
"Bismillahirrahmanirrahim." Mayra menutup mata sejenak dan menghirup udara segar pagi dalam-dalam. Pagi ini ia mulai hari baru di tempat kerja baru.
Dengan menumpang ojek sekitar sepuluh menit sudah sampai di tempat barunya. DIVA MODA terpampang jelas di matanya kini.
Keadaan sekitar kantor nampak sepi. Kantor, sebut saja begitu, karena didalamnya merupakan para karyawan yang bekerja di bagian masing-masing. Mereka mempunyai struktur administrasi sendiri.
Pertama, merupakan pemimpin atau pemilik, kedua, wakil atau manajer. Ketiga, bagian keuangan. Keempat, para karyawan. Dan selain itu adalah para pekerja yang menjahit pakaian yang sudah didesain oleh si pemilik langsung.
Ditiga lantai tersebut terbagi menjadi beberapa ruangan. Di lantai bawah paling belakang merupakan ruangan penyimpanan bahan pakaian jadi. Sisa dari ruangan itu adalah berupa butik yang didesain sedemikian rupa, sehingga para pengunjung atau pembeli menjadi betah.
Di lantai dua sebagian ruang besar untuk para pekerja. Selain dari itu, untuk ruangan karyawan. Sedangkan, di lantai paling atas adalah ruangan pemilik sendiri atau pemimpin. Dan ruangan lainnya diisi oleh manajer dan staf penting.
Mayra melihat jam di ponsel, masih ada waktu satu jam lagi sebelum para karyawan tiba.
"Assalamualaikum, Pak." Mayra menyapa pak Herman.
"Waalaikumsalam, ini Non ... ?" pak Herman mencoba mengingat nama Mayra.
"Saya Mayra, Pak." Jawab Mayra dengan senyum mengembang.
Terlihat pak Herman menepuk dahinya sendiri.
"Ah, iya, Non Mayra. Maaf Saya sedikit lupa.
"Nggak apa kok, Pak. Biasa itu. Oh, iya, saya masuk terus ya Pak. Mau kerja terus."
"Silahkan, Non." Pak Herman mengangguk.
Mayra segera masuk, mengabsen dan mengambil perlengkapan bersih-bersihnya. Sesuai dengan arahan kemarin, ia mulai melakukan tugasnya.
Mayra bersama kedua teman kerjanya juga perempuan, memulai dari menyapu dan mengelap semua meja yang ada di lantai dua.
Satu jam kemudian, para karyawan mulai berdatangan satu persatu. Ternyata tidak seperti yang diduga, mereka terlihat ramah saat menyapa para OG, tidak ada yang memandangnya sebelah mata meskipun dari segi pekerjaan sudah berbeda.
Jadwal kerja para OG sudah tertera menurut tugas masing-masing. Mereka istirahat setelah semua beres. Memang harus selesai paling terlambat pada pukul setengah sembilan, sekitar setengah jam setelah semua para karyawan hadir.
Sedangkan yang bertugas di pantry ditentukan secara bergantian menurut hari masing-masing. Seperti Mayra, tugasnya di bagian dapur dijadwakan pada hari ketiga kerja atau pada hari Rabu. Bisa disebut juga sebagai hari piket nya.
"Mbak, nanti kita bekerja lagi di jam istirahat ya?" Mayra bertanya pada seorang wanita yang lebih tua darinya. Namanya Nur.
"Betul. Saat mereka istirahat makan siang, tugas kita untuk bersih-bersih." Jawab mbak Nur.
"Gitu, ya Mbak." Mayra mengerti.
"Namanya Mayra, 'kan? baru ya?"
"Benar, Mbak. Baru masuk hari ini." Jelas Mayra.
"Semoga kamu betah ya. Memang disini kerjanya nyaman. Mereka semua baik, apalagi pemilik tempat ini baik sekali." Ucap mbak Nur meyakinkan Mayra.
"Terimakasih, Mbak."
"Sama-sama, Mayra."
__ADS_1
"Kalau begitu saya pulang sebentar. Mau masak dulu sebelum anak-anak pulang sekolah."
"Baik, Mbak."
Sosok Mbak Nur sudah hilang di belokan gang yang tidak jauh dari kantor (anggap saja itu sebuah kantor). Mayra duduk seorang diri di deretan bangku panjang di teras. Matanya tertuju pada pot yang berjejer, lalu kakinya melangkah untuk memeriksa.
"Sepertinya kekurangan air." Gumamnya.
Mayra melihat ada selang yang terlilit rapi. Itu pasti untuk menyiram tanaman.
Tangan Mayra bergerak menyirami bunga-bunga hias yang tumbuh subur di pot-pot besar. Mulutnya juga ikut bergerak melantunkan shalawat dengan suara pelan.
Fokus Mayra pada makhluk indah dan cantik dalam pot di depannya jadi teralih pada sebuah mobil mewah yang baru terparkir. Seorang wanita cantik dengan penampilan modis tapi sopan keluar dari pintu bagian belakang.
