Penguasa Pedang Darah

Penguasa Pedang Darah
Perpisahan antara Shang Luo Ying dengan Jin Xian dan Gurunya


__ADS_3

*


*


Mereka berdua akhirnya tiba di tebing,tempat mereka berkumpul sebelumnya, setelah terbang selama satu jam.


Burung milik Shang Luo Ying masih berada di tebing, belum pergi meninggalkan keduanya.


Jin Xian kemudian berkata kepada Kakaknya, "Kak, aku akan kembali ke ruangan ku untuk mengambil pedang dan liotin giok milikku."


Jin Xian kemudian berbalik dan berjalan menuju ke arah altar Bela diri berada.


Shang Luo Ying tetap tinggal di tebing, saat ini tengah duduk di atas burung miliknya, menunggu Jin Xian kembali.


Tidak butuh waktu lama bagi Jin Xian untuk sampai ke altar, saat sudah di altar, Jin Xian berjalan ke tempat ruangan tempat tinggalnya.


Altar Bela diri seperti biasa dipenuhi oleh para murid yang tengah berlatih.


Setelah beberapa langkah, Jin Xian tiba di depan ruangannya. Dan langsung masuk ke dalam ruangannya.


Jin Xian kembali ke tempat tinggalnya bukan karena ingin bersiap-siap. Tetapi hanya untuk mengambil pedang berkaratnya dan liotin giok yang tertinggal di dalam ruangannya.


Dengan kebiasaan Jin Xian, dia lupa untuk membawa pedang dan liotin giok nya saat menemui Gurunya dini hari tadi, saat menemui Gurunya di tebing.


Jin Xian tidak memiliki banyak pakaian saat tinggal di sekte Awan Berkabut, dia hanya memiliki dua pakaian yang dia kenakan sehari-hari, salah satunya adalah pakaian yang dia kenakan saat meninggalkan kota Awan Berkabut dan satunya lagi adalah pakaian murid sekte Kultivasi Dewa yang saat ini tengah dia pakai.


Pada saat ini hari sudah mulai gelap, matahari sudah tenggelam, tetapi langit masih sedikit terang, dan bulan yang lumayan besar sudah kelihatan di sebelah timur sedikit ke atas di langit.


Jin Xian kemudian memasukkan pakaian yang masih berada di lemari kedalam cincin penyimpanannya, lalu mengambil liontin giok miliknya, dan dia mengalungkan liontin giok nya di lehernya. Dan dilanjutkan mengambil pedang yang berada di sudut ruangan.


Setelah dianggap selesai bersiap, Jin Xian kemudian berjalan keluar dari ruangannya, dan berjalan menuju ke tebing.


Setelah beberapa menit, Jin Xian akhirnya tiba di tebing kembali.


Di tebing sudah ada Jian Jing Tian yang tengah menunggunya, dan Shang Luo Ying yang masih duduk di atas burung peliharaannya.


"Guru! Dari mana saja Anda? Mengapa Guru meninggalkan kami tadi," ucap Jin Xian yang telah berada di dekat Jian Jing Tian.


"Hei bocah, baru datang sudah teriak-teriak saja. Aku tadi pergi ke tempat tinggal ku untuk bersiap-siap meninggalkan halaman dalam, aku akan tinggal denganmu di halaman luar." ucap Jian Jing Tian.


Jian Jing Tian melanjutkan perkataannya, "Heh... Siapa suruh kalian berdua mengabaikan Guru tadi."


"Anu... Guru, apa kakak tidak ikut bersama kita?" tanya Jin Xian.

__ADS_1


"Untuk apa dia ikut dengan kita," Jian Jing Tian menggoda Shang Luo Ying.


"Hmph...!" Shang Luo Ying menjadi sedikit kesal dengan perkataan Gurunya, dan memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.


"Hahaha..." Jian Jing Tian dan Jin Xian ketawa dengan lepas.


"Dia tidak diperbolehkan keluar dari halaman dalam, oleh ketua sekte dan para tetua yang lain. Karena sebentar lagi kakakmu akan menjadi salah satu wakil yang akan mewakili sekte dalam konferensi tiga sekte yang dilakukan tiga tahun sekali." ucap Jian Jing Tian.


Shang Luo Ying mengangguk.


"Konferensi tiga sekte?" Jin Xian bertanya dengan bingung.


Tetapi keduanya tidak mendengar pertanyaan Jin Xian, sehingga Jin Xian tidak mendapatkan jawaban apa pun dari keduanya.


"Jin'er ini sudah masuk malam, kita sebaiknya bergegas untuk pergi ke halaman luar." Jian Jing Tian mengajak Jin Xian.


"Baik Guru..." Jin Xian menjawab dengan wajah yang saat ini terlihat masam.


Tetapi lagi dan lagi kedua orang yang berada di sana tidak memperhatikan Jin Xian.


Di tebing hanya ada satu burung, dan burung itu adalah milik Shang Luo Ying.


Shang Luo Ying kemudian turun dari atas burung peliharaannya. Dan kemudian gantian Jian Jing Tian dan Jin Xian yang naik keatas burung miliknya.


