Perjalanan Mencapai Surga

Perjalanan Mencapai Surga
Tiga Simbol


__ADS_3

"Hari akan segera berakhir dan pertarungan ini telah mencapai akhir," bisik seorang berambut perak yang menyaksikan pertempuran antara manusia dan serigala dari pertama kali dimulai.


Memantau pertarungan Huozhan dengan demonic beast tingkat enam, Yang Jian semakin yakin dengan pendapatnya tentang bakat anak itu.


Ketika keduanya pertama kali bertemu, Huozhan selalu ditekan oleh serigala tersebut. Namun setelah pertarungan berjalan lama, terlihat anak itu sudah mulai lepas dari tekanan.


Hal ini dapat dilihat dari qi Huozhan yang mulai menguat sejak dia memulai pertarungan. Selepas pertarungan ini, mungkin anak itu akan menerobos ke tingkat selanjutnya.


Saat pertarungan mencapai klimaksnya, Yang Jian menatap mereka dengan serius. Merasa akan terjadi sesuatu yang agak serius, Pria berambut perak itu mulai mendekat perlahan.


Dan benar saja, tidak lama setelah keduanya menjaga jarak, mereka langsung menerkam satu sama lain.


"Boom...!"


Tabrakan besar terjadi, kepulan debu telah menutupi kedua sosok itu.


Yang Jian segera berlari ke tempat kejadian, semenjak mereka akan melakukan serangan terakhir, Yang Jian sudah bersiap untuk yang terburuk.


Hanya membutuhkan waktu singkat bagi Yang Jian untuk sampai, dengan kibasan tangan debu yang menutupi langsung menghilang.


Ketika debu mulai hilang, tampak dua sosok berbeda sedang terbaring bersamaan. Kedua sosok itu sangat terluka, namun terlihat gerakan kecil dari masing-masing perut mereka.


Memastikan keduanya masih hidup, Yang Jian mulai tenang. Mengecek keadaan Huozhan, dia menemui luka di sekujur tubuhnya tidak terlalu parah.


Tetapi ketika menengok ke tangan kanannya, luka itu terlalu parah. Sepertinya dalam bentrokan terakhir Huozhan hanya menggunakan tangan kanan, akibatnya tangan kanannya tercabik-cabik bahkan terlihat tulang berwarna putih.


Melirik ke demonic beast di samping, Yang Jian dapat memastikan sebagai besar lukanya adalah luka dalam. Sama seperti Huozhan, luka terparahnya ada di kaki kanan depannya, sepertinya tulang di daerah itu telah hancur berkeping-keping.


Mengeluarkan beberapa hal dari cincinnya, dia langsung memasukannya ke mulut Huozhan dan serigala itu. Yang Jian juga bingung, kenapa dia begitu peduli dengan demonic beast sekarang.


Membantu Huozhan untuk mencerna barang yang dia beri, Yang Jian juga mulai menyalurkan yang qinya ke tubuh Huozhan. Kebetulan di dunia kultivator yang qi terkenal dengan kemurniannya.


"Uhuk,uhuk..."


Dengan perlahan mata Huozhan mulai terbuka, memandang Yang Jian di depannya Huozhan menunjukkan senyum riangnya.


"Hehe... paman lihat aku berhasil."


"Benar kamu berhasil, tapi sekarang diam dulu dan biarkan aku menyembuhkanmu."


"Hehehe..."


Yang Jian tersenyum, melihat Huozhan dengan wajah riangnya bahkan dengan luka parah di tubuhnya.


"Baik paman."


"Oh... bagaimana dengan serigala itu paman."


"Dia baik-baik saja, aku sudah memberikan pill untuk menyembuhkan lukanya."


"Terima kasih paman Yang."


Senang dengan ucapan terima kasih Huozhan, Yang Jian melanjutkan perawatannya kepada Huozhan.


Langit mulai menjadi gelap, beberapa binatang bersiap untuk kembali ke sarang mereka.


