Pesona Buram Di Gubuk Tua

Pesona Buram Di Gubuk Tua
Bab 22 Sikap Arthur


__ADS_3

Mayra beranjak menuju Tini yang sedikit kerepotan membawa mangkuk berisi sayur dan lauk yang dibawa dari rumah. Mayra tidak berniat memberitahu Tini soal Arthur-kakaknya Aya ingin menemuinya. Bukan tanpa alasan, Mayra hanya ingin membahas tentang sahabatnya itu saja daripada dirinya yang sedang gelisah sekarang. Sedangkan, ponselnya diletakkan di lantai begitu saja. Apabila benar nanti Arthur datang, tentu akan ke alamatnya langsung.


Makan malam selesai diiringi obrolan tidak jauh dari keseharian Tini dan hari pertama kerja Mayra. Membereskan alat makan, Mayra kembali duduk berhadapan dengan Tini. Satu pesan masuk ke ponsel Mayra. Tidak menggubris, Mayra asyik menanyakan keinginan Tini selama trimester pertama ini.


"Tin, Indra udah tau?" tanya Mayra. Ekspresi wajah serius. Hubungan sahabatnya dengan sang suami semoga semakin membaik.


Kepala Tini menggeleng pelan.


"Belum?" kening Mayra mengerut.


"Iya, May ..." menunduk, Tini seolah menyembunyikan raut wajah sedih.


"Kenapa? kamu masih takut?" ada sesuatu yang menggumpal sisi hati Mayra, sehingga ingin dikeluarkan segera.


"Aku masih taku nanti mas Indra marah, terus ninggalin aku." pipi mulus Tini tercetak dua garis air mata.


Mayra ingin menanggapi lagi, embusan nafas berat lebih dulu keluar dari rongga dada sebelum ucapan selanjutnya mungkin mengiris hati sang sahabat.


Dret! Dret! Dret!


Mayra jadi teralih pada getaran ponsel menampakkan satu panggilan. Kalimat yang siap terlontar itu terhenti, berganti dengan satu nama.


"Kak Arthur?" Mayra menoleh pada Tini.


"Angkat aja, May!"


"Masalahnya aku lupa kalau kak Arthur katanya mau kesini?"


"Hah?" Tini jadi terkejut. "Kamu angkat aja dulu telponnya!" titah Tini.


Mayra menurut, layar yang terus menyala tanda Arthur masih memanggil segera di terima.


"Iya, Kak Arthur?"


"Aku di luar," sahut Arthur datar.


"Di luar? ah, iya, sebentar." Mayra segera berdiri, lalu memberi kode pada Tini bahwa Arthur sedang menunggu di luar pintu.


"Iya, bukain, lekas!" seru Tini setengah berbisik.


Mayra merapikan kerudung terlebih dahulu sebelum beranjak membuka pintu. Terkejut di saat matanya menangkap setumpuk paper bag, Mayra menutup mulut jika saja tidak sadar hampir menjerit. Postur tubuh tinggi Arthur dalam penampilan casual, wajah yang memang luar biasa sempurna di mata anak manusia, sebelah tangan menggenggam ponsel menjadikan Mayra salah tingkah. Ini pertama kalinya ia menatap langsung pakaian Arthur tanpa berbalut jas.


"K-kak Arthur ... mari masuk!" tentu saja bibir Mayra bergetar ketika bicara. Aura Arthur tidak main-main jika berhadapan dengan wanita.

__ADS_1


Astaghfirullah, batin Mayra beristighfar karena terlena pada wajah datar, tetapi menghanyutkan itu. Menepi ke sisi dinding dekat pintu, Mayra memberi jalan pada Arthur masuk ke dalam.


Laki-laki itu melenggang begitu saja membiarkan barang bawaannya tersusun di lantai luar pintu. "Itu dibawa masuk!" perintahnya kemudian pada Mayra yang melongo.


"Iya, Kak." Mayra menyilakan terlebih dulu Arthur duduk di karpet berukuran sedang yang sederhana, lalu kembali ke luar mengambil bawaan Arthur yang belum tahu untuk siapa ditujukan.


