
Kerajaan Heavenly Star adalah kerajaan manusia yang makmur, dan rakyatnya hidup dalam kedamaian.
Kerajaan ini pada dasarnya tidak memiliki musuh di dalam serta di luar, yang mengakibatkan kerajaan dapat mempertahankan kekuatan serta kekuasaan di wilayah itu.
Pernah ada beberapa yang mencoba memberontak terhadap kerajaan, entah dengan cara membentuk kekuatan baru atau menggunakan konspirasi dari dalam kerajaan.
Semua percobaan itu akhirnya gagal, dan orang-orang yang berhubungan pada rencana itu semuanya lenyap tanpa tersisa.
Semua peristiwa ini membuat rakyat kerajaan yakin akan keamanan hidup mereka, dan membuat orang-orang yang berpikir hal buruk untuk mengubur pikiran mereka.
Kerjaan Heavenly Star menguasai tanah yang sangat luas, sehingga terbentuklah 13 kota dengan 1 menjadi ibukota serta tempat berdirinya istana kerajaan.
Saat ini kerajaan sedang dalam keadaan paling sibuk sepanjang tahun, karena hari ini adalah awal tahun baru.
Semua orang dari berbagai status, entah itu petani, pedagang, maupun pejabat pemerintahan semuanya bergegas ke kuil utama di masing-masing kota.
Semua penduduk bahkan keluarga kerajaan akan pergi ke kuil, lalu beribadah atas rasa syukur tentang semua berkah pada tahun yang telah dijalani, dan berdoa untuk kemudahan hidup pada tahun yang baru ini.
...
Pada saat ini di salah satu sudut kota, ratusan orang sedang berpesta setelah kembali dari kuil.
Bangunan yang di hias warna cerah, orang-orang berpakaian terbaik mereka, dan alunan musik yang menambah keseruan pesta tahun ini.
"Kakak ini adalah hari pesta, tapi kenapa kau malah memakai baju lusuh itu?" Kata seorang bertubuh besar dengan wajah anak-anak.
"Kamu tahu aku tidak pernah cocok dengan suasana meriah seperti ini, jadi aku memutuskan untuk memakai apapun yang biasa aku pakai," jawab seorang anak kecil disebelahnya.
Saat keduanya berbicara, mereka tidak sadar bahwa mereka telah menarik perhatian.
Pasangan ini terlalu mencolok di kerumunan, salah satu bertubuh besar dengan wajah lugu sedangkan yang lain mengenakan pakaian warna abu-abu dengan penutup wajah di acara semeriah ini.
Tentu saja pasangan mencolok itu adalah Zhang WuChang dan Huozhan. Mereka berdua yang telah hidup terpencil di gunung akhirnya pergi ke kota manusia pada hari ini.
"Huozhan dimana kakek pergi? Kita telah menunggu disini sangat lama."
"Kakak... Aku juga tidak tahu dimana kakek, tapi tenang saja kakek telah memberi tahu kami cara kembali ke rumah, jadi bahkan tanpa kakek kita bisa pulang nanti."
Mendengar jawaban Huozhan, WuChang mengerutkan keningnya dalam diam. Setelah tidak ada hasil dari pikirannya, dia memutuskan mengabaikannya dan mulai berjalan pergi dari tempat itu.
Melihat kakaknya pergi, Huozhan dengan senang mengikutinya, dan dimulailah liburan tahun baru mereka.
Pasangan saudara itu berkeliling ke setiap sudut kota, melihat semua pertunjukkan dan mengikuti semua permainan yang ada di kota.
Mereka berdua merasa gembira, khususnya Huo- tidak mungkin yang gembira hanyalah Huozhan. Sedangkan WuChang masih mengenakan penutup wajahnya, yang membuat dia menjadi tatapan fokus setiap orang yang menemuinya.
Selesai bermain mereka memutuskan ke salah satu restoran untuk mengisi perut mereka.