Yang Jian sekarang masih mengirimkan qinya ke Huozhan yang sedang dalam posisi lotus. Dengan memasukkan qinya ke tubuh seseorang, itu sama dengan melihat semua rahasia tubuh orang tersebut.


Terus menerus mengedarkan qinya ke dalam tubuh Huozhan, Yang Jian mulai merasakan perubahan kualitas dari qi anak itu.


"Seperti yang aku pikirkan, dia akan segera menerobos tingkat kedua," gumam Yang Jian.


Tidak lama setelah kalimat Yang Jian terjadi sesuatu pada tubuh Huozhan.


"Hu..."


Membuka matanya Huozhan segera mengedarkan qinya. Merasakan kemurnian qi di dalam tubuhnya, Huozhan tidak bisa menahan senyuman di bibirnya.


"Hehe... aku sekarang berada di tingkat dua, dengan begini kakak akan tertinggal lagi."

__ADS_1


Mengucapkan kalimat itu, Huozhan tidak sadar di belakang berdiri Yang Jian melototinya. Yang Jian yang geli dengan tingkah laku Huozhan langsung memukul kepalanya.


"Tukk!"


"Aduh!"


Mengambil tangannya kembali, Yang Jian bertanya, "kenapa kamu begitu gembira, apa kamu senang berada di depan kakakmu dengan kalian tidak berada di garis start yang sama?"


Masih memegangi kepalanya, Huozhan dengan cemberut menjawab, "Itulah alasan aku senang sekarang, sebab setelah kakak mulai pelatihannya dia pasti akan melaju dengan kecepatan yang gila."


Yang Jian hanya mendesah saat mendengar jawaban Huozhan, dia yang telah mengetahui cerita kedua anak itu tahu kemampuan mereka dengan cukup baik.


Tidak ingin memikirkannya lagi, Yang Jian melirik ke Huozhan yang masih diam mengelus kepalanya.


"Untuk apa kamu masih berdiri di sini, cepat pergi tugasmu masih belum selesai."


"Yes sir!" Meneriakkan kata itu, Huozhan langsung berlari menuju gua tentu dengan senyum di wajahnya. Melihat tingkahnya Yang Jian juga ikut tersenyum.


...


Di tempat lain, Yin Jing dan WuChang masih melanjutkan pelatihan mereka.


Sebelumya Yin Jing sudah memberikan gerakan pertama dari Nether Yin Baptism, gerakan itu berguna dalam tingkat pelatihan otot.


Selama mempraktekkan teknik tersebut, Yin Jing juga tidak lupa untuk memberikan nasehat-nasehat ketika sedang berlatih teknik ini.


Sekarang Yin Jing sedang berdiri mengawasi setiap gerakan dari WuChang, dia terkejut melihat WuChang bisa melakukan gerakan itu hanya setelah dia tunjukkan sekali.


Awalnya dia menyuruh WuChang untuk mempraktekkan gerakan itu, karena dia ingin tahu seberapa besar kemampuan pemahamannya.


Sekarang setelah tahu seberapa jeniusnya anak ini, Yin Jing hanya bisa terdiam sekaligus menambah kebenciannya terhadap para jenius.


Namun kejeniusan WuChang tidak hanya sampai disitu, setelah menyelesaikan teknik gerakan tersebut dia tidak berhenti dan langsung mengulanginya dengan lebih baik lagi.


Setiap pengulangan itu, gerakan WuChang semakin baik bahkan hampir menyentuh inti dari teknik tersebut.


Walaupun kesal dengan kejeniusan WuChang, Yin Jing mulai yakin dengan pilihannya serta kakaknya.


...


"Hm... aku tidak merasakan energi kehidupan apapun di sini."


Sementara kakaknya sedang berlatih, Huozhan telah berhasil memasuki gua yang dimaksud kakeknya.


