
Awas aja yah, udah panjang2 nulis begini, tapi gak ada komentar yang nyangkut! Gak ada votenya juga 🥲
Mengsedih sekali wei!
Happy reading!
🌸🌸🌸🌸🌸
Star masuk ke dalam kelas dengan wajah ditekuk kesal. Suasana hatinya memburuk, padahal di luar kelasnya, cuaca sejuk dengan sinar matahari cerah. Gadis cantik itu mendudukkan bokongnya di sebelah Water, tetapi tanpa diduga Water memindahkan tasnya ke kursi sebelahnya. Gadis itu mengajak bertukar tempat duduk dengan Shinta. Perbuatan Water itu membuat Star mengerutkan dahi dalam. Bingung, mengapa Water seolah menghindarinya bagai hama?
"Water, lo kenapa?" tanya Star dengan wajah bingung begitu ketara.
Pertanyaan Star sama sekali tidak digubris oleh Water. Gadis itu terlihat menyibukkan diri dengan merapikan peralatan tulisnya di atas meja. Star menyenggol lengan Shinta dan menaikkan sebelah alis, mengisyaratkan perubahan sikap Water padanya.
Shinta mengedikkan bahu. "Gue gak tau. Pas masuk kelas tadi, mukanya udah kayak bete gitu. Lo punya salah apa sama dia?" Shinta balik bertanya pada Star.
"Gue? Salah? Gue aja gak ngapa-ngapain. Mangkanya gue bingung, kenapa dia jadi kayak gitu? Tiba-tiba tukaran kursi sama lo." Star masih melirik Water dengan pikiran penuh dengan tanda tanya.
Air masuk kelas dan berdiri sejenak di samping kursi Star, tetapi Star mengabaikannya dengan memilih untuk memainkan ponselnya. Mengecek akun media sosialnya. Sepertinya untuk saat ini, lebih baik Star menjaga jarak dengan Air.
Helaan napas Air terdengar jelas. Kakinya kembali melangkah menuju kursinya. Berselang hanya beberapa detik, suara Air terdengar.
"Lo ngapain di sana, Water?" Air merasa aneh melihat Water yang tidak duduk satu meja dengan Star.
Dengan ekspresi wajah kesal dan sedikit mendengkus, Water menjawab dengan ketus pertanyaan Air. "Bukan urusan lo! Suka-suka gue."
"Dih, kok lo nyolot!" tukas Air.
"Bisa diem gak sih mulut lo!" Water memukul meja dengan buku di tangannya.
Seisi kelas terdiam, semua mata tertuju ada Water. Air dan Star menatap lekat Water yang bertingkah aneh itu.
"Gak usah ngeliatin gue. Gue bukan topeng monyet!" bentak Water menatap sinis pada seisi kelasnya.
Star memutar bola matanya. Gadis itu memilih mengabaikan sikap Water dan memperhatikan layar ponselnya.
Kedua bola mata Star membulat dan telapak tangannya menutup mulut yang spontan menganga.
🌸🌸🌸🌸🌸
Pegasus duduk di kursi kelas. Masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum pelajaran pertama dimulai. Pemuda itu mengambil ponsel dan berseluncur di sana. Hal pertama yang dilakukan oleh Pegasus adalah membuka portal berita Kpop. Dirinya ingin tahu berita apa yang sedang hangat diperbincangkan lalu beralih menonton cuplikan cover dance dari berbagai belahan dunia untuk menjadi perbandingan penampilannya.
Pegasus akan larut dalam tontonannya dan lupa waktu, untuk itu sebelum dirinya lupa diri karena masih berada di sekolah dan juga akan memulai pelajaran, pemuda itu memilih untuk menutup tontonannya dan beralih mengecek akun media sosialnya.
Pemuda tampan itu sangat jarang mengaupload foto di akun instagram miliknya. Hanya ada sepuluh postingan dan hanya dua yang menampilkan wajahnya meskipun dalam bentuk foto blur, selebihnya foto berisi studio dance dan juga alam semesta.
Jempolnya berseluncur untuk melihat isi direct message, sebagian besar gadis-gadis asing yang mengajak berkenalan. Pegasus sendiri tidak mengerti, dari mana mereka semua tahu akun instagram miliknya.
