
Vivi Seorang gadis belia berusia 19th. Periang, ramah tapi dikenal jutek dan judes. Karena vivi seorang yang bicara kadang tidak memikirkan perasaan orang lain, dia seslalu mengeluarkan apa yang ada dihatinya. Itulah dia terkenal judes karena bila tidak suka dengan omongan orang lain dia selalu membalas apa yang menurutnya benar. Padahal sebenarnya dia apa adanya. Tidak bersikap berpura-pura. Hanya kadang sikapnya terlalu tegas.
Vivi tinggal di sebuah kampung dengan orang tua, 2kakak dan adiknya. Kakaknya pertama perempuan bernama Yana, kuliah disalah satu universitas swasta. Yang kedua laki-laki bernama Fano tamat SMA tapi tidak melanjutkan kuliah. Fano ikut membantu Ayahnya karena perekonomian keluarganya sedang bermasalah.
Ayah Vivi seorang petani yang sukses, mempunyai beberapa sawah. Tapi beberapa tahun terakhir sawahnya terpaksa dijual karena sawahnya diserang hama dan tidak pernah menghasilkan lagi. Akhirnya sawah-sawahnya dijual.Sekarang Ibu Vivi berjualan sembako dan Kakaknya Yana terpaksa berhenti kuliah. Karena perekonomian keluarga yang terus menurun.
Vivi sebenarnya ingin sekali kuliah di universitas negeri, tapi apalah daya orang tuanya tidak sanggup untuk membiayai. Dia hanya bisa menangis sedih. Akhirnya dia mengambil kursus komputer selama 1th. Berharap bisa langsung bekerja setelah lulus. Dan akhirnya dia bisa bekerja disalah satu perusahaan, sebagai Customer Service. Dia menjalani hari-harinya dengan ceria.
Sesuai dengan keinginannya yaitu bekerja dan menghasilkan uang untuk membahagiakan orang tuanya.
__ADS_1
Vivi bekerja dengan rajin setiap hari karena dia baru sebagai anak magang, jadi dia bekerja di shift pagi. Dia bekerja dari jam 7.30 sampai jam 16.00.
Tapi kadang ada pegawai yang meminta bertukar shift dengannya. Jadi dia dengan terpaksa harus menggatikan shift malam. Dari jam 14.00-21.00. Padahal vivi takut jika pulang malam karena dikampungnya agak sedikit kolot. Perempuan yang pulang malam sering dilinai negatif oleh warga kampung. Dan vivi juga tidak nyaman dengan para bujang-bujang dikampungnya. Karena bila malam suka berkumpul sambil bermain gitar di depan pos ronda. Dan rumah vivi harus melewati pos ronda itu. Jadi dia sering di goda dengan para lelaki dikampungnya karena vivi mempunyai wajah yang lumayan cantik dan manis.
Bila harus melewati para gembolan lelaki itu, vivi harus siap mental menahan malu. Karena pasti mereka selalu menggodanya. Walaupun tidak pernah kurang ajar, tapi ada salah satu dari mereka yang menyukai vivi. Walaupun banyak yang menyukai vivi, tapi yang sudah jelas terang-terangan menyatakan cintanya ada satu orang. Dan vivi menolaknya karena dia tidak mau berpacaran dengan orang dikampungnya. Tapi walaupun sudah ditolak, orang itu tetap saja saja mendekati vivi.
Hari ini terpaksa vivi harus pulang malam, karena menggatikan salah satu pegawai yang shift malam. Dan saat harus pulang dia harus melewati para kumpulan lelaki yang berkumpul dipos ronda dikampungnya.
Vivi ngedumel karena dia kesal tiap malam pasti para lelaki berkumpul dipos ronda, sambil bernyanyi dan ngopi-ngopi cantik. Eh salah ya, harusnya ganteng.
__ADS_1
Hehe… tapi mereka gakda yang ganteng merurut gw. Vivi cekikikan sendiri didepan kantornya. Dan kebetulan tukang ojek yang dipesan Vivi dateng pas disaat dia sedang tertawa sendiri.
“Mba Vivi ya? Tanya kang ojek.
“Eh iya pak. Jawab Vivi agak kaget karena tiba-tiba ojek yang dipesan sudah muncul didepannya.
“Eh mba ketawa sama siapa? Mba kan cuma sendiri dan mba juga gak lagi nelpon.
“Kepo banget sih dalem hati Vivi. Tapi dia cuma melengos tapi tidak menjawab pertanyaan kang ojek.
__ADS_1
“Awas lho mba ini malem jum’at, saya takut mba nya ada yang ngikutin.
“Ih apaan sih pak? Kepo banget. Udah buruan gak usah banyak omong. Ucap Vivi kesal.