
Neo sudah tidak kuat lagi. Nafasnya habis. Dia duduk di pinggir menyaksikan Vio, Jet dan Jag masih berlari mengelilingi hall. Neo malu pada Vio. Vio anak perempuan. Kakinya pun cacat. Vio berlari dengan memakai kaki palsu. Wajah Vio terlihat masih segar walau telah berputar delapan kali. Tapi Neo pun sadar, dia seorang pemula. Vio memang memerintahkan untuk ikut ekstrakurikuler bela diri. Tidak ada murid yang ikut ekstrakurikuler ini kecuali mereka. Sebenarnya Neo ingin ikut ekstrakurikuler musik karena Ceri ada di sana. Tapi ikut ekstrakurikuler ini merupakan bagian dari persiapan misi.
Pembimbingnya Pak Wiro. Dia guru olah raga. Seorang guru muda yang enerjik. Sedikit kontroversi karena rambutnya dibikin mohawk. Dia adik dari ibu angkat Jag, Mimi dan Mitu. Pak Wiro yang melatih Vio tenaga dalam untuk bisa berjalan normal dengan kaki palsu. Juga melatih Mimi dan Mitu untuk bisa berjalan seimbang dengan dua badan.
Pak Wiro menyuruh Neo istirahat. Neo pun duduk di tribun, menyaksikan Vio, Jet dan Jag menyelesaikan putaran ke sembilan. Mereka bertiga benar-benar terlihat bersiap untuk sebuah misi yang berat. Hingga Neo ingat hari-hari di minggu ini mereka berempat selalu membicarakan orang kelima untuk masuk ke dalam misi. Mereka telah memilih beberapa kandidat. Ada Jojo, anak paling cerdas dan berprestasi di kelas. Ada Pingka, cewek tomboy sahabat Prita yang jago basket. Ada Dru sepupunya Ceri. Lalu ada Alfa, anak yang baru masuk beberapa minggu lalu. Anak ini seumuran SD tapi cara bicaranya melebihi orang dewasa. Vio melihat suatu saat ada kekuatan besar yang akan tumbuh di tangannya.
Selesai jam ekstrakurikuler, mereka berempat berkumpul sebentar di depan gedung olah raga. Tapi Neo heran. Dia mengira mereka akan masih membicarakan orang kelima di dalam misi. Vio, Jet dan Jag seperti
membicarakan hal lain yang Neo tak tahu. Mereka banyak menyebut Pulau Mercusuar. Jet bilang hari Minggu besok satu-satunya kesempatan karena air laut sedang surut. Vio juga antusias karena Jag sudah bisa teleport sendiri. Berarti besok mereka bisa pergi bertiga. Lalu mereka bertiga memandangi Neo yang berdiri kaku tak tahu menahu.
“Kamu nggak apa-apa kan Neo besok sendirian di rumah?” Spontan Jet bertanya.
Neo hanya mengangkat alis, tak tahu harus jawab apa.
“Kamu ikut aja Neo.” Vio merasa tak enak, Neo tak bergabung dengan mereka.
“Gimana caranya? Dia kan belum bisa teleport,” ungkap Jet.
“Nanti biar Neo diantar sama Pak Udin aja ke dekat pelabuhan.” Vio menjelaskan. “Dari sana dia bisa minta perahu nelayan untuk anterin ke Pulau Mercusuar.”
“Emang ada yang mau anterin ke Pulau Mercusuar?” sanggah Jet.
“Kalau dikasih uang pasti mau,” kata Vio yakin.
***
Hari Minggu cerah. Dari kaca mobil Neo lihat hanya awan tipis yang menghalangi biru langit. Pak Udin sengaja mencari pesisir yang banyak perahu bersandar.
Neo dibantu Pak Udin bernegosiasi dengan para nelayan. Tapi sampai penawaran 300 ribu, tidak ada nelayan yang mau mengantar ke Pulau Hantu. Mereka menyebut pulau yang ada mercusuarnya itu Pulau Hantu. Pulau itu dekat. Tapi tak ada satu nelayan pun berani mendekat ke sana. Ada cerita pembantaian tentara Belanda di pulau itu. Ada cerita pasangan yang bunuh diri. Ada cerita mercusuar tua itu menyala sendiri beberapa hari lalu. Dan Neo tahu siapa yang membuat mercusuar itu menyala. Hingga penawaran mencapai 500 ribu, seorang nelayan menyanggupinya.
Angin kencang mulai terasa saat perahu menjauh dari daratan. Suara mesin yang bising membuat Neo tak menikmati perjalanan. Dari tadi nelayan bejampang itu tak berhenti memperhatikan Neo. Ada anak aneh buang uang 500 ribu hanya untuk ke pulau kecil yang tak seorang pun ingin ke sana. Tapi Neo tak peduli. Toh itu uangnya Vio.
