
Butuh dua hari yang sibuk untuk mengerjakan semuanya hingga syuting iklan itu selesai. Selama prosesnya, Ayra banyak belajar, banyak bertemu dengan orang-orang hebat di balik layar, dan semakin membuatnya kagum pada Egi.
"Akhirnya selesai juga. Terima kasih untuk kerja kerasmu," ucap Egi menepuk punggung tangan Ayra saat keduanya melihat hasil akhir dari editing video.
"Aku yang mengucapkan banyak terima kasih padamu, karena kau sudah mau memberikan jalan untukku bisa sampai di titik ini," jawabnya dengan setulus hati.
Dia bisa membayangkan bagaimana reaksi orang di desanya nanti, ketika di layar kaca mereka ada wajah Ayra yang wara-wiri setiap harinya.
"Aku ingin mengajak mu makan untuk merayakan kerja keras kita yang sudah rampung hari ini," ucap Egi. Sedikit demi sedikit dia ingin mendekati Ayra, nanti setelah bisa mendapatkan perasaan gadis itu, makan dia bisa dengan mudah memintanya untuk bercerai dengan Dewa.
"Apakah kita pergi dengan semua orang? Maksudku kru yang sudah bekerja sama menyelesaikan iklan ini?" tanya Ayra yang merasa bahwa semua orang yang ada di studio itu berhak juga untuk mendapatkan traktiran dari Egi, jangan karena dia adalah bintang iklannya maka Egi hanya ingin merayakan bersamanya.
Egi jadi bingung harus menjawab apa. Ayra masih menunggu dengan tatapan ingin tahu jawaban darinya. Tentu saja niat Egi hanya ingin mengajak Ayra seseorang, tapi setelah mendengar gadis itu bertanya, Egi tebak jika hanya mereka berdua yang pergi makan, Ayra akan menolak.
"Tentu saja kita semua yang akan pergi makan untuk merayakan kerja keras kita selama beberapa hari ini," jawab Egi dengan tersenyum. Biarlah kali ini kencan mereka bersama-sama dengan para kru, apapun akan dia lakukan untuk membuat Ayra nyaman, dia tidak ingin terlalu mendesak gadis itu untuk memilihnya.
Egi punya waktu segudang, jadi dia akan bersabar menunggu Ayra.
__ADS_1
Semua kru menyambut gembira rencana makan malam bersama. Semuanya tampak riang gembira memasuki restoran Korea karena mereka ingin makan makanan khas Korea yang sering mereka lihat di drakor.
"Apakah sudah makanannya? Kalau kamu merasa tidak cocok, kita bisa pesan yang lain," tanya Egi yang sejak tadi memperhatikan Ayra yang hanya bengong melihat teman-teman mereka yang lain dengan lahap makan dan menikmati shabu-shabu serta panggangan daging yang langsung dimasak di tempat itu.
Ayra tersenyum malu. Dia segan berkata sebenarnya, tapi kalau masih tetap mempertahankan rasa malunya, dia bisa mati kelaparan.
"Aku gak bisa makan, gak ngerti cara panggang nya," bisik Ayra mendekat pada Egi yang membuat pria itu tertawa renyah. Ayra mengerucutkan bibirnya, kesal dengan reaksi Egi yang mengalami tertawakannya dia Jadi menyesal karena sudah mengatakan hal itu pada pria yang ada di sampingnya ini.
"Kau cukup minta padaku, aku akan melayani mu," jawab Egi kala tawanya sudah reda.
Terbukti Egi dengan begitu perhatian memberikan daging yang sudah terpanggang sempurna di piring Ayra, begitupun mengisi cawan kecil dengan beraneka jenis bakso dan juga sayur.
Tepat saat itu Dewa yang hendak masuk ke dalam restoran itu bersama temannya, melihat langsung dengan kepala mata sendiri bagaimana intimnya istri dan juga abangnya, berpegangan tangan di tempat umum.
Walaupun tidak ada yang tahu bahwa Ayra adalah istrinya, setidaknya gadis itu bisa menahan diri untuk tidak disentuh oleh pria lain.
Hati Dewa sakit tercabik dan kini dipenuhi dengan amarah. Berjam-jam dia menunggu kepulangan Ayra tapi gadis itu tidak kunjung datang. Ingin menghubungi gadis itu, tapi Dewa masih gengsi harus mengajak bicara lebih dulu.
__ADS_1
Dia tidak merasa bersalah, jadi untuk apa dia yang lebih dulu meminta maaf. Harusnya Ayra yang datang dan berbicara padanya lebih dulu. Dia tidak mengizinkan wanita itu bekerja bersama Egi, tapi kenyataannya, Ayra tetap bekerja dengan musuh Dewa itu.
Tidak kunjung tiba, Dewa yang merasa frustrasi, akhirnya memutuskan untuk menerima ajakan temannya untuk makan di luar dan takdir mempertemukan mereka, menunjukkan pada Dewa bahwa istrinya sedang bersenang-senang dengan pria lain, dan parahnya adalah abangnya sendiri.
"Ada apa? Kau jadi keluar? Ayo masuk," ajak Rizal, sahabat Dewa yang memaksanya untuk mau keluar malam itu menemani Rizal makan.
"Sorry zal, sebaiknya aku pulang, kepalaku sakit pengen istirahat. Lain kali aku temani kau makan," jawab Dewa segera berlalu tanpa menghiraukan panggilan Rizal.
Dewa menunggu dengan gelisah di dalam kamar, sudah pukul 11.00 malam, tapi mereka belum pulang. Kalau hanya untuk makan, seharusnya sejak tadi keduanya sudah sampai di rumah, lantas pergi ke mana kedua orang itu setelah selesai makan malam?
Pikiran buruk terus berkelana di kepala Dewa. Dia tidak terima dan tentu saja akan membuat perhitungan kepada Egi agar mengetahui batas dirinya jangan sembarangan memegang tangan istri orang lain.
Seujung kuku pun dia tidak sudi istrinya disentuh orang lain!
Terdengar handle pintu kamar mereka yang diputar. Panjangnya lamunan Dewa membuatnya tidak mendengar langkah Ayra yang sudah mendekat.
"Ka-kau belum tidur?" ucap Ayra mendapati Dewa yang tengah berdiri berkacak pinggang di tengah ruangan kamar.
__ADS_1
"Kita harus bicara serius!"