
Hati Ayra mencelos mendengar hal informasi dari Bu Ijah. Artinya, bukan kesibukan kantor yang membuat Dewa tidak bisa menjemputnya, tapi karena sibuk dengan seorang gadis.
Ayra benci pada dirinya, kenapa bisa percaya, seharusnya walau dikecewakan oleh Dewa pun dia tetap tegar berusaha untuk tidak peduli. Namun, kenyataan kini dia menangis.
Hatinya teriris, terlebih karena didengar pergi bersama seorang wanita.
"Neng, mau makan?" tanya Bi Ijah, menawarkan. Ayra menggeleng, diabaikannya rasa lapar di perutnya. Kepalanya terasa sakit, jadi lebih baik dia masuk kamar dan tidur.
Lelah, dan juga sakit pada kepalanya membuat Ayra tertidur pulas. Entah jam berapa Dewa datang, dia sama sekali tidak mendengar kedatangan pria itu.
Dewa duduk di tepi ranjang, terdiam menatap gadis itu. Dia sadar kalau hari ini dia sudah membuat Ayra bersedih, mengecewakan gadis itu. Dia punya alasan, tapi tidak bisa membenarkan perbuatannya.
"Maafkan aku, Ay," ucapnya lirih. Membelai wajah cantik itu dengan sendu. Dia masih melihat bekas air mata di pipi Ayra, yang semakin membuatnya semakin bersalah.
__ADS_1
Ayra yang semula telentang, bergerak memutar tubuhnya menghadap Dewa, hingga tangannya ditimpa oleh wajah Ayra.
Tidak ingin mengganggu, Dewa memutuskan untuk berbaring di samping Ayra, seperti biasa memeluk perut ramping gadis itu, menariknya dalam pelukan hingga keduanya begitu hangat.
***
Ayra terbangun saat adzan subuh berkumandang. Menyadari kalau tubuhnya berada dalam kungkungan erat Dewa. Hatinya menghangat, begitu nyaman berada dalam pelukan pria itu, tapi mengingat Dewa yang tidak menjemputnya kemarin sore membuat Ayra memutuskan untuk melepaskan diri dari dekapan pria itu.
Ayra bergerak kembali dan hal itu membuat Dewa tersadar, membuka bola matanya dengan berat. "Kau sudah membangun?" ucap Dewa memandang wajah Ayra, tidak sedikitpun mengendorkan pelukannya.
Ayra tidak mau menjawab pertanyaan pria itu. Dia masih berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Dewa. Namun, lagi-lagi pria itu mengerahkan tenaganya untuk memeluk Ayra lebih erat. Gerakan grasak-grusuk Ayra dalam pelukannya terhenti saat pria itu membelai punggung Ayra berulang kali, mencoba minta Ayra untuk lebih tenang.
Tampaknya usaha Dewa membuahkan hasil. Ayra tidak lagi mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Dewa. Dia diam mendengarkan debar jantung pria itu yang tepat berada di wajahnya.
__ADS_1
"Aku tahu kau marah karena sudah melanggar janjiku. Aku minta maaf karena tidak jadi menjemputmu. Aku bukan lupa, aku sangat ingat dan bersiap untuk menjemputmu sore itu, tapi sesuatu menahanku," terang Dewa menceritakan keadaannya yang terpaksa mengabaikan janjinya pada Ayra.
Gadis itu mengingat kembali cerita Bi Ijah, perihal wanita yang pergi dengan Dewa. Tergelitik rasa hatinya ingin mengetahui siapa wanita itu dan ada hubungan apa dengan Dewa, tapi tentu saja hal itu tidak dia lakukan. Ayra begitu malu untuk menanyakan hal itu.
"Aku mohon jangan membenciku. Lain kali aku tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama, akan lebih mengutamakan janjiku kepadamu," lanjutnya setelah diam beberapa menit seolah menimbang kalimat apa lagi yang akan dia katakan kepada Ayra agar gadis itu percaya kepadanya.
Dewa tampaknya sudah mengerti dengan isi pikiran dan juga hati Ayra. Dia tahu gadis itu ingin mengetahui alasan yang membuatnya tertunda untuk menjemput atau mungkin saja dia sudah mengetahui mengapa dirinya tidak jadi menjemput Ayra.
"Anak teman mama siang tadi berkunjung ke rumah. Dia baru pulang dari luar negeri dan kebetulan juga teman sekolahku. Mama memintaku untuk mengantarnya pulang dengan alasan dia sudah lupa rute perjalanan pulang ke rumah mereka karena selama ini berada di luar negeri. Aku pikir hanya mengantarnya sebentar namun, keluarganya mengajak berbicara, menahanku sampai magrib. Setelah pamit, buru-buru datang kembali ke tempat kursus mu. Aku minta maaf," ulang Dewa mengecup puncak kepala Ayra.
Hati gadis itu menghangat, dia menangis gembira. Beban di hatinya terangkat seketika.
"Terima kasih," bisik Ayra tanpa sadar yang masih mampu di dengar Dewa.
__ADS_1