
"Nasib gue kenapa gini terus yah,kaya ngga ada kebahagiaan sedikit pun dalam hidup gue,dalam hal percintaan yang selalu gagal,di tinggal nikah dan di selingkuhin,Di omongin para tetangga di bilang perawan tua,terus sekarang gue udah ngga suci lagi,terus apalagi yang gue harepin dari hidup gue,
Maya terus melamun di sepanjang perjalanan pulang menuju rumahnya,
Dengan terpaksa Maya melakukan aktifitas nya masuk kantor lagi seperti biasa,walaupun diri nya begitu banyak pikiran, sampai ia tidak bisa tidur dengan nyenyak setelah peristiwa kesalahan satu malam bersama lelaki ganteng bernama Mario itu,
Maya berjalan gontai dengan wajah pucat dan lingkaran hitam seperti mata panda menggelayut di bawah matanya
celetukan teman teman sekantornya masih terngiang di telinga Maya menambah pikiran Maya semakin semberawut
"Eh liat tuh si Maya, kasian banget dia yah gara-gara mau di tinggal nikah sama Pak Arman,mukanya pucet banget terus tatapan matanya kosong kaya jombi,,kalo ditanya jawabnya ngelantur,"bisik Windi temen sekantornya
"Iya kasian juga sih,mana calon istri pak Arman temen deket nya Maya,emang dasar yah pelakor tuh si Yessi,"kata Rini teman ngobrol Windi ketika mereka melirik Maya yang tiduran di meja kerjanya
"Ahhh... emang gue semenyedihkan itu yah,emang dasar semuanya gara-gara si Arman brengsek itu,kalo dia kuat nahan birahi bentar lagi aja mungkin gue nggak kaya gini,"
"nggak... nggak ngapain sih gue masih berharap sama cowok fucek itu,"Maya berbicara sendirian di terotoar jalan yang agak ramai,membuat orang-orang melirik karena heran
stress kali ni orang
pikir mbak-mbak yang menggendong bayi di samping Maya
Maya menghela nafas dalam-dalam rasanya sesak sekali udara yang ia hirup saat itu,mungkin karena Maya sedang galau,dan penuh pikiran negatif dalam otaknya
"Perasaan gue atau ada yang merhatiin gue dari belakang"Maya mengusap tengkuk nya yang entah mengapa merasa merinding
"Jangan-jangan hantu,yang mau rasukin gue perawan tua ting-ting,kata Emak hantu suka banget sama bau perawan kayak gue"pekik Maya mempercepat jalan-jalan nya,tapi sekarang Suara langkah kaki itu terdengar mengikuti Maya
"Perasaan baru jam empat sore, masa ada hantu ngikutin gue?"pekik Maya celingak celinguk,ia melihat bayangan hitam berkelebat di bawah tiang listrik
Maya tergesa-gesa untuk menyebrang jalan menuju gang rumahnya, namun terlihat seorang ibu-ibu yang memakai pakaian aneh dan kacamata hitam menyebrang mengikuti Maya,Ibu itu menyebrang jalan dengan tergesa-gesa juga , sementara sebuah mobil box pengangkut barang melintas kencang di depannya
Maya yang menoleh kebelakang melihat kejadian itu tersentak kaget
"Waduh bahaya nih... Bu...buu..."teriak Maya sambil berlari sekencangnya untuk menyelamatkan Ibu-ibu yang sepertinya linglung atau memang tidak bisa menyebrang jalan
Tinnn... tinnnn....
Gdubrakkk...
Maya menarik badan ibu itu ke pinggir jalan sampai ia jatuh dan tertimpah badan si ibu,beruntung Maya tidak terlambat manarik Badan si Ibu
"Aduhhh... Ibu nggak apa-apakan Bu
??"Pekik Maya membangunkan si ibu,padahal dirinya sudah terluka di bagian siku dan lutut nya sampai mengeluarkan darah
__ADS_1
"Nggak apa-apa Nak,tapi kamu yang kenapa-napa.."pekik si ibu terlihat khawatir
"Ah.. nggak apa-apa bu,kalo luka segini mah Saya udah biasa..."kata Maya padahal ia masih meringis karena sakit
"Waduh calon mantu ku nggak boleh terluka"Gumam si ibu yang masih terdengar oleh Maya
"Ibu bilang apa tadi..??"tanya Maya terheran
"Nggak kok nak,ibu bilang gadis cantik kayak kamu nggak boleh terluka" Ucapnya terbata
"Makasih yah, nak karena kamu sudah nolongin Tante,sampe kamu luka gitu,"Ucap Ibu tiu yang ternyata ingin disebut tante
"Nggak apa-apa kok Tante,lain kali kalo nyebrang hati-hati yah,Tan"kata Maya sambil tersenyum manis
"Wah kamu itu udah cantik baik pula,cocok kalo dijadikan calon mantu"Kata Tante itu menatap kagum pada Maya
"Akhh... tante bisa ajah.. kenyataan nya nggak seperti itu kok tante,banyak yang kabur.."Maya menyengir kuda,
"Waduh darah nya deres banget ngucur dari siku kamu,Tante Bawa kerumah sakit yah"pekik tante itu merasa khawatir melihat keadaaan Maya
"Nggak usah tante,Saya nggak apa-apa kok"Ucap Maya pelan,namun ia tak bisa menyembunyikan raut wajah kesakitan
"Jangan nolak yah nak, Tante takut luka kamu parah dan infeksi kalau di biarin." ibu itu menarik tangan Maya
Suit...suit ..
