Pelangi Penantian

Pelangi Penantian
Pertanda II & Jarak


__ADS_3

Hari-hari Nia berlalu seperti biasa tanpa ada kepastian dari Andi.


Hanya melempar kode yang tak pernah terpecahkan sampai kapanpun tanpa adanya inisiatif dari kedua belah pihak.


Pada sore hari itu, Nia duduk di halaman depan rumah ditemani buku dan ponsel yang digunakan untuk mencari informasi mengenai cinta pertama.


"Benarkah cinta pertama itu tidak akan pernah bisa dilupakan ?" gumamnya dalam hati.


Dan bagaimana jika pada akhirnya semua hal yang dilakukan akan berakhir sia-sia tanpa ada kepastian. Hal itu tentu akan sangat menyakitkan bagi Nia.


Nia mulai pasrah dengan semua angan dan harapan semu yang dimiliki, ia mulai memikirkan bagaimana dirinya harus bisa untuk segera berpaling dari Andi.


Tidak ada gunanya berharap jika pada akhirnya orang yang diharapkan tidak pernah mengerti.


Ia teringat salah satu teman terdekatnya, Mona memberi saran agar ia bisa berbicara dan mengungkapkan apa yang dirasakan kepada Andi. "Mungkin saja ia memiliki perasaan yang sama." ungkap Mona meyakinkan di samping Nia sebelum kelas dimulai.


Namun Nia berpikir tidak mungkin bagi dirinya untuk mengungkapkan perasaan terlebih dahulu.


"Gila aja, masa aku yang duluan sih..." dalam benaknya di teras rumah sore itu.


Keinginan untuk melupakan terkadang selalu bertentangan dengan hatinya.


Nia mulai menyalakan sebuah lagu dari film First Love yang menggambarkan bagimana perasaannya sampai saat itu.

__ADS_1


 


Don't know how long is it, that I have


to resist everything, hide all of the truth


in my heart...


Everytime we meet, every time you turn


to me, that I pretend to be still...


Do you know how much I have to force


Can you hear ? My heart... Is telling you


I love you...


But I can't reveal my true feeling


to anyone...


My heart... is waiting there for you

__ADS_1


to open, can only hope you know it,


someday...


Keesokan harinya, seperti biasa Nia bersiap untuk berangkat ke sekolah mengendarai


sepeda motor pink favoritnya.


Warna yang cukup ekstrim untuk kendaraan bermotor bagi sebagian orang, namun Nia merasa berbeda karena bisa dengan cepat mengenali sepeda motornya, diantara parkiran motor lainnya.


Kamis pagi itu merupakan jadwal olahraga bagi kelas Nia. Seusai olahraga, ia langsung bergegas mengganti pakaian olahraga dengan seragam batik sekolah.


Ketika sedang berjalan menuju kelas selanjutnya bersama dengan Mona, mata Nia kembali penasaran dengan siapa orang yang menatapnya dari kejauhan, ketika menatap balik, dari ujung seberang terlihat Andi menatap ke arahnya. Nia tertunduk, langsung melanjutkan perjalanannya.


Sesampai di kelas, Nia hanya bisa duduk diam beristirahat sebelum pelajaran selanjutnya dimulai. Begitu seringnya mengalami hal yang tidak bisa dimengerti dan apabila diterka mungkin saja segala dugaannya salah terhadap Andi.


Tak lama kemudian, pelajaran selanjutnya dimulai. Pada saat sedang asyik mengerjakan tugas bahasa Indonesia yang diberikan oleh guru, Nia terpaku mendengar sebuah pengumuman dari loudspeaker tata usaha yang memanggil nama seseorang yang tidak asing baginya, yaitu Andi.


"Kepada Andi Putra Pratama diharapkan untuk segera menuju ruang BK, karena berhubungan diterimanya saudara pada Universitas Brawijaya-Malang. Demikian dan terima kasih."


Suara pengumuman tersebut, membuat Nia tidak konsentrasi untuk mengerjakan tugasnya.


"Jadi Kak Andi akan melanjutkan kuliah di Malang." pikirnya.

__ADS_1


Dan secara otomatis pula jarak yang akan membentang semakin jauh antara dirinya dengan Andi. Sementara, jangankan untuk berbicara, berkomunikasi secara tidak langsung melalui media sosialpun tidak pernah sama sekali.


__ADS_2