"Ehm, cie-cieee ...." Dua kepala melongok dari pintu kost sebelah. Ririn dan Minah memasang wajah malu-malu, seolah mereka menjelma sosok Mayra.


"kalian, sakit?" Di luar dugaan, Mayra tidak seperti yang mereka sangka. perempuan itu malah masa bodoh dengan godaan yang mereka lakukan. "Atau mau gabung?"


"Hah, memangnya boleh?" Ririn antusias.


"Masuklah!" Tawar Mayra, lalu masuk tidak menunggu dua wanita yang selalu bertingkah seenaknya.


Arthur menekuni layar ponsel ketika Mayra kembali dengan barang bawaan laki-laki itu sendiri. "Kak, ini aku taruh di sini, ya?" Mayra meletakkan paper bag dekat jendela pintu masuk.


Arthur mendongak, kening mengernyit. "Itu punyamu, terserah mau diapakan." Arthur beralih lagi pada layar yang sedang menyuguhkan deretan tabel huruf dan angka.


Di saat Mayra terkejut karena ternyata itu pemberian Arthur, Ririn dan Minah berdiri kaku di pintu. "Banyak amat!" Gumam Ririn menutup mulut. "Sini, ku bantuin bawa." Tangan Ririn cekatan mengambil alih bawaan Arthur yang tidak diketahui isinya. Minah juga ikut mengambil sisa di lantai, selanjutnya mengangkut ke dalam kamar sederhana Mayra.


"Kamu keluar, temani Mas ganteng itu. kita di sini saja temani Siti." Ririn mendorong Mayra yang keberatan menuju pintu.


"Aku sendirian?" Mayra menolak keluar.


"Iyalah, kamu itu tuan rumah, harus melayani tamu." Minah berdiri mendorong pelan Mayra dan pintu segera ditutup dari dalam.


"Kamu tidak perlu repot begini." Arthur meletakkan ponsel. Tatapannya dilayangkan pada Mayra yang menunduk. "Aku ke sini hanya mau menyerahkan titipan Aya. Dia tidak bisa ke sini, jadi aku yang mengantar," ucap Arthur.


"Oh, itu dari Aya?" Mayra kaget. "Masya Allah, banyak sekali. Dia nggak menelpon sebelumnya."


"Mungkin sengaja." Arthur menyeruput sedikit teh sajian Mayra. "Kamu keluar dari tempatmu bekerja?" Tanya Arthur selanjutnya.


Mayra diam, sedikit melirik ke arah kamar. Di mall tempatnya bekerja keberadaan suami Siti di sana. "Tepatnya aku dipecat," beritahu Mayra.


"Kamu di pecat?" Arthur kaget, tangan mengepal. "Siapa yang melakukannya?" Suaranya ditahan agar tidak terdengar amarah sedang meliputi.


"Maaf, Kak. Aku nggak bisa memberitahu. Lagian Kak Arthur nggak mengenal mereka." Mayra memberi alasan, bibirnya menyimpan senyum tipis.


Arthur diam beberapa saat sebelum akhirnya deheman terdengar. "Hm, begini, aku punya kenalan di sana. Apa kamu mau balik kerja? Aku bisa bantu." Arthur menatap Mayra yang mengalihkan pandangan.


"Aku sudah dapat pekerjaan di tempat baru. Hari ini aku pertama masuk. Terimakasih Kak Arthur sudah menawarkan bantuan," sahut Mayra melihat sekilas pada Arthur yang kaget.


"Dimana?" Arthur penasaran. Seandainya Andre ikut bersama, sudah pasti menertawakan Bos-nya yang irit bicara apabila dengan orang yang baru dikenal. Sekarang bersama Mayra, teman adiknya tidak lama bertemu, Arthur malah bersikap ramah.

__ADS_1


"Di salah satu butik. Aku sebagai cleaning service." Mayra berkata jujur. Untuk apa disembunyikan, pekerjaan yang dilakukan juga halal.


