Pesona Buram Di Gubuk Tua

Pesona Buram Di Gubuk Tua
Bab 6 Aya dan Mayra


__ADS_3

Seperti biasa setiap pagi Mayra mempersiapkan dagangan Bibinya. Dan seperti biasa juga godaan dan candaan tetangga barunya itu dialaminya.


Hari ini setelah semua jualan Bibi Siti habis ia diajak ke pasar tidak jauh dari perumahan Bibinya.


"Bi, disini tiap harinya rame ya?" tanya Mayra di sela langkahnya mengiringi Bi Siti.


"Iya, pasar ini termasuk murah. Pasarnya rakyat biasa seperti kita. Semua kebutuhan tersedia." Bi Siti menjelaskan.


"Pasti orang kaya nggak belanja di pasar ini." Celetuk Mayra.


Bi Siti mengiyakan. Mayra mengitari matanya ke sudut-sudut pasar. Para penjual sayur terlihat antusias menjajakan dagangannya. Meja berderet saling berhimpitan, hanya berupa celah kecil cukup dilewati satu orang saja.


Mereka melalui gang kecil, tujuannya ke pedagang ikan. Dikiri-kanan berupa kios-kios kecil, ada yang menjual makanan dan minuman seperti kopi atau minuman saji lainnya.


"Sayang, kita istirahat aja dulu sebentar. Semua kebutuhan sudah kita beli." Ditangan mereka menenteng kantong plastik.


"Baiklah, Bi." Mayra juga merasa haus.


"Kita duduk di sana aja."


Keduanya melangkah ke salah satu kios yang menjual minuman.


"Gimana kalau kita pesan bakso aja, kamu mau 'kan?" Tawar Bi Siti.


"Boleh juga, biar aku aja yang ke sana Bi."


Mayra melangkah keluar dari kios tempat mereka minum menyeberang ke kios penjual Mie bakso.


Bruk!


"Aw, ponselku!" teriak seorang gadis.


"Maaf, Nona. aku tidak sengaja." Mayra buru-buru mengambil ponsel gadis itu yang terjatuh.


"Nona, ini ponsel Anda. Aku minta maaf!" Mayra berulang ulang meminta maaf. Hatinya yang cepat sekali tidak enakan merasa sangat bersalah.


"Ya, nggak apa-apa. Tadi aku juga buru-buru. Aku yang seharusnya minta maaf, nggak lihat ada orang lewat." Gadis itu merasa tidak enak juga.


"Ponselnya Nona?"


"Nggak apa, ponsel ku baik-baik aja."


Mayra hanya tersenyum kaku. Bibi Siti menghampiri.


"Ada apa Sayang?" Bi Siti terlihat khawatir.


"Nggak apa-apa, tadi aku nggak lihat ada orang lewat. Aku buru-buru mau beli ikan segar disini." gadis itu yang menjawab ramah.


"Oiya namaku Kanaya, biasa di panggil Aya aja." Ia menyodorkan tangannya.


"Aku Mayra, Anissa Humayra." Mayra juga mengenalkan dirinya.


"Dan ini bibiku, Bi Siti." Mayra ikut mengenalkan Bibinya.


"Salam kenal juga, Bi."


"Iya, Non Aya." Keduanya juga saling bersalaman.


"Sepertinya Non bukan orang sini?" tanya bi Siti.


"Aku baru datang dari Jakarta kemarin bersama kakakku. Tiba-tiba aja pengin makan ikan." Aya menggaruk kepalanya sambil nyengir.


"Oh, gitu. Singgah ke rumah kami aja, Non. Nanti kita olah sama-sama ikannya. Bagaimana?" bi Siti yang tahu jika Aya kebingungan mau masak menawarkan diri membantu.


Mayra ikut menyarankan. Akhirnya Aya setuju setelah sebelumnya menelpon kakaknya minta izin. Dan rencana keponakan dan bibinya itu hendak makan bakso jadi terlupakan.


_____

__ADS_1


Arthur mematikan ponselnya. Ia bangkit berjalan ke jendela. Ini hari ketiga ia menginap di hotel. Adiknya yang kemarin tiba di Tangerang baru saja menelpon, mengatakan singgah sebentar ke rumah orang yang baru ditemuinya di pasar.


"Dasar gegabah, akan ku cincang kau jika berbuat yang tidak-tidak." Arthur geram, tangannya meremas rambutnya yang masih basah.


