
Masa lalu yang tidak terselesaikan akan menemukanmu kembali, entah itu cinta ataupun kebencian.
Setelah bertahun-tahun berlalu, Nia masih bisa menjalani hari dengan baik, ia menyadari bahwa semua rasa yang tak sempat menjadi nyata memang terasa pahit. Menangisi hal yang sudah terjadi di masa lalu, bukanlah yang ingin dilakukan lagi. Yang terpenting adalah bisa mewujudkan mimpi dan cita-citanya untuk menjadi orang sukses di masa depan.
Mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat menjadi suatu hal yang sangat diutamakan olehnya.
Beberapa kegiatan kampus yang berkaitan dengan bisnis diikuti, intinya segala kegiatan yang bisa mengasah skill yang dimiliki.
Nia menyadari hal tersulit yang ia alami adalah melupakan seseorang yang tidak bisa dimiliki, dan itu merupakan hal terberat yang harus dijalaninya.
Bahkan lupa rasanya terserang virus merah jambu kembali.
Hari itu, 23 Oktober 2014 entah mimpi apa ia semalam, secara tiba-tiba Andi mengiriminya sebuah pesan singkat melalui messenger, Andi mengucapkan selamat ulang tahun kepada Nia.
Sebuah pesan singkat yang mungkin sangat berarti bagi Nia, orang yang dikaguminya selama 6 tahun terakhir, mengiriminya sebuah harapan yang sudah dinantikannya bertahun-tahun.
Pesan yang membuat Nia memikirkan bagaimana membalas pesan dari Andi, untuk satu kata yang akan ditulis sebagai balasan, seolah sangat sulit untuk dipikirkan.
"Selamat ulang tahun ya, semoga apa yang menjadi cita-cita dan harapanmu tercapai, sukses, dan semoga sisa umurnya berkah."
Berkali-kali membaca satu pesan yang sama, kemudian tersenyum sendiri membuat Nia merasa bahwa ia orang yang paling konyol. Sejak pagi sampai sore hari, Nia belum bisa membalas pesan dari Andi.
Padahal jika dipikirkan secara logika, apa susahnya sekedar membalas sekedar pesan singkat ucapan dari seseorang. Tapi jika itu dari seseorang yang spesial, terasa sangat susah.
__ADS_1
Sampai malam hari, Nia mulai mengetik sebuah pesan balasan untuk Andi.
"Aamiiinn.. Terima kasih kak Andi..."
Langsung saja dikirimnya sebuah pesan singkat untuk Andi melalui messenger.
Bak angin segar berhembus, Andi langsung menanggapi.
"Apa kabar?"
Nia mulai bingung dengan hal seperti itu. Apakah benar orang yang menghubunginya saat itu adalah Andi ?
Padahal ia sudah bersusah payah agar bisa melupakan Andi.
"Alhamdulillah baik, kakak sendiri apa kabar ?"
Andi merespon dengan sangat cepat.
"Alhamdulillah... Aku dengar kabar, kamu kuliah di Malang juga ya ?"
"*Iya kak, aku di Malang... tepatnya di Universitas Muhammadiyah Malang.
Kakak juga kuliah di Malang bukan?"
__ADS_1
"Ya,aku di Brawijaya dek...
kamu jurusan apa di sana* ?"
Nia mengabaikan pesan singkat terakhir dari Andi. Ia masih terus bertanya dalam hati, apakah ini benar ? apakah itu mungkin Andi atau orang lain?.
Dengan rasa masih belum percaya semuanya.
Pagi hari sebelum berangkat kuliah, ia menyempatkan membalas pesan dari Andi semalam.
"Manajemen kak..."
Jujur ada perasaan yang tidak bisa dikendalikan Nia sampai saat itu, dan ia tidak ingin lagi mengulang perasaan yang mungkin akan sia-sia kembali, terjatuh pada orang yang sudah membuatnya susah payah berjuang melupakannya, dan secara tiba-tiba orang tersebut datang menyapa kembali dalam hidupnya.
"Kalau ada waktu mungkin kita bisa bertemu lagi dek...
sudah cukup lama tidak bertemu semenjak aku menjadi kakak pembinamu dulu, dan aku sangat ingin berbicara walaupun hanya sebentar saja..."
Sontak membaca pesan balasan dari Andi, Nia langsung kaget, diam tak bergeming sedikitpun. Perasaannya terasa bercampur aduk, membuncah seperti bom waktu yang siap meledak saat itu juga.
__ADS_1