Pernikahan Kontrak Yang Manis: Gadis Barbar Kesayangan CEO

Pernikahan Kontrak Yang Manis: Gadis Barbar Kesayangan CEO
Episode 15


__ADS_3

Ketika Coze Walugang sedang membersihkan dirinya di kamar mandi, Mirani dengan tegas mengeluarkan ponselnya untuk melihat GPS dan mengetahui bahwa ternyata tidak ada bus di sekitar sini. Selain itu, jarak untuk pulang dari tempatnya saat ini berjarak lebih dari 20 kilometer jika dia harus berjalan kaki...


"Tidak, hanya 20 kilometer, aku bisa melakukannya. Aku tidak ingin menunjukkan kelemahanku di hadapan Coze Walugang yang menyebalkan itu!" gumam Mirani.


Di pagi hari, Coze Walugang selalu mandi sebelum pergi bekerja. Setelahnya, dia pasti keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggang sampai pahanya dan mengekspos otot-otot atas tubuhnya yang kuat.


Kejadian-kejadian itu secara kebetulan membuat Mirani, yang hendak masuk kamar mandi, menabrak Coze Walugang. Setelah menyadari apa yang terjadi, Mirani berteriak sangat nyaring.


"Diam," Coze Walugang membalas teriakan Mirani dengan cukup kesal. Dia benci ketika wanita berteriak tanpa alasan, seolah-olah mereka sedang disiksa. Bagi Coze Walugang, para wanita seharusnya tidak perlu begitu antusias dan membuat gendang telinganya pecah.


Mirani melirik bentuk fisik tegak Coze Walugang yang sempurna, delapan otot perutnya terlihat jelas seperti roti sobek, kulitnya yang sehat dan cerah, serta handuk yang menutupi bagian "pentingnya" kecuali rambut kaki yang lebat dan sensual di betisnya.


"Sudah puas melihatnya?" Coze Walugang dengan santai bersandar di pintu. "Ludahmu hampir mengucur."


Mirani terdiam dan menyadari bahwa dia telah digoda.

__ADS_1


"Enyahlah. Siapa yang peduli dengan fisikmu yang jelek?" Mirani dengan tegas mendorong Coze Walugang dan masuk ke dalam kamar mandi, menutup pintu dengan keras.


"Oh? Begitu ya? Padahal ekspresimu dua hari yang lalu tidak seperti ini!" Suara Coze Walugang terdengar dengan nada gurauan.


Jika Coze Walugang membuka pintu saat ini, dia akan melihat Mirani berdiri di sana dengan pipi memerahnya.


"Si brengsek ini, kenapa dia harus mengingatkan hal itu sepagi ini, sih!" kesal Mirani dalam hati.


Pada hari itu, sebenarnya dia tidak sadar dan tak terduga dia berpikir telah kehilangan keperawanannya, kemudian dipaksa menjadi istri kontrak seseorang. Dari awal hingga akhir, Mirani adalah orang yang tidak mengerti apa-apa!


Namun, saat berhadapan dengan Coze Walugang, Mirani berani marah tapi tidak berani bicara.


Mirani telah merencanakan serangkaian rute pelarian, termasuk metode amatiran kabru diri dari rumah.


Dengan polosnya, Mirani percaya bahwa begitu dia meninggalkan Kota Jakarta, dia bisa dengan mudah menghindari Coze Walugang yang memegang kendali dalam hidupnya tanpa mempengaruhi keluarganya. Yang lebih penting, Mioly yang ingin sekali menikah dengan keluarga kaya, bisa dengan mudah memikat hati Coze Walugang selama Mirani kabru dari kejarannya. Mungkin Mirani dan Mioly bisa melakukan drama seperti saudara perempuan yang menikah menggantikan kakak perempuannya, dan kemudian hidup bahagia selamanya...

__ADS_1


Meskipun terlihat seperti dia telah berubah dari pemeran utama menjadi pemeran pendukung dalam seluruh cerita ini, Mirani sama sekali tidak keberatan karena Coze Walugang terlalu menyebalkan!


Rencana ini sangat sempurna sehingga membuatnya lebih bergairah ketimbang saat dia melihat delapan otot perut Coze Walugang. Hanya dengan memikirkannya saja dia merasa seperti seorang jenius dan layak mendapat banyak pujian!


Setelah mandi, Coze Walugang sudah siap.


Setelan halus ekslusif buatan seorang ahli melilit tubuh menggoda Coze Walugang, dan Mirani akhirnya mengerti arti dari "terlihat ramping saat berpakaian dan terlihat berisi saat telanjang".


Merasa jijik dengan dirinya sendiri, Mirani mencibir dalam hatinya.


Coze Walugang berdiri di depan cermin, mengikat dasinya, tidak menyadari perubahan ekspresi wajah Mirani.


"Koki telah menyiapkan sarapan. Kamu bisa makan sebelum pergi berjalan-jalan," ucap Coze Walugang. "Bagaimanapun, gadis ini tidak akan pergi terlalu jauh," lanjutnya dalam hatinya.


"Benarkah? Makanan enak apa itu?!" Sebagai pecinta makanan, Mirani tentu saja tidak akan menolak makanan enak.

__ADS_1


"Pergi ke bawah dan cicipi sendiri, maka kamu akan tahu."


"..."


__ADS_2