
~Bukan karena gue nggak mau, tapi gue nggak pengin lo tau. ~Salma.
.
.
.
.
.
"Salma." Panggil Dewi yang melihat Salma sedang duduk di Taman belakang sekolah.
"Woy, apa?" Tanya Salma.
"Gue bosen nih."
"Ke ruang guru yuk."
"Ngapain? Ada rapat disana."
"Udah lo ikut aja sama gue." Ucap Salma yang menarik tangan Dewi untuk mengikuti dirinya.
Sesampainya di ruangan guru.
"Lo mau ngapain?" Tanya Dewi yang belum tau dengan apa yang akan Salma lakukan.
"Ssttt, lo diam aja." Ucap Salma yang memulai aksinya.
Salma langsung mengambil ponselnya dan mengambil foto para guru dari jendela yang terlihat candid.
"Wih, anjay lo. Kalau mereka tau gimana?" Tanya Dewi.
"Biarin aja, tuh ada yang tidur segala." Ucap Salma sambil terkekeh.
"Tuh ada yang main hp sendiri." Ucap Dewi sambil menunjuk seorang guru yang memainkan ponselnya secara diam-diam.
"Kalau di kelas, dia nyuruh kita nggak main kalau ada yang bicara didepan. Lah ini malah dia sendiri yang lakuin." Ucap Salma.
"Iya, pengin gue tangkap basah itu." Ucap Dewi dengan menggebu-gebu.
"Gue bakal cetak nih foto, biar besok heboh satu sekolah." Ucap Salma.
"Boleh tuh, biar kita nggak dapet pelajaran." Ucap Dewi dengan girang.
"Betul." Ucap Salma dengan mengacungkan jempol kanannya kepada Dewi.
"Ehem.." Deheman seseorang menghentikan kegiatan memotret Salma dan tawa Dewi.
"Kayaknya gue tau itu suara siapa?" Ucap Dewi yang berbisik ditelinga Salma.
"Gue hafal malah." Ucap Salma.
Dewi dan Salma perlahan membalikkan badannya. Dan terlihat Pak Dimas sudah berdiri dihadapan mereka dengan tatapan tajam.
"Ngapain?" Tanya Pak Dimas.
"Loh, Pak Dimas nggak ikut rapat?" Tanya Salma untuk mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Nggak, saya bertugas mengawasi murid nakal seperti KALIAN." Ucap Pak Dimas.
"Santai dong, Pak. Mukanya jangan ditekuk kayak gitu. Nanti keriputnya nambah." Ucap Salma.
"Diam. Sekarang, kalian berdiri ditengah lapangan sampai jam istirahat." Ucap Pak Dimas.
"Yah, Pak. Saya lupa nggak pakai skincare, kalau nanti kulit saya jadi kusam gimana? Bapak mau bayar perawatan saya?" Ucap Salma.
Dewi hanya bisa terkekeh dan kagum dalam hati melihat keberanian Salma kepada Pak Dimas.
"NGGAK USAH BANYAK ALASAN, CEPAT LAKUKAN." Amarah Pak Dimas sudah diambang batas jika Salma sudah mulai berulah.
"Tapi, Pak. Ini masih pagi dan jam istirahat masih lama. Diskon iya, Pak. Dihukumnya 30 menit aja." Ucap Salma dengan mengeluarkan jurus jitu.
"Nggak ada diskon-diskonan, kamu pikir ini di Mall? CEPAT LAKUKAN!!." Ucap Pak Dimas.
"Baiklah, Pak." Ucap Salma dengan pasrah.
Salma dan Dewi berjalan ke tengah lapangan untuk melaksanakan hukuman dari Pak Dimas.
"Masih pagi, tapi panas banget sih." Gerutu Salma.
"Kayaknya mataharinya nggak mendukung kita deh." Ucap Dewi.
"Kita disuruh berdiri aja nih?"
"Udahlah, lakuin aja. Nanti dihukum tambah berat."
"Gimana kalau kita angkat satu kaki, langsung kedua tangan kita pengang teliga? Gimana?" Ucap Salma yang antusias.
"Dimana-mana, orang dihukum itu mau yang ringan. Nah lo, malah mau yang berat."
"Karena gue terbiasa yang berat-berat kayak badan gue."
"Kan gue yang ngerasain, bukan lo."
"Kalah gue kalau bicara sama lo."
"Mendingan lo diam aja, suara lo lebih bagus kalau lo diam."
"Cih, dasar." Ucap Dewi.
