
Gladys sedang santai menikmati hari Minggu di taman rumahnya, sedang Jojo sibuk menanami taman dengan berbagai macam bibit bunga dan buah..
"mas" aku mau kedalam bentar ya. pamit Gladys pada suaminya..
"Iya sayang, jangan lupa jus nya ya..pinta Jojo pada Gladys dan di anguki Gladys.
Gladys berjalan menuju dapur dan segera membuat jus buah naga kesukaan suaminya.
"loh non, lagi ngapain? tanya Asih bingung.
"lagi bikin kan jus untuk mas Jojo, kamu dari mana Asih? tanya Gladys.
Dari depan non, rame banget tadi nggak tau pada ngapain mereka ucap Asih melapor..
" Asih" tolong kamu ke mini market dekat tikungan itu ya..belikan saya cemilan. ini nota cemilan nya dan ini uangnya.. kata Gladys memberikan secarik kertas beserta beberapa lembar uang seratus ribu .
"Ko banyak banget sih non, saya takut ntar hilang uangnya.. protes Asih dengan wajah takut.
"Ada apa nak, ko rame banget!" tanya Bu Jamilah dengan keponya..
Saya minta tolong Asih membelikan saya cemilan Bu, tapi asih takut uangnya hilang.. jawab Gladys sambil tersenyum.
"Biar ibu aja yang nemenin Asih nak, kata Bu Jamila.
"Iya terserah ibu aja..!kata Gladys sambil memberikan uangnya pada ibu mertuanya.
Ibu sama Asih pergi dulu ya nak. asalamualaikum..pamit Bu Jamilah dan Asih.
"waalaikum salam!" jawab Gladys.
Asih dan Bu Jamilah berjalan santai melewati perumahan, sambil berbincang bincang hingga tanpa terasa mereka telah tiba di mini market..
Bu Jamilah dan Asih sibuk mengambil barang dan memasukan nya kedalam keranjang.
Asih kayanya belanjaan nya udah semua,, ayo kita kekasir sekarang.. ajak Bu Jamilah dan Asih mengikuti langkah bu Jamilah menuju Kasir yang terlihat ramai dengan antrian.
"Tumben rame ya, Sih!" biasanya nggak serame ini.. keluh Bu Jamilah yang terpaksa ikut antri.
Tiba- tiba datang seorang ibu- ibu menyerobot antrian dengan langsung berdiri di depan.
Bu Jamilah hanya menggelengkan kepala melihat ibu ibu itu.
"Hei Bu Sri, paham budaya antri nggak? tanya seorang perempuan bertubuh tambun sambil mendorong Bu Sri hingga Bu Sri jatuh terjungkal..
"Hei perempuan gendut saya buru buru, apa salahnya membiarkan saya lebih dahulu omel Bu Sri..
Semua yang belanja disini juga buru buru. antri sana di belakang, enak aja mau nyerobot oceh perempuan tambun itu.
Bu Sri terpaksa ikut antri dengan berbagai macam sumpah serapahnya.
"Asih!" kamu Asih kan.. tanya Bu Sri pada Asih.
"Iya saya Asih mbak Sri..!"jawab Asih.
"Wah" Apa kabar kamu setelah mas Karyono meningal, kenapa kamu ada disini? tanya Bu Sri yang terlihat antusias bertemu Asih.
"Asih kerja disini, jadi pembantu mbak Sri jawab Asih dengan polosnya.
"Oh" kamu emang pantas jadi pembantu, kan dulu kamu dinikahkan sama mas Karyono yang lumpuh juga untuk jadi pembantu dengan gaji lima ribu perhari.. oceh Bu Sri.
Asih hanya tersenyum mendengar ucapan Bu Sri yang mulutnya seperti petasan .
"Kamu Jamilah kan..!wah nggak nyangka saya bisa ketemu teman sekampung disini.. ucap Bu Sri dengan wajah cerianya.
