
Mereka bertiga melangkah masuk mengikuti instruksi tuan rumah.
Arthur memperhatikan setiap sudut dalam rumah yang terjangkau di matanya. Di saat adiknya dan Andre telah duduk di karpet yang digelar di lantai, ia masih berdiri.
Kakinya bisa merasakan karpet dirumah kenalan adiknya tidak selembut dan setebal dirumah mereka. Warna merah maroon yang memudar tapi terlihat bersih.
Bi Siti kembali ke ruang depan menyajikan minuman ala kadarnya untuk tamu istimewanya. Aya segera mengarahkan mata pada Arthur sebagai kode menyuruh duduk.
Dengan sedikit enggan dan pelan Arthur mengikuti perintah sang adik.
"Silahkan diminum Non, Tuan." Tawar Bi Siti dengan tersenyum ramah.
Minuman sirup es berwarna merah diletakkan di depan mereka masing-masing.
Andre mengulur tangan mengambil gelas, rasa kering di tenggorokannya datang begitu saja saat minuman dingin terletak manis didepan.
"Aku haus banget." Ucapnya sebagai basa-basi entah kepada siapa yang jelas tidak ada yang menanggapi.
Hanya mereka bertiga di ruang itu, bi Siti telah kembali ke dapur setelah menyuguhkan minuman. Sedangkan Mayra belum menampakkan diri sedari menyambut di pintu depan.
Arthur melirik ke belakang tepat di area dapur. Ia berharap dapat melihat gadis itu lagi.
"Kak, bengong aja. Diminum jangan di anggurin tuh." Aya menyenggol kakaknya.
Minuman digelasnya tinggal setengah. Gelas masih ditangan, berarti ia akan segera meneguk habis isinya. Benar saja, kini gelasnya kosong. Aya menggoyang gelas bekas minumannya pada Arthur dengan senyum mengejek. Karena kakaknya dari tadi cuma diam saja, minumnya masih utuh tidak disentuh.
"Terserah kalau nggak mau, aku mau ke dapur." Aya bangun, gelas bekas minumnya dengan minum Andre di taruh kembali ke dalam nampan. Tanpa terkecuali gelas minum Arthur yang masih utuh ikut dibawanya.
"Eh, mau di bawa kemana?" Arthur dengan cepat menyambar gelas.
Dengan sekali teguk, maka isinya telah berpindah ke perutnya.
"Gayanya nggak mau." Aya mencibir.
"Biar nggak enak aja sama yang punya rumah." Arthur menjawab dengan cuek.
"Bos, gimana. Seger 'kan?" Goda Andre lagi.
"Biasa aja."
"Huh, dasar." Gumam Andre.
"Aku dengar." Sela Arthur.
"Ck, payah kau Bos."
"hust, Jangan memanggilku Bos disini." Arthur memperingatkan Andre sahabatnya atau asistennya.
"Sorry, aku lupa."
"Assalamualaikum," terdengar orang memberi salam dari luar.
"Waalaikumsalam," Andre menjawab dengan lancar. Sedangkan Arthur merasa lidahnya kaku. Ia akui, dirinya jauh dari hal berbau agama.
Jawaban salam juga terdengar dari arah dapur, lalu Mayra muncul bersama bi Siti. Seketika mata Arthur terhipnotis dengan pesona cantik yang lewat dihadapannya dengan membungkuk pertanda sopan.
Mayra tetap dengan pakaiannya yang tertutup. Andre memang dari awal ia sudah mengakui jika terpesona dengan dengan sosok Mayra. Ada rasa tidak suka di hati Arthur saat melihat Andre juga tanpa berkedip menatap Mayra.
__ADS_1
Ternyata Tini yang datang. Ia mengikuti Mayra dan bi Siti langsung ke dapur. Saat melintas di depan tamunya bi Siti, ia katup kedua tangannya sebagai bentuk menghargai dan dibalas anggukan kepala oleh mereka.
Andre mendekati Arthur.
"Mereka berdua mirip ya." Ucap Andre dengan berbisik.
"Nggak." Arthur menjawab singkat.
"Beneran, dua gadis itu mirip. Sama-sama cantik."
"Sejak kapan kau mulai norak begini!?" Arthur melirik Andre yang di samping.
"Padahal dia sendiri suka mainnya sama perempuan cantik." Andre menggerutu dengan suara pelan sambil pindah ke tempat duduknya semula.
Arthur tidak begitu terpengaruh dengan Andre, ia sibuk dengan ponselnya.
"Kau jangan asyik main-main. Kau tetap harus kerja."
"Beres, Bos!"
Ponsel Arthur berdering dengan nyaring, ia lupa menyetel silent ponselnya.
"Dia lagi." Ekspresi Arthur tidak menyenangkan tatkala melihat nama terpampang di layar ponsel.
"Ya?" ucapnya nada dingin.
"Arthur, aku udah siap." Suara Celine terdengar lembut sekali.
Arthur melihat pada jam ditangannya. Baru pukul lima tapi wanita itu sudah siap mau pergi.
"Kau pergi saja sendiri. Sekarang aku sedang sibuk."
"Aku matikan dulu." Arthur hendak mematikan teleponnya tapi Celine dengan cepat menahan.
"Baiklah, aku tunggu kau saja." Akhirnya Celine pasrah, daripada Arthur tidak jadi ikut lebih baik ia saja yang mengalah.
