
~Mungkin ini cara gue buat mengurangi rasa kesepian dalam hidup gue.~ Salma.
.
.
.
.
.
Salma melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah yang masih terbuka dengan lebar karena hari ini entah dia kerasukan apa? Dia masuk sekolah lebih awal, biasanya juga mepet dengan bel masuk.
Salma duduk dibangkunya menatap seisi kelas yang masih kosong tanpa seorang pun ada didalamnya kecuali dirinya sendiri.
“Mungkin ini yang lebih baik buat gue. Ngapain lama-lama di rumah, toh di sekolah sendirian lebih baik daripada harus di rumah.” Ucap Salma dengan menenggelamkan wajahnya ke tangan yang dia silangkan diatas meja.
Setelah beberapa menit berlalu, satu persatu penghuni kelas mulai berdatangan termasuk sahabatnya.
“Woi, ada angin apa ini? Tumben Bu Bos berangkatnya lebih awal?” Tanya Dewi sambil berjalan menghampiri Salma yang masih dalam posisi yang sama.
Salma menatap Dewi dengan malas,
“Kenapa lo berangkatnya siang banget sih? Gue nunggu lo dari tadi.” Ucap Salma.
“Tadi ada kendala sedikit di rumah, makanya gue berangkatnya kesiangan.” Ucap Dewi.
“Oh. Nanti pas istirahat, lo ikut gue.” Ucap Salma.
“Kemana?” Tanya Dewi.
“Nanti lo juga tau.” Ucap Salma dengan tersenyum yang bisa membuat kaum lelaki meleleh melihat senyuman dari Salma yang cantiknya diatas rata-rata itu.
Bel masuk berbunyi, seorang guru olahraga yang dikenal killer yang bernama Pak Dimas memasuki kelas.
”Pak Dimas baru bangun tidur?” Itulah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Salma saat melihat guru olahraga memasuki kelasnya padahal hari ini kelasnya tidak ada pelajaran olahraga.
Dewi menatap Salma dengan malas, karena dia tau sifat sahabatnya itu, memang dia sangat cantik, pintar, namun terkadang kalau di sekolah otaknya agak sedikit gesrek.
“Salma, kamu ini jangan buat saya marah. Pagi-pagi udah buat saya pengin marah aja.” Ucap Pak Dimas.
“Loh, Pak. Apa salah saya? Saya cuma nanya sama Bapak.” Ucap Salma yang tidak ingin kalah bicara dengan gurunya itu.
__ADS_1
“Udahlah, saya kesini mau memberi tugas dari Bu Sita. Karena Bu Sita sedang sakit, jadi nggak bisa masuk sekolah.” Ucap Pak Dimas.
“Bilang aja dari istri saya gitu, Pak.” Ucap Salma.
Memang hanya Salma yang berani berdebat dengan Pak Dimas, entah karena dia itu terlalu pintar atau gimana hingga otaknya konslet.
“Salma, jaga sikap kamu. Memang Bu Sita istri saya dan semua yang ada di sekolah ini tau. Kenapa juga harus saya perjelas.” Ucap Pak Dimas dengan tegas.
“Harus dong, Pak. Soalnya wanita itu...” Ucap Salma yang belum selesai karena dipotong oleh Pak Dimas.
“Khusus Salma, ikut saya ke lapangan. Dan yang lain mengerjakan tugas dari Bu Sita, jangan lupa DIKUMPULKAN.” Ucap Pak Dimas dengan tegas dengan penuh penekanan dan membuat seluruh kelas terdiam.
“SALMA, KAMU IKUT SAYA.” Teriak Pak Dimas yang menggelegar diseluruh sudut ruangan, sedangkan sang pemilik nama hanya berjalan seperti tanpa beban mengikuti langkah Pak Dimas.
Sesampainya di lapangan, sudah ada satu kelas yang mengenakan baju olahraga untuk mengikuti pelajarannya Pak Dimas.
“Pak Dimas ngapain bawa saya kesini?” Tanya Salma dengan muka polosnya.
“Kamu masih nanya? Sekarang kamu lari keliling lapangan selama 30 menit tanpa berhenti.” Ucap Pak Dimas yang membuat seluruh siswa di lapangan tertunduk, padahal bukan mereka yang kena marah dan hukuman dari Pak Dimas. Sedangkan Salma? Jangan ditanya lagi, dia malah senyam-senyum seperti orang yang nggak waras.
“Kenapa diam, senyam-senyum? Cepat lakukan!” Sambung Pak Dimas dengan sikap khasnya.
