
Akhirnya acara makan malam dengan keluarga besar pun di mulai. Semua duduk di kursinya masing-masing.
Meja panjang terbentang dengan kain putih yang menutupinya, saat itu mereka menggelar resepsi tertutup di sebuah gedung mewah kelas atas.
"Sudah hampir 1 tahun pernikahan kenapa kalian masih belum juga memiliki seorang anak." Sebuah kalimat meletup di mulut pedas Margareth.
Dorothy, bibi William terkejut hingga tersedak, bagaimana Margareth teman sosialitanya dengan seberani itu menimpalkan pertanyaan panas pada keponakannya, William.
"Apa dia tidak tahu siapa William dan Alaris, bagaimana bisa dia bertanya seperti itu..." Bisik Dorothy pada teman sebelahnya.
Alaris melirik pada William sekilas yang sedang mengiris steak. Merasa William tidak akan menjawab Alaris berinisiatif lebih dulu.
"Baru 1 tahun, kami masih ingin menikmati masa-masa setelah menikah." Kata Alaris datar sembari meminum sampanye.
"Baru 1 tahun bagaimana, apa kalian tidak merasa bosan dan kesepian, sekarang ini harus pikirkan pewaris kalian, jika tidak di pikirkan akan banyak godaan di luar sana, apalagi jaman sekarang mulut pria tidak ada yang bisa di percaya, meskipun bukan hanya pria saja, banyak juga dari wanita yang mulai terang-terangan bermain dengan pria lain, dengan dalih bekerja. Kondisi seperti ini banyak sekali orang yang ingin masuk dan memecah...."
PYARR!
Margareth menghentikan kalimatnya, sedangkan tubuh Dorothy seketika gemetar.
Perubahan mimik wajah William sangat jelas menjadi masam dan gelap.
"Saya tidak sengaja menjatuhkan gelasnya." Kata William.
Kemudian seorang pelayan datang untuk membersihkan serpihan tersebut.
"William, ada kamar untuk kalian menginap hari ini." Dorothy buru-buru berdiri dan mendatangi William serta Alaris, ia bermaksud ingin mendinginkan suasana panas saat itu.
"Kami tidak menginap, ada urusan mendesak, lagi pula sesuatu sudah terjadi, akan canggung jika kami tetap di sini."
__ADS_1
"Tapi William, kalian datang dari jauh apa tidak lelah jika hari ini kalian pulang."
William tidak menjawab pertanyaan bibinya, ia justru berdiri dan meninggalkan ruangan itu, sedangkan Alaris juga mengikuti William setelah menundukkan kepala berpamitan pada Dorothy.
Dorothy terlihat sangat kesal, ia susah payah mengundang keponakannya dan berharap dia bisa menginap agar bisa bicara pada William tentang memasukkan menantu dan anaknya ke salah satu perusahaan baru milik William dan Alaris namun temannya justru membuat semuanya kacau.
Mata Dorothy memerah, menatap tajam penuh amarah pada Margareth.
"Seandainya ada sekolah, aku ingin mulutmu itu masuk di sekolahan itu."
"Ada apa Dorothy, kamu menyalahkanku, apa yang aku katakan salah? Aku hanya memberikan saran pada mereka. Lagi pula setiap kita melakukan pertemuan, kita selalu menyinggung dan membahasa keponakanmu yang belum juga mempunyai anak, dan tentang mengapa mereka belum memiliki anak, apakah mereka benar-benar saling mencintai."
"Kamu lebih baik diam dan mengurung dirimu di dalam goa jika otakmu terlalu bodoh, apa kamu benar-benar tidak tahu siapa yang sedang kamu berikan saran, meski dia keponakan ku tapi dia pemilik perusahaan Liam Grup!"
Mulut dan mata Margareth seketika terbuka lebar, ia menjatuhkan serbetnya di atas makanannya.
"Kalian tidak pernah bilang jika keponakanmu adalah... Pemilik perusahaan... Raksasa... Itu."
