
~Disini banyak kenangan masa kecil gue, dan sekarang gue mau menghapusnya.~ Salma.
.
.
.
.
.
Salma tampak tak ingin menanggapi tangannya Bagas, Salma malah berbalik dan melangkahkan kaki menuju mobilnya. Sedangkan Bagas menarik tangannya kembali karena tidak direspon oleh Salma.
“Lo jangan kaget sama tingkah dia. Dia itu dingin banget sama orang yang baru dia kenal. Tapi kalau lo udah kenal lebih dekat sama dia, pasti lo nggak akan nyesel. Gue pergi dulu.” Ucap Dewi dengan memegang bahu Bagas untuk memberi penjelasan. Sedangkan Bagas hanya mangangguk setelah mendengar perkataan Dewi.
Dewi memasuki mobil Salma yang sudah dari tadi Salma ada didalamnya.
“Kemana kita hari ini?” Tanya Dewi dengan kegirangan, walaupun ini bukan kali pertamanya dia bolos sih. Tapi dia sangat suka jika pergi dengan Salma.
“Ke ujung dunia” Ucap Salma.
“Lo ini terlalu pintar atau terlalu gesrek? Bumi kita ini berbentuk bulat, mana ada ujungnya?” Ucap Dewi dengan sedikit tertawa.
“Bukan dunia ini, tapi dunia dihati gue.” Ucap Salma dengan menyalakan mesin mobilnya.
“Dasar budak cinta, belajar dari mana lo?” Tanya Dewi.
“Kan lo sendiri yang bilang, kalau gue ini pintar. Terus orang pintar kayak gue ngapain harus belajar?” Ucap Salma dengan sombong yang menatap lurus kedepan.
“Sombong amat, sih.”
“Biarin, yang sombong itu gue kenapa lo yang repot?”
“Udahlah, gue malas berdebat sama lo.”
“Bilang aja lo takut kalah kalau berdebat sama gue kan.”
“Enak aja, nggaklah. Ngapain gue takut kalah kalau berdebat sama lo.”
“Iya, udah kalau gitu. Lo mau makan dulu, apa langsung ke tempat yang udah gue siapin buat kita?” Tanya Salma.
“Emangnya kita mau kemana? Jauh nggak?”
“Nggak terlalu jauh, gue kira lo mau makan dulu kan.”
“Tapi, lo yang traktir gue makan.”
“Oke, bisa diatur.”
“Bagus kalau gitu.”
__ADS_1
Salma membawa Dewi ke Kafe langganannya.
“Mbak, saya mau pesan makanan favorit disini sama minumannya juga. Porsi untuk tiga orang.” Ucap Salma kepada pelayang yang kini tengah berdiri disamping tempat duduknya.
“Baiklah, tunggu sebentar iya.” Ucap pelayan itu dengan melangkahkan kaki meninggalkan tempat Salma dan Dewi.
“Lo pesen buat siapa lagi? Disini hanya ada kita berdua. Kenapa lo pesen makanannya buat tiga orang?” Pertanyaan beruntun yang diajukan Dewi kepada Salma yang kini sedang menatap panggung kecil yang dipenuhi alat musik di Kafe itu.
“Salma.” Panggil Dewi namun tidak mendapat jawaban apapun dari sang pemilik nama.
“Salma.” Panggil Dewi sekali lagi dengan menggoyang-goyangkan tubuh Salma.
“Lo rekam gue pakai handphone gue.” Ucap Salma yang beranjak dari tempat duduknya menghampiri panggung kecil itu.
Sedangkan Dewi hanya melakukan apa yang Salma suruh tanpa tau apa yang akan dia perbuat di atas panggung.
“Mohon perhatian, gue disini mau membawakan sebuah lagu untuk kalian.” Ucap Salma dengan microphone yang sekarang sudah diatas panggung sambil membawa gitar yang ada disana.
Salma mulai memetikkan gitar dan mulai bernyanyi ,membuat semua mata hanya tertuju kepadanya.
