
Coze Walugang sebenarnya berniat menekan pedal gas sekeras mungkin, tetapi kemudian ia berpikir jika dia membawa mobil terlalu cepat maka posisi Mirani akan terlewat, jadi akhirnya ia mengendarai mobil sport itu dengan pelan.
Namun sepanjang perjalanan, ia tidak melihat sedikit pun tanda keberadaan Mirani. Tidak peduli berapa kali ia mencoba menelepon Mirani, teleponnya selalu dalam keadaan mati. Tangannya yang memegang kemudi mulai basah oleh keringat.
Coze Walugang bahkan meminta bantuan supir pribadi di rumah, tetapi tetap tidak ada kabar.
Setelah ia memarkirkan mobil di sisi jalan, Coze Walugang memukul keras kemudinya dan menghela napas lalu bersandar di kursinya.
"Sialan!"
Seperti sudah lama ia merasakan perasaan ketidakberdayaan seperti ini. Persis saat dia kehilangan ibu kandungnya.
Jika bukan karena wanita bernama Arlina itu, ibunya pasti tidak akan mati.
Dia menyaksikan ibunya, yang masih berusia awal tiga puluhan dan sedang dalam masa jayanya. Dengan rambut ubanan yang semakin bertambah dan kulit yang semakin kusam setiap harinya dan sifat tenang dan lemah lembut yang dimiliki Ibu Coze Walugang, membuatnya tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam menghadapi Arlina selain menghela napas.
Setelah itu, Coze Walugang ditinggalkan dengan kondisi keluarga yang hancur dan ayah yang suka berselingkuh, tetapi dia selalu menjadi orang yang berjuang dan selalu menyelesaikan setiap masalahnya sendiri.
Dan seketika Coze Walugang bertemu seorang gadis yang bisa membuatnya teralihkan dari permasalahan hidupnya. "Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padanya!" ucap Coze Walugang.
__ADS_1
Dentuman pesawat yang membelah langit membuat Coze Walugang tiba-tiba teringat sesuatu. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari tas dan mencari nomor Yohanes.
"Bagaimana bisa aku lupa tentang orang itu!" ucap Coze Walugang yang langsung mengambil ponsel dan menghubungi Yohanes.
Tak lama, Yohanes menjawab, "Ada apa?" Biasanya, ketika Coze Walugang meneleponnya di siang hari, ada lebih dari 90% kemungkinan bahwa Coze Walugang ingin sesuatu. Yohanes tidak membuang waktu dengan obrolan kecil. Ia langsung ke pokok permasalahan.
"Aku butuh kamu membantuku mencari seseorang. Dia mematikan teleponnya, dan aku tidak bisa menggunakan GPS untuk mencarinya." Suara Coze Walugang mengisyaratkan bahwa ada hal penting.
"Selama baterainya tidak dilepas, itu bukan masalah. Berikan nomornya." Jika Coze Walugang begitu cemas, pasti ada masalah besar. Yohanes masih bisa membedakan hal penting dengan hal yang tidak penting, dan ia tahu akan ada banyak kesempatan untuk mengejek Coze Walugang di masa depan jika dia berhasil membantunya.
Coze Walugang tidak membuang waktu. Ia memutuskan hubungan telponnya dan mengirimkan nomornya.
Yohanes dengan mudah menggunakan peralatan profesionalnya untuk melacak Mirani demi membantu Coze Walugang yang tak berdaya. Meskipun hal yang dilakukan Yohanes sedikit berlebihan dengan menggunakan alat pelacak profesional.
"Kenapa kau menelponku? Apakah hal penting yang ingin kau sampaikan bisa ditunda dulu sampai aku menemukannya?" Coze Walugang tidak punya mood untuk basa-basi. Prioritasnya adalah menemukan Mirani.
"Jangan terlalu terburu-buru. Perangkat mendeteksi bahwa dia berada di tempat yang sama selama lebih dari satu setengah jam, dia tetap di sana sampai saat ini." Kekhawatiran luar biasa Coze Walugang membuat Yohanes semakin terhibur.
"Jangan berucap hal bodoh. Setelah aku menemukannya, kau akan melihat bagaimana aku akan menangani dirimu." Coze Walugang bercaci dengan keras sebelum menutup telepon dan beralih ke peta satelit.
__ADS_1
Lokasi Mirani tidak jauh dari Coze Walugang. Karena akrab dengan kondisi jalan di area ini, ia dengan cepat menemukan Mirani.
Mirani sedang tenang bersandar di sebuah pohon, seolah-olah ia sedang tidur. Pipinya memerah, dan keringatnya telah membasahi poni-poninya sehingga dia terlihat menggemaskan.
Coze Walugang mengerutkan kening, menempatkan tangannya di dahi Mirani dan menyadari dirinya lebih panas dari yang ia bayangkan.
"Mirani, lebih baik kamu bertahan. Aku tidak akan membiarkanmu pingsan di hadapanku!" Coze Walugang dengan cemas menggendong Mirani selayaknya tuan putri, sambil menggerutu karena kesal.
Mirani hanya merespons dengan napas yang samar.
"Sialan!"
Coze Walugang meletakkan Mirani di kursi penumpang, melepaskan rem tangan, dan menekan pedal gas pergi menuju rumah sakit dengan perasaan khawatir jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi.
"Dasar keras kepala! Apakah dia tidak menyadari kalau dirinya terkena heatstroke!" gerutu Coze Walugang.
"Pasti dia tidak membawa makanan atau minuman ke dalam tasnya. Apa dia ingin bunuh diri!" lanjut Coze Walugang dengan nada kesal sekaligus cemas.
Semakin Coze Walugang memikirkannya, semakin marah ia.
__ADS_1
"Mirani, lebih baik kau berdoa agar kau lupa mengenai hal ini saat bangun nanti. Dasar ceroboh! aku akan menghukummu nanti!"
Coze Walugang melirik Mirani dari samping, pandangannya penuh kekhawatiran.