Pak Herman segera mendekat dan menunduk sedikit.
"Selamat datang, Bu."
"Terimakasih, pak Herman." Wanita yang disapa oleh security itu menjawabnya dengan senyuman.
Mayra beranggapan jika lawan bicara pak Herman adalah pemilik tempatnya bekerja.
Tunggu!
Mayra menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas wajah dibalik kacamata hitam berdiri sedikit jauh darinya. Suara dan tawa ramahnya sangat tidak asing di indra pendengarannya.
Benar, wanita cantik itu adalah pemimpin DIVA MODA.
"Bu, Nindi. Mari!" seorang wanita muda disebelahnya memberi jalan untuk masuk.
Mata Mayra mengekor sosok yang terus berjalan sampai pintu kaca lebar menghalangi pandangannya.
Setelah dirasa cukup menyiram, ia menggulung kembali selang pada tempatnya. Di ujung sana pak Herman tersenyum saat melihat Mayra hendak melangkah ke arahnya.
"Non rajin sekali."
"Biasa saja kok, Pak. Kasihan juga jika layu, sepertinya hari ini sangat terik."
"Hmm, benar."
"Pak, yang tadi itu pemilik kantor ini?" tanya Mayra dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
"Benar, Non. Itu Bu Nindi baru pulang dari Jakarta kemarin."
"Beliau orang Jakarta?"
"Begitulah, beliau sering bolak-balik karena sekarang keluarganya tinggal di sana."
Mayra mengangguk sedikit, ia sudah tahu sekarang.
"Baik Pak, terimakasih. Kalau begitu saya ke dalam dulu."
"Silahkan, Non."
__ADS_1
Waktu istirahat sekitar satu jam lagi bagi semua karyawan. Berarti tidak lama lagi, giliran para OG dan OB bekerja.
Sebelum waktu itu tiba, Mayra mengambil bekal makan siangnya dan membawa segera ke pantry. Disana sudah ada para pekerja sepertinya sedang makan siang.
"Hei, sini!" seorang wanita sebaya dengannya melambai tangannya.
Mayra ikut bergabung sambil memperkenalkan diri.
"Berarti kita satu arah pulang nanti." Ucap Sari yang duduk disebelah kanan.
Mereka saling menyebut nama masing-masing demi memudahkan Mayra mengingat. Di tempat barunya bisa ia rasakan kenyamanan ketika berinteraksi, tidak ada perbedaan status antara pekerja bawahan seperti mereka dengan para karyawan atau staf penting lainnya.
Pukul lima Mayra pulang, seperti biasa menumpang kang ojek. Seperti sudah direncanakan, kang Ojek tersebut selalu standby di saat Mayra hubungi.
Turun dari motor, Mayra mendapati Tini duduk di teras depan kost. Wajah sahabatnya itu tidak ceria.
"Assalamualaikum."
Tini baru sadar, Mayra telah berdiri di depan. "Waalaikumsalam, kamu udah pulang May?"
Mayra menggeleng kepala, "kamu mikir apa? aku samperin nggak sadar."
"Aku baru aja, kok" Tini tersenyum kaku. Di tanya lain, jawab lain. Mayra mengembus nafas sebelum memutar kenop pintu.
"Masuk, udah mau magrib."
"Iya."
Tini membawa masuk satu kantong plastik dan menaruhnya di meja kecil dapur. Mayra sedang di kamar mandi membersihkan diri secara kilat. Tidak bisa berlama-lama di sana padahal tubuhnya terasa sangat lengket.
"Kamu repot-repot bawa segala macem ke sini?" Mayra baru saja keluar dari kamar mandi melihat sayur dan ikan sambal di bungkus plastik. Siap di pindah ke piring kecil.
"Nggak repot, kok. Aku tahu kamu capek nggak sempat masak. Tapi, ini ala kadar ya, May."
"Kamu selalu aja gitu. Itu udah banyak dan istimewa buat aku." Mayra tersenyum.
"Udah, ganti baju dulu sana, masih pakai handuk gitu. Awas, kalau ada cowok iseng ngintip gimana?"
"Ih, Jangan sampai. Astaghfirullah, jauhkan Ya Allah!" Mayra berlalu ke kamar buru-buru. Tini terkekeh geli, wanita hamil itu sedang menata piring dan gelas di karpet kecil.
"Kamu shalat dulu aja. Aku lagi libur."
"Baiklah." Tini beranjak ke kamar mandi.
Mayra duduk bersila sambil menggulir ponsel sekedar iseng-iseng saja. Seketika matanya membeliak saat membaca pesan Ririn.
"Say, ada cowok ganteng tadi nanya alamat kamu. Aku kasih aja. Ni orangnya."
Satu foto pria tampan terpampang di layar ponsel Mayra.
"Kak Arthur?"
Jantung Mayra berdegup mengingat kembali pesan Ririn barusan. Kakak dari sahabatnya itu meminta alamat kost-nya? Untuk apa?
__ADS_1
Bersambung