"Hahaha... Kakak bagaimana apakah kamu bersenang senang? Kita hanya bisa mengalami ini 1 tahun sekali, jadi cobalah untuk menikmatinya."
"Aku menikmatinya, tapi aku lebih bingung kemana sebenarnya kakek pergi," kata WuChang sambil melepas penutup wajahnya yang berbentuk topi dengan kelambu di sisinya.
__ADS_1
Para pengunjung restoran lainnya, beberapa menunjukkan minat karena mereka telah penasaran dengan wajah pemuda ini. Mereka bingung apakah wajah pemuda ini memiliki luka yang harus di sembunyikan.
Tetapi para penonton itu harus kecewa, karena setelah WuChang melepas topinya masih ada topeng yang yang menutup wajah selain mulut di wajahnya.
Huozhan yang melihat kekecewaan para penonton hanya terkikik sambil menunjukkan deretan gigi putihnya, sedangkan WuChang tidak peduli dengan perasaan pelanggan lainnya.
Keduanya memutuskan untuk memesan banyak daging, mengingat nafsu makan keduanya yang besar.
...
Istana kerajaan Heavenly Star.
Di aula utama istana saat ini telah dipenuhi para pejabat kerajaan, meraka masih berdiri menunggu kedatangan raja mereka.
"Sang cahaya dari surga! Sang pemimpin bintang di langit! Penguasa seluruh tanah kerajaan Heavenly Star telah tiba!"
Setelah sajak terucapkan, datanglah seorang pria tinggi besar dengan ditemani 13 orang dibelakangnya.
"Kami menyambut keagunganmu! Semoga cahaya bintang selalu menyinari kerajaan!"
Ucap semua orang di ruangan itu dengan beberapa membungkuk dan beberapa hanya menundukkan kepala.
Sang raja akhirnya duduk disingsananya, sedangkan 13 orang lainnya duduk di tempat mereka masing-masing.
"Terima kasih telah hadir di tempat sederhana ini, semoga cahaya bintang selalu menyinari kerajaan serta rakyatnya!"
"Semua orang telah sibuk sepanjang tahun, semoga tahun ini akan menjadi lebih baik."
Selesai membaca pidatonya, sang raja melirik kearah salah satu penjaga. Merasakan tatapan mata raja jatuh padanya, prajurit itu tahu apa yang harus dilakukan dan keluar dari ruangan itu.
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki ringan, dan setiap langkahnya membuat semua orang terasa terhipnotis termasuk juga raja.
Saat langkah kaki semakin kencang, sang raja berdiri dari singgasana diikuti semua pejabatnya. Lalu terlihatlah sosok dari langkah kaki tadi, yang ternyata berasal dari pria tua berpakaian lusuh.
Ketika pria tua itu masuk ke aula, semua menundukkan kepala mereka dengan hormat. Bahkan sang raja menghilangkan aura kerajaannya, dan sekarang dia tidak lebih dari seorang murid yang hormat kepada gurunya.
Pria tua itu tetap berdiri diam setelah masuk, membuat seisi ruangan dalam keadaan membeku. Untungnya suasana hening itu tidak berlangsung lama, setelah pria tua itu membuka mulutnya.
"Ketika 13 puncak bersinar, maka tidak akan lama sebelum kalian melihat bintang di langit."
Jika orang lain yang mendengarkan, mungkin tidak ada yang mengerti dari kata kata itu, tetapi setiap orang disini paham apa yang dimaksud, bahkan pikiran mereka saat ini seperti tersambar petir.
Setelah semua orang berhasil memenangkan diri, pikiran mereka kembali jernih dan ingin bertanya apa yang mereka dengar itu benar.
Namun saat mereka melihat kearah tempat pria tua itu berdiri, sudah tidak sosok itu lagi di sana. Paham bahwa sosok yang mereka cari sudah pergi, tatapan mata semua orang beralih ke raja.