Tidak lama kemudian, sebuah chat masuk dari mamanya. Arthur diingatkan jangan lupa menjemput Celine.
'Pasti dia yang laporin ke Mama.' Arthur geram dalam hatinya.
Di dapur, para wanita sedang sibuk mengolah masakan untuk makan malam sebentar lagi.
"Tin, jangan lupa nanti ajak Indra makan disini juga." Mayra mengingatkan lagi.
"Iya, aku sudah telpon Mas Indra."
"Persahabatan kalian memang sejati banget, deh. Memang nggak bisa dipisahkan." Aya menimpali.
"Aku masih merasa kalau ini seperti mimpi." Tini juga sudah akrab Dengan Aya.
"Itu berarti batin kalian nggak bisa dibohongi."
"he he he... " Tini dan Mayra tertawa bersama.
Jarum jam bergerak cepat, makan malam pun sudah siap. Andre dan Arthur sudah pindah posisi ke teras depan. Arthur tidak betah di dalam rumah mengajak Andre mencari angin luar.
Arthur masih belum puas akan sosok gadis berjilbab yang tidak terlepas walau dalam rumah.
__ADS_1
Tujuannya tetap menunggu karena gadis itu. kalau tidak, sudah sedari tadi ia meminta di antar pulang.
"Tuan, mari. Makanannya sudah siap." Bi Siti memanggil keduanya masuk.
"Baik, Bi." Andre yang menjawab. Arthur hanya mengangguk saja.
Andre sudah sangat hafal sikap dingin Bos-nya, terkadang dengan orang terdekatnya saja ia berlaku cuek.
Piring tertata berhadap-hadapan dengan menu masakan terletak di tengah-tengah. Arthur duduk bersisian dengan Andre. Aya sudah duduk dengan tidak sabar. Ia sengaja duduk berhadapan langsung dengan kakaknya supaya bisa mengontrol sang kakak bila bersikap memalukan dirinya.
"Assalamualaikum," suara seorang pria dari luar.
Mereka serentak menjawab salam dari dalam. Ternyata itu Indra. Tini langsung datang menyongsong suaminya.
"Mas, mari. Mas duduk di sebelah Tuan ini saja ya." Tini mengarahkan suaminya duduk dekat Andre.
Andre mempersilahkan dengan sopan. Jangan tanyakan Arthur yang menganggap tidak ada sama sekali orang di sekitar. Aya sampai dibuat geram oleh kakaknya.
Bi Siti datang dengan sepiring puding lumut berlapis di letakkan antara makanan lain.
"Nisa mana, Bi?" tanya Aya.
"Ada di belakang. Sebentar lagi juga ikut kesini."
"Bi, ini Mas Indra suamiku." Tini mengenalkan suaminya.
"Jangan sungkan ya Nak Indra. Anggap saja ini rumah sendiri. Sekarang kita bertetangga, sudah jadi saudara."
"Benar, Bi. Aku pun kaget ketika Tini memberi tahu ada Mayra disini." Indra pun dengan sifat ramahnya mengobrol dengan bi Siti.
"Mari, silahkan di makan terus selagi hangat." Seru bi Siti pada semua.
Mereka mengisi masing-masing piringnya. Andre dengan santai menyuapi mulutnya dengan tangan. Arthur masih bergeming belum menyuap sesuap pun. Piringnya telah berisi nasi dan ikan bakar seperti menu tadi siang yang dimakannya.
Aya melotot ke arah kakaknya. Arthur mengerti maksud adiknya, dengan susah ia pun menyuap menggunakan tangannya. Aya yang melihat itu tertawa dalam hati. Ada rasa kasihan pada kakaknya tapi ini demi melatih kakaknya jangan terbiasa dengan kemewahan, apa-apa serba dilayani.
Akhirnya Mayra muncul. Ia mengambil posisi di samping Aya yang berhadapan dengan Andre.
Andre mengangguk sedikit, Mayra membalasnya dengan senyum.
Arthur tidak suka dengan sikap Andre yang sok akrab menurutnya. Padahal bukan itu, tetapi rasa tidak sukanya bila Andre selangkah lebih maju darinya mendekati Mayra.
"Sa, lama banget sih. Tuh, lihat mereka pada lahap makannya." Aya menunjuk kedua lelaki di depannya.
Piring Arthur sudah penuh dengan masakan lain. Entah kapan tangannya bergerak. Andre belepotan dengan saos bumbu ikan bakar. Melihat penampilan mereka berdua sekarang saat makan, maka tidak ada yang percaya jika kedua pria itu adalah Bos dan Asisten pada sebuah perusahaan besar di negeri ini.
Mayra melihat sekilas Arthur dan Andre. Ia tidak terbiasa duduk bersama dengan para pria walaupun ada Aya dan Tini tapi tetap saja dirinya kaku.
Mata Arthur lebih leluasa memandang peri cantik disamping adiknya. Posisi dia yang tidak berhadapan langsung jadi sangat mudah menatapnya sesuka hati.
Tengah asyik menikmati makan malamnya, ponsel Arthur bergetar di sebelah duduknya.
"Ck," desisnya pelan bercampur kesal.
Nama Celine terpampang jelas di layar.
"Abaikan aja dulu." Aya tahu siapa yang menelpon kakaknya.
__ADS_1
Arthur pun menuruti adiknya. Melanjutkan makan ditambah pemandangan indah di depan mata. Rencana makan malam dengan Celine sudah hilang begitu saja.
Bersambung