Ozzy, Sang Jendral 423

Ozzy, Sang Jendral 423
Bab 24


__ADS_3

Star berlari lurus melewati lorong rumah sakit tanpa perduli akan mengganggu orang lain. Baginya kini jauh lebih penting mengetahui keadaan laki-laki idamannya, Ozzy sang jendral 423.


Lari Star terhenti saat dia melihat Dewa yang tengan berdiri mematung dengan pandangan kosong dan terlihat begitu sendu di ruang instalasi gawat darurat di sebuh rumah sakit terdekat dari arena pertarungan Ozzy dan Dante.


Dengan langkah pelan Star mendekat ke arah Dewa dan meremas tangan Dewa untuk menguatkan dirinya sendiri.


“Bagaimana keadaan Ozzy?“


Dewa sempat tersentak saat menyadari kehadiran Star di tempat itu namun Dewa pun tak menjawab pertanyaan Star itu.


“Wa, gimana keadaan Ozzy?“ sekali lagi Star mengajukan pertanyaan.


Dewa melangkah dan membiarkan Star melihat sendiri keadaan Ozzy saat ini.


Kini Ozzy tengah terbaring di atas sebuah tempat tidur dengan darah masih merembes keluar dari kain kasa yang menempel di luka pada perutnya.


Ozzy juga masih menutup kedua matanya dan berbaring tanpa pakaian bagian atas namun di tutupi dengan selimut.


Namun wajah Ozzy terlihat begitu pucat hingga bibirnya pun terlihat pecah-pecah dengan bercak darah yang masih terlihat walau juga jelas bahwa luka itu sudah dibersihkan oleh pihak rumah sakit.


Star yang melihat kondisi Ozzy tak mampu menahan air matanya yang merembes membasahi wajahnya yang cantik.


“Kok Ozzy begini, wa?“ tanya Star dengan wajah memerah.


“Star, lo harus sabar,” Dewa berusaha menenangkan Star.


“Ozzy ini kenapa, kok wajahnya pucat banget?“ tanya Star lagi.


Dewa meremas lembut bahu Star dan kembali berkata, “Star, lo harus sabar.“


“Ini Ozzy kok dari tadi ngga bergerak? Gue ngga lihat perutnya bergerak?“ tanya Star lagi seolah tak mendengar apa yang dikatakan oleh Dewa.


“Star lo harus sabar.“

__ADS_1


“Gimana gue bisa sabar kalau Ozzy kayak gini? Gue ngga mau kehilangan Ozzy, gue cinta sama Ozzy dan dia belum sempet mendengar perasaan gue ke dia,” Star menaikan volume suaranya namun beberapa detik kemudian teriakan itu berubah jadi tangisan yang kencang.


Dewa yang tidak memprediksi apa yang akan dilakukan oleh Star tentu saja kelabakan menenangkan Star.


Dewa sempat berpikir untuk memeluk dan menenangkan Star namun dia tahu bahwa sebenarnya Ozzy juga menyukai Star berusaha untuk melawan keinginannya itu.


Tangis Star memang sudah mereda namun kini berganti isak yang tak bisa dia tahan sambil menggenggam tangan Ozzy.


“Jangan nangis terus, kasihan pasien yang lain nanti terganggu karena tangisan kamu.“


Star lalu mengangkat kepalanya dan mengusapnya dengan kasar saat mendengar kata-kata yang ternyata berasal dari Ozzy.


“Ak— aku pikir kamu… “


“Kamu pikir aku mati?“ ujar Ozzy sambil tertawa kecil lalu kemudian mengernyitkan dahinya karena merasakan sakit dibagian perutnya.


Star yang menyadari sakitnya Ozzy langsung panik dan meminta Dewa memanggilkan tenaga kesehatan.


“Mas Ozzy ngga kenapa-kenapa kok, cuma perlu di jahit lukanya sama dipasang labu darah karena memang lumayan banyak darah yang keluar,” perawat itu memberi informasi sambil tersenyum.


“Apa perlu operasi sus?“ tanya Star dengan rasa khawatir.


Perawat itu kembali tersenyum kembali dan berkata, “Luka mas Ozzy memang cukup dalam namun tidak mengenai bagian vital jadi hanya perlu operasi kecil.“


Star menghela nafas panjang sebagai pelepasan segala rasa resah yang menyesakan dadanya beberapa menit ini.


“Tapi bukan berarti ini baik-baik saja ya de. Akan lebih baik untuk mas Ozzy tak lagi melakukan hal ini,” lanjut perawat itu sambil memasangkan infus yang mengalirkan darah.


“Baik suster, saya akan berusaha memberitahu Ozzy,” jawab Star.


“Tolong ditunggu ya. Kami masih menyiapkan ruangan perawatan untuk mas Ozzy, kalau ada apa-apa bisa panggil saya,” ujar perawat itu sambil tersenyum manis.


“Baik suster, terima kasih banyak,” jawab Star.

__ADS_1


Ozzy kemudian mengambil tangan Star saat perawat itu sudah meninggalkan mereka, Ozzy pun berkata, “Tadi aku dengar kamu suka sama aku?“


Wajah Star memerah saat mendengar pertanyaan dari Ozzy itu. Dia tak menyangka harus mengakui perasaannya.


“Entah kamu sudah tahu atau belum tapi sesungguhnya aku sudah lama suka sama kamu,” lanjut Ozzy dengan wajah yang memerah juga.


“Apa kamu lagi nembak aku?“ tanya Star menahan rasa malunya.


“Apapun namanya tapi intinya aku mau jadi pacar kamu. Apa kamu mau jadi pacar aku?“ tanya Ozzy.


Star menundukan kepalanya berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah dan berkata pelan, “Aku mau.“


Mendengar itu tentu saja Ozzy merasa bahagia. Tak dirasakannya lagi rasa sakit di bagian perutnya karena semua terasaa indah.


“Menurut kamu apakah kalau aku tetap jadi jendral 423 masih boleh?“ tanya Ozzy setelah keduanya telah bersepakat menjadi sepasang kekasih.


“Maksud kamu, kamu masih mau melanjutkan jabatan kamu sebagai jendral 423?!“


Ozzy menganggukan kepalanya dengan pelan sebagai jawaban dari pertanyaan dari Star itu.


Star menatap tajam mata Ozzy yang masih terbaring sambil menahan rasa sakit di perutnya. Tatapan itu pun membuat Ozzy tak berani menatap mata Star.


“Tahukah kamu Ozzy, ternyata aku bangga memiliki pacar yang seorang jagoan. Yang disegani banyak orang,” ujar Star.


“Apakah maksud kamu, kamu mengizinkan aku untuk tetap jadi jendral perang 423?“


“Asal jendral perangnya setia,” jawab Star sambio tersipu malu.


“Tentu saja!“ jawab Ozzy dengan senyum lebar yang tergambat di wajahnya.


Dan akhirnya Ozzy kembali memimpin pasukan sekolah 423 dengan gagah berani dan semakin disegani oleh para lawan setelah menghancurkan Dante di akhir masa jabatannya.


Begitu pun Star yang juga dilindungi oleh para anggota pasukan sekolah 423 dari segala ancaman yang mungkin terjadi padanya.

__ADS_1


__ADS_2