“Hukumannya nggak ada yang lebih berat apa, Pak?” Tanya Salma yang membuat seluruh siswa di lapangan menatap heran padanya.
Salma langsung melakukan hukumannya tanpa ingin berkata apapun kepada gurunya itu.
Pak Dimas mulai mengajar kelasnya di lapangan, dia mengajarkan tentang Bola Voli.
Sudah 20 menit berlalu, Salma masih berlari mengelilingi lapangan tanpa terlihat lelah.
“Mungkin ini cara gue buat mengurangi rasa kesepian dalam hidup gue. Gue nggak nakal dan gue bukan murid yang melawan guru. Tapi, ini hanya cara gue agar nggak larut dalam kesedihan.” Gumam Salma dengan pelan tanpa ada orang yang mendengarnya.
Hukuman yang diberikan Pak Dimas telah diselesaikan oleh Salma.
“Sekarang, kamu boleh ke kelas.” Ucap Pak Dimas.
“Hm, baiklah.” Ucap Salma dengan singkat sebab dia sedang tidak ingin berdebat dengan Pak Dimas karena rasa capek melanda tubuhnya.
Salma melangkahkan kaki ke kelasnya. Sesampainya di kelas, dia menjadi pusat perhatian karena keringat memenuhi wajah putih mulusnya itu dengan rambut yang sedikit berantakan dan kucel.
“Lo habis dihukum Pak Dimas?” Tanya Dewi dengan bodohnya, karena dia sudah tau kalau Salma dihukum pakai nanya lagi.
“Hm, ikut gue yuk.” Ajak Salma yang menyeret tangan Dewi tanpa menghiraukan berbagai pertanyaan yang terlontar dari mulutnya.
__ADS_1
“DHION, NANTI LO KIRIM TUGASNYA KE GUE.” Teriak Salma ke Dhion, karena hanya Dhion yang selalu membantu Salma setelah Dewi.
“OKE, LO NGGAK USAH KHAWATIR. LANJUTKAN AKSIMU.” Teriak Dhion yang selalu mendukung semua hal-hal aneh yang dilakukan Salma.
“PASTI.” Teriak Salma dengan mengacungkan jempol tangan kirinya kepada Dhion.
Salma membawa Dewi ke pagar belakang sekolah.
“Salma, lo mau bawa gue bolos?” Tanya Dewi.
“Yoi.”
“Kenapa nggak bilang dari tadi? Kalau lo mau ajak gue bolos, dengan senang hati gue mau ikut lo.”
“Gue kira lo nggak mau, selama ini kemana aja lo? Kok nggak mau gue ajak bolos?”
“Oh, kalau itu beda lagi masalahnya. Ayo cepet, gue udah nggak sabar mau bolos nih.” Ucap Dewi dengan girangnya dan dia sudah berusaha menaiki pagar.
Sedangkan Salma hanya heran melihat tingkah sahabatnya itu.
Setelah memanjat pagar belakang sekolah, akhirnya Salma dan Dewi bisa juga keluar dari sekolah dan mereka menghampiri mobil Salma yang sudah terparkir di tempat yang dia sewa sendiri.
Saat akan sampai dimobil Salma, mereka berdua kaget dengan suara yang tiba-tiba menggelegar dari belakang mereka.
“YOI, KALIAN.” Teriak seseorang laki-laki yang mampu menghentikan langkah Salma dan Dewi.
Salma dan Dewi dengan perlahan membalikkan badannya. Dan ternyata..
“Huh, ternyata lo? Lo buat gue jantungan tau.” Ucap Dewi dengan mengusap-usap dadanya untuk meredakan kekagetannya.
“Mau kemana?” Tanya laki-laki itu.
“Gue mau bolos sama sahabat gue. Oh iya, kata Mama gue lo baru sampai kemarin iya? ” Tanya Dewi.
“Iya, gue baru sampai kemarin. Dan hari ini gue mau daftar sekolah disini. Kita bakal satu sekolah loh.” Ucap laki-laki itu.
“Bagus kalau gitu.”
“Dia siapa?” Tanya laki-laki itu saat melihat Salma.
“Oh iya, kenalin, sahabat tergesrek gue. Walaupun otanya agak gesrek, tapi dia itu baik dan pintar sama cantiknya diatas rata-rata.” Ucap Dewi.
“Kenalin, gue Bagas teman kecilnya Dewi.” Ucap laki-laki yang bernama Bagas itu dengan mengulurkan tangan kanannya.
__ADS_1