
Salma sedang berbicara via telpon dengan sahabatnya yaitu Dewi.
Salma \= "Ada apa tumben lo telpon malam-malam. Kangen lo sama gue?"
Dewi \= "Santai dong mbak, jangan kepedean dulu. Mana mungkin gue kangen sama lo. Gue hanya mau memastikan bahwa lo masih di Bumi kan?"
Salma \= "Iya gue masih di Bumilah, lo kira gue mau kemana?"
Dewi \= "Mungkin lo mau ke Mars buat mencari serpihan organ tubuh lo yang hilang."
Salma \= "Omongan lo nggak penting tau nggak."
Dewi \= "Lumayanlah buat lo tersenyum."
Salma \= "Gue selalu tersenyum, nggak kayak lo sedikit-sedikit galau."
Dewi \= "Kalau bicara iya.. "
Salma \= "Suka benar? Sudahlah, gue mau tidur cantik dulu. Bye"
Dewi \= "Hehe Iya. Okelah kalau begitu, Bye Dear."
Tut.. Tut.. Tut..
"Memang lo sahabat terbaik gue Wi, yang bisa buat gue tersenyum walaupun hanya sesaat." Gumam Salma.
"Non Salma.." Rintih Bibi Iyem, Asisten Rumah Tangga di rumah Salma yang tiba-tiba datang menghampiri Salma.
__ADS_1
"Iya, ada apa Bi?" Tanya Salma yang sebisa mungkin untuk tersenyum dan menoleh kearah Bibi Iyem.
"Ini sudah jam 10 malam, Non. Apa Non tidak kedinginan berada diteras?" Tanya Bibi Iyem yang khawatir dengan Salma.
"Salma-kan sudah biasa disini, Bi. Bibi masuk aja, Salma ingin disini sendiri." Ucap Salma yang menatap rembulan yang bersinar terang.
"Baiklah, Non. Bibi masuk dulu." Ucap Bibi Iyem dengan melangkah pergi meninggalkan Salma sendirian diteras.
Disinilah Salma sekarang, dibawah beribu bintang dan satu rembulan dilangit yang terlihat jelas dimata Salma.
Salma tidak pernah absen setiap malam hanya untuk memandangi langit malam dengan kesendiriannya.
Langit malam selalu menjadi saksi kesendirian dan kepedihan Salma. Air mata Salma selalu menetes dibawah langit malam.
"Diriku bagaikan rembulan yang memiliki banyak bintang disisinya, tetapi tidak ada yang sama dengannya. Cahaya rembulan menandakan kebahagiaan. Namun, dikala siang cahaya rembulan akan redup dan itulah rasa sedihnya, yang tidak pernah rembulan bagi kepada siapapun." Ucap Salma dengan suara yang lirih dan air mata yang terus menetes dipipi Salma.
Tangisan Salma semakin pecah saat dia memasuki kamarnya.
"Tidak pernah sekalipun aku merasakan selembut apa sentuhan Mama, setelah kepergian Papa menghadap sang pencipta." Ucap Salma yang masih terisak dengan tangisannya.
☀️☀️☀️☀️☀️
Pagi yang cerah membangunkan Salma yang baru bisa tertidur jam 2 fajar karena menangis terus-menerus.
Salma bersiap untuk berangkat ke sekolah. Dia selalu melewatkan sarapannya karena dia tau, pasti Mamanya juga sudah berangkat bekerja dan tidak mau sarapan dengannya.
"Bu Bos, tumben banget mukanya kayak muka-muka bantal, kurang tidur." Ledek Dewi.
__ADS_1
"Iya nih, gue keasikan baca novel sampai lupa waktu." Ucap Salma yang berbohong.
"Bukannya tadi malam lo mau tidur iya pas lo tutup telponnya. Kenapa lo malah baca novel? Dan iya, kalau baca novel itu ingat waktu. Masa iya, waktu aja nggak ingat apalagi pacar." Goda Dewi yang langsung mendapat tatapan tajam dari Salma.
"Damai, gue bercanda." Ucap Dewi dengan mengangkat kedua tangannya.
"Terserah lo, gue mau tidur. Jangan ganggu gue." Ucap Salma dengan membenarkan posisi duduknya.
"Sejak kapan Bu Bos ini tidur dikelas? Wah, kejadian langka ini." Ucap Dewi dengan kehebohannya sendiri.
"Lo buat gue nggak ngantuk lagi." Ucap Salma yang beranjak pergi dari tempat duduknya.
"SALMA, LO MAU KEMANA? SEBENTAR LAGI MASUK KELAS. WOY SALMA..." Teriak Dewi, namun tidak dihiraukan sama sekali oleh Salma yang terus berjalan meninggalkan kelas.
Salma berjalan menuju tempat ternyamannya di sekolah yaitu dibawah sebuah pohon yang ada ditaman belakang sekolah.
Salma duduk bersender dipohon. Dia juga memejamkan matanya untuk merasakan hembusan angin yang terasa sejuk dan menenangkan hati Salma.
Sudah terlalu lama Salma dibawah pohon, hingga tidak mengetahui bel masuk sudah berbunyi sejak tadi.
Didalam ketenangannya, Salma merasakan ada seseorang yang itu bersender disamping Salma, tetapi Salma hanya diam dan masih terus merasakan sejuknya angin.
Entah hanya perasaan Salma saja atau bagaimana. Salma merasakan sentuhan tangan seseorang dipipi mulusnya.
Seketika itu, Salma membuka matanya dengan perlahan dan menatap dalam-dalam seseorang yang ada dihadapannya sekarang.
"Siapa?" Kata pertama yang terlontar dari bibir munggil Salma.
__ADS_1