Pineapple Hero

Pineapple Hero
Dikejar Atan


__ADS_3

Tujuh hari berlalu. Ogika masih dengan derita hidupnya yang malang. Julukan gadis kumuh pembawa sial untuknya bahkan telah mempengaruhi dirinya sendiri. Selain orang-orang yang menganggapnya sial, kini dirinya sendiri pun menganggap bahwa memang dia adalah seseorang yang bisa memberikan kesialan bagi siapapun yang mendekat kepadanya.


“Maafkan aku Pineapple Hero…” Gumam Ogika dalam hati. Yah, sudah satu minggu Ogika menjalani hari malangnya tanpa kehadiran nanas ajaib itu. Satu-satunya temannya itu tak kunjung ia temui setelah kejadian Ogika menyuruhnya untuk pergi dengan cara menghilang.


“Maafkan aku yang telah membuatmu ikut menjadi sial.” Tambahnya lagi. Ogika sedang duduk termenung di tengah hamparan kebun nanas nan luas. Selama berhari-hari ia datang di tempat itu pada jam yang sama dan pergi saat matahari terbit untuk menunggu kedatangan Pineapple Hero. Namun, nanas ajaib itu tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya.


Ogika pun berputus asa. Ketidakhadiran Pineapple Hero membuatnya yakin bahwa penyebab tidak munculnya nanas ajaib tersebut karena telah berteman dengan dirinya hingga membuatnya hilang untuk selamanya.


Selama satu minggu Ogika menjalani harinya dengan murung. Berbeda dengan sebelumnya, saat ini ia tidak lagi berputus asa saat tak mendapatkan makanan agar bisa bertahan hidup. Tetapi, Ogika merasakan hal yang berbeda kali ini. Gadis kumuh itu merasakan kesepian yang lebih mendalam.


“Ternyata memiliki teman tidak enak. Saat dia ada memang menyenangkan, tetapi kalau sudah hilang begini malah lebih kesepian lagi. Lebih baik aku tidak usah punya teman saja.” Gerutu Ogika.


Akhirnya Ogika memutuskan untuk tidak menunggu Pineapple Hero lagi. Gadis kumuh itu beranjak dari tempatnya dan mulai melaksanakan kegiatannya sehari-hari untuk bertahan hidup di tengah cercaan dan makian orang-orang. Namun, itu semua sudah membuatnya terbiasa walaupun batinnya sangat merasa tertekan.


Ogika hari ini berencana untuk ikut belajar lagi di sebuah sekolah dasar yang ada di desa tersebut. Walaupun umurnya cukup tua untuk tingkatan sekolah dasar, tetapi Ogika banyak ketinggalan pelajaran mengingat bahwa cara berlajarnya yang diam-diam tanpa tanya jawab karena selama ini dia belajar dengan cara hanya menyimak saja.


Gadis kumuh itu sedang berada di tengah-tengah rindangnya semak belukar yang tinggi. Berbekal pensil dan buku usang yang ia temukan di tempat sampah, Ogika mencoba ikut belajar pelajaran anak kelas lima. Dia menyimak dan mencatat setiap pelajaran yang disampaikan oleh guru yang sedang mengajar lalu tangannya berhenti bergerak saat bel istirahat pun berbunyi.


“Ahhh…” Ogika menghela nafasnya. Walaupun perutnya keroncongan, dengan semangat belajar yang besar membuatnya lupa tentang makanan untuk sesaat.


Koro-koro\~


“Ugh! Hey perut bisakah kau tidak berisik?” Kata Ogika sembari memegangi perutnya. Ia meletakkan pensil dan bukunya di tanah kemudian dia mulai duduk untuk menunggu kelas selanjutnya.


“Hey Andum, apa kau melihat itu?” tunjuk Atan sesaat setelah melihat semak belukar yang bergoyang. Atan pun menarik resleting celananya karena baru saja ia selesai buang air kecil bersama dengan temannya.


“Yang mana?” Andum mencoba mencari arah jari telunjuk dari Atan. Setelah satu arah dengan telunjuk Atan dan melihat hal yang sama membuatnya bergidik dan menoleh kepada Atan. Keduanya saling memandang satu sama lain.


“Ku… ku rasa sebaiknya kita harus segera kembali.” Ucap Andum terbata. Ia berniat untuk segera berlari pergi karena seluruh bulu kuduknya mulai berdiri secara otomatis.


