
Calista POV
pagi hari aku terbangun lalu menuruni tangga untuk menyiapkan makanan. aku berjalan kecil menuju bawah dan kudapati Syifa adik kandung Alex dengan menangis sesenggukan di ruang tamu, aku segera berlari mendekatinya.
"ya ampun, Latifa, ada apa ?" tanyaku
dia berdiri rambutnya tampak berantakan dan kulihat dia masih memakai pakaian piyama lalu dia memelukku tiba-tiba sambil menangis terisak.
"Calista...."
"iya, sifat titik kamu kenapa nangis?" aku mendadak khawatir merasakan sesuatu yang buruk setelah terjadi.
Syifa memelukku erat, tangisannya masih memecah keheningan ruang tamu.
aku menonton Shiva untuk duduk menenangkannya dengan mengelus-elus punggungnya.
" tolong kamu ambilkan segelas air minum untuk Syifa" kitaku pada pembantu yang lain seperti ku.
__ADS_1
pembantu itu datang beberapa menit kemudian, dia menyodorkan segelas minuman kepada Syifa dan Syifa meraihnya. aku menarik sedikit tubuh Syifa.
"Syifa coba kamu minum dulu biar tenang," kataku.
perlahan dia melepas pelukannya pada aku dan meraih gelas berisi air minum yang disodorkan pembantu yang tadi.
lantas dia meminumnya dengan cepat seperti anda baru saja mengalami hal yang membuatnya shock
"coba kamu ceritakan apa yang terjadi, Syifa," ucapku.
"pelan-pelan saja, aku siap menunggumu sampai kau siap menceritakan apa yang membuatmu menangis demikian," kataku sambil mengelus-elus pundak kiri gadis yang masih berstatus pelajar kelas 2 SMA itu.
Syifa menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan, lalu menatapku sambil meremas tanganku, "aurel membatalkan pernikahan, Calista. "tangisnya pecah kembali.
"kok bisa? apa yang terjadi?" tanyaku yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Syifa barusan. ini sangat tidak mungkin, padahal pernikahan mereka akan berlangsung 1 jam lagi.
"Aurel kabur dari apartemennya tadi malam rumah keluarganya sudah mencarinya tetapi saat ini belum ada kabar darinya. orang tuanya bilang, Mbak Aurel meninggalkan surat bahwa dia membatalkan pernikahan," penjelasan Syifa di tengah isakan tangisnya.
__ADS_1
aku tidak menyangka Aurel setega itu kepada Alex. rasanya tidak bisa dipercaya, Aurel yang hari itu aku mengenalnya seperti wanita yang baik bisa setega itu? bukankah dia sangat mencintai Alex?
"bagaimana dengan kakakmu, Fa?"
"Ka Alex sekarang terpukul. kak Alex langsung mengurung diri di kamarnya saat ini, "jawabnya sambil terisak.
"Syifa ke sini karena Syifa yakin kalau kamu bisa membujuk Alex untuk keluar dari kamar," lanjutnya.
aku kembali terkejut dan merasa kasihan kepada Alex. kabar ini masih sulit ku percaya, kejadiannya begitu cepat dan membuatku bingung. saat itu juga aku ditemani Syifa dan tante Jessica majikan ku sendiri melihat keadaan Alex yang jelas merasa terpukul saat ini.
aku dan tante Jessica masuk ke dalam kamar Alex. kami mencoba membujuk Alex, tetapi Alex tetap tidak bergeming.
"Alex aku tahu perasaanmu. tetapi jangan bersikap kayak gini, kasihan orang tuamu, kasihan orang yang menyayangimu," kata aku mulai membujuknya.
" Alex, keluarlah. kamu boleh menangis di depan kami, kamu boleh meluapkan kesedihanmu ke kami.kami siap mendengarkan mu tetapi jangan membuat kami khawatir." ucapku lagi
Alex pun keluar dari kamarnya ia berjalan dan terlihat tersenyum meskipun getir. tidak lama kemudian, tubuhnya ambruk di samping tubuh tante Jessica. aku memekik karena kaget, orang orang sekitar Alex dengan sigap mengangkat alex menuju kamarnya, lelaki yang hancur hatinya terbaring lemah tak sadarkan diri di ruangan yang berhiaskan bunga pengantin.
__ADS_1