Terlalu lelah hati ini membisikkan namamu
Walaupun semua jadi indah saat ada dirimu
Tak pernah ada terucap semua tak jelas
Tentang kita
Untuk apa ku arungi samudra
Dalam perahu yang sama
Untuk apa ku arungi langit gelap
Tanpa kau disini
Terangi bumiku melangkah
Berjalan diatas jalan yang sama
Tapi menatap arah yang berbeda
Salma terlihat sangat menghayati lagu itu, suaranya begitu merdu hingga membuat semua orang takjub melihatnya. Petikan gitarnya juga sangat bagus dan tidak ada kesalahan yang dia lakukan sama sekali.
Salma menyelesaikan lagu yang dia bawakan. Setelah itu, dia turun dari panggung dan menghampiri Dewi yang masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Gimana penampilan gue?” Itulah pertanyaan Salma kepada Dewi yang masih diam seribu bahasa.
“Apa gue nggak salah lihat tadi? Itu beneran lo?” Tanya Dewi dengan bodohnya.
“Hm.” Jawab Salma dengan singkat namun bisa membuat Dewi kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan Es Cream, entah lari kemana otaknya Dewi.
__ADS_1
Semua mata yang ada di Kafe itu menatap heran pada Dewi, sedangkan Salma hanya menepuk jidatnya saat melihat tingkah Dewi.
Setelah pesanan mereka sampai, mereka hanya menikmati menu yang mereka pesan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Setelah selesai makan, Salma mengajak Dewi ke sebuah tempat yang sepi dan terdapat rumah ttua yang lusuh disana.
“Sal, lo mau nyucik gue?” Tanya Dewi dengan kegesrekkan otaknya.
“Nggak ada untungnya gue nyulik lo, yang ada gue rugi karena harus kasih lo makan tiap hari.” Ucap Salma.
“Terus lo bawa gue kesini, mau ngapain?”
“Diam aja deh kalau nggak tau.”
Salma langsung mengambil botol besar yang berisi minyak tanah dari dalam mobilnya.
“Lo mau ngapain?” Tanya Dewi yang penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Salma.
“Diam aja, gue mau kasih lo pertunjukkan gratis disini.”
Salma langsung mengguyurkan minyak tanah itu ke rumah tua, dan dia langsung membakarnya.
“Sal, lo gila? Kalau pemilik rumahnya tau gimana?” Tanya Dewi dengan histeris karena melihat Salma baru saja membakar rumah tua itu.
“Pemilik rumahnya gue.”
“Hah? Kok lo punya rumah disini? Rumahnya berantakan dan tua banget kelihatannya.” Ucap Dewi dengan heran.
“Disini banyak kenangan masa kecil gue, dan sekarang gue mau menghapusnya. Lo pernah tanya kan sama gue, soal kenapa gue selalu bolos di tanggal tertentu?”
“Iya, dulu gue heran sama lo. Bisa-bisanya setiap tanggal 15 lo selalu bolos dan gue juga pernah tanya sama lo, kenapa lo bolos setiap tanggal 15 itu.”
“Lo nggak perlu tau soal tanggal 15, tapi yang perlu lo tau gue selalu kesini setiap gue bolos ditanggal 15. Dan sekarang udah gue bakar rumah ini, jadi gue nggak akan kesini lagi.”
“Apa ini pelampiasan kekesalan lo sama guru-guru di sekolah karena mereka hukum lo?”
“Bukan, gue malah senang kalau dihukum. Karena gue mengakui kesalahan yang gue perbuat dan gue bertanggung jawab atas apa yang gue lakukan.”
“Gue masih bingung sama sikap lo.”
“Udahlah, nggak usah bingung-bingung. Kita harus senang-senang disini, tuh lihat apinya udah membesar. Kalau gue cemplungin lo ke dalam gimana iya?”
“Lo mau bunuh gue hidup-hidup?” Tanya Dewi.
“Kalau mau bunuh orang iya dia harus hidup dong, masa iya dia udah mati baru mau gue bunuh.” Ucap Salma dengan santai.
“Iya juga iya. Eh sebentar, maksudnya lo mau bunuh gue?”
“Kalau gue bunuh lo nggak bakal ada yang bisa gue ajak buat ngerjain guru-guru di sekolah.”
“Cih, bilang aja lo nggak mau kehilangan sahabat tercantik lo ini.” Ucap Dewi dengan kepedean.
__ADS_1
“Kayaknya Bi Iyem lebih cantik daripada lo.”
“Enak aja, Bi Iyem kan asisten rumah tangga lo. Masa iya, gue dibandingin sama asisten lo.”