PEGASUS

PEGASUS
03 - Percekcokan


__ADS_3

Cieleeeeee, update lagi 😆😆😆😆


Wahgelaseeeh! Semoga konsisten deh bisa nulis ending di bab 10 wkwkwk 🤣🤣🤣


Jangan lupa komen + vote, Bebs!!


Happy reading ❤️❤️


*****


Esther Star menggerutu kesal saat sebelah lengannya tiba-tiba digeret oleh seorang gadis berpipi chubby dan telinganya dijewer oleh seorang pemuda bertubuh tinggi semampai. Mereka berdua adalah sahabat baik dari Esther Star, yaitu Water Milly dan Airlangga. Entahlah, nama unik mereka seolah berjodoh satu sama lain.


"Sakit, woi! Ih, lepas!" rutuk Esther Star yang biasa dipanggil Star oleh teman-temannya.


Water dan Air berkacak pinggang berdiri di depan Star yang sedang mengelus telinga dan juga lengannya bergantian.


"Gue udah gak habis pikir dengan apa yang elo lakuin." Water menunjuk wajah Star dengan telunjuknya dan mata melotot, marah.


"Lo ngapain kurang kerjaan nembak orang di depan publik gitu? Urat malu lo udah putus, hah?!" Air bergantian memarahi Star.


Star menatap kedua sahabatnya bergantian dengan berani, tanpa rasa bersalah apalagi takut. Gadis itu mengacungkan telunjuknya, menunjuk satu per satu wajah sahabatnya.


"Elo berdua kenapa sih? Emangnya salah gue di mana?" tanya Star santai dan serempak Water dan Air memutar bola mata mereka.


"Gue tuh lagi nyari kerjaan," kata Star mencoba memberikan penjelasan.


"Kerjaan apaan yang lo dapetin dengan cara nembak kuda kaku gitu?" tanya Air terlihat begitu kesal.

__ADS_1


Dengan memegangi kedua sisi wajahnya, Star tersenyum merekah menatap Water dan Air bergantian. "Kerjaan mencurahkan kasih sayang yang gue punya buat si Kuda Dingin itu. Kali aja, setelah gue kasih perhatian, dia jadi lumer." Air mendengkus mendengarnya.


"Geli banget sih, omongan lo, Star!" Water menggosok lengannya yang mendadak merinding.


"Apa sih yang lo suka dari kuda kaku itu? Nilainya minus semua begitu." Air mencoba menginterograsi Star.


"Minus lo bilang?! Mata lo yang minus, iya," ketus Star tidak terima.


"Kuda dingin itu ganteng, pinter matematika, pinter dance, penampilannya keren, pokoknya nyaris mendekati sempurna. Cowok idaman gue banget." Star mengungkapkan pujiannya untuk Pegasus dengan mata berbinar-binar dan Air kembali mendengkus tidak suka mendengarnya.


"Cih! Gue juga gak kalah ganteng, pinter akademis, bisa juga joget-joget gitu. Lo liat nih, penampilan gue udah kece badai halilintar malahan. Gue sama Kuda kaku itu 11-12. Jadi, ngapain lo nyari cowok jauh-jauh terus mempermalukan diri lo sendiri." Air seolah sedang mempromosikan dirinya sendiri. Star tidak segan untuk memukul bokong Air dengan telapak tangannya.


"Berisik lo! 11-12 lo sama dia, tetap aja dia jauh lebih unggul dibanding lo. Lagian, gue gak mau pacaran sama temen sendiri, apalagi kayak lo gini bentukannya. Ogah!" Water tertawa terbahak mendengar penolakan mentah-mentah yang diberikan Star pada Air. Air mendelik kesal ke arah Water dan memberinya cubitan pada lengan gadis itu.


"Udah, ayo masuk kelas! Gak usah dipikirin permasalahan gue. Lagian, bukannya bagus kalo gue jadi viral. Kali aja nanti ada yang mau endorse gue." Star melangkah riang dan ringan meninggalkan kedua sahabatnya yang menatap gadis itu dengan tatapan pasrah.


*****


Semua pandangan tertuju pada Star saat gadis itu melangkah masuk ke dalam kelasnya. Akan tetapi, Star sendiri seolah tidak ambil pusing. Gadis itu mendudukkan bokongnya ke atas kursi lalu memasang earphone. Star memilih mendengarkan lagu dibanding bisikan hujatan padanya.