"Iya Sri!"jawab Bu Jamilah dengan terpaksa.
__ADS_1
Bu Jamilah langsung membayar belanjaannya, dan meninggalkan Bu Sri dengan menyeret lengan Asih.
"Ada apa Bu milah!" ko kita terburu buru gini tanya Asih bingung.
Saya malas ketemu dengan Sri yang mulutnya nggak ada akhlak itu. gerutu Bu Jamilah dengan terus menarik lengan Asih agar secepatnya sampai di rumah.
Tiba dirumah
Asih dan Bu Jamilah langsung pergi kedapur dan mengambil minuman dengan bergantian .
Ting... tong..
terdengar suara bel berbunyi
" Siapa ya Sih?"tanya Bu Jamilah bingung.
"Nggak tau Bu!" jawab Asih dengan ikutan bingung.
Baru saja Bu Jamilah dan Asih keluar dari pintu dapur.
Bu didepan ada teman ibu, katanya teman satu kampung ibu..namanya Bu Sri kata gladsy memberitahukan mertuanya.
Dari mana si mulut petasan tau kita tinggal disini ya Sih, perasaan sejak Tadi kita udah jalan buru buru deh gumam Bu Jamilah dengan perasaan bingung nya..
Bu ayo kita kedepan, nggak enak sama tamunya.. kata Gladys yang baru membuat kan jus untuk tamu mereka beserta cemilan.
"Eh, iya nak!" jawab Bu Jamilah dengan setengah hati..
"Silahkan diminum Bu, dan ini cemilannya. silahkan di makan.. kata Gladys dengan sopan..
Bu Jamilah hanya diam duduk disamping menantunya diikuti Asih..
Bu Sri yang kehausan langsung meminum jus jeruk itu hingga tandas..
Mbak asih tolong bikin kan minuman untuk tamu kita ya ..pinta Gladys.
"Iya non!" jawab asih dengan segera pergi kebelakang.
"Ko kamu tau saya tingal disini Sri?"tanya Bu Jamilah dengan perasaan dongkolnya.
"Ya tau lah!" kan saya ngikutin kamu dari belakang.. jawab Bu Sri dengan santainya.
"Ini mantu mu ya Jamilah? tanya Bu Sri dengan menunjuk kearah Gladys.
"Iya" jawab Bu Jamilah singkat..
"Cantik banget ya mantu mu!" nggak kalah cantik sama mantan menantuku si Nirmala..
kata Bu Sri.
"Mantu mu baik, nggak kaya si Nirmala yang pelit banget.. oceh Bu Sri.
Bu Jamilah hanya menghela nafas mendengar ocehan Bu Sri yang unfaedah.
"Kamu tau nggak Jamila!" sekarang anak ku udah nikah lagi, sama anak bupati. ya nggak secantik Nirmala sih, tapi dia anaknya baik mau Nerima aku sama suamiku tingal dengan mereka..hebat kan mantuku kembali Bu Sri berkicau.
"Iya!" jawab Bu Jamilah dengan menyimpan rasa gedek di hati.
"Mantu mu ini namanya siapa Jamilah?" tanya Bu Sri..
"Saya Gladys Bu!" jawab Gladys sambil tersenyum..
"Kerja dimana nak..?"tanya Bu Sri lagi..
"Saya kerja di sebuah perusahaan Bu!"jawab Gladys tanpa menjawab lebih..
__ADS_1
Pasti jabatan nya tinggi ya..soalnya penampilan mantu mu ini begitu elegan, sama seperti Nirmala!" kata Bu Sri tanpa melihat jika wajah Bu Jamilah yang sudah tertekuk kesal.
Iya menantuku ini CEO di perusahaan itu Sri..akhirnya Bu Jamilah membuka mulutnya juga meski dengan perasaan masih kesal.
"CEO" itu apa Jamilah? apa seperti penerima tamu ..tanya Bu Sri yang selalu kepo.