"Hah, aku bisa gila jika begini terus."


Ia gelisah sendiri, mimpi itu datang lagi, atau dia yang tidak ingin membuang kenangan itu sama sekali. Sehingga ia terbawa ke dalam mimpi.


"Kesini kau!" ponselnya diletakkan kembali ke tempat tidur.


Tak lama pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Masuk!"


Satu kepala muncul di ambang pintu, mukanya masam. Rambutnya acak-acakan.


"Kau mengganggu tidur ku saja!" gerutu asistennya. Ternyata Arthur menyuruh asistennya atau sahabatnya ke kamar.


"Tidurmu nggak penting bagiku!" Arthur cuek saja, masa bodoh dengan istirahat sahabatnya itu.


"Apa kau bilang!" Andre kesal.


"Aku ada tugas buatmu!" Arthur tidak peduli dengan wajah kesalnya Andre.


"Ck, selalu saja!" Andre menarik nafasnya, sudah dia tebak sebelumnya pasti ada perintah lagi dari sahabat brengseknya. Untung dia sudah maklum. Sudah bertahun-tahun mereka sahabatan, hal seperti ini seperti santapan sehari-hari baginya.


"Jangan bilang kau suruh aku mengawasi wanita mu itu lagi."


Arthur melempar berkas yang ada dimeja dekat jendela ke arah Andre. Dengan sigap pria yang ber malasan di sofa menangkap.


"Breng**k! aku tidak menyuruhmu awasi dia. Penting banget apa?!"


Andre terkekeh, ia berhasil membuat atasannya berang.


"Tidak kali ini." Arthur menjawab lagi.


"Aku hanya ingin kau mengawasi adikku Kanaya. Dia bertemu orang di pasar sebelah sana baru saja. Dan sekarang dia di rumah mereka."


"Lalu?"


"Aku tidak ingin ada orang yang sengaja memanfaatkan pertemuannya."


Andre mengangguk paham. Ia tahu betul jika keluarga Arthur merupakan target dari orang-orang yang berambisi. Ia pernah terlibat menyelesaikan permasalahan keluarga mereka.


Andre bangkit, "baiklah, aku siap-siap dulu."


Arthur hanya mendehem. Andre keluar, terdengar pintu ditutup kembali.


"Aku penasaran siapa orang yang membuat kau mudah sekali percaya?!"


Arthur heran adiknya yang sulit berinteraksi dengan orang luar, tiba-tiba hari ini mudah sekali pun diajak bertandang kerumah mereka.


Mayra menyiapkan bumbu ikan yang sedang di bakar anak sulung bi Siti di belakang dapur yang tersisa tanah tidak terlalu luas. Yang biasanya dijadikan tempat jemuran. Hari ini libur sekolah jadi kedua anaknya menghabiskan waktu hanya di rumah saja.


"Non, suka masakan pedas tidak?" tanya bi Siti di sela tangannya mengaduk sayur asem.


"Suka juga, Bi." Aya tersenyum.


Ia ikut mengupas bawang yang tidak pernah disentuhnya sama sekali. Dari lahir sudah terbiasa dilayani. Lapar tinggal makan, cukup diberitahu saja apa yang diinginkan maka semua akan cepat tersedia.


"Aya, biar aku aja. Nanti tanganmu jadi bau bawang. Kakakmu malah marah lagi." Mayra hendak mengambil alih bawang yang sedang dikupas Aya. Bawangnya sudah tidak berbentuk lagi.


"Kapan juga aku bisa dong?" Aya menolak.


"'Kan Non semua disiapkan tanpa harus masak dulu seperti kami" ujar bi Siti dengan tetap tersenyum. Hari-harinya semakin ceria sejak kedatangan Mayra. Ia begitu senang pada keponakan suaminya itu.


"Iya sih, Bi. Tapi gimana ya, lebih mantap gitu deh jika hasil masakan sendiri."

__ADS_1


Akhirnya Mayra menyerah saja. Ia biarkan Aya sesuka hatinya.


Mayra dan bi Siti tahu dari cerita Aya yang selalu dimanjakan oleh keluarganya. Kakaknya yang laki-laki sangat protektif, terkadang membuat Aya kesal. Dan tentu juga mereka tahu jika Aya berasal dari keluarga yang kaya raya walaupun ia tidak mengakuinya secara langsung.