"EstherStar_22?" lirih Pegasus membaca salah satu user name yang ada di inboxnya.
Jempolnya ragu untuk membuka pesan tersebut, tetapi rasa penasarannya jauh lebih tinggi sehingga pemuda itu nekat membukanya.
Di sana berisikan sebuah informasi jika pemilik akun EstherStar_22 memention akunnya.
__ADS_1
Sebuah foto gadis cantik tengah berselfie dengan caption ambigu yang membuat Pegasus mengulum senyum. Jempolnya secara reflek memberikan tanda love pada kiriman tersebut. Pegasus menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang yang memperhatikan apa yang sedang dirinya lakukan.
Pemuda tampan itu menyandarkan punggungnya pada tembok kelas. Dengan ragu, ia membuka profil akun Star dan melihat semua tampilan yang ada di sana. Benar saja, sesuai prediksinya, jika akun gadis itu dipenuhi berbagai macam foto random, tetapi terlihat sangat estetik. Mulai dari foto diri Star sendiri, langit, serta rutinitas sehari-harinya memenuhi feed akun gadis itu. Pegasus menahan diri untuk tidak tersenyum lebar.
Kembali, tanpa sadar Pegasus memberikan tanda suka pada salah satu foto di dalam feed akun Star. Foto Star dengan filter kucing serta menggunakan bandana telinga kelinci, tampak begitu imut nan menggemaskan.
Sedang asyik berseluncur melihat isi akun Star, tiba-tiba sahabatnya datang mendekat. Spontan saja, Pegasus mematikan ponsel dengan cepat agar sahabatnya tidak mengetahui apa yang baru saja pemuda itu lakukan. Jika Sam dan Chris tahu tentang dirinya yang men-stalking akun Star, sudah pasti Pegasus akan menjadi bulan-bulanan kedua makhluk itu. Pegasus tidak akan membiarkan semua itu terjadi.
"Kenapa muka lo merah?" tanya Chris memperhatikan wajah Pegasus.
Pemuda itu segera meraba wajah tampannya yang memanas dan sesegera mungkin kembali memasang ekspresi datar.
"Mata lo siwer. Sana pergi!" usir Pegasus mengalihkan wajah sambil menyimpan kembali ponselnya.
Chris mengedikkan bahu tak acuh, memilih untuk berjalan ke kursinya sendiri, tidak memperpanjang pertanyaannya pada Pegasus.
🌸🌸🌸🌸🌸
"What the blablabla!" pekik Star. Dengan cepat dirinya menutup mulutnya sambil memperhatikan sekitarnya yang kini menatapnya bingung.
Star mengerjapkan kedua bola matanya beberapa kali memastikan apa yang dia lihat adalah sesuatu kenyataan.
"Lo kenapa heboh sendiri sih? Sahabat lo ngelirik lo sinis tuh." Shinta menyikut lengan Star.
"Bodo amat deh. Suka-suka dia mau marah sama siapa. Lagian gue ngerasa gak ngelakuin kesalahan apa pun sama dia. Jadi, bodo amat." Jawaban Star membuat Shinta menganga lalu menggeleng tidak habis pikir.
Shinta menganggap Star orang yang sangat simple. Teman sebangkunya itu membuat segala hal lebih mudah. Shinta suka cara berpikir Star. Star sedang tersenyum tersipu sendirian menatap layar ponsel, Shinta yakin ada sesuatu hal yang membuat gadis itu senang.
Sepanjang jam pelajaran berlangsung, raut wajah Star terlihat begitu ceria, berbanding terbalik dengan Water dan Air. Keduanya tampak begitu murung satu sama lain.
Akan tetapi, Star hampir saja jatuh terjungkal ke dalam selokan yang ada di koridor, depan laboratorium kimia akibat tabrakan bahu yang secara sengaja dilakukan Water. Untung saja, ada seseorang yang menarik ujung lengan baju Star sehingga gadis itu masih terselamatkan dari tragedi terjungkal ke dalam selokan.
