Paranormal Academy

Paranormal Academy
Hari Pertama di Paranormal Academy


__ADS_3


Neo menghitung ada 20 bangku. Dua bangku di belakang kosong. Dia ada di ruang kelas, duduk di belakang Vio. Vio yang menyuruhnya duduk di situ. Juga menyuruh Jet dan Jag bergeser ke belakang. Posisi Neo di baris paling kiri. Tapi perhatiannya tertuju ke bangku paling depan di baris paling kanan. Karena Ceri ada di sana. Anak berkulit pucat berambut merah itu tampak telah siap menunggu guru datang. Neo sengaja memutar pandangannya. Hingga dia dapat melihat lagi mata yang bening itu.


            Neo menggeser pandangannya ke belakang. Ada anak perempuan memakai jaket kulit. Rambutnya sepunggung, bagian depannya putih, seperti dicat warna putih. Neo jadi ingat salah satu superhero wanita kelompok X-men di komik Marvel. Lalu persis di sebelah Ceri, ada dua anak perempuan duduk di satu bangku. Neo pun harus menahan rasa kagetnya saat sengaja menembuskan pandangannya melewati bangku-bangku. Dari perut ke atas, anak itu terlihat dua orang. Tapi perut ke bawah mereka satu. Neo pernah baca berita tentang bayi lahir kembar siam. Tapi yang ini sudah besar.


            Lalu Neo lihat di bagian belakang ada anak yang kulitnya sangat hitam. Di belakangnya lagi ada anak yang sangat tinggi. Lalu ada anak yang mulutnya selalu komat-kamit. Ada anak yang tidur di bangku. Selebihnya banyak anak memakai baju putih dan berdasi hitam seperti yang dipakai Vio dan Jet.


            Tak berapa lama seorang guru wanita masuk. Umurnya sekitar 50-an. Rambutnya digulung ke atas. Garis-garis wajahnya tegas, setegas sikapnya. Spontan ruang kelas jadi hening. Tapi dia hanya sebentar berdiri di depan. Begitu melihat Neo, wajahnya berubah heran. Lalu dia mendekat ke bangku Neo.


            “Kamu anak baru?” suaranya tegas bertanya pada Neo.


            Neo yang masih kaku hanya bisa mengangguk.


            “Dia tinggal di rumah saya. Dia anak pembantu di rumah.” Vio menyela. Dia sengaja bohong. “Dia punya kemampuan lebih, makanya saya suruh sekolah di sini.”


            Guru itu pun menghampiri Vio,


            “Dengar ya nona! Bukan berarti kamu anak donatur sekolah ini, kamu dapat berbuat seenaknya.” Wajah guru itu bertambah galak. “Semua ada prosedurnya. Saya kepala sekolah di sini. Saya punya kewajiban memastikan semua peraturan di sekolah ini dijalankan dengan benar.”


            Vio hanya diam. Dia terlihat tak suka tapi berusaha pasrah.


            Lalu guru itu beralih ke Neo, menyuruh Neo mengisi data administrasi di kantor usai jam sekolah. Juga memerintah Neo maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri. Suara Neo terbata di depan anak-anak yang belum dikenalnya. Sebenarnya lebih karena Neo merasa malu. Entah kenapa dia harus mengakui cerita bohong Vio. Anak-anak di depan Neo mengenalnya sebagai anak pembantu. Apalagi Neo bisa lihat, Ceri selalu memperhatikannya.


            Sebelum memulai pelajaran Dasar Dasar Metafisika, guru itu meminta murid-murid memperhatikan benar berita yang akan disampaikannya. Karena mulai hari ini murid-murid dilarang keluar pagar sekolah. Ada berita tentang ditemukannya mayat tak dikenal tak jauh dari Hutan Ular. Polisi sedang mengusutnya. Murid-murid diminta waspada. Karena bisa jadi hal ini berhubungan dengan pihak-pihak yang tidak suka dengan Paranormal Academy.


