
Jam di dinding kamar menunjuk angka 12. Neo terbaring di bawah selimut. Dingin AC dan kasur empuk membuatnya cepat mengantuk. Apalagi setelah perjalanan dari Jakarta. Dalam mata terpejam, terlintas bagaimana dia telah bertemu teman-teman barunya. Tak terpikirkan bagaimana dia datang ke sini mencari sekolah baru hingga muncul misi yang diceritakan Vio. Cerita Vio sungguh masih di luar jangkauannya. Saat ini dia coba untuk menerima apa adanya. Badannya yang letih membuat otaknya susah berpikir. Tapi di ambang tidur, sayup dia dengar suara. Neo terjaga dari kantuknya. Dia mendengar suara perempuan menangis. Suara itu dari ruang sebelah. Dengan sedikit konsentrasi, Neo membiarkan pandangannya menembus dinding. Ruang remang di sebelah terlihat seperti ruang keluarga. Hanya lampu kecil di meja yang menyala. Tapi Neo bisa melihat seorang anak perempuan ada di sana. Anak itu duduk di kursi roda. Neo menambah konsentrasi, memperjelas pandangannya. Dan betapa kagetnya dia setelah bisa mengenali wajah itu. Anak di kursi roda itu Vio. Walau gelap, Neo bisa melihat kedua kaki itu cacat hanya sebatas lutut. Vio pakai celana pendek. Neo bisa melihat bekas amputasi. Neo belum percaya, dia amati lagi wajah itu. Ya benar, dia Vio. Matanya tergenang air hingga membasahi pipi. Dia sesenggukan menatap sebuah foto besar di dinding. Foto seorang ibu muda diapit dua anak kecil. Salah satu anak kecil itu wajahnya mirip Vio.
Neo membuka mata ketika sinar lembut menerpa wajahnya. Bi Tumi sedang membuka korden hingga cahaya pagi
masuk ke kamar. Neo pun beranjak dari pembaringannya.
“Tidur aja kalau masih ngantuk Mas Neo,” kata Bi Tumi sembari melap meja di dekat jendela.
“Udah nggak ngantuk Bi.” Neo basa basi.
Di jendela yang terbuka, hamparan kota terlihat luas di bawah fajar. Juga taman di lantai bawah dan salah satu sudut kolam renang. Neo sengaja menembuskan pandangannya ke dinding dekat jendela. Hingga kolam renang dengan jernih air yang memantulkan biru porselen leluasa dia lihat. Lalu seorang anak perempuan yang telentang di atas balai. Vio dengan baju renang
terlihat menikmati suasana pagi. Kali ini jelas Neo melihat kedua kaki Vio yang cacat hanya sebatas lutut.
“Kaki Vio kenapa Bi?” Neo bertanya polos.
“Ya itu Mas Neo. Waktu itu sekeluarga pergi naik mobil, kecelakaan. Sampai mama dan adiknya Mbak Vio meninggal.” Bi Tumi bercerita sembari masih melap meja. “Mbak Vio sama bapaknya selamat. Tapi kaki Mbak Vio harus diamputasi. Sekarang Mbak Vio pakai kaki palsu.”
“Kejadiannya udah lama ya Bi?”
“Itu waktu Mbak Vio masih SD. Sebenarnya Mbak Vio udah tahu kalau akan ada musibah kecelakaan itu.” Suara Bi Tumi serius. “Mbak Vio kan bisa melihat kejadian yang akan datang. Tapi mama sama papanya selalu nggak percaya. Waktu itu Mbak Vio sudah sampai nangis-nangis nggak mau ikut. Tapi bapaknya malah marah-marah.” Bi Tumi menghentikan ceritanya.
__ADS_1
“Foto di ruang sebelah itu foto ibunya Vio ya Bi?”
“Iya, itu foto Mbak Vio sebelum kecelakaan sama mamanya, juga sama adiknya.” Sepertinya Bi Tumi tidak sanggup bercerita lagi. Dia melap air di mata dengan bajunya.
Neo pun tak bertanya lagi. Dia yakin Bi Tumi tak pernah tahu, saat tengah malam Vio menangis di depan foto ibu dan adiknya itu.
Neo turun ke lantai satu, menemukan jalan ke taman luas. Hingga Vio terlihat di seberang kolam renang berbaring di balai. Vio sudah memakai sunglass-nya. Matahari telah muncul, sinarnya memantul di permukaan kolam.