Dari pengamatan Huozhan dan kemampuannya untuk merasakan energi kehidupan, dia dapat menilai bahwa tempat ini kosong, bahkan tidak terdapat satupun serangga di tempat ini.


Semakin masuk ke dalam Huozhan mulai penasaran dengan keadaan gua rahasia kakeknya. Gua ini cukup besar dan luas walaupun di dalamnya hanya terdapat bebatuan serta suara air mengalir.


Anehnya walaupun tidak terdapat sinar matahari masuk, Huozhan dapat melihat dengan jelas di dalam kegelapan.


Seolah-olah sebagai penunjuk arah, di gua ini hanya terdapat satu jalan setapak dan Huozhan maju sesuai dengan jalan itu.


Tidak tahu seberapa jauh jarak yang harus dia tempuh, Huozhan tetap berjalan dengan santai sambil berpikir apa yang kakeknya tinggalkan.


"Hm... kira-kira apa yang di tinggalkan kakek ya?"


"Apa mungkin itu teknik kultivasi atau sesuatu yang lain?"


"Ah... tidak mungkin orang tua itu akan memberikan hal yang berharga, bisa saja itu hanya resep membuat teh atau alkohol kesukaannya."


Membayangkan apa yang akan kakeknya tinggalkan, Huozhan tidak sadar bahwa dia telah berjalan cukup jauh.


"Hm..."


Keluar dari imajinasinya, mata Huozhan mengarah ke depan dan melihat sebuah lubang yang sepertinya pintu masuk.


Memastikan tidak ada kehidupan di dalamnya, Huozhan dengan tenang melangkah ke dalam ruangan tersebut.


Masuk ke dalam, pandangan Huozhan langsung tertuju pada dinding gua yang tepat di depannya.

__ADS_1


Di dinding gua itu, terukir relik yang merupakan simbol keluarga Zhang di tengah, sedangkan di sisi kiri dan kanan terukir masing-masing satu relik.


Relik pertama dari kiri adalah pahatan seekor macan yang berdiri tegap dengan keempat kakinya, serta kepala yang fokus ke depan.


Lalu di sisi kanan terdapat relik berbentuk burung hantu yang bertengger di ranting, kepalanya sedikit menunduk seakan mengawasi segala sesuatu di bawah kegelapan.


Terakhir tepat di tengah kedua relik tadi terdapat pahatan yang membentuk lingkaran, jika kedua pahatan sebelumnya hanya memiliki satu simbol maka pahatan ini memiliki tiga simbol.


Simbol pertama dan kedua adalah dua ekor burung yang saling mengejar hingga membentuk lingkaran, dan di tengahnya terdapat sebuah bunga dengan delapan kelopak.


Mendekati dinding tersebut, Huozhan semakin yakin dengan apa yang dia lihat. Walaupun dia belum melihat simbol keluarga Zhang sebelumnya, dia bisa tahu karena kakek pernah menceritakannya.


Pahatan di depannya ini sesuai dengan apa yang dijelaskan kakeknya, Sedangkan untuk dua simbol lainnya, Huozhan tidak mengetahui arti dibaliknya.


Menyingkirkan masalah relik di dinding, pandangan Huozhan jatuh pada meja yang tepat di depannya.


Meja itu hanya seperti meja biasa pada umumnya, hanya saja yang membedakan meja tersebut terbuat dari batu yang dia tidak tahu apa itu.


Di atas meja hanya terdapat selembar kertas dan sebuah batu sebagai penahannya. Selain kedua benda tadi, tidak ada apa-apa lagi di situ.


Setelah memastikan tidak ada perangkap atau apapun yang berbahaya di meja, Huozhan mengambil dua benda itu dan mengeceknya.


Ternyata batu penahan itu adalah jade slip yang pernah dijelaskan paman Yang. Menahan keinginan untuk mencari tahu apa yang tersimpan di dalam jade slip itu, Huozhan berpikir lebih baik memulai dengan membaca surat di tangannya.


