
Matahari terbit di cakrawala, menyinari kota dengan cahaya hangatnya. Aric duduk di tepi tempat tidur Elara, membangunkannya dengan lembut. "Elara, waktunya untuk bangun."
Elara menguap dan menggosok mata dengan mata teler. "Sudah pagi, kak? " Aric tersenyum. "Iya, sudah waktunya. Ayo, kita harus berangkat."
Sambil masih menguap, Elara bergerak lamban menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Aric mengambil pakaian bersih dan membantunya memilih pakaian untuk hari itu. Setelah bersiap-siap, mereka berdua berangkat menuju ke sekolah Elara dan Aric pun berangkat kerja setelah mengantarnya.
Pada saat sore hari tiba, Aric menjemput Elara dari sekolah dan mereka berjalan pulang bersama. Di tengah jalan, mereka berdua berhenti di sebuah padang rumput yang luas. Elara berlari-lari di antara rerumputan, berusaha mengejar kupu-kupu yang terbang rendah.
Namun, kali ini, Elara menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik. Dia berlutut di dekat tanah dan memperhatikan dengan seksama. "Kakak, lihat ini!"
Aric mendekat dan melihat apa yang Elara tunjukkan. Di tanah, terukir lambang aneh yang terlihat seperti lingkaran dengan pola geometris di dalamnya. Aric merasa sesuatu yang tidak biasa tentang tempat ini. "Ini bukan hanya tanda sembarangan. Aku merasa ada sesuatu yang harus kita cari tahu."
Elara mengangguk setuju, matanya penuh dengan rasa ingin tahu. Mereka merasa ada misteri di balik tanda itu, dan mereka merasa harus mengungkapkannya.
Malam harinya, setelah Elara tertidur, Aric duduk di meja di kamarnya, mempelajari gambar lambang itu. Dia membuka laptop lamanya dan mulai mencari informasi tentang tanda tersebut. Dia tidak menemukan apapun yang cocok dengan tanda itu di dunia mereka. Namun, dia merasa ada sesuatu yang aneh terjadi.
Keesokan harinya, Aric dan Elara kembali ke tempat tanda itu. Mereka membawa penggaris, pena, dan kertas untuk mengambil ukuran dan gambar tanda tersebut. Setelah beberapa waktu mengamati dan mengukurnya, mereka memutuskan untuk bertanya pada orang yang lebih berpengalaman.
Mereka mendatangi Pak Thomas, seorang ahli sejarah lokal yang mereka kenal. Mereka menunjukkan gambar tanda kepada Pak Thomas dan menjelaskan tentang penemuannya. Pak Thomas merenung sejenak, seakan mencoba mengingat sesuatu.
"Anak-anak," katanya akhirnya, "tanda ini adalah bagian dari legenda yang sangat kuno. Ini adalah lambang dari dunia lain."
"Dunia lain?" ulang Elara dengan mata berbinar.
Pak Thomas mengangguk. "Tepat. Legenda mengatakan bahwa di dunia lain, ada tempat-tempat misterius dan makhluk-makhluk ajaib. Tapi, sejauh ini, ini hanya cerita yang diceritakan dari generasi ke generasi. Tidak ada yang tahu pasti."
Aric merenung sejenak. Apakah mungkin ada kaitannya dengan tanda ini dan keberadaan portal yang misterius? Dia merasa ada sesuatu yang harus dia temukan.
__ADS_1
Malam harinya, setelah mereka kembali pulang, Aric duduk di kamarnya dengan tanda itu di depannya. Dia merenung dalam keheningan, mencoba mencari tahu apa arti dari semua ini. Mungkin ada hubungan antara tanda itu dan portal yang muncul tiba-tiba di seluruh dunia.
Tapi dalam pikirannya yang kacau, ada satu pertanyaan yang tidak berhenti menghantuinya. Mengapa mereka tertarik pada tanda itu? Mengapa mereka merasa perlu untuk menyelidiki lebih lanjut?
Aric tahu bahwa ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini. Dia merasa dorongan yang kuat untuk menemukan jawaban. Dia tahu bahwa mereka berdua sedang berada di ambang petualangan yang luar biasa, dan dia siap untuk menghadapinya, tidak peduli apa yang mungkin terjadi.
Hari-hari berlalu dengan cepat, dengan Aric yang bekerja keras di bengkel mobil dan Elara yang tetap rajin di sekolah. Namun, tanda aneh yang mereka temukan di padang rumput terus menghantuinya. Setiap malam, Aric merenungkan arti dari tanda itu, sementara Elara terus membaca buku-buku tentang dunia lain dan makhluk-makhluk ajaib.
Suatu sore, ketika matahari sudah mulai terbenam, Aric dan Elara memutuskan untuk kembali ke tempat tanda itu. Mereka menghadapinya dengan penuh rasa ingin tahu, merenungkan misteri yang mungkin tersembunyi di baliknya.