Star tersenyum menatap layar ponselnya. Gadis itu mengubah wallpaper ponselnya dengan punggung Pegasus, foto yang dia ambil dari arah belakang.


"Gue bakal berusaha keras buat ngeluluhi lo." Tunjuk Star pada layar ponselnya.


Star menaruh kepalanya di atas meja sambil mendengarkan playlist lagu kesukaannya, tetapi tiba-tiba lagu berhenti mendadak. Tali earphonenya ditarik paksa oleh seseorang, membuat Star mau tak mau mengangkat kepalanya. Sosok yang tidak ingin Star lihat muncul di depannya dengan melipat kedua tangan di depan dada.


Gadis itu mengisyaratkan teman-teman yang berdiri di sebelahnya untuk memberikan apa yang ia butuhkan. Sebuah cermin berukuran sedang kini sudah dalam genggaman gadis yang berdiri di depan Star. Semua orang di dalam kelas begitu excited dengan kedatangan gadis tercantik ke kelas mereka.

__ADS_1


Moon, gadis yang dinobatkan sebagai gadis tercantik di sekolahan, mengarahkan cermin di tangannya ke arah Star.


"Sebaiknya lo lebih sering berkaca di cermin sebelum lo melakukan hal yang memalukan," ucap Moon seolah sedang menasihati Star.


Star tersenyum miring mendengarnya. "Apa urusan lo ngatur-ngatur gue?" Moon mengggeram mendengar balasan ketus Star.


"Lo seharusnya tau diri, kalo lo gak pantes buat Pegasus!" Tanpa menunggu lama, api amarah Moon tersulut begitu saja.


"Jadi, menurut lo, yang pantes buat Pegasus itu siapa? Elo?" Balasan sarkas Star membuat semua orang di sana tercengang. Belum pernah ada sejarahnya, orang yang berani membantah bahkan membalas ucapan Moon ketika dilabrak oleh gadis itu.


Moon mengibaskan rambut panjangnya, lalu membusungkan dadanya tinggi sambil menaikkan sebelah alis menatap remeh Star.


"Iya. Pegasus cuma buat Moon seorang. Jadi, mendingan lo jauh-jauh. Sampah kayak lo gak akan dilirik oleh Pangeran sekolah," desis Moon penuh percaya diri.


Star terkekeh membuat kedua alis Moon bertaut, terlihat kesal. "Kalo gue sampah di mata Pegasus, berarti lo juga sama kayak gue, sampah juga. Toh-buktinya, Pegasus gak mau deket-deket sama lo. Ah- lebih jelasnya, lo gak berhasil ngedapetin Pegasus dari dulu." Ucapan Star membuat berang Moon. Sebuah tamparan keras dilayangkan Moon pada pipi Star.


Karena begitu kuatnya tamparan Moon, membuat ujung bibir Star luka dan pipinya merah, kebas. Semua orang di sana tercengang, Moon memang begitu terkenal dengan tindakan brutalnya membully semua orang yang tidak disukainya, tetapi tidak ada yang berani untuk mengadukan tindakan gadis itu pada pihak sekolah.


Star hanya diam, tidak memberikan balasan pada Moon. Gadis itu hanya bergeming di tempat sambil menatap lekat Moon yang terlihat gugup.


"Jangan pernah samain gue sama lo. Kita beda level! Sebaiknya lo ingat peringatan dari gue ini, kalo enggak- gue bisa berbuat lebih dari sekadar tamparan seperti tadi. Dasar sampah!" Moon menatap tajam Star.


Air yang berada di belakang Star ingin maju dan memberi pelajaran pada gadis idola sekolahnya yang sudah menyakiti sahabatnya. Ucapan dan tindakan Moon sudah begitu keterlaluan, Air tidak mau membiarkannya begitu saja. Akan tetapi, lengan Air dicekal kuat oleh Star.


"Gue gak apa-apa. Jangan bertindak gegabah." Setelah mengucapkan kalimat itu, Star kembali duduk ke tempatnya dan memasang earphone, seolah tidak terjadi apa pun sebelumnya. Gadis itu mengambil sebuah plester dan menempelkannya di ujung bibirnya yang luka.


Air menatap Star dengan tangan terkepal kuat. 'Lo gak baik-baik aja, Star!'

__ADS_1


__ADS_2