
Di tengah hiruk-pikuk kota modern, Aric melangkah dengan cukup lelah melewati trotoar yang sangat ramai. Sementara orang-orang yang berlalu-lalang dengan kesibukannya masing-masing, dia memandangi bangunan tinggi dan megah yang menjulang di sekitarnya. Pada usia delapan belas tahun, dia telah menjadi pendukung utama bagi adik perempuannya yang bernama Elara, sejak kecelakaan tragis yang merenggut orang tua mereka.
Elara, seorang gadis kecil berusia delapan tahun dengan mata berbinar-binar, melompat-lompat di sisinya, berusaha menangkap bayangan kupu-kupu yang berputar-putar di udara. Langit biru di atasnya memberikan sentuhan keceriaan di tengah kehidupan yang penuh tantangan.
Aric menghentikan langkahnya sejenak dan tersenyum melihat Elara yang berusaha mengejar kupu-kupu. Dia mengatur topi baseball nya yang rapi di atas kepala, merasa bangga dengan adiknya yang memiliki semangat tak terbatas. Meskipun usia muda, Elara telah mengajarkan Aric bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana.
"Elara, hati-hati ya," kata Aric dengan suara lembut, "Jangan sampai jatuh."
__ADS_1
Elara tertawa riang, mengibaskan tangannya mencoba menangkap kupu-kupu. "Tenang saja, kakak! Aku tahu apa yang aku lakukan."
Dalam diam, Aric mengagumi semangat dan keteguhan hati adiknya. Setelah kehilangan orang tua mereka, dia telah berusaha keras untuk melindungi Elara dan memberinya masa depan yang cerah. Meskipun mereka menghadapi keterbatasan dan kesulitan, dia tahu bahwa mereka memiliki satu sama lain.
Setelah beberapa saat, Elara akhirnya menyerah dan kembali ke samping Aric dengan napas terengah-engah. Dia menatap Aric dengan mata berbinar. "Kakak, kupu-kupunya terbang terlalu cepat!"
Mereka melanjutkan perjalanan pulang ke apartemen kecil mereka. Di dalam, Aric dengan cekatan memasak makan malam sederhana sementara Elara merapikan bunga-bunga liar yang telah dia kumpulkan. Mereka duduk di lantai dengan meja kecil di tengah ruangan, menikmati hidangan mereka dengan senyum di wajah.
__ADS_1
Setelah makan malam, Aric membantu Elara untuk tidur dan duduk di pinggir tempat tidurnya. Dia membuka buku cerita favorit Elara dan mulai membacanya dengan suara lembut. Saat cerita berlangsung, matanya merayap pada kata-kata di halaman, tetapi pikirannya melayang jauh.
Dia merenung tentang tanggung jawab yang dipikulnya sejak orang tua mereka pergi. Dia telah belajar bagaimana memasak, membersihkan, bahkan bekerja paruh waktu di bengkel mobil untuk menghidupi mereka berdua. Kehidupan mereka mungkin berbeda dari kebanyakan orang, tetapi Aric berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi Elara.
Ketika Elara akhirnya tertidur dengan senyum di wajahnya, Aric meletakkan buku itu dengan lembut di sampingnya. Dia berjalan keluar dari kamar dan menemukan dirinya di balkon kecil yang menghadap kota. Cahaya gemerlap dari jendela-jendela pencakar langit menciptakan lanskap yang indah di malam yang sejuk.
Aric memandang langit gelap yang dipenuhi bintang-bintang, dan dalam keheningan malam, dia merenung tentang masa lalu dan masa depan. Hidup mereka mungkin sulit, tetapi setiap hari membawa harapan baru. Meskipun kadang-kadang merasa lelah dan terbebani, Aric merasa tekad yang kuat untuk melindungi Elara dan memberinya kesempatan yang lebih baik.
__ADS_1
Dia menghela napas panjang, merasa bersyukur atas momen-momen seperti ini. Meskipun mereka telah kehilangan orang tua mereka, mereka memiliki satu sama lain. Dan di bawah langit yang luas ini, di tengah gemerlap cahaya kota, Aric berjanji untuk menjaga adiknya dan memberikan segalanya yang terbaik.