Saat burung itu mulai terbang, Jin Xian melambaikan tangan ke arah kakaknya, "Kakak, sampai bertemu kembali... "


Air mata Shang Luo Ying mengalir membasahi pipinya, saat melihat kepergian Adik dan Gurunya. Dia baru saja memiliki adik, walaupun hanya adik angkat. Tetapi masih baru beberapa hari berjalan, dia harus ditinggalkan oleh adiknya dan gurunya kembali, membuat dia sangat kesepian.


Walaupun, banyak murid yang lain yang menemaninya, dia tidak pernah sebahagia "saat dia bersama dengan adiknya".


Jin Xian dan Jin Jing Tian sudah menghilang tertutup oleh awan yang sangat tebal, yang membuat Shang Luo Ying tidak dapat melihat keduanya. Setelah itu, Shang Luo Ying berbalik dan dia berjalan, kembali ke tempat tinggalnya.


**


Perjalanan keduanya memakan waktu yang cukup lama, sudah hampir tiga jam, tetapi mereka belum sampai ke halaman luar.


Sekte Kultivasi Dewa sangatlah luas, sekte itu membentang dari satu kota ke kota lain, dan luas sekte Kultivasi Dewa mencapai 92.152 km².


Di dalam kekuasaan sekte Kultivasi Dewa terdapat lima kota yang sangat besar, salah satunya adalah kota Awan, tempat Aula Tetua berada. Dan tempat yang akan mereka berdua tuju adalah salah satu dari lima kota terbesar di dalam kekuasaan sekte Kultivasi Dewa, yang berada di kawasan halaman luar.


Kota itu bernama "kota Perpecahan Surgawi".


Tengah malam telah tiba, mereka berdua akhirnya tiba di kota Perpecahan Surgawi, setelah lebih dari enam jam perjalanan.

__ADS_1


Mereka berhenti di luar gerbang kota, dan turun dari atas burung yang mereka tunggangi, dan burung itu terbang kembali meninggalkan keduanya.


Saat ingin masuk, mereka berdua dihentikan oleh penjaga gerbang kota. Penjaga gerbang itu berjumlah enam orang dan mereka semua adalah para murid dari halaman luar sekte Kultivasi Dewa.


"Maaf tuan, jika Anda ingin masuk ke dalam kota, anda harus memiliki token, ataupun izin dari para tetua ataupun penguasa kota," ucap salah satu dari mereka.


Jian Jing Tian kemudian mengeluarkan sebuah token dari sakunya, dan memberikan token itu kepada para penjaga gerbang untuk diidentifikasi.


Setelah memegang token milik Jian Jing Tian, para penjaga langsung berjalan kebelakang, mencari tempat yang terang, untuk mengidentifikasi token.


Saat sudah berada di tempat yang terang, mereka kemudian melihat-lihat dengan teliti ke arah token yang dipegang oleh salah satu dari mereka.


Salah satu dari mereka terkejut, "Hah... Ini adalah token milik para tetua, siapa sebenarnya orang yang ingin masuk ke dalam kota?"


"Lihatlah... Di-di token ini terdapat enam simbol pedang, hanya tetua penggila pedang saja yang memiliknya. Bukankah itu berarti... " salah satu dari mereka berkata dengan terkejut.


Setiap tetua dari sekte Kultivasi Dewa memiliki token yang berwarna merah, dengan simbol yang sesuai dengan urutan mereka di dalam sekte.


Seperti Jian Jing Tian yang sebagai tetua keenam memiliki token dengan enam simbol pedang sesuai dengan tingkat tetua di dalam sekte.


Dan tetua kedua yang memiliki dua simbol petir sesuai dengan tingkat tetua di dalam sekte.


Simbol itu, tidak harus pedang ataupun petir, itu bisa di dapatkan sesuai dengan teknik yang paling banyak mereka kuasai.


Mereka semua kemudian menengok ke arah Jian Jing Tian, dan kembali menatap ke arah token yang mereka lihat, setelah itu, mereka bergegas menghampiri Jian Jing Tian.


Mereka menundukkan kepalanya, lalu berkata dengan serempak, "Maaf, tetua keenam. Kami tidak tahu jika anda datang berkunjung ke kota Perpecahan Surgawi!"


Lalu penjaga gerbang yang memegang token tetua, sebelumnya. Mengembalikan tokennya kepada Jian Jing Tian.


"Silahkan masuk tetua keenam."


Mereka kemudian membuat dua barisan dan Jian Jing Tian berjalan di antara kedua barisan itu, diikuti Jin Xian.


Mereka memperhatikan Jin Xian yang tengah berjalan di samping Jian Jing Tian.


"Siapa orang yang bersama dengan tetua keenam?" bisik salah satu penjaga gerbang.


Dan yang lainnya menjawab, "Mungkin dia adalah murid baru tetua keenam, yang baru saja diterima oleh tetua keenam, belum lama ini."


"Cih... Sangat beruntung sekali anak itu!" salah satu dari mereka meludah, dan berkata dengan kesal.


Setelah berbisik-bisik sesaat, mereka langsing bergegas ke arah gerbang dan membuka gerbang yang sangat besar itu, dengan tenaga dari enam penjaga itu.

__ADS_1


Mereka berdua akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam kota Perpecahan Surgawi.


__ADS_2