            Jam 2 siang, Neo selesai dengan kertas-kertas isian data dirinya. Dia mencari meja kepala sekolah untuk mengembalikan kertas-kertas itu. Saat kebingungan di ruang guru, Neo bertemu Bu Sari. Ibu itu terlihat lebih muda dan segar, tersenyum, menyapa Neo duluan. Dia pun menunjukkan ruang kepala sekolah, Bu Raihan.


            “Semoga kamu betah disini ya Neo,” kata Bu Sari sebelum meninggalkan Neo.


            Neo mengangguk, mengucapkan terima kasih pada ibu dengan kulit pucat yang baik itu. Neo jadi teringat Ceri.


            Kertas-kertas itu sudah Neo letakkan di meja Bu Raihan. Tapi sebelum beranjak, sekilas dia lihat pintu ke ruang sebelah. Seorang ibu dan anaknya terlihat disana sedang sibuk dengan lembar-lembar isian seperti yang tadi Neo isi. Neo sengaja menembuskan pandangannya ke tembok. Hingga dia bisa leluasa melihat betapa anak itu masih kecil. Anak seumur itu harusnya masuk sekolah dasar. Tapi bukan itu yang lebih jadi perhatian Neo. Ibu anak itu dengan telaten menemani anaknya. Neo jadi ingat ibunya.


            “Apapun kelebihan kamu, dalam menggunakannya, tetaplah memakai etika.” Suara Bu Raihan di belakang mengagetkan Neo. “Belajarlah memanfaatkan kekuatanmu dengan bijaksana.”


            Neo jadi merasa bersalah. Berarti Bu Raihan tahu saat dia menggunakan kemampuannya. Seperti juga Bu Sari. Neo lalu minta maaf dan cepat-cepat meminta diri.


            Pedestrian yang Neo lewati penuh pohon rindang di kanan kiri. Neo sedang menuju gedung sains karena Vio ada di sana. Ada pertemuan pengurus kelas. Vio adalah bendahara kelas. Neo harus menunggu Vio, karena dia pulang bersama Vio. Neo jadi merasa seperti anak pembantu. Pernyataan Vio tadi pagi yang didengar seluruh kelas masih terngiang di telinganya.


            Dari jauh terlihat lima anak berjalan ke arah Neo. Jet dan Jag ada disana. Jag dan anak yang mulutnya selalu komat-kamit sedang memapah anak yang dari pagi di kelas tidur terus. Satu lagi anak perempuan kembar siam. Tapi kakinya yang hanya sepasang itu terlihat bisa berjalan normal walau harus menopang dua badan.


            Sesampai mereka di persimpangan, hanya Jet yang berjalan menghampiri Neo. Yang lain berbelok ke arah lain. Seperti biasa, masih dengan kaca mata hitamnya, Jet cengar-cengir saat bertemu Neo.



“Mereka mau kemana?” Neo langsung bertanya sembari masih memandangi Jag dan tiga anak lain di kejauhan.


            “Pulang ke asrama,” jawab Jet. “Anak-anak pindahan JIPA menyebut mereka freak.”


            “Maksudnya?”


“Ya… Anak-anak aneh.”


            “Anak pindahan JIPA itu yang memakai kemeja putih dan dasi hitam?”


            Jet mengangguk.


            “Kamu kan juga pindahan dari JIPA?” sergah Neo.


            “Ya, tapi aku nggak seperti mereka. Aku dan Vio punya prinsip yang berbeda dengan anak-anak JIPA lainnya.” Kali ini wajah Jet serius.


            “Anak itu kembar siam ya?” Neo menunjuk anak perempuan berbadan dua yang sudah berjalan jauh bersama Jag dan yang lain.


            “Iya. Namanya Mimi dan Mitu. Dia adik angkatnya Jag. Mereka memang punya kelainan. Tapi dengan begitu, potensi tenaga dalamnya paling besar dari semua yang sekolah di sini. Dan itu nggak ada yang tahu.” Jet menjelaskan.