“Tidak Andum.” Atan menahan lengan Andum yang hampir saja berbalik arah. “Mungkin saja itu binatang langkah yang bisa kita tangkap dan bisa kita pelihara.” Kata Atan yang mulai memikirkan sesuatu.

__ADS_1


“Bagaimana kalau itu binatang buas?” Andum menelan salivanya. Entah mengapa yang ada dibenaknya adalah hantu namun ia sembunyikan karena tak mau diejek oleh Atan. “Ah kau ini, memangnya di sekolah kita ada binatang buas. Paling itu cuman anjing atau kucing, kalaupun itu ular, kita tinggal panggil Pak Satpam kita kan. Kamu tahu Pak Obe kan? Satpam sekolah kita itu adalah pawang ular.” Tegas Atan.


Andum pun hanya bisa terdiam sembari mengikuti Atan yang mulai berjalan mendekati semak-semak itu.


Sesshhh\~


Atan menyingkirkan semak-semak itu agar bisa mencari sesuatu yang ada dibaliknya. Sedangkan Ogika mencoba untuk diam terpatung serta menenangkan diri dibalik semak-semak itu karena ia mendengar percakapan dua orang anak lelaki yang sedang menuju ke tempatnya. Ingin rasanya ia berlari kabur saat itu juga tetapi itu akan semakin membuatnya ketahuan.


“Bagaimana ini? Jika aku ketahuan, dimana aku bisa belajar lagi?” kata Ogika dalam hati. Selama bertahun-tahun Ogika berhasil mengendap di antara semak belukar samping sekolah dasar itu tanpa ketahuan. Namun, jika ia ketahuan hari ini maka bisa dipastikan kedepannya sekolah itu akan dijaga ketat agar dia tidak kembali.


Sesshhh\~


Akhirnya Atan dan Andum melihat Ogika yang sedang duduk memeluk pensil dan bukunya dengan wajah yang sangat ketakutan.


“Hey kau ini, apa yang kau lakukan disini?” teriak Atan saat melihat jelas siapa dibalik semak-semak itu yang tak lain dan tak bukan adalah seorang gadis kumuh pembawa sial.


“Sudah biarkan saja, lebih baik kita pergi. Nanti kita kena sial!” Andum pun menarik tangan Atan agar meninggalkan tempat itu sekarang juga. “Tidak, tidak bisa Andum. Kita harus mengusirnya, nanti sekolah kita bisa terkena sialnya.” Jelas Atan yang kemudian mengambil sebuah kayu kering yang kecil yang ada di atas tanah.


Tetapi, teriakan Atan membuat aktifitas sekolah yang tadinya sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing menjadi berhenti sejenak. Anak-anak yang berada di sekitaran Atan dan Andum semuanya berteriak histeris saat melihat sosok Ogika yang sedang berlari pergi.


“Ada apa ini?” tanya seorang guru yang mencari sebab terjadinya teriakan histeris bersamaan dari para siswanya. “Itu, di sana Ogika argghhh…” seorang gadis kecil yang menunjuk di mana Atan dan Andum berdiri gegas pergi setelah menjawab pertanyaan dari gurunya lalu lari terbirit-birit ketakutan.


“APA? Ogika? Anak-anak semuanya menjauh. Jangan dekati semak-semak itu.” guru itu mencoba untuk melindungi muridnya. “Kau, Atan dan Andum cepat kemari nak.” Panggil guru tersebut. Tapi, Atan dan Andum tak meninggalkan tempatnya.


Teng-teng-teng!


Lonceng sekolah pun berbunyi. “Perhatian anak-anak cepat semuanya berkumpul di lapangan.” Suara pengumuman dari speaker pun terdengar. Suasana bermain saat istirahat berubah menjadi riuh dan guru pun akan menenangkannya dengan mengumpulkan mereka semua di lapangan sekolah.


“Atan, Andum cepat kemari…” kembali guru yang tadi memanggil kedua muridnya. “Pak, tidak bisa, kita harus mengejarnya. Jangan biarkan dia kembali ke sekolah ini lagi.” Jawab Atan kemudian ia berlari masuk ke semak-semak dan mengejar gadis kumuh tersebut.


“Atan…” Teriak Andum. Teriakan Andum tak membuahkan hasil, Atan telah pergi dan menghilang dibalik semak-semak. “Andum cepat berkumpul ke lapangan. Biar bapak yang mengejar Atan.” Perintah guru tersebut.