Maya melongo,ketika Seorang sopir turun dan membungkukan badannya dengan sopan pada si ibu,serta merta membuka pintu mobil belakang dengan sopan
"Silahkan masuk Nyonya"kata pak sopir dengan sopan
"Ayo nak Masuk,kita kerumah sakit"Ibu itu menghela Maya dengan perlahan untuk masuk terlebih dahulu kedalam mobil mewah tersebut,Maya hanya menuruti ibu itu saja
"Jalan Pak...!!"Kata ibu itu setelah Maya dan dirinya sudah duduk manis di dalam mobil
"Baik Nyah..." kata pak sopir sopan,lalu ia segera mengendarai mobil menuju rumah sakit
Saat tiba di rumah sakit,sang sopir segera melakukan administrasi,serta dengan mudah Maya dan ibu itu langsung di layani tanpa perlu menunggu waktu lama,padahal Orang-orang sebelumnya masih mengantri panjang disana
waduh... tante ini kayaknya bukan orang sembarangan??
batin Maya
Maya di obati dengan cepat dan cermat oleh petugas kesehatan yang begitu ramah dan telaten dengan senyuman manis mengembang sepanjang waktu, tak seperti pelayanan di pu**kesmas yang melayani dengan wajah di tekuk bermuram durja sambil ngedumel,seperti malas melayani masyarakat karena mungkin nggak ada duitnya wkwkwk (nggak semua kayak gitu sih)
Maya dan Ibu itu tengah duduk di kursi tunggu setelah Maya selesai di obati dan akan mengambil obat-obatan
__ADS_1
"Makasih loh tante... padahal Aku nggak perlu dibawa ke rumah sakit besar ini,cukup dengan b*tadin dan plester juga lukanya udah sembuh kok"ucap Maya dengan senyuman tak enak nya
"Nggak apa-apa Nak,justru Tante sangat berterimakasih sama kamu,kalau kamu nggak nolongin tante,mungkin,tante udah celaka,pertolongan kamu tak bisa di bayar dengan apa pun"Ibu itu menatap sendu pada wajah Maya yang terlihat pucat, ia menggenggam tangan Maya dengan lembut
"Oh iya tante belum tahu siapa nama kamu,Saya Ratih panggil saja tante Ratih"kata Ibu itu yang ternyata bernama Tante Ratih
"Saya Maya tante,salam kenal yah Tan.."balas Maya dengan tersenyum manis
"Saya perhatikan kok muka Nak Maya seperti ada sesuatu hal yang mengganjal??"tanya Tante Ratih merasa kasihan dan prihatin melihat Wajah Maya yang pucat dan seperti kurang tidur
"Enggak kok tante, Saya ngga apa-apa"elak Maya
"Beneran nggak apa-apa..??"Tanya Tante Ratih tidak yakin dengan jawaban Maya
"Maya...??" tiba-tiba suara seorang lelaki memanggil Maya dan melangkah mendekati Maya dan Tante Ratih yang tengah duduk
"Mas Arman..."pekik Maya ia terlihat tak nyaman ketika Arman berjalan mendekatinya,hal itu tak lepas dari perhatian tante Ratih
"Ngapain kamu disini?"Tanya Maya dengan Nada tak suka
"Aku kesini buat vaksin sebelum menikah, tapi Kamu..." Arman Melihat luka yang di perban di siku dan juga di lutut Maya
"Kenapa kamu terluka ?, sakit nggak?"Tanya Arman dengan Wajah khawatir yang tidak di buat-buat
"Ngapain kamu nanya-nanya,nggak usah sok peduli yah sama Aku"pekik Maya tak suka, jujur hatinya sakit ketika melihat cara Arman menatap dirinya,perhatian Arman pada dirinya dari dulu tidak pernah berubah,sebenarnya Arman sorang lelaki yang baik dan penyayang bagi Maya,tapi sayang kini Arman bukan lah l calon suaminya lagi, melainkan dia akan menjadi suami teman nya Yessi
Raut kesedihan tak bisa di sembunyikan lagi oleh Maya ia mencoba menahan sesak di dadanya, dan juga air matanya untuk tidak menetes di depan Arman
"Aku khawatir sama kamu May,mau aku anterin pulang nggak??" tanya Arman lagi menatap dengan tatapan yang masih sama seperti dulu pada Maya
"Nggak... nggak usah... "Maya memalingkan wajahnya tak mau membalas tatapan sendu penuh penyesalan dari Arman
jangan goyah May, sadar dia itu bakal nikah sama Yessi.
pekik Batin Maya
"Tante pulang yuk..." Ucap Maya pada Tante Ratih yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara Maya dan juga Arman, sebenarnya ia ingin pegangan supaya dirinya tidak oleng dan ambruk di sana
Tante Ratih seakan tahu isi hati Maya ,Beliau berdiri dan memegang bahu Maya
"Ayo kita pulang!!"ucap Tante Ratih,lalu membawa Maya berjalan menjauhi Arman yang menatap sendu pada Maya,Tante Ratih menatap sinis kepada Arman,membuat Arman keheranan
Maya dan Tante Ratih sudah masuk kedalam Mobil merah itu,
seketika tangis Maya pecah tak terbendung lagi,ia terisak didalam pelukan Tante Ratih, Tante Ratih seperti siaga dan mengelus punggung Maya yang bergetar, tante Ratih membiarkan Maya menangis di pelukannya ia tahu beban berat sedang di tanggung gadis malang itu
__ADS_1
Bersambung...