
Hari ini seorang murid bernama Pato resmi keluar dari Paranormal Academy. Dia dijemput orang tuanya untuk kembali ke Jakarta.
Neo, Vio, Jet dan Jag berkumpul sebentar di gedung olah raga usai jam sekolah. Vio membocorkan pembicaraan di rapat pengurus kelas tadi. Prita dapat berita dari ibunya tentang mayat di Hutan Ular. Polisi menginformasikan mayat itu anak laki-laki belasan tahun, tidak beridentitas dan belum ada warga yang mengaku kehilangan anggota keluarga. Dugaan sementara, anak itu dibunuh gerombolan penjahat di daerah kumuh dan mayatnya dibuang di Hutan Ular supaya tak bisa ditemukan orang. Banyak ular yang akan memangsanya bulat bulat. Sebelum berpisah, sambil berkelakar, Vio memperingatkan info ini sifatnya rahasia. Seperti halnya Bu Raihan memperingatkan Prita. Dan Prita memperingatkan para pengurus kelas.
Saat di area parkir, Neo tidak melihat Ceri dan Dru. Motor bebek tua mereka terlihat parkir di pojok. Biasanya Neo sering curi pandang. Dan setelah itu Neo tahu, dari jauh mata bening Ceri selalu menatapnya lama.
Di mobil, Vio melanjutkan pembicaraan tentang mayat di Hutan Ular. Menurut Prita, Bu Raihan punya versi sendiri yang beda dengan informasi polisi. Mayat itu sengaja ditaruh di sana oleh kelompok yang tidak suka dengan keberadaan Paranormal Academy untuk memberikan citra buruk. Diharapkan pihak berwenang akan menutup sekolah ini seperti yang terjadi pada Jakarta International Paranormal Academy.
Neo sedikit tak fokus dengan cerita Vio. Karena hari ini dia tidak melihat Ceri di area parkir. Tapi tiba-tiba pandangan Neo terseret ke suatu tempat. Menembus batang-batang pohon. Neo tercekat. Batang-batang itu bergerak begitu cepat. Hingga pandangannya berhenti di tumpukan daun kering.
“Neo, kamu kenapa?” Vio cemas melihat Neo.
“Nggak apa-apa,” kata Neo. Dia berusaha terlihat baik-baik saja.
“Berhenti sebentar!” kata Neo tiba-tiba. “Minggir disini!”
Vio bingung. Tapi dia suruh Pak Udin meminggirkan mobil.
Neo berlari keluar mobil dan masuk ke gugusan pohon Hutan Ular. Langkah Neo cepat menembus perdu di depannya. Pandangannya tadi menuntunnya ke suatu tempat. Dia mengikuti jalur yang tadi ada dalam penglihatannya dan tak menghiraukan banyak ular melintas di atasnya. Hingga tanah yang diinjaknya menurun. Neo kehilangan keseimbangan. Tubuhnya bergulingan jatuh ke bawah. Dia terjerembab di tempat penuh tumpukan daun kering. Neo berusaha bangun. Badannya pegal-pegal. Ada sedikit lecet di tangan dan wajahnya. Neo lihat sekelilingnya. Pohon-pohon lebat mengitarinya. Daun-daun kering bertumpukan di bawah. Ini tempat tadi pandangannya berhenti. Seekor ular keluar dari tumpukan daun dan menyelinap ke salah satu batang pohon. Neo mundur sejengkal. Bisa saja masih banyak ular meringkuk di bawah sana. Neo menembuskan pandangannya ke bawah daun-daun itu. Dia memeriksa kalau saja ada ular yang sewaktu-waktu bisa menggigitnya. Tapi sejauh ini dia tak menemukan seekor pun. Justru di pojok dia lihat sebuah benda tergeletak. Pelan Neo maju dan mengambil benda itu setelah menyingkirkan daun yang menimbunnya. Sebuah ransel warna biru. Sepertinya ransel itu belum lama tergeletak di situ. Mungkin karena benda ini, pandangannya tadi terseret ke sini. Apakah karena mereka sedang membicarakan mayat di Hutan Ular, Neo tak tahu.
Neo
menjinjing ransel itu. Secepatnya dia ingin keluar dari situ setelah beberapa
kali melihat ular. Pandangannya yang menembus batang-batang pohon, membuat dia
tahu arah menuju jalan aspal. Neo mengambil jalan memutar. Tidak melewati tanah
landai yang membuatnya jatuh tadi. Dia masih ingat nasehat Bu Sari untuk tetap
tenang jika ada ular melintas. Hingga dia sampai di jalan aspal. Mobil Vio
terparkir agak jauh di sana.
