
Lampu di dalam lift seketika mati, pelukkan Qaira semakin erat kepada laki-laki tersebut.
"Tolong.... Tolong saya takut." Ucap Qaira dengan wajah mulai pucat dan gemetar, Baskara seketika mengingat sesuatu, soal wanita yang takut hal sama yang dialami wanita yang sedang memeluk nya tersebut.
"Tenang semua akan baik-baik saja." Ucap Baskara menenangkan Qaira, Baskara menekan tombol darurat, dan menekan tombol call dadurat. Baru 2 menit ada jawaban dari tombol darurat itu karena kendala sinyal atau mesinnya memang sedang konslet.
"Hallo, ada orang yang terjebak didalam lift." Kata Baskara mendekatkan dan menekankan suaranya kearah tombol call.
"Baik, kami akan segera kesana. Tetap disana jangan panik." Ucap petugas yang menjawab perkataan Baskara.
Tubuh wanita itu lemas tetapi badannya masih memeluk Baskara, Baskara menahan tubuh Qaira didalam pelukkan nya agar tidak terjatuh ke bawah.
Tim petugas bergegas di lift yang bermasalah itu, lalu mereka berlarian untuk menolong orang yang kejebak didalam lift.
Untungnya mereka terselamatkan, "Tuan Muda Baskara!" Seru salah satu petugas yang menolong di sana setelah lift mereka berhasil dibukanya.
Langsung Baskara menggendong Qaira didalam pelukkannya dan berjalan keluar dari lift tersebut.
"Terimakasih kalian, terlambat sedikit saya akan pecat kalian semua." Ucap Baskara dengan tatapan sadisnya sambil berjalan melintasi mereka semua.
"Jangan lupa lift diperbaiki, jangan sampai kejadian ini terulang lagi kepada saya. Kalian mengerti!" Ucap Baskara menghentikan langkah nya.
"Baik, tuan muda." Ucap serempak tim petugas dan mereka langsung bergegas memperbaiki lift bermasalah itu, karena mereka takut dipecat bos pemilik rumah sakit ditempat mereka bekerja.
Baskara membawa Qaira ke UGD untuk memeriksa kondisi Qaira.
Orang-orang yang melihatnya pun berbisik-bisik melihat Baskara menggendong Qaira.
"Sejak kapan tuan muda Baskara dekat dengan Qaira." Ucap salah satu orang yang melihat mereka berdua.
"Tolong periksa kondisi wanita ini." Ucap Baskara kepada dokter dan perawat yang menjaga di UGD tersebut.
__ADS_1
"Qaira!" Seru salah satu perawat yang melihat Qaira pingsan dibrankar pasien tersebut.
Akhirnya dokter dan salah satu perawat memeriksa kondisi Qaira setelah tirai ditutup, sedangkan Baskara menunggu diluar.
Salah satu perawat memanggil Baskara untuk masuk kedalam ruangan bertemu dengan dokter jaga sore itu untuk persetujuan Baskara.
"Maaf tuan muda, dia harus dirawat terlebih dahulu. Kemungkinan trauma fraktur di otaknya mengalami indikasi kembali terbuka, dia memerlukan cek rotgen ditulang kepalanya juga. Apakah tuan muda keluarga nya?" Kata dokter tersebut didepannya yang sama-sama duduk berhadapan.
"Bukan, kebetulan saya menolongnya tadi. Apakah kamu dokter baru? Kamu tahu siapa saya?" Lempar pertanyaan kembali kedokter tersebut.
"Maaf saya lancang tuan, saya tahu tuan siapa. Jadi......" Henti perkataan dokter tersebut karena Baskara memotong perkataan nya.
"Lakukan perawatan terbaik untuknya. Dan saya akan cari keluarga dia."
"Tidak perlu tuan Baskara, saya tahu keluarganya saya sudah menghubungi kakeknya." Sahut salah satu perawat yang menghampiri dokter tersebut setelah memberikan form data lengkap Qaira.
Perawat itu bernama Bella, dia mengenali Qaira. Bahkan rumahnya satu arah, kadang Bella ditawarkan berangkat bareng dengan Qaira.
Kemudian Bima seketaris Baskara datang mencari Baskara karena Bima tahu tadi ada masalah di liftnya, dengan buru buru Bima mencari Baskara dan tidak ingin terjadi apa apa pada tuan mudanya itu.
"Akkkhhh saya takut.. tolong saya takut.. sayanggg kamu dimana? Jangan tinggalkan aku hiks... Suamiku, aahhh....." Teriak Qaira dibalik tirai nya itu.
Kemudian dokter dan salah satu perawat disana melihat kondisi Qaira, begitu juga Baskara melihat kondisi Qaira langsung. Qaira berbicara dibawah sadar tidurnya, karena kedua matanya masih belum terbuka atau belum sadarkan diri.
Bima datang untuk meminta Baskara segera pergi dari rumah sakit ini karena sore ini dia harus bertemu ibundanya.
"Tuan, ibunda sudah menunggu dirumahnya." Kata Bima kepada Baskara yang fokus melihat kondisi Qaira.
"Kenapa? kenapa teriakan ini. Dia......" Kata Baskara didalam hatinya sendiri.
"Tunggu sampai wanita ini sadar." Jawab pelan Baskara mendekati Qaira.
__ADS_1
Baskara seperti menginginkan Qaira, ingin memeluknya. Dia menangis didalam hatinya tapi tidak bisa mengeluarkan air matanya.
Baskara memegang tangan kanan Qaira dengan lembut. Baskara akan cari informasi tentang Qaira, siapa dia sebenarnya. Kenapa setiap perkataan Qaira yang sesaat itu membuat nya gundah.
》Bersambung......
.
.
.
.
Salam hangat dari author imah_nm untuk para pembaca semoga terhibur dan kalian semua suka.
JIKA TEMAN-TEMAN SUKA BERI AUTHOR DENGAN \=
VOTE 🎖️
LIKE 👍
KOMENTAR 💬
FAVORIT ❤
TIP⭐
RATE 5 BINTANG ⭐⭐⭐⭐⭐
Bantu dengan LIKE dan KOMENTAR kalian disetiap BAB, itu semua bentuk dukungan teman-teman untuk author agar semangat UPnya💝!!! Terima kritik dan saran kalian agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Terimakasih sebanyak-banyaknya. 🙏
__ADS_1