"Kakak, apakah kita benar-benar akan menemukan dunia lain?" tanya Elara, matanya penuh harap.
Aric mengulurkan tangan dan meraih tangan adiknya dengan lembut. "Aku tidak tahu, Elara. Tapi kita akan mencoba mencari tahu bersama."
Mereka duduk di dekat tanda itu, merenung dalam keheningan. Di antara gemericik angin dan kicauan burung di sekitar, mereka merasa ada sesuatu yang menarik mereka ke arah itu, sesuatu yang tak terlihat oleh mata.
Aric mengangkat alisnya, tertarik dengan ide adiknya. "Apa yang kamu pikirkan, Elara?"
Dengan mata berbinar, Elara berkata, "Bagaimana jika kita mencoba menggambar pola ini di tanah dan melihat apa yang terjadi?"
Aric ragu sejenak, tapi kemudian dia tersenyum. "Kenapa tidak? Mungkin kita bisa memahami lebih banyak tentang tanda ini."
Mereka bekerja bersama-sama, menggunakan tangannya masing-masing untuk mengukir pola yang terlihat mirip dengan tanda itu. Setelah selesai, mereka duduk di tengah-tengah lingkaran yang mereka buat, menunggu dengan penuh antisipasi.
Namun, awalnya tidak ada yang terjadi. Mereka merasa kecewa dan hampir siap untuk pulang ketika tiba-tiba, lingkaran di bawah mereka mulai bersinar perlahan. Cahaya lembut yang muncul dari tanah mengelilingi mereka, membentuk jaringan pola yang rumit.
Aric dan Elara saling pandang, terkejut dan tercengang. Mereka merasakan kehangatan dan energi yang mengalir melalui tubuh mereka, memberi mereka perasaan yang tak pernah mereka alami sebelumnya. Namun, ketika cahaya itu semakin terang, kegelapan tiba-tiba mengelilingi mereka.
__ADS_1
Aric mencoba berbicara, tetapi suaranya tertelan oleh kegelapan yang mengelilingi mereka. Dia merasa seperti tenggelam dalam rasa hampa, tak tahu di mana dia berada atau apa yang terjadi. Dia berusaha menggapai tangan Elara, tetapi dia merasa seperti terpisah darinya.
Ketika dia hampir menyerah pada perasaan kehilangan dan kebingungannya, tiba-tiba, cahaya terang memenuhi pandangannya. Dia merasa seperti dia sedang terlempar ke dalam aliran energi yang kuat. Hati dan pikirannya melonjak-lonjak, dan dia merasa seperti dia sedang terbang melalui dimensi yang berbeda.
Ketika cahaya akhirnya mereda, Aric terdampar di suatu tempat yang sangat asing. Dia merasakan tanah di bawah kakinya yang berbeda, udara yang berbeda di sekelilingnya. Dia memandang sekitarnya dengan kebingungan dan kagum.
Dia berada di tengah hutan yang lebat, di mana pohon-pohon menjulang tinggi ke langit. Cahaya matahari yang lembut memasuki celah-celah daun, menciptakan bayangan yang menari-nari di tanah. Dia merasa seperti dia berada di dunia yang jauh dari yang pernah dia kenal.
Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Aric berbalik dan menemukan Elara berdiri di antara pepohonan, matanya penuh keajaiban. Dia juga telah tiba di tempat ini.
"Kakak, apa yang terjadi?" Elara bertanya dengan terkejut.
Aric menggelengkan kepala, mencoba mencari jawaban yang hilang. "Aku tidak tahu, Elara. Kita sepertinya berada di tempat yang sama sekali berbeda."
Namun, sebelum mereka bisa memahami lebih lanjut, suara derap kaki hewan besar terdengar mendekat. Mereka berdua berbalik dan melihat makhluk yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Hewan itu tampak seperti perpaduan antara kuda dan singa, dengan bulu cokelat keemasan dan mata yang cerdas.
Makhluk itu mendekati mereka dengan hati-hati, namun tidak terlihat agresif. Aric dan Elara merasa heran dan sedikit takut, tetapi juga merasa terpikat oleh makhluk yang misterius itu.
Saat makhluk itu mendekat, suara yang merdu dan aneh terdengar dalam pikiran mereka berdua. "Jangan khawatir. Kamu aman di sini."
Aric dan Elara saling pandang, bingung tentang asal suara itu. Namun, mereka merasa bahwa suara itu muncul dari makhluk di depan mereka.
Makhluk itu melanjutkan, "Kalian telah tiba di Eternia, dunia di mana berbagai makhluk magis dan keajaiban hidup berdampingan. Tidak banyak manusia yang pernah berada di sini."
Aric melangkah maju, dengan masih memegang tangan Elara dengan erat. "Siapa kamu?"
Makhluk itu tersenyum, matanya yang cerdas memandang mereka. "Aku adalah Karion, penjaga hutan ini.
__ADS_1