
Ketika Alaris bertanya siapa yang telah memenjarakannya, Axella tersentak, mata bening itu membulat penuh, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar.
"Sa-saya..."
"Tidak apa-apa jika itu menganggumu dan kamu tidak perlu memberitahuku." Wajah Alaris datar dan ia pun berjalan menuju pintu untuk pergi.
"Nyonya!" Teriak Axella.
Alaris memutar kepala dan melihat Axella yang sudah berlumur air mata di wajahnya.
"Na-namanya adalah Reed..." Kata Axella.
Alaris mengernyit.
"Reed?"
"Be-benar, dia dari keluarga bangsawan dan dia memiliki perusahaan perhiasan yang sangat terkenal."
Mendengar orang itu memiliki perusahaan di bidang yang sama membuat Alaris tertarik.
"Bagaimana bisa kamu menjadi tawanannya?" Tanya Alaris yang sudah berdiri tepat di depan Axella.
Tiba-tiba Axella memegangi dadanya dengan kedua tangannya dan merosot duduk bersimpuh di lantai.
Brida yang melihat itu terkejut dan membantu Axella untuk duduk di sofa.
"Sa-saya di jual oleh ayah saya pada Tuan Reed, di perdagangan gelap."
Alaris menarik nafasnya kesal.
"Apa nama perusahaan perhiasan milik pria itu."
"The Reed Jewelry."
"Aah, kurasa aku mengenali perusahaan itu, aku akan mengurusnya dan membuatnya tidak akan bisa lagi menganggumu, kamu bisa tenang." Kata Alaris.
"Te-terimakasih Nyonya." Alaris menggenggam kedua telapak tangannya di dadanya dengan mata bening yang terlihat lemah.
Setelah kepergian Alaris, Axella baru sadar akan ingatannya.
__ADS_1
"Aku ingat! Nyonya itu yang pernah aku lihat di televisi, pernikahan megah, dan suami yang kaya, serta tampan."
Jantung Axella berdegup dan tubuhnya gugup, ia tidak menyangka akan di selamatkan oleh seseorang yang pernah ia lihat hanya melalui layar kaca.
"Aku akan aman." Lirih Axella, ia tersenyum senang, lega dan penuh ketenangan.
Dengan memeluk bantal Axella berbaring di atas sofa, senyumannya mengembang indah di wajah cantiknya.
*****
Pagi hari yang cerah, cakrawala bersinar dengan keagungan yang dimilikinya, menyorotkan sinar lembut dari balik tirai putih yang terawang, sinar pagi yang sedikit berwarna orange menyorot lantai marmer mewah yang memiliki kualitas terbaik.
Sebelumnya, tirai merah yang besar dan tebal telah di buka oleh pelayan pribadi yang secara khusus melayani Alaris.
Di atas tempat tidur king size perlahan Alaris membuka mata dan menyapu wajahnya dengan sebelah telapak tangannya, jemari lentik itu menekan pelipis matanya yang terasa sedikit nyeri.
Kepala nya pusing, tubuhnya juga terasa tidak nyaman mungkin karena efek penerbangan yang berjam-jam dan kini ia terkena serangan jetlag.
"Nyonya Alaris, Tuan William menunggu anda di ruang makan, saya sudah menyiapkan air untuk anda mandi." Kata Samantha yang berdiri dengan tangan menyilang sembari menundukkan kepala.
Alaris perlahan bangun, dan Samantha bergegas mengambil jubah tipis berwarna merah tua milik Alaris dan memakaikannya.
Perlahan Alaris menuju kamar mandi dan melihat wajahnya dari pantulan cermin.
"Tidak perlu Lily."
Setelah mandi dan bersiap, Alaris menuruni tangga marmer yang lebar dan mewah, pakaiannya juga terlihat elegan.
William sudah duduk di ujung meja makan menunggu Alaris.
Setelah Alaris duduk mereka melanjutkan sarapan dengan setenang mungkin hingga tidak ada suara gesekan dari sendok.
"Bagaimana perjalanan bisnismu." Tanya William tiba-tiba.
"Semua berjalan lancar sebelum sesuatu menghancurkan jadwalku." Jawab Alaris pandangannya tetap tertuju pada soup yang ia aduk perlahan.
William menatap dalam pada wajah istrinya yang menunduk dan mengaduk soup, Alaris begitu tenang dan dingin.
"Kamu tidak lupa kan, jika hari ini kita memiliki jadwal bersama? Saat mengetahui kamu pulang tadi malam, aku menyuruh Jason untuk mengirim email pada sekretarismu." Kata William.
__ADS_1
"Aku ingat." Alaris menjawab sekenanya.
"Aku terkejut kamu pulang lebih cepat, bukankah kamu akan pergi selama seminggu?"
"Itu karena aku mendengar beberapa wanita asing yang tak ku kenal dengan lancang ingin menyentuh area ku."
William mengernyit.
Alaris mengelap mulutnya dengan serbet pelan dan elegan.
"Lain kali aku tidak akan memaafkan siapapun orang asing yang berani dengan lancang masuk ke dalam mansion utara tanpa seijinku." Tegas Alaris.
Rahang William mengerat kuat.
"Aah, itu..." William mengangkat dagunya dan ingat.
"Sebenarnya, aku tidak tahu, tapi para pengawal sudah mengusir mereka."
"Aku yakin mereka tidak akan seberani itu jika dari awal seseorang sudah memperingatkannya, kecuali seseorang itu memang acuh."
"Maksudmu, sebelumnya, aku sengaja untuk tidak memberikan peringatan pada mereka?"
"Semua orang takut padamu bukan?" Balas Alaris dingin dan ketus.
"Sejujurnya, mungkin itu terlewatkan, pesta itu di buat untuk memberikan apresiasi untuk para pekerja yang sudah berkontribusi dan membuat kerjasama perusahaan kita lancar."
"Aku tahu, dan seluruhnya adalah karyawan perusahaanmu, jika itu terjadi pasti sudah dengan persetujuanmu, tidak mungkin mereka mengadakan pesta dengan mengundang para wanita tanpa persetujuanmu.
"Apa para pelayan pribadi mu yang mengadu."
"Tanpa mereka bicara pun aku akan tahu. Willliam aku sudah menghormati privasimu, jadi tolong kamu juga hormati privasiku." Kemudian Alaris berdiri pelan.
"Aku akan menunggumu di kantor untuk mengatur perencanaan peresmian anak perusahaan." Alaris hendak pergi.
"Kita akan pergi bersama." Kata William dengan suara yang dalam dan tegas.
"Aku sudah katakan kita akan bertemu disana..." Alaris membalas.
"Aku yang seharusnya mengatur dan memberikan perintah di sini, saat ini kamu adalah istriku, dan kamu harus menuruti semua perintah suamimu. Ingat Alaris, kamu adalah istriku, jangan terlalu jauh melangkahiku."
__ADS_1
Alaris menatap datar William yang sudah melewatinya, pria itu pergi dari ruang makan tanpa melihat wajah Alaris.
bersambung~