__ADS_1


Akhirnya Andum menuruti perintah dari gurunya itu dan berlari berkumpul di lapangan.


“Anak-anak harap tenang. Tidak akan terjadi apa-apa, jadi di mohon untuk Ananda sekalian tetap tenang.” Suara kepala sekola pada speaker itu menggema. Seluruh siswa dan siswi pun telah berkumpul di lapangan dengan para guru yang ada di hadapan mereka.


“Ada apa ini?’ tanya kepala sekolah kepada guru yang lain. “Menurut keterangan siswa, mereka melihat Ogika si gadis kumuh pembawa sial itu Bu.” Jawab guru yang ditanya tersebut. “Ahhh ini semakin meresahkan saja. Nanti sampaikan kepada Pak Obe agar lebih mengawasi sekolah kita.” Ujar Ibu kepala sekolah itu.


“Ananda sekalian, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ogika telah pergi, kalian jangan khawatir. Kebetulan sekarang waktu istirahat sudah habis. Jadi silahkan masuk ke kelas masing-masing.” Kata Ibu kepala sekolah pada speaker sekolah tersebut.


Anak-anak pun mulai meninggalkan barisan mereka sesuai arahan kepala sekolah. Sebagian dari murid tidak merasakan kepanikan karena mereka tidak mengerti atas apa yang terjadi. Sebagian lagi membubarkan diri dengan perasaan harap-harap cemas karena mereka mengetahui bahwa yang membuat keonaran itu adalah Ogika yang datang ke sekolah mereka. Di desa itu tidak ada satupun orang yang tidak mengenal Ogika baik itu anak-anak hingga ke orang dewasa.


Sementara itu, Pak guru yang bernama Pak Gani masih berusaha menyusul Atan yang mengejar Ogika. “Atan, hentikan, jangan mengejarnya.” Teriak Pak Gani yang telah kehilangan Atan entah ke mana.


Atan pun yang melihat punggung Ogika semakin mengencangkan larinya untuk segera mendekatinya. Separuh kayu kering yang masih ia pegang ia lemparkan kepada Ogika hingga akhirnya mengenai kepala Ogika dan terjatuh.


“Kena kau.” Atan terkekeh senang. Ogika jatuh dan merasakan gemetaran di kedua tangannya. Dengan memeluk buku dan pensilnya ia memejamkan kedua matanya.


“Ya Tuhan, tolong aku…” Kata Ogika dalam hati. Dia ketakutan setengah mati walaupun ia sedang berhadapan dengan seorang anak kecil. Terbiasa dengan cercaan dan hinaan sejak kecil membuatnya tidak mempunyai keberanian sedikitpun untuk melawan walaupun yang dihadapinya seorang anak kecil seperti Atan.


“Hey kau gadis kumuh, jangan pernah kembali lagi ke sekolah kami! Jika kau kembali...” berbarengan dengan kalimat terakhirnya Atan pun mengangkat kaki bersiap untuk menendang Ogika.


Bug!


“Arrghhhh…” teriak Atan. Anak itu terpelanting ke belakang sejauh dua meter dari Ogika. Bukannya ia berhasil menendang Ogika tetapi malah ia yang merasakan sebuah tendangan yang sakit.


“Kau…” Atan memandangi Ogika yang duduk tak berdaya dengan mata yang tertutup itu dengan rasa heran disertai rasa takut. “A… apa kau yang melakukan itu?” ucap Atan dengan terbata. Bibir dan sekujur tubuhnya kini merasakan gemetaran sama seperti yang dirasakan Ogika saat ini.


Mendengar perkataan anak itu Ogika pun mulai membuka matanya perlahan. “Kau tidak apa-apa?” Gegas Ogika berdiri dan berniat untuk menolong Atan yang tampak kesakitan.


“Tidak! Jangan mendekatinya!” Teriak Pak Gani dari jauh. Larinya semakin kencang saja untuk segera sampai kepada muridnya. Sesampainya di dekat Atan ia pun langsung menarik Atan dengan kuat sebelum Ogika sampai terlebih dahulu.


“Ayo cepat lari nak.” Pak Gani membawa Atan menjauh dari gadis kumuh yang ada di hadapannya itu sedangkan Ogika menghentikan langkahnya dan berdiri dengan diselimuti perasaan yang heran.

__ADS_1


__ADS_2