Pineapple Hero

Pineapple Hero
Karena kita sama


__ADS_3

“Nasabak fada-fadaki.”


(Itu karena kau sama denganku.)


“Sama katamu?” Ogika mengerutkan kedua alisnya. Bagaimana mungkin Pineapple Hero mengatakan bahwa dirinya sama dengan gadis kumuh pembawa sial seperti Ogika.


“Kita jelas sangat berbeda. Aku adalah seorang manusia, sedangkan kau adalah nanas ajaib yang mempunyai kemampuan magis dan bisa membuat apapun yang kau mau. Aku hanyalah gadis kumuh yang selalu dibilang sebagai gadis pembawa sial.” Seketika raut wajah Ogika berubah menjadi murung.


“Tongengsa iyero muasengnge tafina iyero maksudku tannia ero muasengnge. Fada-fadanna iko na iyak iyero fada-fadaki degaga kawanta.”


(Yang kau katakan itu benar, tetapi maksudku adalah bukan seperti yang kau katakan. Persamaan antara kau dan aku adalah kita sama-sama tidak mempunyai teman.)


“Oh ternyata seperti itu. Yah, memang aku tidak mempunyai seorang teman. Bahkan keluarga pun aku tidak punya. Ayah dan ibuku telah lama tiada. Sejak kecil aku selalu tinggal sendirian dan dikucilkan di masyarakat.” Terang Ogika dengan bibir yang mengerucut.


“Iyenaro waseng Ogika.”


(Nah seperti itu lah yang ku maksud.)


“Fole riyolo iyak dee memengsaga kawanku. Setiak ele iyetomiro jamang-jamangku ujamaa fole riyolo.”

__ADS_1


(Dari dulu aku memang tidak mempunyai seorang teman. Setiap pagi yang ku lakukan hanya pekerjaanku sebagai raja nanas di kampung ini yaitu seperti yang kau lihat tadi. Itulah pekerjaanku dari dulu.)


“Ternyata seperti itu, sekarang aku mengerti. Baiklah, apa pagi ini kau akan memberikan ku makanan gratis lagi?” Ogika mengedipkan kedua matanya berkali-kali dan tersenyum namun sayangnya Pineapple Hero tampak diam tanpa menjawab pertanyaan dari gadis kumuh tersebut.


“Kenapa kau diam?” tanya Ogika yang setelah bertanya kembali menarik kedua sudut bibirnya. Walaupun Ogika kumuh, saat tersenyum ia masih saja terlihat manis. “Hey…” Ogika menyentuh nanas ajaib itu.


“Iye essoe degaga andre-andre lau uwelengko! Berusaha riale ko jek.”


(Hari ini tidak ada makanan untukmu! Kau harus berusaha sendiri.)


Pineapple Hero berdiri dan beranjak dari tempatnya untuk meninggalkan Ogika. “Ayolah Pineapple Hero aku sangat lapar.” Tampak Ogika berdiri dan mengikuti anas ajaib itu dari belakang.


“Dee welo, lonak rewek.”


Nanas ajaib itu terus berjalan di antara hamparan kebun nanas nan luas tersebut. Sepuluh langkah dari Pineapple Hero baru lah Ogika bisa melangkahkan kakinya satu langkah agar bisa mengimbangi nanas ajaib itu.


“Kau bohong, bagaimana kau bisa pulang? rumah mu kan di sini hey Pineapple Hero.” Ogika terkekeh, tetapi Pineapple Hero masih dengan cuek dan terus berjalan. “Lagi pula jika kau ingin pergi ku rasa kau harus menghilang bukan berjalan seperti itu.” Ogika membungkukkan diri agar bisa melihat wajah dari nanas ajaib itu.


Ogika kembali tersenyum dengan mulut yang terbuka lebar hingga gigi hitamnya terlihat. Seketika Pineapple Hero menghentikan langkahnya, dia berhenti bukan mencium aroma tak sedap dari Ogika melainkan ia tersadar apa yang diucapkan gadis kumuh tersebut benar adanya.

__ADS_1


“Tongento iyero muasengnge. Tinggal teddengma bawang, agawala mallaleng, furu bawangkaha.”


(Oh iya kau benar juga, benar sekali yang kau katakan itu. Aku tinggal menghilang, kenapa aku masih saja berjalan, itu hanya akan membuatku capek.)


“Nah itu kau pun tahu!” sahut Ogika yang ikut menghentikan langkahnya. “Sebaiknya kau pergi sebelum pemilik kebun nanas ini datang. Jika tidak, mereka bisa melihat mu dan bisa saja kau jadi terekspos.” Tambah Ogika.


“Iyala falek.”


(baiklah kalau begitu.)


“Ikoto, eddek tono. Nita to ko matu funnana iye dare’e.”


(kau juga, pergilah. Nanti kau dilihat juga oleh pemilik kebun ini.)


Ogika mengangguk kemudian berdiri tegap.


Ting\~


Dengan mengangkat kedua lengan dan menjentikkan jarinya seketika nanas ajaib itu menghilang di hadapan Ogika.”Bye-bye nanas ajaib. Ahhh… hari ini aku harus mencari makan sendiri. Pineapple Hero itu sungguh pelit!” umpat Ogika.

__ADS_1


“Tapi, di mana aku harus mencari makan untuk mengisi perut kosong ku hari ini?” Ogika mengerucutkan bibirnya, matanya berubah menjadi sendu. Namun, Ogika harus cepat pergi dari kebun nanas itu karena mau tidak mau atau lapar atau tidak lapar, dia harus tetap meninggalkan kebun nanas itu sebelum ia diusir lebih dulu oleh pemiliknya.


Ogika berjalan dengan perlahan. Ia memelankan langkahnya sambil membungkuk agar ia tidak dilihat siapapun mengingat bahwa matahari telah terbit sempurna hingga akan jelas terlihat jika dia tidak bersembunyi di balik pohon nanas yang berduri tersebut.


__ADS_2