
Srukk\~
Bunyi dari petani nanas yang datang dan menebas beberapa rumput liar pada kebun nanas itu. “sepertinya ada orang yang datang.” Kata Ogika yang terbangun untuk duduk sembari memasang kuping.
“tongeng ga?”
(apa kau benar?)
Pineapple Hero gegas meloncat dari kursi kecilnya. Ia menaikkan kedua tangannya ke atas.
Ting\~
Seketika kamar indah itu berubah kembali menjadi kebun nanas. “yahhh…” Ogika terlihat kecewa saat kamar kesukaannya menghilang di matanya.
“lokak permisi falek.”
(aku permisi dulu ya.)
“tunggu!” teriak Ogika. Tiba-tiba Pineapple Hero menghilang di matanya. “kemana nanas ajaib itu?” Ogika memperhatikan sekitarnya yang ada hanya hamparan kebun nanas yang luas. Ia tak melihat batang hidung dari nanas ajaib itu.
Ogika menghela nafas panjangnya. “sekarang aku sendiri lagi.” gumamnya. “hey gadis kumuh, apa yang kau lakukan di kebun ku.” Teriak seorang pria yang memakai seragam petaninya.
Pria itu bertopi kerucut yang terbuat dari bambu. Membawa parang (bangkung) dan sebuah wadah yang terbuat dari besi untuk menampung nanas yang dipanen. Wadah itu di sebut Lanjong dan kegiatan memetik nanas dan meletakkannya di dalam wadah itu disebut Mallanjong. Lalu pria yang membawa wadah dan melakukan kegiatan memetik nanas dengan memasukkan nanas hasil panen ke dalam Lanjong itu di sebut Fallanjong.
“tidak, aku… aku hanya beristirahat di sini.” Kata Ogika dengan takut. “bukankah kau adalah…” pria itu terdiam untuk beberapa saat untuk mengingat siapa gadis kumuh yang ada di depannya tersebut.
“kau Ogika! Si gadis kumuh pembawa sial. Cepat pergi dari sini!” teriak pria itu. Gegas Ogika berlari sekuat tenaga di dalam hamparan kebun nanas tersebut.
Gedebuk\~
Ogika jatuh tersandung batu. “essshhh…” ia merintih kesakitan saat kulitnya terasa perih karena terkena duri dari daun pohon nanas tersebut. Kulitnya berdarah di bagian lengan, namun ia tetap bergegas berdiri lagi dan lari sekuat tenaga.
__ADS_1
Ogika telah jauh meninggalkan kebun nanas tempatnya beristirahat tadi. Gadis kumuh itu sampai di pinggiran sungai. Dia mengambil air sungai pada telapak tangannya dan membasuh lukanya akibat terkena duri daun pohon nanas tersebut.
Walaupun sedikit merasakan perih pada kulitnya tetapi Ogika tetap senang karena hari ini ia tidak merasakan kelaparan lagi. Perut gadis kumuh itu telah kenyang setelah memakan semua makanan pemberian dari Pineapple Hero.
“hey Pineapple Hero kau dimana?” gumam Ogika. Ia berharapa bertemu dengan Pineapple Hero di pinggir sungai tersebut. Namun, tidak ada Pineapple Hero yang datang kepadanya.
“sepertinya dia tinggal di kebun nanas itu.” Ogika menyeru dalam hati. Dia berpikir bahwa jika ingin bertemu Pineapple Hero ia harus kembali ke kebun nanas yang tadi. Tetapi ia tidak bisa kesana sekarang, karena ada pemilik kebun yang sedang melakukan panen buah nanas.
“nanti malam saja aku kembali.” Kata Ogika dalam hati. Ogika duduk tepat di pinggir sungai itu. dia memasukkan sebagian kakinya ke dalam sungai. Kakinya tenggelam sampai ke betisnya. Sesekali Ogika mengayunkan kakinya hingga air yang mengalir tenang itu memiliki ombak kecil dari gerakan kaki Ogika.
Ogika terus memandangi dirinya di dalam air itu. “ternyata aku sangat jelek.” Gumamnya saat samar-samar ia melihat sosok wajahnya sendiri di dalam pantulan air sungai.
“hey apa yang kau lakukan disana gadis pembawa sial?! Cepat pergi!” teriak seseorang yang melihat Ogika dipinggir sungai tersebut. Ogika pun kaget, sontak ia mengangkat kakinya dan berdiri.
