
Ayra menghargai niat baik Dito yang menawarkannya melanjutkan kuliah. Tentu saja itu adalah keinginan Ayra sejak dulu yang terpendam karena keadaan perekonomian keluarganya.
Dia tidak mau memaksakan ayahnya yang sakit-sakitan dan butuh dana untuk pengobatan, membiayainya kuliahnya. Jadi, Ayra mengubur keinginannya untuk bisa mencicipi bangku kuliah.
Namun, Ayra menolak! Bukan, dia bukan melupakan mimpinya. Tapi Ayra memilih untuk meneruskan hobinya yang sudah mulai ditekuni saat setahun setelah lulus SMA.
Awalnya Ayra hanya coba-coba mencoba resep yang dia lihat di YouTube. Namun, ternyata ayahnya menikmati hasil masakannya dan memuji dengan mengatakan sangat lezat, dari sana Ayra punya kepercayaan diri untuk membuat masakannya dalam jumlah lebih banyak dan memasarkannya di kampung, menitipkan kue-kue yang dia buat di warung-warung yang ada di desanya dan ternyata hasil jualannya laris manis.
Berbekal semangat jualan yang laris, membuat Ayra semakin ingin menekuni bisnis kuliner, tidak hanya dalam bidang membuat kue tapi juga makanan berat lainnya seperti nasi goreng mie goreng dan masih banyak menu yang ingin dia coba.
Terbukti ketika pertama kali menjadi mantu di rumah ini, dia memasak nasi goreng untuk sarapan Dito dan keluarganya. Semua memuji dan mengatakan enak, bahkan Maya juga menikmati masakan itu sebelum mengetahui siapa yang masak.
"Jadi kamu nggak mau melanjutkan kuliah?" tanya Dito sekali lagi.
"Kalau Om mengizinkan, aku mau kursus memasak aja Om. Kalau punya rezeki mau buka toko nantinya," ucap Ayra dengan nada malu-malu. Dia merasa tidak tahu diri, sudah ditawarkan untuk dikuliahkan, tapi justru minta kursus memasak, agar suatu hari nanti bisa buka usaha sendiri. Hanya toko roti kecil-kecilan saja, dia pasti sudah sangat senang.
"Kalau begitu besok Om akan mencari tempat kursus memasak yang bagus agar kamu bisa segera kursus di sana dan satu lagi kapanpun kamu sudah siap untuk membuka toko, Om akan segera membantu membuatkannya untukmu," ucap Dito tersenyum.
Ayra semakin tidak enak hati. Dia takut dianggap memanfaatkan kebaikan Dito. Bagi nya lebih baik kalau dirinya bisa membuka toko sendiri dengan uang hasil kerja kerasnya, tapi bagaimana mungkin dia tidak punya pekerjaan apapun saat ini.
Hal itu nanti saja dipikirkan, yang terpenting saat ini dia menjalani kursus memasak dan mengolah skillnya agar lebih hebat lagi.
__ADS_1
Selesai bicara dengan Dito, Ayra segera masuk ke kamar. Dia pikir, Dewa pasti sudah tidur, tapi ternyata pria itu justru menunggunya dan begitu melihat Ayra yang masuk, segera menyambutnya dengan berbagai pertanyaan.
"Kenapa lama sekali, apa yang papa dan kau bicarakan?" tanyanya segera duduk bersila, memperhatikan Ayra yang berjalan menuju kamar mandi.
"Tidak ada yang penting, hanya ngobrol biasa. Om Dito menawarkan ku untuk kuliah," jawab Ayra santai. Sebenarnya Ayra tidak berkewajiban untuk menjawab rasa penasaran Dewa, tapi entah sejak kapan, Ayra selalu berusaha untuk menjawab rasa keinginantahuan Dewa, setiap pria itu menanyakan apapun juga. Semua itu lagi-lagi mengalir begitu saja. Dia ingin rasa penasaran Dewa dapat dia penuhi.
"Kuliah? Terus kamu terima?" tanya Dewa yang ikut bangkit dari duduknya berdiri di ambang pintu kamar mandi dan memperhatikan Ayra sedang mencuci wajahnya.
Gadis itu tidak bisa menjawab karena sibuk mengusap pipinya dengan facial wash yang sudah berbusa di wajahnya, hanya gelengan yang diberikan Ayra sebagai jawaban.
