
"Kenapa kamu tidak mengatakan apapun?" Mirani tidak bisa menahan diri untuk berseru.
Coze Walugang menggaruk telinganya dengan perasaan cukup kesal, wajahnya terlihat kesal, dan berkata dengan santai, "Ayolah, ini kamarku. Memangnya aku akan tidur di mana jika tidak di sini?"
"Kamarmu?!" Bibir Mirani bergetar. "Oh, kalau begitu di mana kamarku?"
Coze Walugang tiba-tiba memalingkan kepalanya, menatap Mirani dengan tatapan kesalnya. "Kamu sudah gila ya?"
"Kau yang sudah gila! Tidak baik untuk seorang pria dan wanita tinggal di dalam satu kamar bersama," terang Mirani menanggapi ucapan Coze Walugang.
Coze Walugang mengerti apa yang ada di pikiran Mirani dan tersenyum. "Jangan lupa, kita tidak hanya punya sertifikat pernikahan tapi juga sudah tidur bersama kemarin. Apa masalahnya jika kita berada dalam satu kamar yang sama?"
Setelah mengatakan itu, dia berdiri dan dengan cepat menarik Mirani ke dalam dekapannya sebelum dia bisa bereaksi.
"Wow, gadis ini punya pinggang yang langsing!" batin Coze Walugang saat mendekap Mirani.
Tiba-tiba, fitur tampan Coze Walugang muncul di depan Mirani. Dia hampir bisa menghitung bulu mata milik Coze Walugang. Ekspresi ketakutan Mirani tercermin jelas di pupil mata Coze Walugang.
"Apa yang akan kau lakukan?" Mirani ketakutan dan mencoba untuk menjauh, tetapi Coze Walugang tetap mendekat.
"Apa yang akan aku lakukan?" Coze Walugang mengangkat alisnya. "Kemarin malam kamu melahapku seperti makanan, tidakkah aku berhak menerima tubuhmu hari ini? Kalau tidak, aku yang akan merugi!"
Pernyataan ini membuat Mirani marah dan ia tidak bisa membantahnya. Dia benar-benar pingsan semalam, jadi dia tidak tahu apakah itu benar atau tidak.
Namun, melihat ekspresi Coze Walugang, dia tidak terlihat seperti sedang berbohong. "Tubuhku ya milikku, tidak mungkin aku membiarkan orang lain memanfaatkan tubuhku seenaknya?!" gumam Mirani.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" bentak Mirani.
Mirani mencoba mendorong Coze Walugang, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan dekapannya yang kuat. Ekspresi putus asa dan marah Mirani hanya membuat Coze Walugang semakin terhibur.
"Jika kamu tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, aku sarankan kamu berhenti membuat keributan." Coze Walugang mengancam dengan penuh ancaman. Dia tahu persis apa yang akan membuat Mirani terpancing.
Seperti yang diharapkan Coze Walugang, pernyataan itu tampaknya membuat Mirani terdiam. Mirani berdiri diam sejenak, kemudian dengan enggan menarik tangannya kembali.
Tak terduga, karena pertengkaran kecil ini, handuk yang melilit rambut Mirani melorot, membuat rambut basahnya tergerai bebas. Tetesan air dari rambut basahnya jatuh ke punggung Mirani dan lengan Coze Walugang.
Coze Walugang mengerutkan kening. "Kenapa rambutmu masih basah?"
Mirani memiliki rambut tebal yang mencapai pinggangnya. "Apakah dia berencana membiarkan rambutnya mengering sendiri seperti itu?" batin Coze Walugang setelah melihat rambut Mirani yang masih basah.
"Astaga, bagaimana aku bisa tahan hidup bersamanya?" batin Mirani yang mulai tidak tahan hidup bersama Coze Walugang.
Melihat bahwa Mirani tidak menjawab, Coze Walugang mengira dia berpikir hal yang sama mengenai rambut Mirani yang basah, jadi dia melepaskan cengkramannya di pinggang Mirani. Kemudian, dia langsung menarik Mirani untuk duduk di tempat tidur.
Mirani pikir Coze Walugang punya motif lain. Jadi, begitu Coze Walugang melepaskannya, Mirani segera berdiri, siap untuk berlari jika Coze Walugang berbuat sesuatu kepadanya.
"Duduk!" Coze Walugang meninggikan suaranya. "Jika tidak, aku tidak bisa menjamin apa konsekuensi yang akan terjadi!"
Mirani segera duduk dengan tenang di tempat tidur, menatap Coze Walugang dengan seksama.
__ADS_1
Puas dengan reaksinya, Coze Walugang berbalik, mengambil pengering rambut dari laci, dan menyambungkannya ke stopkontak di dekat tempat tidur, dan siap mengeringkan rambut Mirani.
"Aku bisa melakukannya sendiri..." ucap Mirani.
"Aku sudah bilang kepadamu untuk duduk, kan? Apa kamu tidak mendengar?" Coze Walugang menatap Mirani.
"Orang kaya memang berlebihan, kata-katanya dipenuhi intimidasi yang jelas!" batin Mirani yang cukup kesal.
Mirani tidak ingin mengatakan apa-apa lagi, jadi dia dengan patuh membiarkan Coze Walugang berbuat sesukanya.
Ekspresi Coze Walugang serius, tetapi gerakannya sangat lembut saat dia dengan hati-hati mengeringkan rambut Mirani.
Mirani merasa sedikit tidak nyaman. Dia belum pernah mengalami momen yang begitu intim dengan seorang pria sebelumnya.
Dengan diam-diam Mirani mengamati ekspresi Coze Walugang dan menyadari tidak ada hal yang membahayakan dirinya, sehingga Mirani hanya bisa malu-malu menundukkan pandangannya.
Setelah mengeringkan rambut Mirani, Coze Walugang langsung masuk ke kamar mandi.
Bahkan Coze Walugang sendiri merasa tidak percaya bahwa dia sedang mengeringkan rambut seorang gadis kecil yang baru dikenalnya selama dua hari. Bohong jika dia tidak gugup.
Coze Walugang memutuskan untuk mandi, dan ketika keluar, dia melihat bahwa Mirani sudah tertidur pulas.
Hanya dengan memikirkan ekspresi di wajah Mirani saat dia bangun tidur di pagi hari, senyuman tipis muncul di bibir Coze Walugang.
"Ah, aku sangat ingin melihat senyumnya esok pagi."
__ADS_1