Vio di luar, tampak cemas menunggu di tempat Neo tadi masuk ke hutan. Tapi saat
Neo hendak memanggil Vio, tiba-tiba badannya lemas. Penglihatannya
berkunang-kunang. Kakinya kesemutan. Ini
Neo menjinjing ransel itu. Secepatnya dia ingin keluar dari situ setelah beberapa kali melihat ular. Pandangannya yang menembus batang-batang pohon, membuat dia tahu arah menuju jalan aspal. Neo mengambil jalan memutar. Tidak melewati tanah landai yang membuatnya jatuh tadi. Dia masih ingat nasehat Bu Sari untuk tetap
tenang jika ada ular melintas. Hingga dia sampai di jalan aspal. Mobil Vio terparkir agak jauh di sana. Vio di luar, tampak cemas menunggu di tempat Neo tadi masuk ke hutan. Tapi saat Neo hendak memanggil Vio, tiba-tiba badannya lemas. Penglihatannya berkunang-kunang. Kakinya kesemutan. Ini seperti saat-saat dia akan melihat ibunya lagi. Tapi sebelum kesadarannya benar-benar hilang, sesuatu menabraknya keras dari belakang. Neo tersungkur ke aspal. Dia tak sadarkan diri.
***
Neo membuka matanya. Dia terbaring di kamar di rumah Vio. Vio duduk di sebelahnya. Wajahnya cemas.
“Apa yang kamu rasakan Neo?” tanya Vio pelan.
Neo berusaha duduk. Dia memeriksa badannya, mencoba merasakan sesuatu.
“Cuma lemes aja,” kata Neo.
Neo heran. Bahkan luka yang dia dapatkan saat jatuh di tumpukan daun kering sudah tidak ada. Dan dia baru sadar, bajunya sudah diganti.
“Apa yang terjadi?” tanya Neo.
“Kamu tadi aku lihat seperti orang mau pingsan di jalan. Terus Ceri dan Dru naik motor. Mereka dari tanjakan. Nggak lihat kamu ada di tengah jalan. Ceri lagi belajar motor sama Dru. Dia kaget dan nabrak kamu.” Vio menjelaskan.
“Ceri?” guman Neo. “Tapi…” Neo memandangi Vio. Dia masih heran kenapa sekarang cuma merasa lemas saja.
“Ceri itu punya kemampuan menyembuhkan orang. Lukamu tadi parah banget. Darahmu keluar banyak banget. Ceri yang menyembuhkanmu.”
Lama Neo termenung. Dia masih tak percaya Ceri menyembuhkannya. Lalu dia ingat ransel biru yang ditemukannya.
“Ransel itu?” Tanya Neo.
“Kenapa tiba-tiba kamu lihat ransel itu di hutan?” Vio balik tanya.
__ADS_1
“Entahlah. Mungkin ada hubungannya sama mayat di Hutan Ular.” kata Neo sekenanya.
Lalu Neo dan Vio saling berpandangan.
Di ruang baca, lama Neo dan Vio memandangi ransel biru di tengah meja.
“Kamu tahu apa isinya Neo?” tanya Vio.
Neo mengangguk. Alisnya berkerut. “Ada baju... Ada buku…”
Vio pun tak sabar membuka ransel itu. Ada beberapa t-shirt, celana jeans, ****** ***** pria.
“Ini semua baju buat anak cowok,” kata Vio.
Neo dan Vio berpandangan lagi. Mereka tegang. Baru tadi siang mereka dapat berita mayat di hutan ular itu mayat anak laki-laki belasan tahun. Di antara tumpukan baju itu ada buku kecil. Dengan tegang, Vio mengambil buku itu dan membukanya. Neo ikut melihat isinya. Catatan sekumpulan alamat. Nama-nama yang tertulis seperti nama asing. Alamatnya pun kebanyakan di Singapura. Yang lainnya kota-kota yang Neo dan Vio tak tahu. Tapi di lembar terakhir, tertulis dengan tulisan yang buru-buru : Violeta Akitafani – Jakarta International Paranormal Academy.
Vio duduk di kursi. Buku kecil itu masih di tangannya. Ransel itu mungkin berhubungan dengan mayat di hutan ular, mungkin juga tidak. Tapi jelas-jelas nama lengkap Vio tertulis di buku itu.
“Kamu bisa meramal dengan benda-benda itu,” Tanya Neo yang masih berdiri di depan Vio.
Vio menggeleng. “Tidak. Benda mati tidak punya masa depan.”
“Mungkin kita bisa melacak sejarah benda-benda itu,” kata Vio kemudian.
“Bagaimana caranya?” tanya Neo.
“Kita butuh seseorang yang bisa Postcognition.”
“Pos… Apa?”
“Postcognition, kemampuan melihat masa lalu.”
