Pengantin Yang Tak Diinginkan

Pengantin Yang Tak Diinginkan
Perhatian Dewa


__ADS_3

"Siapa itu, Ay," tanya Kamsamida menunjuk pria yang berdiri dengan tubuh bersandar di mobil, mirip bintang iklan mobil sport di televisi. Kamsamida sampai tidak bisa mengalihkan pandangannya pada Dewa.


Ayra yang terkejut akan kehadiran Dewa yang tiba-tiba tanpa memberitahunya, membuatnya panas dingin. Ada perasaan gembira menyelimuti hatinya. Bahkan gadis itu tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya.


Ayra tidak menjawab pertanyaan Kamsamida, dia harus jawab apa? Walau ingin sekali mengatakan kalau pria tampan itu adalah suaminya.


"Apa aku terlambat?" tanya Dewa menyapa Ayra sambil tersenyum. Lihat saja Efeknya bagi Ayra. Hati gadis itu bergetar, tersentuh oleh sikap gentle Dewa.


Samar, Ayra menggeleng, lalu mengulum senyum sembari menatap Dewa.


"Kenalkan, aku temannya, Ayra. Kamsamida," ucap Kamsamida mengulurkan tangannya. Demi kesopanan, Dewa juga menyambut uluran tangan Kamsamida.


"Dewa, suaminya Ayra," ucap Dewa yang berhasil membuat Ayra mengangkat wajahnya menatap Dewa. Debar jantung nya semakin kencang. Dia pikir Dewa tidak akan mengakui dirinya sebagai istrinya.


Kamsa sampai tidak bisa berkata-kata lagi, menoleh pada Ayra lalu melihat pada Dewa, lalu setelah bisa menguasai keterkejutannya, dia berbisik pada pada Ayra. "Gila, suami mu tampan banget, pasti orang kaya, ya?"


Ayra hanya melotot pada Kamsa agar gadis itu tidak bergunjing di depan Dewa.


***


"Temanmu lucu," ucap Dewa memecah suasana kesunyian di dalam mobil. Ayra melirik ke arah Dewa dan mengangguk.

__ADS_1


"Dia juga gadis yang baik," ucapnya kikuk. Kenapa dia selalu gugup setiap berdekatan dengan Dewa. Apa mungkin dia juga sudah jatuh cinta pada Dewa?


Kemudian keduanya kembali diam. Rasa malu terus menggerogoti hari Ayra. Lalu setelah setengah jam jarak tempuh, Ayra sadar kalau ini bukan jalan pulang ke rumah.


"Kita mau kemana? Ini bukan jalan pulang," ucap Ayra memutar tubuh, memperhatikan jalanan yang mereka lalui.


"Kita ke mall. Aku mau beli ponsel untuk mu," ucap Dewa masih menatap lurus ke depan.


"Tapi...,"


"Aku gak mau kau menolaknya. Aku membelinya juga agar bisa menghubungi mu nanti. Jadi, kau tidak akan menunggu terlalu lama ku jemput," ucap Dewa yang akhirnya membuat Ayra hanya bisa diam.


Sepanjang sisa perjalanan, Ayra terus memikirkan hal itu, hingga akhir nya sampai di parkiran mall terbesar di kota itu.


"Susah sampai, ayo turun," ucap Dewa menyadarkan Ayra dari lamunannya.


"Wa, aku disini aja ya," ucapnya dengan tatapan memohon. Bukan dia tidak ingin bersama pria itu, jalan berdua, tapi ini semua demi kebaikannya.


"Kok gitu? Ayo turun," ucap Dewa memaksa. Ayra tidak punya pilihan lain, lalu sedikit merapikan rambutnya. Hari ini dia pakai celana jeans dengan kemeja flanel dan rambut diikat ekor kuda. Sedikitpun tidak ada riasan di wajahnya.


Ayra sengaja berjalan di belakang Dewa, menjaga jarak dengan pria itu, agar siapa saja yang melihat mereka tidak menduga bahwa keduanya saling kenal.

__ADS_1


Namun, tampaknya Dewa menyadari tingkah Ayra. Pria itu berhenti lalu menoleh pada Ayra. "Kau sedang apa? Kenapa jalanmu lambat sekali? Kenapa kau berjalan sangat jauh?" hardik Dewa.


"Aku... Aku gak mau membuatmu malu. Sebaiknya kita jalan berjauhan. Anggap saja tidak saling kenal," tukas Ayra. Dia paling tidak bisa menyembunyikan isi hatinya.


Dewa diam, menatap Ayra dari ujung rambut hingga kaki. "Apa yang kau pikir bisa membuatku malu? Apa kau telanjang? Dasar bodoh!" umpatnya mengikis jarak lalu menarik tangan Ayra, berjalan beriringan tanpa ada rasa sungkan apa lagi malu.


Ayra berjalan dengan terus melihat wajah Dewa. Semua kebencian yang selama ini dia rasakan pada pria itu, berubah jadi rasa kagum, atau mungkin cinta? Terlalu dini untuk meyakini hal itu, tapi itu yang dia rasakan saat ini.


Banyak kaum hawa yang menatap Dewa dengan pandangan memuja. Tidak heran, pria itu sangat tampan, jadi wajar kalau kalau Ayra minder. Penampilan jauh dari kata modis seperti gadis-gadis yang melirik Dewa.


"Pilih, ponsel mana yang kau mau," ucap Dewa setelah merek sampai di konter ponsel.


Ayra bingung harus memilih yang mana, jadi Dewa menyodorkan ponsel mahal ke depan Ayra.


"Kalau ini suka gak?" tanya pria itu melihat wajah Ayra.


"Ini-" Ayra melihat ke arah tangan Dewa. Ponsel itu persis seperti miliknya.


Dewa tersenyum, lalu mengedipkan sebelah matanya yang membuat Ayra malu. Gadis itu hanya mengangguk. Dia tersentuh oleh maksud Dewa. Kadang Ayra gak habis pikir kenapa Dewa bisa berubah baik padanya, bukankah selama ini pria itu membencinya?


"Biar kita kembaran, kan suami istri," ucapnya dan lagi-lagi pipi Ayra merona dan sesak di dadanya.

__ADS_1


__ADS_2