            Neo manggut-manggut, masih memandangi anak kembar siam dari kejauhan. Dua anak itu, Mimi dan Mitu, punya wajah yang susah dibedakan. Dua-duanya berwajah imut. Seperti anak kecil. Rambutnya sama-sama dipotong pendek sebatas leher. Freak atau anak aneh. Neo pernah merasakan itu. Tapi kini Neo tersadar, bahwa dirinya tidak cacat seperti Mimi dan Mitu.

__ADS_1


            “Yang tidur dipapah itu namanya Solos.” Jet menambah penjelasannya. “Dia memang begitu kalau otaknya sedang capek. Karena kalau bangun, otaknya bekerja terlalu keras. Otaknya bisa menyerap banyak memori dalam waktu singkat. Dan dia nggak bakal pernah lupa.”


            Neo kembali manggut-manggut.


            “Yang mulutnya komat-kamit namanya Anteno,” lanjut Jet. “Dia memang kayak orang gila. Tapi kadang-kadang di antara kata-katanya yang ngawur terselip rahasia-rahasia alam semesta.”


            Neo tak berhenti manggut-manggut.


            “Kamu mau menyusul Vio kan,” kata Jet. “Aku juga mau ke sana. Katanya para pengurus kelas itu lagi membicarakan mayat di Hutan Ular.”


            Di depan gedung sains sudah ada tiga anak berkemeja putih dan berdasi hitam menunggu di bangku dekat pohon. Jet mengajak Neo menunggu di bangku lain.


            “Yang pakai kaca mata itu Lisa, yang rambutnya brondol Natila, yang gemuk namanya Pato. “ Jet menunjuk tiga anak yang menunggu jauh di seberang mereka. “Pato rencananya mau keluar dari sini.”


            “Kenapa?” tanya Neo.


            “Katanya di sini nggak kayak di JIPA. Disini banyak freak-nya katanya.”


            Neo jadi membayangkan Jag, Mimi, Mitu, Solos dan Anteno. Juga Ceri yang berkulit pucat dan berambut merah.


            “Kamu bisa lihat ke dalam sana nggak?” Jet menunjuk gedung sains. Wajahnya nyengir tapi nada suaranya sedikit memaksa.


            Neo ragu. “Ntar guru-guru tahu,” katanya.


            “Tenang aja. Ruang guru jauh dari sini,” jawab Jet dengan mimik percaya diri.


            Neo mulai mengambil konsentrasi walau masih ragu. Lalu pandangannya mulai menembus ruang-ruang di dalam gedung itu. Sampai Neo temukan satu ruang dimana ada lima anak berkumpul dalam satu meja. Semua memakai kemeja putih dan dasi hitam, termasuk Vio.


            “Sedang apa mereka?” tanya Jet.


            “Satu anak berdiri, sedang bicara sama yang lain,” jawab Neo.


            “Anaknya kayak gimana?”


            “Cewek. Rambutnya lurus sepundak, pakai bando merah.”


            “Itu Prita, anaknya Bu Raihan. Dia itu ketua pengurus kelas. Apa yang dia katakan?”


            “Gimana?” Tanya Jet tak sabar.


            “Mmm… Ya dia bilang, kita tidak perlu terpancing, karena kita datang ke sini membawa kebaikan.” Neo berusaha lebih keras untuk menyimak. “Katanya, kita sebagai manusia yang diberi kelebihan tidak boleh membenci orang yang tidak suka sama kita. Karena kita hadir di dunia ini untuk berbuat sesuatu buat sesama.”


            “Bullshit,” potong Jet sambil nyengir.


            Neo menghentikan kegiatannya, memandang Jet, kenapa dia berkata begitu.


            “Yah, Prita itu kan anak baik. Anak kepala sekolah. Ketua pengurus kelas lagi. Wajarlah kalau dia bangga dengan segala kebaikannya.” Jet berargumen.


            Neo tidak mengerti kenapa Jet bilang begitu. Mungkin karena Jet iri pada Prita.


            Tak berapa lama, lima anak keluar dari gedung sains. Jet dan anak yang lain berbondong ke arah asrama. Neo harus mengejar Vio. Dia berjalan di belakang Vio menuju area parkir. Seperti anak pembantu yang tergopoh mengejar majikannya.