“Siapa di Paranormal Academy yang punya kemampuan itu?”
“Dru.”
Hari berikutnya di kelas, bangku Ceri terlihat kosong. Prita dapat kabar Bu Sari, Ceri sedang sakit. Sebelum pelajaran mulai, Vio sudah membeberkan temuan mereka pada Jet dan Jag. Selama jam pelajaran, Vio tidak konsentrasi. Pikirannya sering ke buku kecil yang tertulis namanya di sana. Neo juga tidak konsentrasi. Apalagi hari ini Ceri tidak masuk.
Usai jam sekolah, Neo, Vio, Jet dan Jag berkumpul di gedung olah raga membicarakan bagaimana caranya mendekati Dru. Karena Dru tipe cewek cuek yang mungkin akan susah diajak bicara.
Jet dulu yang mengusulkan Dru untuk orang kelima di dalam misi. Vio tahu, Jet sedang naksir Dru. Tapi Vio tidak suka sikap Dru yang terlalu cuek. Waktu itu Vio lebih memilih Jojo. Tapi memang Jojo terlalu seperti anak manis. Dan sekarang mereka butuh kemampuan Dru.
“Ok. Tapi kamu ditemani Neo,” usul Vio. Vio takut Jet akan mengacau. Dengan Neo bersama Jet, Vio lebih tenang.
Dru terlihat sibuk dengan motor bebeknya di sudut parkir. Dia tidak memakai jaket kulitnya. Rambut sepunggungnya terikat ke belakang, termasuk yang dicat warna putih. Tampaknya motornya sedang bermasalah.
Jet dan Neo berjalan mendatangi Dru.
“Ada masalah?” Jag dengan kaca mata hitam dan senyumnya mengagetkan Dru.
Sejenak Dru menatap Jet dan Neo yang berdiri tepat di depannya. Tapi memang dia saat ini sedang butuh bantuan. Dru pun menjelaskan kondisi motornya.
“Tenang aja, dulu aku punya motor trail yang aku modif sendiri. Ini cuma masalah kecil.” Jag sedang berusaha menarik perhatian Dru. Tapi sepertinya Dru cuek saja.
Neo membantu mengambil peralatan di mobil Vio. Vio di dalam mobil. Dia sengaja menunggu aksi Jet dan Neo.
“Gimana?” Tanya Vio pada Neo yang sedang menerima kotak peralatan dari pak Udin.
“Sedang dalam proses,” jawab Neo sembari kembali ke tempat motor Dru.
Jag sibuk dengan pekerjaannya. Tangannya sudah belepotan oli dan kotoran. Neo dan Dru berdiri memperhatikan.
“Ini gara-gara kemarin jatuh ya?” Neo basa-basi. Dia lihat ada beberapa tempat yang penyok di motor Dru.
“Iya, si Ceri sedang belajar. Dia nggak sengaja nabrak kamu,” jawab Dru.
“Gimana sakitnya Ceri?” Neo cepat bertanya.
“Dia sakit karena kemarin menyembuhkan kamu. Dia menyerap semua sakit yang kamu derita. Seharusnya kamu berterima kasih sama Ceri. Karena kemarin kamu hampir…” Dru tak melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
Neo kemarin hampir mati. Neo sendiri tak tahu seberapa parah lukanya. Di sebelah Dru dia tak bisa berkata apa-apa. Dia merasa bersalah. Tanpa sengaja dia melihat tangan Dru. Di tangan Dru banyak bekas sayatan. Dru pun sadar, Neo sedang memperhatikan tangannya. Buru-buru dia memakai jaketnya.
Tak berapa lama, motor Dru berhasil dihidupkan. Dru berterimakasih pada Jet dan Neo. Dia bergegas memacu motornya meninggalkan area parkir. Jet memandangi Dru sampai keluar gerbang. Dia bak pahlawan yang menang perang. Dan dia lupa akan misinya.
Dugaan Vio benar. Jet akan mengacau. Dan Neo terlalu memikirkan Ceri. Seperti sekarang, Neo memohon Vio untuk mampir ke rumah Ceri. Tapi Vio menyanggupinya. Karena di sana mereka akan bertemu Dru lagi. Dan Vio punya rencana menyerahkan pendekatan Dru pada Neo.
Perjalanan menuju Desa Ujung Jurang berkelok-kelok. Sebelah kanan jalan, jurang yang menganga. Vio belum pernah ke tempat ini. Mobil Vio mulai melewati jalan tak beraspal yang menanjak. Di sana-sini tumbuh pohon cemara. Pak Udin sesekali bertanya pada orang dusun. Sepertinya Bu Sari sangat dikenal oleh orang sekitar situ. Hingga rumahnya tak susah untuk ditemukan.