Sang raja yang mengerti keraguan semua orang, akhirnya berbicara.
"Kalian sudah mendengar apa yang beliau katakan, jadi kenapa harus ragu."
"Semua orang dengarkan! Lakukan apa yang harus kamu lakukan, dan mulailah rencana yang telah leluhur kita buat."
__ADS_1
"Aku ingin ini dilakukan dengan sempurna, siapa yang tahu waktu itu akan tiba, mungkin besok atau setelah 1 10 100 tahun, namun yang aku tahu adalah kita harus siap saat waktunya telah tiba."
"Apa kalian semua mengerti!"
"Ya keagunganmu!"
Melihat semua orang mengerti, dia tidak mengatakan apapun dan pergi dari aula kerajaan bersama dengan 13 pendampingnya.
Seharusnya setelah raja pergi dari aula, maka para bangsawan akan mengadakan pesta tetapi semua orang langsung berlari keluar ruangan melupakan semua etiket kebangsawanan mereka.
...
Di istana, terdapat satu ruangan yang hanya dapat di masukin raja, bahkan permaisuri serta anak-anak raja tidak dapat memasukinya.
Namun saat ini ada dua orang dalam ruangan itu, salah satunya adalah raja sendiri. Sang raja telah melepaskan semua simbol kemewahan di tubuhnya dan hanya memakai pakaian sederhana berwarna abu-abu.
Saat ini sang raja sedang duduk dengan posisi hormat. kepalanya terlihat menunduk, namun matanya melirik ke arah seseorang yang sedang menikmati teh.
"Xiao... Kau telah bekerja begitu keras selama ini, aku berterima kasih untuk itu semua."
"Yang kecil ini tidak berani, semua yang kulakukan adalah atas dasar kehidupan klan kita, jadi akulah yang harusnya berterima kasih karena patriack telah memberikan kepercayaan pada hamba yang rendah ini."
Sang raja atau Xiao berbicara dengan sosok didepannya dengan penuh rasa bahagia, layaknya seorang anak yang telah lama tidak melihat ibunya.
"Kau masih belum berubah Xiao..." Kata sosok itu dengan senyum terlukis di bibirnya.
"Ketika waktunya tiba... berikan kerajaan ini ke penerusmu, dan untuk kamu lakukanlah tugas kamu yang sebenarnya."
...
Senja telah tiba, dan saatnya untuk matahari beristirahat setelah bercahaya sepanjang hari.
Di jalan kota yang ramai, senja adalah waktu yang tepat bagi para kekasih untuk bertemu, ditambah dengan suasana kota yang dipenuhi nuansa gembira.
Berbeda dengan pasangan lainnya, pasangan yang satu ini datang bukan untuk berkencan melainkan mereka sedang menunggu seseorang.
Zhang WuChang dan Huozhan adalah pasangan itu, keduanya telah selesai berkeliling dan memutuskan untuk pulang, tetapi saat mereka akan pulang kakek mereka yang menghilang belum kembali.
Huozhan yang kedua tangannya memegang bungkusan besar yang entah apa isinya itu, akhirnya memutuskan berbicara ke kakaknya.
"Kakak ayo kita pulang... mungkin kakek telah pulang lebih dulu, sebab itu dia memberikan cara untuk kembali."
Mendengar ajakan adiknya WuChang mau tidak mau berpikir ada yang aneh. Dia telah diajak ke sini setiap tahun baru bahkan saat kedua orangtuanya belum pergi, namun belum pernah sekalipun mereka memberitahunya cara untuk pulang sendiri.
"Ha... Baiklah kita pulang."
...
Tirai malam telah jatuh, cahaya bulan dan bintang mulai tumbuh.
Ketika keduanya sampai ke rumah, mereka menemukan tidak ada siapapun di dalam rumah, selain sepucuk surat tergeletak di tengah ruangan.
__ADS_1
Ketika WuChang melihat surat tersebut, dia memikirkan sesuatu dibenaknya.