"Apaan sih lo, Water! Gak usah kekanakan deh." Star bersungut atas apa yang telah Water lakukan padanya.
Star menunduk mengucapkan terima kasih pada seorang adik kelasnya yang telah menyelamatkannya dari rasa sakit dan juga malu tentu saja. Setelah berterima kasih, ekspresi kesal Star kembali muncul ketika bersitatap dengan Water yang berdiri sambil menyilangkan kedua lengan di dada.
"Lo masih bisa cengar cengir? Setelah apa yang elo perbuat sama gue?" sindir Water dan Star mengerutkan dahi, tampak berpikir apa yang sebenarnya maksud Water.
"Gak usah kebanyakan basa-basi deh. Mending lo langsung jabarin aja, hal apa emangnya yang udah gue perbuat sampe lo dendam kesumat sama gue begini?" Star menanti penjelasan Water sembari menatap sekeliling. Gadis itu tidak ingin jadi tontonan banyak orang karena kesalahpahaman antara dirinya dan Water.
"Lo itu pagar makan tanaman! Lo udah tau kalo gue suka sama Air, tapi lo malah jalan berduaan sama dia. Pagi tadi, lo udah di pojokan sama dia. Lo emang jahat, Star. Gue nganggap lo sahabat, tapi ternyata lo pengkhianat." Water mengatakan semua itu dengan suara pelan, tetapi dengan penuh kekesalan.
Star menganga seperkian detik, lalu mendengkus setelah mencerna omong kosong yang dikatakan oleh Water.
"Coba lo cek hp lo. Lo lihat di sana, hari di mana gue pergi sama Air. Gue udah ngirim chat ke elo buat ngajakin pergi bareng. Lo scroll semua chat yang gue kirim ke elo. Hampir semuanya, gue laporin ke elo kalo gue pergi bareng Air bahkan gue selalu ngajakin lo juga. Chat gue sama sekali gak lo bales, lo cuma read doang. Dengan gue ngasih tau ke elo keberadaan gue sama Air, apa mungkin gue mau ngerebut Air dari lo?" Water membelalakkan mata sambil menggulir isi chatnya bersama Star.
"For your information, tadi pagi gue bukan mojok sama Air karena lagi pedekate, apalagi pacaran. Gue lagi ngasih peringatan keras sama dia tentang sesuatu yang gak perlu lo tau. Yang jelas, perasaan gue masih buat Pegasus doang. Gak bisa dibagi-bagi." Setelah mengatakan semua itu Star berjalan meninggalkan Water yang masih diam menunduk dan membeku di tempatnya berdiri.
Star melangkahkan kakinya ke arah kantin dan moodnya mendadak berubah saat dirinya melihat sosok jangkung yang tengah berjalan ke arahnya dengan gaya cool. Tanpa malu, Star bergegas menghampiri pemuda itu dan merebut botol minum kemasan yang masih tersegel dari genggaman Pegasus.
Pegasus tercengang melihat Star meneguk minumannya hingga tersisa setengah isinya. Pemuda tampan itu hendak membuka mulut, tetapi Star mengisyaratkan agar tetap diam dengan menaruh telunjuk di depan bibir.
"Makasih yah minumannya," ucap Star tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
Dengan kedua alis bertaut, Pegasus menatap tajam Star. "Makasih? Emang gue ngasih lo? Yang ada, harusnya lo minta maaf, udah ngerebut minuman gue. Dasar sinting!"
Star menepuk dahi, menyadari kesalahannya. "Oh, iya juga yah. Maaf, Kuda ganteng, ntar gue balikin yah, minumannya." Pegasus memutar kedua bola mata dan ingin melangkah meninggalkan Star karena tidak ingin berlama-lama dengan gadis itu.
Namun, bukan Star jika membiarkan mangsanya pergi begitu saja. Gadis itu lagi-lagi menahan lengan Pegasus agar tetap di tempatnya berdiri.
"Singkirin tangan lo yang penuh kuman ini!" Telunjuk Pegasus mengarah pada cekalan tangan Star. Gadis itu mencebikkan bibir sambil melepas tangannya dengan terpaksa.
