
⭐Author POV ⭐
Calista kini berada di ruang dosennya, sudah dua bulan dia tidak membayar biaya kuliahnya. karena uang gaji ibunya telah terpakai untuk mengecek kesehatan ibunya, karena ibunya terkena penyakit ginjal. jadi setiap dua bulan sekali Purwati harus cuci darah dengan harga yang sangat mahal. Untung saja Haris dan Jessica selalu membantu Purwati dan Calista.
Setelah dari ruang dosennya, Calista segera mendatangi rumah Haris dan Jessica untuk menemui ibunya, Purwati.
__ADS_1
setelah sampai, dia memasuki halaman rumah itu dan mengetuk pintu. karena seluruh penjaga dan orang orang di rumah Alex mengetahui siapa Calista. jadi mereka selalu mengizinkan Calista untuk masuk.
setelah pintu diketuk oleh Calista, purwati yang mendengar suara ketukan pintu pun segera membuka pintu, rupanya itu adalah Calista, putri semata wayangnya.
"ibu, aku belum bayar uang kuliah. jadi untuk sementara aku ngga bisa masuk bu, kalau belum lunas." ucap Calista dengan menangis.
__ADS_1
Calista memang sosok yang cengeng, sejak ayahnya meninggal dunia dia menjadi anak yang mudah menangis dan tidak bisa dibentak atau dimarah walau sedikit saja.
" sabar nak, ibu akan usaha. sebentar ya nak, kamu masuk dulu ibu ambilkan air minum" ucap purwati yang mulai sedikit sedih.
Calista pun hanya mengangguk sambil menunggu ibunya membawakan air untuknya.
__ADS_1