            Di sudut parkir, Ceri terlihat bersiap dengan helm di tangannya. Di sebelahnya, anak perempuan berjaket kulit yang rambut depannya dicat putih sedang menyalakan motor bebek tua.


            “Itu Dru, sepupunya Ceri. Mereka harus pulang. Ntar malam mereka kerja di restoran cepat saji.” Vio menerangkan pada Neo sebelum masuk mobil.


            Dari kejauhan, Ceri terlihat baru sadar ada Neo di ujung lain. Neo pun buru-buru masuk mobil. Dia malu. Apalagi terlihat satu mobil dengan Vio.


            “Prita sebenarnya ingin punya tim khusus dari anak-anak paling berbakat di sekolah ini.” Vio bersuara di dalam mobil, setelah sebelum keluar dari Hutan Ular tadi suasana hening. “Tapi dia tidak tahu, siapa sebenarnya yang berbakat. Aku jadi merasa buang-buang waktu ikut meeting tadi.”


            Neo duduk di sebelah Vio. Tapi entah kenapa dia malas menanggapi. Dia merasa Vio bukan teman. Sekarang Vio seperti majikan.


            Vio tampaknya membaca kegalauan Neo.


            “Sori, tadi pagi aku harus bilang begitu sama Bu Raihan. Supaya kamu bisa bebas. Tidak terkungkung di asrama. Apalagi sekarang ada larangan keluar pagar sekolah. Ceri sama Dru bisa keluar karena ada jaminan Bu Sari. Mereka harus bekerja untuk menopang ekonomi keluarga Bu Sari.” Vio berusaha memberi pengertian.


            Neo mengangguk. Dia mengerti. Dia memaafkan Vio. Tapi entah kenapa masih ada perasaan tidak terima dalam dirinya.

__ADS_1


            Selesai mandi sore, Neo tidak keluar kamar. Dari tadi dia cuma duduk di pinggir kasur. Kembali ke rumah Vio membuat Neo tambah merasa terhina. Bi Tumi sudah dua kali melongok dari pintu, menyampaikan permintaan Vio untuk dibuatkan nasi goreng. Neo ingin pergi dari tempat ini. Dia berpikir untuk tinggal di asrama. Hingga Vio muncul di ambang pintu. Kali ini Vio tidak memakai kaki palsu. Dia ada di kursi roda.


            “Neo, kamu sakit?” tanya Vio.


            Neo menggeleng, dia beranjak dan berdiri di hadapan Vio.


            “Aku mau tinggal di asrama saja,” kata Neo datar.


            “Kenapa?” Vio kaget. “Di sana kamu nggak akan bebas.”


            “Nggak apa-apa, aku mau ke sana sekarang.”


            “Sekarang? Gila kamu Neo.” Vio tambah kaget. “Di sini kamu bebas melakukan apa yang kamu mau. Di sana kamu mau ngapain?”


            “Maafkan aku Vio. Aku harus ke sana sekarang.” Neo sudah berjalan melewati Vio yang ada di kursi roda.


            “Neo tunggu!” Vio setengah berteriak. “Kamu lebih baik di sini. Kamu dibutuhkan di sini. Bagaimana dengan misi kita?”


            Neo berhenti sejenak. Jadi ini semua lebih karena misi yang pernah diceritakan Vio.


            “Ya, itu bisa dibicarakan nanti.” Neo meneruskan langkahnya tanpa berpaling.


            “Neo tunggu!” Kali ini Vio keras berteriak.


            Tapi Neo sudah akan melewati pintu. Tiba-tiba terdengar bunyi keras benda jatuh. Neo pun menoleh. Dia melihat kursi roda sudah rebah miring di lantai. Dan Vio, dengan kaki buntungnya, merangkak ke arah Neo.


            “Jangan pergi Neo. Please, jangan pergi.” Suara Vio serak. Sekuat tenaga dia menggunakan tangannya, merangkak mendekati Neo.