"Baiklah, semoga kamu betah." Melihat arloji mahal di tangan kanan, Arthur berpamitan. "Kalau begitu, aku pulang. Besok pagi kembali ke Jakarta." Arthur berdiri, sebelumnya menyesap sedikit lagi teh yang mulai dingin. Itu dilakukan Arthur untuk menghargai Mayra. Sikapnya sangat berkebalikan dengan kebiasaannya.


Mayra ikut berdiri, melirik ke pintu kamar yang terbuka sedikit, dua sahabatnya mengintip. Kepala Mayra menggeleng, merasa geli akan tingkah mereka. Melangkah di belakang, Mayra mengantar Arthur sampai di pintu.


"Aku pamit. Hati-hati di rumah," pesan Arthur seolah Mayra patut mendapat perhatian. Baru saja kalimat itu terucap, Arthur menyadari bahwa ucapannya terlalu berlebihan. Seketika wajahnya memerah, ia mengumpat dalam hati. 'sial, bisa-bisanya aku ngomong begitu.'


Mayra mematung, mendengar perhatian kecil berhasil memompa jantung dan perasaan melambung. Belum pernah didengar semasa hidupnya yang telah berusia dewasa dari seorang pria selain ayah dan saudara laki-laki lain. Mayra menunduk tatkala wajah merona itu dipergoki Arthur.


Mengingat lampu teras tidak terlalu terang, Mayra bisa bernapas lega. Setidaknya perubahan wajahnya tidak terlihat. "Baik, Kak. Terimakasih," ucapnya lirih, tetap didengar Arthur.


"Iya, masuklah. Aku pulang sekarang." Arthur menunggu Mayra menutup pintu baru beranjak dari teras mungil kost sederhana.


Mayra masuk ke dalam sudah disambut wajah Ririn dan Minah. Tini menyusul keluar kamar, lalu ikut duduk di karpet. Semua paper bag dikeluarkan lagi dari kamar. Ririn dan Minah bersiap menginterogasi.


"May, aku nggak yakin kalau kalian itu sebatas kenal di mall kemarin itu." Ririn mulai mencari jawaban dari rasa penasaran sedari tadi.


"Betul, aku juga nggak yakin. Kalian pasti telah kenal lama 'kan?" Minah ikut menimpali.


Menarik napas, menghembus kembali perlahan, Mayra menoleh pada Tini yang tersenyum melihat kedua sahabat Mayra yang lucu. "Kamu nggak ikut nanya, Tin?"


"Nggak, aku nggak penasaran. Aku percaya dengan pikiranmu saja." Senyum dari bibir Tini berubah tawa kecil.


"Apa itu?" Mayra mencibir.


"Aku tau pokoknya," ujar Tini penuh teka-teki bagi Ririn dan Minah.


"Kalian apa sih, nggak jujur saja sama kita." Ririn melipat tangan ke dada, pertanda protes.


"Aku nggak ada apa-apa kok. Kak Arthur itu kakaknya teman aku yang di Jakarta. Teman Tini juga," jelas Mayra.


"Tapi cowok itu suka sama kamu deh, May." Minah menebak.


"Benar, lihat saja tatapan sendu itu. Oh ... aku tak tahan ...." Ririn bergaya seperti sedang menyanyi.


"Ck, kalian memang ada-ada saja." Mayra menggeleng kepala.


"Aku lihatnya juga begitu," sambung Tini.


"Tin, jangan nambah bumbu pedes seperti mereka, ya." Mayra mendelik.


Mereka bertiga tertawa. Mayra membiarkan saja. Tangannya mulai memeriksa isi bawaan Arthur dan mengeluarkan satu persatu. Sekitar lima paper bag dengan ukuran berbeda. Baju dan hijab senada sekitar tiga pasang di dua paper bag berbeda.

__ADS_1


Saat Ririn membuka isi sepatu flat warna mocca, Mayra memandang dengan seksama. Air matanya meleleh di pipi tanpa aba-aba. Alas kaki mahal itu mengingatkan Mayra pada kondisi sepatunya yang sudah rusak sehingga kakinya ikut terluka.


"Alhamdulillah, Engkau Maha Mengetahui. Aku sangat butuh. Syukur padaMu Ya Allah." Mayra terus bergumam mengucap syukur.


__ADS_2