
Kegiatan makan siang saat ini secara tak terduga membuat Coze Walugang berada dalam suasana hati yang bagus. Mirani adalah gadis yang begitu ceria sehingga dia berpikir kehidupan masa depannya tidak akan membosankan.
Setelah Arlina dengan marah pergi ke atas, Ibu Rina tetap tinggal di dapur mencuci piring.
"Hei, bolehkah aku pulang sekarang setelah kita selesai makan?" ucapnya dan di dalam hatinya Mirani berucap, "Matahari sedang terbenam, dan aku sudah cukup lama berpura0-pura ini untuk tugasnya sebagai istri. Aku tak perlu bermalam di sini."
"Kita sudah resmi menikah, dan ini adalah rumahmu. Ke mana lagi kau akan pergi?" Coze Walugang terlihat bingung, tetapi matanya penuh dengan kegembiraan.
Mirani menunjuk dengan jari rampingnya ke wajah Coze Walugang, namun ia tak sanggup berkata-kata.
Coze Walugang tampak tampan sekali, tetapi ketidakpekaannya sangat membingungkan Mirani.
"Apa ada yang salah dengan diriku?" Coze Walugang mengeluarkan ponselnya dan menatap dirinya sejenak. "Selain tampan, apa lagi yang ada di wajahku?"
Mirani hampir menyerah; bukan hanya karena Coze Walugang tidak peka, tetapi ia juga tak punya malu!
Melihat Mirani emosi tetapi tidak bisa melakukan apa-apa, suasana hati Coze Walugang semakin membaik.
"Ayo, aku akan membawamu ke suatu tempat." Kata-katanya terdengar seperti mengajak diskusi, tetapi dia dengan tegas meraih tangan Mirani dan membawanya keluar dari rumah tanpa memberinya kesempatan untuk protes.
__ADS_1
"Hei, Coze Walugang! Kamu ini kenapa? Kemana kamu membawaku?" Mirani berjuang untuk melepaskan diri, tetapi genggaman Coze Walugang terlalu kuat.
"Sudah ikut saja." Dia menggendong Mirani dan menempatkannya di kursi belakang mobil sport miliknya. Sebelum Mirani bisa bereaksi, mesin mobil yang kuat itu berdentum di garasi menandakan mesin itu sudah dihidupkan, dan mereka dengan cepat pergi dari rumah mewah tersebut.
Mirani merasa bahwa berada di dalam mobil sport adalah pengalaman yang benar-benar berbeda. Saat dia menyaksikan pemandangan melintas dengan cepat, dia sepenuhnya melupakan keberadaan Coze Walugang.
"Tunggu, mengapa mereka semakin menjauh dari pusat kota?"
Tiba-tiba, Mirani menyadari betapa serius situasinya. Mungkinkah karena dia tidak ingin tinggal di rumah Coze Walugan, sehingga Coze Walugang berencana untuk meninggalkannya di tempat terpencil?
"Hei, sebenarnya kita pergi ke mana?" Mirani mengelus sandaran kursi Coze Walugang dengan cemas.
"Oh tidak, aku pasti dibawa ke tempat terpencil!"
Pikiran Mirani membayangkan banyak skenario bagaimana dia ditinggalkan di tengah-tengah hutan belantara, membuatnya merinding ketakutan.
"Tidak, ketika sudah sampai, aku harus memegang erat dan tidak boleh jauh dengannya, apa pun yang terjadi!"
Coze Walugang merasakan bahwa gadis di belakangnya telah merasa tenang dan secara naluriah mengalihkan pandangannya ke cermin spion. "Apa maksud di balik ekspresi ketakutan di wajahnya? Mungkinkah dia takut hantu, dan membawanya ke kuburan pada malam hari membuatnya sangat ketakutan?"
__ADS_1
Coze Walugang tiba-tiba merasa iseng dan mengabaikan ekspresi Mirani saat dia terus mengemudi menuju pemakaman pinggiran kota.
*
Mobil segera tiba di taman pemakaman, dan Coze Walugang memarkirkan mobilnya dengan aman di tempat terdekat.
Mata Mirani melebar tak percaya. "Serius? Aku tidak hanya ditinggalkan di tempat terpencil tapi juga dibawa ke tempat yang angker ini. Bagaimana bisa Coze Walugang melakukan ini padaku?"
Mirani tidak bisa menahan diri untuk melihat Coze Walugang dengan memperlihatkan sedikit rasa keberatan di matanya.
Coze Walugang dengan santai menutup pintu mobil sebelum memperhatikan ekspresi kesal di wajah Mirani.
"Mengapa kau memandangku seperti itu? Apakah kau benar-benar takut dengan hantu?" Coze Walugang agak mengkhawatirkan Mirani, "Apakah aku sudah menyakiti perasaan gadis ini?" batinnya
"Kau yang takut!" Memang sebagian dari Mirani merasakan ketakutan, tetapi dia tidak takut sedemikian rupa sehingga tidak bisa pergi ke pemakaman. "Sebenarnya, apa yang dipikirkan orang ini?" gumam Mirani.
"Jika kau tidak takut, lalu tunggu apa lagi? Keluarlah dari mobil!" Coze Walugang mulai tidak sabar. "Atau apakah aku harus menggedongmu keluar?"
Mirani dengan cepat menjawab, "Tidak, tidak, aku bisa berjalan."
__ADS_1