            Neo terpaku. Dia melihat Vio kini begitu tak berdaya. Tapi dia tak tahu harus berbuat apa. Hingga Vio sudah mendekap kedua kaki Neo.


            “Please Neo, jangan pergi,” kata Vio berulang kali. Air matanya tumpah ke pipi.


            Neo masih mematung. Tangannya gemetar. Saat ini susah baginya untuk menggambarkan perasaannya.



“Please Neo. Aku janji akan memperlakukan kamu lebih baik lagi. Aku nggak akan minta dibikinin nasi goreng lagi.” Suara Vio bercampur dengan sesenggukan tangisnya.


            Sampai Neo sadar, Bi Tumi ada di sudut ruang satu lagi memperhatikan dengan cemas. Neo pun mengangguk beberapa kali pada Bi Tumi, mengisaratkan semua akan baik-baik saja. Lalu sekuat tenaga, Neo mengangkat Vio dan menggendongnya. Kewalahan Neo melangkah dengan beban Vio di pelukannya. Vio justru makin erat mendekap, seperti anak tak mau


ditinggal orang tuanya. Pelan Neo mendudukkan Vio di pinggir kasur. Dan dengan sisa nafas yang ada, Neo


duduk di sebelah Vio.


            Lama mereka terdiam. Vio masih dengan sisa sesenggukannya. Dia mulai merasa malu dengan apa yang telah terjadi. Neo masih memikirkan kemungkinan hengkang ke asrama. Tapi hari sudah menjelang gelap. Dan rasa kasihan pada Vio mengecilkan niatnya. Neo pun berdiri, menyalakan lampu, menutup jendela lalu duduk di kursi berhadapan dengan Vio.


            “Kenapa kamu bener-bener ingin aku tinggal di sini?”Pertanyaan Neo memecah hening. Vio menunduk. Kini dia begitu malu. Tapi dia berusahauntuk menggerakkan bibirnya.


            “Di hari itu aku sudah tahu kamu akan datang.” Suara Vio lirih. “Akan datang seseorang yang sangat berbakat ke Paranormal Academy. Tapi hanya itu. Sampai aku bersalaman denganmu. Waktu itu aku melihat kamu sebagai anak yang terpilih. Kamu yang akan menyatukan kami. Kamu yang ada di depan kami menyelamatkan Paranormal Academy. Makanya aku benar-benar menjaga kamu untuk masuk ke misi itu.”


            Lalu Vio diam, menunggu reaksi Neo. Tapi lama Neo memikirkan kata-kata Vio.


            “Kamu percaya sama aku?” tanya Vio datar.


            Neo mengangguk. “Ya, aku percaya sama kamu.”


            “Apa alasanmu datang ke Paranormal Academy?” Suara Vio kini lebih jelas.


            Neo masih diam. Dia tak tahu kenapa kini susah menjawab pertanyaan itu.


            “Mmm… Ya aku ingin sekolah sesuai siapa diriku.” Suara Neo putus-putus. “Suatu saat aku ingin menemukan ibuku yang hilang.”


            Lama kamar itu hening.


            “Kemarikan tanganmu Neo.” Pelan Vio bersuara.


            Neo tak tahu untuk apa, tapi dia majukan kursinya mendekat Vio. Vio memegang tangan Neo. Vio menunduk. Alisnya mengerut. Bibirnya merekah seperti akan mengatakan sesuatu. Tak berapa lama, Vio melepas tangan Neo. Neo diam dan menunggu.

__ADS_1


            “Aku melihat kamu,” kata Vio. “Aku melihat kamu lebih dewasa. Kamu memeluk wanita setengah baya yang mirip kamu. Dan kamu memanggilnya ibu. Neo, suatu saat kamu akan menemukan ibumu.”


            Neo tercenung menatap Vio. Sesuatu membuatnya ingin menangis. Tapi dia tak ingin mengangis di depan Vio. Neo memalingkan wajahnya ke arah jendela. Membiarkan air matanya keluar. Di jendela itu, bulan purnama terlihat di sudut langit.


__ADS_2