Mobil Vio berhenti di pelataran yang sekitarnya ditumbuhi berbagai macam tanaman. Neo dan Vio berjalan menuju rumah kayu yang catnya masih baru. Neo pun penasaran dengan tempat dimana Ceri tinggal. Pandangannya menembus ke dalam. Ke ruangan dengan perabotan sederhana tapi bersih dan tertata rapi. Tak sengaja pandangan Neo melewati sebuah ruang. Di sana Ceri terlihat terbaring di tempat tidur. Dia terpejam di bawah selimut. Neo kaget. Rambut Ceri warnanya putih. Neo melihat Ceri terbatuk. Wajahnya mengisaratkan rasa sakit yang tertahan. Ceri mengejan, matanya terbuka. Neo pun tercekat. Bola mata Ceri terlihat berwarna putih.
“Neo kamu tak apa-apa?” tanya Vio.
Seketika itu Bu Sari keluar.
“Ceri memang begitu kalau sedang sakit. Dia masih butuh banyak istirahat.” Suara Bu Sari lembut pada Neo. “Dia belum bisa ditemui. Nanti kalau sudah sehat, saya sampaikan, Neo sama Vio sudah menjenguk ke sini.”
Neo pun minta maaf. Dia merasa yang dialami Ceri karena salahnya. Tapi justru Bu Sari bersukur dengan kejadian kemarin. Sejak kematian bapaknya, ceri tidak mau lagi menyembuhkan orang. Karena Neo, Ceri mungkin mau menggunakan kemampuannya lagi untuk menolong orang. Lalu Neo dan Vio pun berpamitan.
Sebelum Neo dan Vio masuk mobil, Dru terlihat baru datang dengan motornya. Vio pun mendesak Neo untuk menyampaikan misi mereka ke Dru. Saat Dru memarkir motor di samping rumah, Neo berjalan kaku menghampirinya. Dru tersenyum melihat kepolosan Neo.
Neo bilang dia bermaksud menjenguk Ceri. Lalu dia menceritakan ransel biru yang dia temukan. Toh itu masih behubungan dengan kejadian kemarin. Neo memang tak akan membicarakan seluruh misi yang Vio ceritakan. Karena buat dirinya pun masih terlalu rumit.
“Kami perlu orang yang bisa melihat masa lalu. Siapa tahu ini ada hubungannya dengan hal yang membahayakan sekolah kita.” Neo mengatasnamakan kepentingan sekolah.
Dru diam. Sepertinya dia ragu. Sebentar Dru memandang datar ke mobil Vio. Dru tahu Vio ada di dalam.
“Sudah lama aku nggak menggunakan kemampuan itu. Sebenarnya aku nggak mau lagi menggunakannya,” kata Dru datar.
“Tapi ini untuk kepentingan kita semua.” Neo berargumen.
“Mmm… Ok. Aku pikir-pikir dulu ya.”
“Ok. Tapi kapan kepastiannya?”
“Ntar aku kabarin.”
“Kapan itu?”
“Entahlah.”
Di mobil, Vio berulang kali menyatakan ketidaksukaannya atas reaksi Dru. Vio menyebut Dru egois. Neo tak begitu memikirkannya. Dia masih ingat bagaimana rambut Ceri berubah jadi putih.
“Kapan Ceri akan sembuh?” tanya Neo.
“Aku tak tahu,” jawab Vio. Perasaannya masih kesal.
“Kamu bisa meramalnya kan?” pinta Neo.
Vio diam sejenak. “Tiga hari lagi,” katanya datar.
“Kasihan dia.” Neo mengguman.
“Dia suka sama kamu.” Vio juga mengguman.
Mobil Vio sudah melewati jalan aspal. Meninggalkan tempat yang penuh jurang dan pohon cemara.
“Kamu suka sama Ceri?” Tanya Vio datar, seolah tak butuh jawaban.
Neo tak menjawab. Wajahnya memerah. Vio tahu itu.
“Kemarikan tanganmu,” ujar Vio.
Neo tak tahu maksud Vio. Tapi Vio sudah memegang tangannya. Mata Vio terpejam. Tak berapa lama, Vio melepas genggamannya. Lama dia diam dengan punggung tersandar. Neo pun bersabar dengan reaksi Vio.
“Suatu saat dia akan sangat mencintaimu.” Pelan Vio buka suara.
Lalu Vio diam lagi. Dia ragu meneruskan kata-katanya.
“Terus?” tanya Neo serius. Kini dia penasaran.
“Dia rela berkorban buat kamu.”
“Maksudnya?”
__ADS_1
“Ya… Suatu saat dia akan menyembuhkanmu lagi. Sampai dia sakit dan meninggal.”