'Selamat telah berhasil sampai di sini Huozhan.'


"Hm... kenapa kakek tahu aku yang ke sini?" Gumam Huozhan sebelum lanjut membacanya lagi.


'Aku bisa tahu kamu yang akan ke sini karena aku yakin kakakmu akan mengerti apa yang ingin kakek ini maksud.


Mari kita menuju topik sebenarnya, aku membuat gua ini sebagai ujian dan pengunjuk jalan untukmu. Huozhan selama pertarungan di luar, kamu seharusnya sudah mengerti jalan yang harus kamu lalui.


Jalan ini mungkin adalah salah satu jalan tersulit, ketika kamu mengarunginya kamu akan bertemu dengan banyak rintangan dan cobaan. Tapi aku berharap kamu berhasil melewati jalan ini dengan sempurna.


Tentu orang tua ini tidaklah kejam, aku meninggalkan sesuatu untukmu di jade slip yang kamu ambil. Di jade slip itu terdapat manual kultivasi beserta teknik lainnya yang akan membantu dalam perjalananmu.


Sedangkan untuk WuChang aku juga meninggalkan sesuatu untuknya di sini, jadi setelah kamu keluar suruhlah WuChang datang ke sini sendiri.


Terakhir datanglah ke puncak di mana tanduk qilin berada, di sana kalian akan menemukan rahasia dari pegunungan ini.


Semoga kita akan bersama kembali, kakek akan selalu mengawasi kalian dari jauh.'


Setelah mengetahui apa yang tertulis si surat tersebut, Huozhan semakin yakin orang tua itu hanya ingin bermain dengan mereka.


Jika di ingin memberitahu jalan keluar bukankah lebih baik langsung menunjukkannya saja, tapi di sini dia malah berputar-putar dengan surat seolah mencoba untuk misterius.


Menyingkirkan masalah tentang kakeknya, Huozhan menyimpan surat dan jade slip ke cincin di jarinya. Dia tidak sedang terburu-buru untuk membaca slip giok itu.


Tadi ketika masuk dia terlalu fokus pada relik di dinding, jadi dia tidak menyadari keadaan di dalam ruangan ini.


Sekarang bisnisnya telah selesai, dan dia memiliki waktu untuk mengamati tempat ini. Dari pengamatannya ruangan ini memiliki banyak relik selain yang dia lihat.


Di dua dinding samping terdapat pahatan berbentuk manusia. Pahatan manusia itu tidak cuma satu melainkan ada beberapa, dan jika dicermati semua pahatan itu seperti sedang menjelaskan sesuatu.


Bukan hanya di dinding, bahkan di lantai tempat dia berdiri sekarang terdapat relik yang serupa.


Selain relik yang terpahat di dinding dan lantai gua, terdapat beberapa guci yang terletak di sudut ruangan. Guci itu sepertinya tersegel dengan rapat, sebab Huozhan tidak bisa mencium bau apapun dari guci tersebut.


Memastikan tidak apa-apa lagi di sini, Huozhan memutuskan untuk keluar dari gua ini. Dia tidak membawa apapun selain surat dan jade slip, karena dia tahu semua yang tersisa akan diambil oleh kakaknya nanti.


Tahu perjalanan pulang akan membosankan, Huozhan mulai berjalan sambil bersenandung.


Baru saja berjalan beberapa meter, Huozhan ditekan oleh kekuatan entah darimana. Belum selesai dari tekanan yang tiba-tiba, terdengar suara seperti dentingan lonceng yang sangat keras.


"Uh... kali ini apa yang terjadi."


"Semoga ini bukan lelucon yang dibuat oleh kakak, kalau tidak... aku bahkan tidak bisa memikirkan akibatnya."


Itu adalah gumaman terakhir Huozhan, sebelum dia pingsan karena kekuatan yang menimpanya.

__ADS_1


Namun ketika waktunya tiba, semua orang di dunia akan setuju dengan perkataannya.


...


__ADS_2