
Keeseokan harinya.
“hoammm…” dengan mulut yang terbuka lebar Ogika menguap. Matanya sayup-sayup terbuka. Ia melihat ke sekeliling untuk memastikan keberadaan temannya itu. “ahhh ternyata kau masih disini rupanya.” Kata Ogika sembari mengambil dan menggendong nanas ajaib itu agar ia bisa memangkunya.
“faseddingnoga?”
(apa kau sudah bangun?)
“ya sudahlah, apa kau tidak melihat kedua bola mataku yang terbuka lebar ini?” Ogika mengangkat nanas ajaib itu kemudian mengarahkan wajahnya tepat berada di depan wajah dirinya. Ogika membulatkan kedua matanya agar dilihat oleh Pineapple Hero.
“yana-yana.”
(baiklah-baiklah.)
Pineapple Hero mengangguk seraya berkata okay aku mengerti dan aku sudah tau sekarang. “baiklah.” Sahut Ogika sambil memangku kembali nanas ajaib itu.
Cekhh\~
Tiba-tiba saja Pineapple Hero meloncat dan berdiri dihadapan Ogika.
“muitaga ero mata essoe?”
(apa kau melihat matahari itu?)
Tanya Pineapple Hero sambil menunjuk langit-langit itu. “bagaimana aku bisa melihatnya kalau langit-langit segelap ini.” Gerutu Ogika saat melihat ke langit luas yang masih berwarna kehitaman karena ia terbangun pada waktu subuh.
“tongeng! Tajengni, denamitta momponitu mata essoe.”
(kau benar! Tunggu saja, tidak lama lagi matahari akan terbit.)
Pineapple Hero berdiri memandang langit yang mulai memiliki cahaya keabuan pada langit itu namun matahari belum naik dan menampakkan dirinya.
__ADS_1
“baiklah, aku akan menunggunya.” Kata Ogika sambil duduk melipat kedua kakinya kemudian duduk dengan punggung yang tegap. Namun, karena menunggu, walaupun waktu yang sangat sebentar itu entah mengapa sangat lama baginya.
“hey, kenapa matahari itu sangat lama munculnya?” tanya Ogika dengan menopang dagunya menggunakan tangan kanannya. Bibirnya maju kedepan alias manyun dan tampak bosan.
Pineapple Hero tak menghiraukan perkataan Ogika yang sedang menunggu disampingnya. Baginya, tidak ada gunanya menjawab pertanyaan gadis kumuh disaat genting yang seperti itu. ia akan segera melakukan rutinitasnya sebagai Pineapple Hero, raja dari semua nanas.
“seddi, dua, tellu…”
(satu, dua, tiga…)
Pinepple Hero mencoba menghitung sambil memperhatikan matahari yang tengah terbit perlahan itu. ia terus menghitung sampai matahari terbit dengan sempurna.
“asera!”
(sembilan!)
Kata nanas ajaib itu dengan sedikit melompatkan kakinya.
“hey Ogika itana.”
Pineapple Hero menoleh dan berkata kepada gadis kumuh itu untuk memberikannya aba-aba agar bisa memperhatikannya. Ogika pun mengangguk dan memasang dengan kedua bola mata yang akan ditahan agar terus terbuka dan melihat dengan jelas sesuai perintah teman ajaibnya itu.
Pineapple Hero mengangkat kedua tangannya. Dengan menjentikkan kedua jarinya ia pun berkata sesuatu yang tak dapat didengar jelas oleh Ogika. Yang jelas ia sedang membaca sebuah mantra.
Seketika nanas ajaib itu melayang di udara. Tubuh dari nanas ajaib itu memancarkan cahaya kekuning-kuningan serta diikuti oleh bayangan cahaya yang menyilaukan berwarna orange.
“wahhh..” Ogika terkejut dan membuka lebar mulutnya. “ternyata kau bisa terbang, hebat! Tanpa sayap kau bisa terbang.” Kata Ogika yang tengah takjub melihat nanas ajaib yang terbang di langit berada berjarak 10 meter di atasnya tersebut.
Pineapple Hero mengayunkan kedua tangannya dari kanan ke kiri kemudian ia mengayunkannya lagi ke arah yang terbalik yaitu dari kiri ke kanan. Nanas ajaib itu melakukan hal tersebut berkali-kali hingga mengeluarkan sebuah cahaya putih yang berkilau mirip dengan serbu susu bubuk namun serbuk ini kerlap-kerlip dan berkilauan mirip dengan berlian yang sangat kecil tetapi dengan jumlah yang sangat banyak.