“jangan pernah memasukkan kakimu di sungai itu lagi. ikan-ikan akan mati karena kaki sialmu itu.” berang orang tersebut. Ogika pun ketakutan, ia takut akan di lempar ataupun di hina lagi hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi meninggalkan sungai tersebut.
Ogika terus berjalan entah kemana arahnya. Dia tidak mempunyai rumah sama sekali. Bisa hidup saja sudah suatu anugerah besar baginya. Gadis kumuh itu berjalan tanpa arah hingga akhirnya matahari mulai terbenam.
“Pineapple Hero… Pineapple Herooo?” teriak Ogika dengan kedua telapak tangan membulat di depan mulutnya. “Pineapple Hero? kau dimana?” tanya Ogika dengan nada suara yang tinggi. Karena kebun itu cukup luas, suara Ogika yang menggema di udara itu pun tidak ada yang mendengarkan mengingat bahwa rumah warga cukup jauh dari kebun mereka.
“ahhh… ku rasa dia tidak mau berteman denganku lagi.” kata Ogika dalam hati. Sejak tadi dia telah memanggil Pineapple Hero dan nanas ajaib itu tidak memunculkan batang hidungnya.
Ogika mulai duduk di tengah kebun nanas itu. Nyamuk-nyamuk mulai mengerumuninya. Bahkan nyamuk-nyamuk itu hinggap pada lengan Ogika yang terluka karena duri daun pohon nanas itu.
Kemudian karena lelah seharian, Ogika pun menguap. Gadis kumuh itu lelah berjalan seharian. Walaupun ada banyak nyamuk yang menggigitnya sepertinya ia sudah cukup kebal dan terbiasa dengan para nyamuk itu.
“hey!”
(hei!)
Tiba-tiba Pineapple Hero muncul dan menyapa gadis kumuh itu. “hey, apa itu kau?” Ogika yang hendak tidur akhirnya terbangun saat mendengar suara nanas ajaib itu.
__ADS_1
“iyek, iyak iyehe.”
(iya, ini aku.)
“ahhh kau ini kemana saja.” Ogika langsung memeluk nanas ajaib itu.
“awwe dedeh, nekkaudakasi iye anakdarawe.”
(ya ampun, aku dipeluk lagi oleh anak gadis ini.)
Gerutu Pineapple Hero saat nafasnya sesak karena pelukan erat dari Ogika. “Pineapple Hero, kenapa kau tidak muncul saat aku memanggilmu?” tanya Ogika dengan bibir yang mengerucut. Agaknya Ogika sedikit kesal kepada nanas ajaib itu.
“siyanna mollika? Degaga wangkalinga!”
(sejak kapan kau memanggilku? Aku tidak mendengarnya!)
Pineapple Hero tampak jujur dengan perkataannya. “tadi siang, saat aku berada di pinggir sungai, kenapa kau tidak datang saat ku panggil?” sambung Ogika.
“oh, iyakko essoi jarang memengka muncul nasabak mega tau lino. Iyakko nitaka, natikkengka matu.”
(oh itu, kalau siang hari aku jarang muncul karena banyak orang-orang yang akan melihatku. Jika aku dilihat oleh mereka, maka mereka akan menangkapku nanti.)
Pineapple Hero mendudukkan bokongnya tepat disamping Ogika. “mengapa kau takut dengan mereka? Kau itu kan nanas ajaib bukan? Kau bisa melakukan apapun kepada mereka.” Ujar Ogika.
“tujumuasa iyero muaseng Ogika, tafikna denasembarang to pessu paddisengeng Ogika. Deenodding nissengka tau egawe nasabak iyakko dekak gaga iyakue kampongnge mesak nitu mate maneng fandrengnge.”
(memang benar yang kau katakan Ogika, tetapi untuk mengeluarkan kekuatanku itu Ogika, aku tidak boleh sembarangan. Aku tidak boleh diketahui oleh orang banyak karena jika aku tidak ada lagi di kampung ini nanti bisa-bisa semua nanas yang ada di sini mati.)
“maksudmu bagaimana?” Ogika menoleh melihat nanas ajaib itu.
“tajengni baja ele’e, ufitangko.”
__ADS_1
(tunggulah besok pagi, akan kuperlihatkan kepadamu.)