"Ap ... Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Margareth.
"Sekarang kamu baru takut? Kamu hidup kemana saja sampai tidak tahu bahwa keponakanku Pemilik Liam Gruo! Lagi pula siapa yang kamu maksud kita, jelas aku dan yang lainnya tidak punya hubungan apapun denganmu!" Bentak Dorothy.
"Tap... Tapi aku anggota sosialita kalian..." Margareth ketakutan, wajahnya menjadi pucat pasi.
Semua orang tahu bagaimana nasib mereka jika menyinggung seorang William Linevero. Perusahaan yang mereka miliki sudah pasti akan pailid, bahkan yang paling buruk seluruh anggota keluarga akan menderita karena jatuh miskin dan di blacklist dari pinjaman bank manapun, sehingga mereka tidak dapat bertahan hidup kecuali menjadi gelandangan.
Malam itu dalam perjalanan pulang, William hanya diam tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya, bahkan sesampainya di mansion William menjadi lebih dingin dan tidak menghiraukan Alaris.
William keluar dari mobil dan langsung menuju mansion selatan tanpa menunggu Alaris keluar dari mobil.
__ADS_1
'Wajah dan sikapnya itu membuat ku merasa sakit, sebenarnya aku sudah biasa berakting di depan banyak orang, ketika bertemu dengan para undangan, relasi, keluarga William, bahkan di depan karyawanku di perusahaan, tentang hubungan yang baik-baik saja dan harmonis, tapi entah kenapa saat ini William justru pergi dengan wajah kesal, bahkan ia dengan sengaja menjatuhkan gelasnya di depan banyak orang.'
Dan hari-hari berikutnya pun sama, William seolah menghindari Alaris, mereka menjadi jarang bertemu bahkan William selalu sarapan di kantor.
Malam hari William pulang sangat larut dan absen dari makan malam bersama Alaris.
Hingga akhirnya Alaris menjalani hari-harinya seperti batu yang dingin di kutub utara.
"Nyonya... Nyonya Alaris, lihatlah ini." Emily berlari sembari membawa sebuah majalah.
"Ada apa Lily?" Tanya Alaris.
"Sudah lewat dari satu bulan sejak peresmian IMPERIAL DIAMOND tapi koran-koran serta majalah dan televisi masih membuat berita tentang anda dan Tuan Harry yang tampan itu. Kenapa yan Tuan Harry begitu sangat cantik dan tampan." Kata Emily sembari menyapu kan kedua pipinya.
Alaris kembali mengingat bagaimana saat pertemuannya dengan Harry, kemudian ia berdehem untuk menjernihkan pikirannya.
"Samantha, apa hari ini William absen lagi dari sarapan?" Tanya Alaris.
"Ah ya maaf Nyonya, Tuan William hari ini absen lagi, dan Jason memberitahu jika Tuan William minta maaf tidak bisa berpamitan langsung karena akan pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis mungkin bisa beberapa bulan." Kata Samantha.
"Apa? Beberapa bulan!" Alaris tersentak, keningnya mengerut.
"Ya Nyonya. Apa anda mau sarapan di kamar saja Nyonya?" Tanya Samantha.
"Ya, tolong." Sahut Alatis datar dan melebur semua perasaan gelisahnya.
'Ini sudah satu bulan lamanya setelah kembali dari acara pernikahan itu, dan William justru seperti semakin menghindari ku, entah hanya perasaanku atau memang itu lah yang terjadi.'
'Beberapa hari aku sarapan dan makan malam sendiri, kami tidak pernah bertemu satu sama lain. William pergi pagi-pagi melewatkan sarapannya dan pulang tengah malam tanpa makan malam di mansion.'
__ADS_1
'Hingga akhirnya, William pergi ke luar negeri dalam rangka perjalanan bisnis selama beberapa bulan dan hanya meninggalkan pesan melalui para pelayan, ia meminta maaf jika tidak sempat berpamitan langsung, itu pun melalui Jason.'
bersambung~