Beberapa kali perahu oleng dihantam ombak. Neo was-was berpegangan badan perahu. Sementara di depan pulau-pulau kecil mulai terlihat. Mercusuar tampak kecil di ujung pulau terdekat.
Pulau itu kecil. Neo bisa lihat pantainya putih. Pepohonan lebat tumbuh di tengahnya. Di ujungnya yang landai, mercusuar tua tampak berdiri kokoh. Nelayan sudah mematikan mesin. Perahu pun bergerak lambat ke arah pantai. Dasar laut berpasir terlihat di air yang jernih. Sampai nelayan itu terjun ke air, menarik perahunya hingga tersandar ke pasir.
Neo memberikan uang pada nelayan, menyuruhnya menunggu di situ. Nelayan itu ragu. Dia tidak berani. Tapi akhirnya menyanggupi. Dia hanya akan diam di atas perahu.
__ADS_1
Hamparan pasir yang Neo lewati mulai menanjak. Rimbunan pohon ada di depan. Pohon-pohon itu terlihat tua dan bersulur. Dari tempatnya berjalan, Neo sempat melihat ujung mercusuar yang kini tampak dekat. Temboknya tebal. Di beberapa retakannya terlihat batu bata yang berlumut.
Pandangan Neo masuk ke dalam mercusuar. Dia melihat tangga yang sudah rusak. Tak mungkin orang bisa naik. Banyak anak tangga telah hancur. Di bagian atas, Ada accu yang tampak baru, terhubung dengan kabel ke lampu mercusuar. Jet dan Jag mungkin yang membawa accu itu untuk menyalakan lampunya.
Tanah yang Neo pijak mulai menurun saat melewati batang-batang pohon. Neo berusaha menjaga keseimbangan karena akar-akar yang berpagutan keluar dari tanah itu berlumut dan licin. Walau banyak jajaran pohon menghalangi, Neo bisa melihat ada laguna di sana. Airnya biru jernih, pasirnya putih bersih. Vio, Jet dan Jag terlihat memakai baju berenang, berendam di air sebatas dada. Di tengah pemandangan yang membuat Neo takjub, mereka bertiga terlihat riang.
Begitu melihat Neo muncul dari batang-batang pohon, Jet dan Jag bergegas keluar dari air meninggalkan Vio. Mereka berlari di atas pasir menyambut Neo. Mereka tahu, Neo membawa ransel isinya penuh snack dan makanan yang Vio siapkan. Jet memakai kaca mata berenang warna hitam. Dan kini Neo bisa melihat tangan Jag yang berbulu dan kukunya yang hitam runcing.
Tikar pun dipasang. Semua isi ransel dikeluarkan. Mereka berempat sibuk melahap semua makanan yang tergelar. Vio sempat menerangkan pada Neo, jika sedang pasang air di laguna ini menyatu dengan laut lepas. Tapi Neo tak sabar untuk merasakan air jernih yang memantulkan biru langit itu. Dia melepas bajunya, berlari menyibak air dan menjatuhkan dirinya ke alam yang bak surga buatnya.
Berempat mereka berbagi ceria di alam yang tak terjamah manusia. Hingga matahari mulai condong ke barat. Vio mengingatkan Neo bersiap untuk balik ke perahu tumpangannya. Tapi saat Neo balik ke pantai dia mendarat, perahu itu tidak ada di sana. Si nelayan telah meninggalkannya.
Situasi menjadi gawat. Neo tak bisa teleport. Bisa saja Jet menjinjing Neo seperti yang pernah dia lakukan. Tapi ini jarak yang jauh. Guru-guru pasti akan mengetahuinya. Dan mereka
bisa dihukum di tengah taman melakukan meditasi sampai sore selama seminggu. Bisa juga sebulan.
Lama mereka terdiam tanpa bisa mengambil keputusan. Hingga matahari sudah di ujung barat. Jet sedikit menyalahkan Vio yang punya ide mengajak Neo. Tapi Neo yang minta maaf, seharusnya waktu itu dia memilih untuk tinggal di rumah Vio.
“Apa boleh buat.” Vio buka suara. “Kita tidak punya pilihan. Terpaksa kita harus bawa Neo dengan teleport.”
***
Neo, Vio, Jet dan Jag berdiri kaku di depan meja Bu Raihan. Mata mereka tertumbuk ke lantai. Tadi pagi di kelas, mereka mendapat perintah untuk menghadap kepala sekolah seusai jam sekolah. Telinga mereka telah cukup panas mendengar teguran keras dari Bu Raihan.
“Kalian disini dididik untuk menjadi bijaksana menggunakan kemampuan kalian.” Suara Bu Raihan keras dan tegas. “Jangan sekali-sekali melanggar peraturan karena itu bisa membahayakan diri kalian ataupun orang lain. Dan jangan sok jagoan. Kalian disini masih butuh pembimbing.”