Dewa sabar menunggu gadis itu membasuh wajahnya dan mengambil handuk untuk mengeringkan kulit wajahnya yang sudah bersih.
"Kenapa kau menolaknya?" desak Dewa dengan rasa penasarannya.
"Kenapa nggak minta aja Papa membuatkan restoran untukmu sekarang?" lanjut Dewa menguji gadis itu.
Ayra menggeleng seraya mengulum senyum. "Gak, ah. Aku ingin membuat toko sendiri dengan jerih payah dan hasil kerjaku," jawab Ayra dengan mantap.
Dewa jadi termangu, mendengar impian gadis itu begitu sederhana. Ayahnya menawarkan kuliah namun, dia memilih untuk kursus memasak. Bagaimana mungkin selama ini dia berpikir bahwa Ayra hanya ingin memanfaatkan kebaikan ayahnya, masuk ke dalam keluarga mereka untuk mengambil keuntungan dan menjadi salah satu pewaris dari harta kekayaan ayahnya?
Ayra ternyata sosok yang sederhana memiliki impian sederhana tanpa punya ambisi ingin menguasai yang bukan miliknya. Bahkan kalau dia mau, bisa saja saat ini dia meminta ayahnya untuk membuatkannya toko yang besar bahkan restoran bintang lima tapi Ayra menolak dan mengatakan bahwa dia ingin membangun usaha dengan tangannya sendiri dan juga hasil jerih payahnya.
__ADS_1
"Kau begitu bersemangat, ya? Aku doakan semoga impian dan juga harapanmu bisa kau raih. Jadi, kapan kau mulai kursus memasak?" tanya Dewa yang kembali ke atas ranjang.
"Lusa, setelah Om Dito mencarikan tempat kursus memasak," jawabnya dengan tidak sabar.
"Kau mau ke mana?" tanya Dewa mengamati gadis itu yang hendak duduk di sofa tempat Ayra biasa tidur.
"Tidur," jawabnya sambil menunjuk ke arah sofa.
"Mulai malam ini dan seterusnya, kamu tidur di sini, sama aku. Kamu tenang aja, aku gak akan melakukan hal yang merugikan mu," jawab Dewa menyembunyikan wajahnya yang memerah. Dia segera membalikkan tubuhnya menghadap sebelah kiri, lalu mulai memejamkan mata.
Ayra bengong, memandangi tubuh Dewa. Gadis itu mulai menimbang, apa dia akan tidur di samping Dewa, atau kembali ke sofa yang membuat tulang punggung terasa sangat sakit?
Dia melanjutkan langkahnya menuju sofa, mengamati kembali punggung Dewa. Apa mungkin pria itu sudah tertidur?
Dorongan untuk naik ke ranjang begitu besar. Selama dia sakit kemarin, Dewa mengizinkannya untuk tidur di sana dan Dewa yang di sofa. Kasur itu begitu empuk, dan Ayra tergoda untuk merasakannya kembali.
15 menit berlalu, Ayra akhirnya mengambil bantal dan juga selimutnya. Perlahan merangkak ke atas ranjang. Gadis itu berusaha untuk tidak meninggalkan suara, tidak ingin membangunkan Dewa, sejujurnya dia masih terasa sangat malu.
Ayra merebahkan tubuhnya di samping Dewa. Dia mencoba melirik, apa pria itu jadi bangun, tampaknya Dewa sudah tertidur pulas.
Sebaiknya dia pun tidur saja, karena tubuhnya memang sangat lelah dan juga matanya sudah mengantuk. Tidak butuh waktu lama, Ayra akhirnya tertidur.
__ADS_1
Setelah memastikan bahwa gadis itu sudah tidur dengan nyenyak, barulah Dewa berbalik dan melihat wajah Ayra yang tertidur dengan sangat pulas, bahkan mulut wanita itu menganga tanpa dia sadari.
"Kau kelihatan begitu kelelahan, bisakah kau jangan menyiksa dirimu dengan melakukan semua pekerjaan di rumah ini?" bisiknya mendekatkan tubuhnya pada Ayra, lalu tanpa canggung, memeluk gadis itu erat dan ikut tertidur bersamanya.