"Dia pemimpin" alias pemilik perusahaan itu. jawab Bu Jamilah.
Wah pantas rumahnya besar kaya gini, berarti kamu ikut numpang tingal sama menantumu dong Jamilah..wajar sih!" Jamilah kan emang hidupnya susah sejak di kampung dulu.
beruntung banget kamu Mila dapat mantu yang punya perusahaan, jadi kamu bisa numpang hidup sama mantu mu ini.
hina Bu Sri pada Jamilah.
Ibu nggak numpang Ko Bu Sri,.saya lah yang meminta ibu tinggal disini padahal ibu juga punya rumah sendiri,..saya nggak mau ibu tinggal sendirian apalagi saya juga sudah tidak memiliki ibu lagi..bagi saya mertua saya sama dengan ibu kandung saya sendiri..bela Gladys pada mertuanya.
Kamu benar benar beruntung Jamilah..padahal dulu kamu dan ibu mu kan kerja jadi pembantu di rumah orang tua ku waktu di kampung..tanpa henti Bu Sri terus merendahkan Bu Jamilah.
Asih yang baru datang langsung menyodorkan minuman itu ke hadapan Bu Sri..
"Terima kasih" Asih!" kamu emang pantas jadi pembantu, takdirmu emang sudah digariskan jadi pembantu seumur hidup..hina Bu Sri pada Asih.
Asih yang polos hanya mengangukan kepalanya.
Kalau udah selesai minumnya silahkan pulang ya Sri, soalnya kami semua mau pergi kerumah Omanya menantu saya..kata Bu Jamilah dengan maksud mengusir Bu Sri secara halus.
"Emang dimana rumah Oma mantu mu!" aku boleh ikut nggak?. tanya Bu Sri dengan tidak tahu malunya.
"Nggak" soalany ini pertemuan keluarga. orang asing dilarang ikut.. jawab Bu Jamilah.
"Oh begitu ya..kalau gitu saya boleh minta cemilan ini nggak untuk suami saya..pinta Bu Sri..
"Ambil aja, Bu!" jawab Gladys yang mulai paham dengan watak tamunya ini.
"Terima kasih" ya nak Gladys..ucap Bu Sri yang masih tetap duduk di hadapan Bu Jamilah.
Kapan kamu pulang nya sih Sri..kita udah mau berangkat sekarang..usir Bu Jamilah yang mulai memperlihatkan wajah penuh amarahnya .
"Iya bentar!" ini sulit mau diletakan dimana kuenya..ucap Bu Sri bingung.
"Bawa aja sama tempatnya Bu!" kata gladys.
Bu Sri yang mendengar ucapan tuan rumah langsung memasukan tempat cemilan itu kedalam kresek yang tadi dibawanya.
"Terima kasih" semuanya!" lain kali saya mampir lagi ya..kata Bu Sri dengan berjalan buru- buru kearah luar.
Asih yang melihat Bu Sri udah keluar dari pintu, langsung menutup pintu dan menguncinya..
"Ibu kenapa ko wajahnya jutek gitu? tanya Gladys dengan senyum simpulnya.
Ibu sebel aja nak, dari sekian banyak nya kota. kenapa mesti bertemu dengan Sri yang mulutnya berisi racun itu sih..gerutu Bu Jamilah.
"haaaaa....!"haaaaa....!"haaaaa..!.
tawa Gladys yang sejak tadi ditahannya langsung keluar begitu saja.
"Ibu ada-ada aja sih, kenapa juga dikatain mulut berisi racun..tanya Gladys.
lihat aja kalau ngomong, nggak pernah bisa direm..selalu seenaknya. bikin sakit hati..
omel Bu Jamilah.
Biarin aja Bu. kita nggak bisa maksa orang untuk baik dan benar kalau memang sudah wataknya begitu..ya udah kita aja yang mawas diri!"hibur gladsy pada mertuanya.
"Iya nak!" jawab Bu Jamilah.
__ADS_1