Empat orang murid ditengarai telah menggunakan kemampuan yang belum boleh dilakukan tanpa bimbingan. Mereka disuruh mengakui perbuatannya. Tapi mereka berempat masih bungkam, termasuk Neo. Neo heran, kenapa mereka tidak mengaku saja. Neo jadi ikut bungkam karena merasa bersalah telah memutuskan ikut ke Pulau Mercusuar kemarin.
Bu Raihan menggebrak meja. Kasabarannya sudah habis. Tidak ada gunanya saling melindungi untuk perbuatan yang tidak baik, katanya. Hingga seseorang masuk ke ruangan. Laki-laki seumuran Bu Raihan. Rambutnya putih, baju dan celananya putih, memakai sandal. Neo ingat saat dapat pesan di surat waktu dia menerobos masuk Jakarta International Paranormal Academy. Orang itu sepertinya yang memberikan pesan padanya.Waktu itu Neo hanya melihatnya dari belakang. Kini Neo bisa melihat wajahnya yang tenang. Orang itu berbicara pelan pada Bu Raihan. Bu Raihan tampak sangat menghormatinya. Lalu dia mengajak Bu Raihan agak menjauh. Mereka terlihat serius berdiskusi. Kemudian orang itu berjalan menghampiri empat anak yang masih berdiri tak bergerak dari tempatnya. Sementara Bu Raihan keluar dari ruangannya.
“Saya dengar kalian telah melanggar peraturan.” Suara orang itu berat tapi lembut.
Neo melirik ketiga temannya yang makin menunduk. Tampaknya mereka lebih takut pada orang ini dari pada Bu Raihan.
“Kalau kalian tidak mengaku, tidak masalah buat saya. Karena saya tahu, kalian bertiga dari dulu memang bandel. Kecuali anak baru ini. Saya yakin dia masih polos.” Orang itu mendekati Neo. “Saya yakin dia anak yang baik. Dia akan berkata jujur.”
__ADS_1
Lalu orang itu menyuruh Vio, Jet dan Jag menunggu di luar. Dan mengajak Neo ke ruangannya.
Ruangan itu kosong, kecuali ada sebuah meja dan kursi di tengah. Setelah menutup pintu, orang itu memandangi Neo yang masih berdiri.
“Saya tahu namamu Neo,” kata orang itu. “Disini saya sering dipanggil Pak Hud. Waktu JIPA ditutup, saya dan Bu Raihan punya inisiatif mendirikan sekolah ini. Itu setelah ada tawaran dana dari Pak Robby, bapaknya Vio.”
Neo kira akan langsung disemprot dengan teguran keras.
“Sekarang jawab pertanyaan ini,” kata orang itu sabar. “Apakah kalian menggunakan teleport kemarin?”
Neo diam sejenak. Lalu dia menggelengkan kepala.
“Kami tidak menggunakan teleport.” kata Neo datar.
Orang itu mengangguk pelan. Lalu menyuruh Neo kembali pada tiga temannya. Mereka diijinkan pulang.
“Tolong jaga tiga temanmu itu.” Orang itu berpesan sebelum Neo keluar ruangan.
Vio, Jet dan Jag heran memandangi Neo. Mereka tak percaya Neo bisa keluar begitu saja dan mereka tidak mendapat hukuman. Sebelumnya mereka yakin Neo pasti akan mengakui perbuatan mereka.
“Pak Hud itu orang yang ngasih pesan agar kamu datang ke sini. Dia itu bisa baca pikiran orang. Masak sih dia nggak ngasih hukuman.” Jet masih tak percaya.
Neo hanya mengangkat bahu. Dia juga bingung. Tapi itulah kenyataannya.
“Kamu nggak bohong sama kami kan Neo?” tanya Vio.
“Untuk apa aku bohong sama kalian.” Neo balik tanya.
Spontan Jet memeluk Neo erat. “Kamu hebat Neo. Kamu bener-bener temenku,” katanya.
Lalu Jag pun melakukan hal yang sama. “Terima kasih Neo,” katanya. Itu pertama kali Jag bicara pada Neo.
Vio memandangi mereka bertiga. Dia benar. Neo adalah anak yang akan menyatukan mereka.
***
Hari-hari berikutnya di Paranormal Academy jadi lebih baik buat Neo. Dia sudah tak mempermasalahkan anak lain menganggapnya anak pembantu. Karena kini Vio yang berubah. Vio lebih menghargai orang lain. Dia lebih perhatian pada Bi Tumi dan Pak Udin. Dan Vio telah menyuruh Pak Udin untuk menyimpan foto ibunya bersama dia dan adiknya yang dipasang di dinding ruang keluarga ke gudang di belakang rumah.
Neo, Vio, Jet dan Jag sering makan nasi goreng buatan Neo bersama di rumah Vio. Mereka selalu ketagihan nasi goreng Neo. Dan Neo pun sudah tak memikirkan bapaknya. Dia lupa Jakarta. Kini dia sering teringat Ceri.
__ADS_1