"Kuda, ayo kita pacaran!" Pegasus menghela napas mendengar perkataan Star yang begitu enteng mengajaknya berpacaran.
"Gue capek disalahpahami mulu. Gue gak ngapa-ngapain, tapi gue dimusuhi. Kalo gue pacaran sama elo, gue yakin gak ada lagi yang salah paham sama gue," kata Star seolah sedang berkeluh kesah pada Pegasus.
"Lo emang cewek sinting! Pergi sana, gue gak mau jadi mainan lo! Dasar playgirl!" sungut Pegasus yang mendadak kesal mendengar perkataan Star.
"Ck! Ditolak lagi. Alasan lo banyak amat sih buat nolak gue. Ya udah, kalo lo gak mau. Gue terima kak Adi aja kalo gitu. Biar gue punya pacar." Ucapan kelewat santai Star membuat Pegasus menatap gadis itu sinis.
"Kemarin kak Adi nembak gue, belom gue jawab. Gue masih nungguin lo buat nerima gue, tapi kayaknya udah ke- ke berapa yah gue nembak lo? Gue aja sampe lupa. Lo tetap gak mau sama gue." Star gantian yang menghela napas berat sambil menyandar di tembok dan menatap tanah di depannya.
Tidak ada tanggapan apa pun dari Pegasus. Pemuda itu sama sekali tidak membuka suara membuat Star menoleh dan menepuk lengan Pegasus dengan pelan.
"Ya udah deh. Anggap aja gue lagi curhat sama lo. Nanti siang gue mau ngajak kak Adi pulang bareng. Ntar kalo gue udah jadian sama kak Adi, gue traktir lo makan bakso," ucap Star dengan ekspresi ceria seperti biasanya. Lalu gadis itu menyerahkan botol minuman yang tinggal setengah pada Pegasus dan melambaikan tangan meninggalkan pemuda tampan itu sendirian.
"Ditolak lagi, Gaes!" gumam Star sambil melangkah dan suaranya masih didengar dengan jelas oleh Pegasus.
Pegasus memandang botol di tangannya dan meremas kuat hingga bentuknya tidak karuan, lalu melempar botol itu ke dalam tong sampah dengan kasar. Ekspresi wajah Pegasus mengerikan, perpaduan kesal dan marah. Pemuda itu melanjutkan perjalanannya kembali ke kelas.
🌸🌸🌸🌸🌸
"Lo mau ke mana, P? Kita latihan hari ini?" Chris memanggil Pegasus yang terlihat terburu-buru meninggalkan kelas ketika bel pulang berbunyi.
Pegasus tidak menjawab dan seolah mengabaikan panggilan Chris. Entah apa yang membuat Pegasus begitu tergesa-gesa keluar dari kelasnya. Pemuda tampan itu menatap sekelilingnya dan segera menstater motornya.
Kendaraan roda dua yang berwarna serba hitam itu berhenti di depan seorang gadis yang tengah berdiri memegang tali tasnya sambil memanjangkan leher seolah sedang mencari keberadaan seseorang.
"Naik!" Perintah Pegasus.
"Hah?! Apa?"
"Naik! Lo budek?" sungut Pegasus dari balik helm yang dipakainya.
"Lah, kok ngamuk?!"
"Gue gak akan nawari lagi!" ancam Pegasus.
Kedua bola mata Star terbelalak. "Eh-eh, tapi gue lagi nungguin kak Adi," lirih Star mendadak serba salah.
"Ya udah, sana! Bye!" ketus Pegasus. Pemuda itu hendak menjalankan motornya dan tiba-tiba bahunya ditekan dari belakang.
"Jangan jalan dulu, Bego! Ntar gue nyungsep ke belakang. Gak jadi uwu-uwu, malah nanti uwiw-uwiw suara ambulan." Star merapikan cara duduk dan roknya. Motor sport Pegasus emang menyusahkan dirinya.
"Motor lo, gak friendly banget buat boncengan pake rok sekolah kayak gini!" gerutu Star.
"Berisik banget!" Pegasus melajukan motornya meninggalkan sekolah. Pemuda itu mengulum senyum di balik helm full face yang dikenakannya.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