“Iyuhh,” cibir Kania menghindar.
__ADS_1
~~
Berada di sebuah perusahaan ketiga paling berpengaruh. Drake berada di ruangan sang Direktur. Tidak ada pilihan lain selain datang ke sini. Hukum berpihak pada kekuasaan bukan korban.
“Aku ingin kau mencabut semua sahammu di perusahaan Wiratama.”
“Hei santai, dude. Kenapa kau terburu-buru,” balas Duke. Ia menaruh kedua tangannya ke dalam saku dengan santai.
“Kau pemegang saham terbanyak di sana, Duke. Jika kau mencabut sahammu—mereka akan hancur.”
“Tidak semudah itu—Drake. Kau tahu perusahaanku telah lama bekerja sama dengan perusahaan kecil itu.”
“Aku tidak peduli.” Mata Drake menggelap. “Aku ingin orang yang menyakiti Kania hancur. Hukum di negeri ini selalu berpihak pada kekuasaan. Mentang-mentang aku menutup kasus ini dari media—mereka dengan seenaknya tidak memberikan hukuman yang setimpal pada bajingan itu.”
Duke mengangguk. “Aku mengerti—tapi mereka masih bisa bertahan dengan penanam modal lainnya.”
Drake menaruh kedua tangannya di saku. “Aku tahu. Aku menyuruh mereka mencabut modalnya dan sebagai gantinya aku akan menanam modal ke perusahaan masing-masing mereka dengan nominal yang jauh lebih banyak.”
Duke menepuk bahu Drake pelan. “Kau mengeluarkan banyak uang—Drake. Bagaimana jika setelah ini kau menjadi miskin?” tanyanya sembari terkekeh. Pertama kalinya melihat Drake dibutakan dengan cinta.
“Tidak akan,” jawab Drake cepat. “Jika kau mencabut sahammu di sana, aku akan menjadi investor terbesar di proyek terbarumu.”
“Kau serius?” tanya Drake memastikan. “Dua bulan lalu aku menawarimu dan kau menolak karena terlalu beresiko dan sekarang kau serius untuk melakukannya?”
“Oke deal. Besok kupastikan Wiratama hancur.”
Sekali lagi sebagai peringatan jangan pernah membuat marah seorang Drake. Drake bisa melakukan apapun untuk menghancurkan lawannya.
Malam hari—Drake sudah sampai di sebuah rumah sakit. Langkahnya ringan untuk bertemu seorang wanita yang membuatnya kacau. Di tangannya nampak ada bunga Daisy. Masuk perlahan di dalam ruang inap wanita yang kini sedang tertidur.
Drake mendekat. Menaruh bunga itu ke dalam vas di atas nakas. Ia meraih tangan Kania. Mengecupnya perlahan. “Aku akan membuat bajingan itu hancur karena berani menyakitimu,” lirihnya.
Tak lama Kania terlihat ngos-ngosan. Keringat membanjiri wajahnya. Lalu bangun dengan nafas yang terengah.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Drake. Ia segera mengambil segelas air.
Kania menggeleng. Tanpa menjawab pertanyaan Drake dahulu, ia meneguk air itu perlahan.
Drake menghela nafas. Ia tahu—Kania masih takut, namun enggan memberitahunya. Tangannya terulur mengusap puncak rambut Kania pelan.
__ADS_1
“Iam here—Kania. Jangan takut. Aku akan selalu menjagamu.”
Kania menatap Drake. Sorot matanya terlihat keraguan. Drake mengepal. Kania miliknya tidak seperti ini. Kania selalu menatapnya dengan berani—matanya nyalang setiap kali berhadapan dengannya. Tapi Kania sekarang—lemah, sorot matanya menunjukkan betapa rapuhnya dirinya.
“Sejauh mana dia menyentuhmu?” Drake mengambil duduk di samping ranjang Kania.
Kania menggeleng.
“Aku akan menghilangkannya.” Drake mendekat, mencoba menyatukan dahinya dengan Kania. Tapi Kania lebih dulu menolak—mundur hingga membentur sandaran ranjang. “Kania—aku Drake.”
“Aku Drake, Kania.” pelan Drake mencoba meraih pinggang Kania. Saat Kania mulai melemah, ia berhasil membawa tubuh Kania di pangkuannya.
“Lihat aku,” ucap Drake. Menyelipkan helaian rambut Kania ke belakang. Jujur saja Drake tidak pernah selembut ini pada perempuan lain selain Kania. “Kau tahu? Aku sangat benci kau selalu mengingat sentuhannya dari pada sentuhanku.”
Drake mencium pipi Kania. “Aku ingin ingatanmu hanya dipenuhi olehku. Biarkan aku menghilangkan jejaknya.”
“Drake…” lirih Kania.
“Yes babe?” Drake beralih mencium kening Kania.
Drake menarik tengkuk Kania dan mencium bibir wanita itu. Pelan—selembut mungkin agar tidak menyakiti Kania. Drake benar-benar memperlakukan Kania seperti Berlian, berharga namun rapuh.
“Drake?” lirih Kania memejamkan mata.
“Yes, Babe.” Drake masih melancarkan aksinya. Pelan ia mengusap pinggang Kania. “Sejauh mana? Hm?”
“Drake…..”
“Ya?” Drake perlahan membuka kancing baju rumah sakit yang dikenakan Kania. Menyisakan pakaian dalam merah yang menggoda.
Kania membuka matanya dan langsung menatap Drake. “Iam yours.” Kania ingin selalu memastikan jika pria yang kini menyentuhnya adalah Drake. Hanya boleh Drake.
“Yes your mine.” Drake hanya mengira-ngira sejauh mana bajingan itu menyentuh Kania. Ia membuka lembaran kain-kain yang digunakan Kania.
Pada akhirnya ia menyentuh Kania. Lebih berhati-hati dari sebelumnya. Ia membaringkan tubuh Kania saat perempuan itu terengah-engah akibat perbuatannya.
“Kania—lihat aku.” Drake mengusap wajah Kania. “Mulai hari ini ingatanmu hanya boleh tentangku. Tentang aku dan kamu, jangan mengingat hal lain.”
Drake memeluk Kania. Menjadikan lengannya sebagai bantalan. “Ingat semua yang kulakukan padamu,” bisik Drake tepat di samping telinga Kania. “Aku—Drake Cole.”
__ADS_1
Kania sendiri hanya diam. Tapi tidak dengan tubuhnya. Ia meringsek semakin masuk ke dalam dekapan tubuh besar Drake.
“Tidurlah.” Drake menepuk pelan bahu Kania.