Saat Neo mendekat, Vio masih tak bergeming dengan posisinya. Kehadiran Neo tak sedikitpun mengusik Vio
yang mulai merasakan hangatnya pagi, bahkan saat Neo duduk di balai sebelah Vio. Neo pun berusaha tak mengganggu Vio. Juga berusaha tak terlihat memperhatikan kedua kaki Vio yang teramputasi sebatas lutut. Tapi memang Neo sedang menemukan pemandangan di bawah sana. Dari area kolam renang, kota tampak kecil sampai berbatas laut. Matahari pagi muncul dari garis laut di sana. Neo tak menemukan mercusuar di pulau-pulau yang tampak kecil. Dan di sekitar rumah Vio terhampar bukit-bukit yang dijejali rumah-rumah mewah.
“Orang yang tinggal di sekitar sini semua orang kaya.” Suara Vio memecah hening. “Banyak orang jahat dari Jakarta membawa uangnya ke sini. Di atas sini banyak orang kaya. Di bawah sana banyak orang miskin. Tapi kejahatan dimana-mana bentuknya sama aja.”
“Bapakmu juga orang kaya?” Nada pertanyaan Neo datar.
“Papaku membangun rumah ini bersamaan dengan pembangunan Paranormal Academy di Hutan Ular. Setelah JIPA ditutup, papaku punya inisiatif mendanai pendirian sekolah itu. Sekarang pembangunannya masih tahap satu.”
“Bapakmu semua yang mendanai pembangunannya?” Tanya Neo belum percaya.
“Iya. Setelah kecelakan itu, papaku begitu perhatian dengan masalahku. Sebelumnya, beberapa kali aku harus periksa ke psikiater. Sekarang dia percaya penuh dengan yang aku punya. Waktu aku memutuskan sekolah di Paranormal Academy, papaku sangat mendukung.”
Neo diam, membayangkan seberapa kaya bapaknya Vio.
__ADS_1
“Kemarin aku melatih tenaga dalam untuk memakai sepatu roda dengan kaki palsu.” Vio melepas sunglass-nya, memandangi kakinya yang sebatas lutut.
“Tenaga dalam?” Neo belum mengerti.
“Iya. Nanti diajarkan di kelas dua. Tapi aku sudah dapat latihan intensif untuk bisa berjalan normal dengan kaki palsu.” Vio menggerakkan badannya. Dia berusaha untuk duduk.
Neo manggut-manggut. Pantas waktu itu dia tak mengira sedikitpun kalau Vio pakai kaki palsu.
“Kenapa Jet nggak pernah melepas kacamatanya?” Neo jadi penasaran pada hal lain.
“Matanya nggak bisa menerima sinar langsung.” Jawab Vio datar.
“Terus, kenapa Jag pakai sarung tangan?” Neo Tanya hal lain lagi.
“Tangannya berbulu. Kukunya hitam dan runcing.” Vio seperti biasa saja menceritakan hal yang tak biasa.
Sebenarnya banyak hal lain yang ingin Neo tanyakan. Tapi Vio sudah menggerakkan badannya. Tampaknya Vio hendak turun dari balai. Neo jadi was-was. Karena dengan kaki cacat, Vio terlihat sedikit kewalahan. Neo ingin membantu, tapi dia urungkan. Vio seperti telah biasa melakukannya. Tangan Vio menumpu pinggir balai sampai badannya mendarat ke ubin. Lalu dengan menggunakan tangannya, Vio bergerak ke pinggir kolam. Neo beranjak dari duduknya, karena Vio benar-benar sudah di pinggir kolam dengan badan yang telah condong ke air. Neo tercekat. Vio dengan sengaja menjatuhkan dirinya ke kolam. Neo pun berteriak memanggil Vio, menyaksikan tubuh Vio tenggelam bersama air yang berdebur. Tapi sebelum kepanikan Neo berlanjut, Vio terlihat muncul dari air. Dia menggerak-gerakkan tangannya, berenang dengan gaya punggung. Walau dengan kaki buntung, Vio terlihat bisa mengapung di air. Senyumnya melebar melihat wajah Neo.
“Ini nggak pakai tenaga dalam,” seru Vio. “Aku sudah berlatih lama.”
Neo masih mematung di pinggir kolam. Dia takjub, sekaligus heran, sekaligus merasa tertipu habis-habisan.
“Ayo lompat ke air. Ini hari Minggu,” teriak Vio dari tengah kolam.
“Aku nggak punya celana berenang.” Neo balas teriak.
__ADS_1
“Udah, pakai yang itu aja.”
Tanpa pikir panjang Neo membuka bajunya. Menyisakan celana pendek kekecilan pinjaman dari Vio. Jarang-jarang dia berenang di kolam yang bagus. Dia sudah membayangkan akan seharian ada di kolam. Ini pagi yang menyenangkan. Tak terlintas sedikitpun cerita misi Vio tadi malam. Neo pun melompat, menjatuhkan dirinya ke air yang berdebur.