Semua berlian-berlian kecil yang kerlap-kerlip tersebut terbang dan menghampiri setiap buah nanas yang ada di sekeliling Ogika dan Pineapple Hero. Nanas ajaib itu melakukan hal itu, melakukan untuk mengayunkan kedua tangannya yang menghasilkan serbuk berlian hingga serbuk itu terus terbang dan hinggap di setiap nanas yang ada pada desa tersebut.
__ADS_1
Kemudian setiap buah nanas yang tampak layu tiba-tiba bermekaran dan semakin membesar. Semua nanas yang terkena serbuk berlian pemberian dari Pineapple Hero mengeluarkan sebuah butiran air bening yang sangat kecil. Butiran berlian kecil itu 3x lipat lebih besar dari butiran embun hingga membuat buah nanas tersebut tampak sangat segar.
Nanas yang masih kecil berubah menjadi nanas yang mengkal/muda. Sedangkan beberapa buah nanas yang sudah besar walaupun belum masak akhirnya sedikit menguning dan siap panen. Semakin banyak serbuk berlian yang hinggap di atas buah nanas tersebut maka semakin besar pula buah nanas yang dihasilkan.
Setelah semuanya telah terkena serbuk berlian pemberian dari Pineapple Hero, Pineapple Hero perlahan turun ke bawah sampai kakinya menginjak di atas tanah.
Prok,prok,prok\~
Ogika merasa takjub dan bertepuk tangan untuk nanas ajaib temannya itu. “wahhhh… kau sungguh keren Pineapple Hero. Apa yang kau lakukan barusan?” Ogika melangkahkan kakinya ke depan agar bisa mendekati teman ajaibnya itu.
“bisa kau jelaskan kepadaku, apa yang baru saja terjadi?” Ogika duduk jongkok agar bisa melihat wajah nanas ajaib itu dengan seksama.
“iyenaro yaseng serbuk berlian, ero serbuk e serbuk ajaib, sininna fandrengnge iyero melo pekke’e harus nakenna ero serbuk e. Iyakko engka fandreng dee nekennawi ero serbuk berliannge, taumakkedameni ayyi makenni buahna, iyarega awwe deegaga buana fandrengku.”
(itulah yang dinamakan dengan sebutan serbuk berlian. Itulah serbuk ajaib, semua buah nanas yang akan tumbuh harus terkena oleh serbuk berlianku. Jika ada buah nanas yang tidak terkena oleh serbuk berlian itu, maka bisa dikatakan bahwa buah nanas tersebut akan kecil, atau mereka akan berkata ya ampun kebunku tidak memiliki buah atau tidak berbuah.)
“ahhh begitu rupanya! Jadi hanya kau yang bisa mengontrol pertumbuhan semua buah nanas yang ada di desa ini?” tanya Ogika sembari melihat ke sekelilingnya.
“iyek, tongeng itu muasengnge.”
(iya, memang benar apa yang kau katakan itu.)
Kata Pineapple Hero sambil menganggukkan kepalanya. “lalu, jika memang semua ini adalah perbuatanmu, mengapa para petani yang Bertani harus mengurus kebun mereka. Bukankah mereka hanya tinggal diam dan menunggumu beraksi?” Ogika kembali menopang dagu sambil menaikkan bola mata hitamnya seraya berpikir.
“dee nappakero Ogika, iyanaro magi denodding nissengka tauwe nasabak iyakko nissengkan mesaknitu namakuttu maddarek matu. Nappani, ero serbuk berliannge iyakki mitu tau megawe akkaresongengna megato teppa serbukna. Tandra-tandra tau matinulu mappalong, iyemetu mega makkareso iye meto mega runtuk I haselekna.”
(tidak seperti itu Ogika, itulah sebabnya mengapa aku tidak boleh diketahui oleh orang-orang karena jikalau mereka mengetahui keberadaanku maka para petani bisa saja menjadi malas Bertani. Lagi pula, serbuk berlian itu akan hinggap di kebun yang pemiliknya rajin berkebun, semakin rajin orang itu berkebun maka semakin banyak pula serbuk berlian yang akan hinggap pada pohon dan buah nanas mereka.)
“sungguh? Kau ada benarnya juga.” Ogika mengangguk setuju atas penjelasannya teman ajaibnya itu. “tapi…” Ogika kembali ingin bertanya, mendengar penjelasan dari Pineapple Hero membuatnya teringat sesuatu.
“tafina magi Ogika?”
__ADS_1
(tapi kenapa Ogika?)
Sahut nanas ajaib itu sembari duduk di atas tanah gambut tersebut. “tapi, mengapa kau muncul dan memperkenalkan dirimu kepadaku? Bukankah aku juga seorang manusia?” Ogika mengerutkan kedua alisnya.