"Salma." Panggil Dewi kepada Salma yang terlihat murung setelah perdebatan kecil antara mereka.
"Apa?"
"Lo kalau ada masalah, cerita dong sama gue."
"Masalah lo aja banyak, mau gue tambahin sama masalah gue?"
"Yah sebagai sahabat yang baik, kita cari aja jalan keluarnya sama-sama, jangan dipendam sendiri. Nyesek loh."
"Bukan karena gue nggak mau, tapi gue nggak pengin lo tau. Kalau pun lo tau, nggak bakal bisa bantu gue."
"Kan lo belum cerita ke gue."
"Biar gue aja sendiri yang ngerasain ini, lo itu sahabat gue. Gue mau kita bersama dikala gue bahagia, dan gue nggak mau lo bersama gue dikala gue bersedih."
"Sal, bukannya sahabat harus bersama disaat suka maupun duka?" Tanya Dewi yang heran dengan perubahan sikap Salma.
__ADS_1
"Prinsip gue nggak gitu." Ucap Salma yang lurus melihat ke depan.
"Salma kenapa? Apa karena kita lagi dihukum dibawah matahari? Kok otak gesreknya hilang?" Batin Dewi.
Tiba-tiba seseorang datang membawa payung dan membuat matahari tidak lagi memanasi seluruh tubuh Salma dan Dewi.
"Eh, kok nggak panas? Apa ada keajaiban?" Tanya Salma yang masih menunduk.
"Iya, tapi kok cuma kita aja yang nggak panas. didepan kita aja panas." Ucap Dewi yang menambah kesengklekan ucapan Salma.
"Ehem," Deheman seseorang dari belakang menghentikan omongan nggak penting mereka.
Salma dan Dewi langsung membalikkan badannya.
"Bagas?" Ucap Dewi tak percaya.
"Iya, gue." Ucap Bagas dengan santainya.
"Lo udah mulai masuk sekolah sekarang?" Tanya Dewi dengan girang, sedangkan Salma terlihat acuh tak acuh.
"Iya. Gue tadi lihat lo dihukum, jadi gue pinjam payung tadi." Ucap Bayu.
"Lo baik banget sih, nggak berubah." Ucap Dewi.
"Lo kenapa dihukum?" Tanya Bayu.
"Biasa karena kegabutan kita, kita bikin ulah sama guru. Habisnya nggak ada pelajaran, soalnya guru-guru semuanya rapat." Ucap Dewi.
"Oh, gitu."
"Lo masuk kelas sana, nanti ikut dihukum lagi. Masa iya, baru masuk sekolah langsung dihukum." Ucap Dewi.
"Iya udah, gue ke kelas dulu. Nih payungnya." Ucap Bagas sambil menyodorkan payung ke Dewi dan Salma.
"Nggak usah." Ucap Salma dengan cuek.
"Lo bawa aja payungnya, kalau Salma udah bilang nggak iya nggak bisa dibantah." Ucap Dewi dengan sedikit memelankan suaranya kearah Bagas.
"Oh oke."
"Unik juga nih cewek, gue harus cari tau semua tentang dia. Kayaknya, dia udah curi hati gue pada pandangan pertama dan karena sikapnya ke gue." Batin Bagas.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya hukuman Salma dan Dewi berakhir.
Sekarang, mereka sedang duduk di kantin menikmati Es Jeruk yang dingin dan segar.
"Huh, kayaknya gue perlu perawatan nih." Ucap Salma sambil melihat-lihat wajahnya di cermin.
"Yaelah, muka lo masih sama. Nggak berubah hitam." Ucap Dewi.
"Emang kulit gue itu nggak bakal berubah. Nenek dari nenek, neneknya nenek moyang gue itu semuanya berkulit putih dan glowing."
"Li bilang apa? Nenek dari nenek, neneknya nenek moyang lo?"
"Hm."
"Buset, lo tau darimana? Silsilah keluarga lo aja, lo nggak tau." Ucap Dewi yang tiba-tiba membuat Salma murung.
"Sal? Gue salah ngomong iya?" Tanya Dewi yang merasa bersalah dengan apa yang barusan dia ucapkan.
__ADS_1
"Gue nggak punya keluarga." Ucap Salma yang langsung berdiri meninggalkan Dewi di Kantin.
"Gue nggak tau masalah lo, Sal. Tapi gue harap, lo bisa selalu bahagia dan mendapatkan kebahagiaan." Batin Dewi.