Dan Aya merasa entah kenapa hari ini ia sangat nyaman berada ditengah mereka yang hidup serba sederhana. Dia yang susah mempercayai orang apalagi yang baru dikenalnya, akan tetapi berbeda ketika ia pertama kali berkenalan dengan Mayra dan sikap bi Siti yang terbuka apa adanya. Kalau bisa ia lebih lama saja tinggal di Tangerang, jangan kembali ke Jakarta dulu.


"Kakak Non Aya nggak bolehin lama-lama disini ya Non?" tanya bi Siti, tangannya mengangkat mangkuk berisi sayur asem yang telah dimasak.


"Jangan digubris aja deh, Bi. Udah biasa aku tu." Aya mengerucut bibirnya lucu sehingga mengundang tawa Mayra dan bi Siti.


Mayra tetap mengenakan kerudung bulatnya yang telah diganti sepulang dari pasar tadi. Aya sedikit keheranan, apa Mayra tidak kegerahan. Tidak berani ia bertanya, mungkin itu lebih membuatnya nyaman.


Ponsel Aya berdering lagi. Ia berdecak kesal ketika sebuah nama muncul.


"Iya," jawabnya singkat saja.


"udah satu jam kamu disitu. Cepat pulang, Andre menjemput. Kirim lokasinya segera."


"Kakak apaan sih, orang juga belum makan. Ikan bakarnya udah jadi."


"Apa? kamu makan disitu?" Arthur terkejut hingga suaranya terdengar berteriak.


Aya sampai menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Iya, emang napa sih kak? udah ah, nanti aja jemput nya."


"Nggak bisa! kirim cepat sekarang. Dia udah jalan." Arthur mematikan ponselnya sepihak.


Wajah Aya merah, ia marah. Tangannya kuat menggenggam ponselnya.


"Udah nggak apa-apa, lain kali waktu berkunjung ke Tangerang singgah ke sini lagi." Mayra menenangkan Aya yang menahan amarahnya.


"Iya, Non. Rumah Bibi selalu terbuka buat Non Aya." Bu Siti juga menghampiri Aya dan Mayra yang duduk di lantai beralaskan tikar.


"Bu, ikannya udah siap." Anak bi Siti, Adit masuk dari pintu belakang.


Terlihat Aya ingin sekali mencicipi. Mayra dan bi Siti yang melihat gelagat Aya jadi tersenyum. Lalu Bi Siti mengangguk melihat atas Mayra.


"Gini aja, ikannya dibawa aja sekalian ya. Sambalnya sama sayur asem sudah siap tuh." Tawar Mayra. Ia sangat tahu Aya ingin makan segera. Ikannya juga dia yang beli.


Aya tidak menjawab, ia melihat ke arah wanita yang usianya hampir seusia mamanya.


"Iya Non bawa aja. Nanti dimakan bersama kakakmu."


'Kak Arthur yang makan? Yang ada dibuangnya. Nggak akan aku biarkan!' Ia bicara dalam hati.


Ia meraih ponsel, mengirim lokasi rumah bi Siti.


Mayra ikut menemaninya keluar menunggu Aya dijemput.


"Nisa, mulai sekarang kau sahabatku ya. Nanti kapan-kapan akan ku ajak ke Jakarta ke rumahku." Aya memeluk Mayra.


Aya memanggil Mayra dengan sebutan Nisa, seperti pertama mereka tadi kenalan.


"Iya, boleh." Mayra mengangguk. Ia merasa seolah sahabatnya Tini muncul dalam diri seorang Aya.


Aya melirik ponselnya, sebuah pesan disana.


Andre memarkir mobilnya di sebuah tanah lapang. Tidak jauh dari gang menuju rumah yang dikatakan Aya. Karena mobilnya tentu tidak akan bisa lewat.


Ia memilih menunggu di mobil. Matanya terbingkai kaca mata hitamnya mengitari perumahan yang padat namun terlihat bersih. Jauh dari kata kumuh.


Dari jauh nampak Aya berjalan dengan seorang gadis cantik berkerudung. Andre mengernyitkan dahinya. Ia penasaran sosok gadis cantik itu. Dari jauh saja sosok itu mampu membuatnya terpesona.


Hayo, Andre pada kenapa tuh? kelanjutannya di bab selanjutnya oke!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2