
“Oh ya kalau gitu aku ke mejaku dulu ya mas. Pamitku…
“Iya… hanya jawaban singkat mas guna.
Jam Istirahat siang dikantor. Sekalian jam makan siang, aku biasa membeli makan siang dikantin belakang bersama mba Nina. Kami akan makan disana sambil mengobrol ringan. Tapi sepertinya mba Nina sudah pergi duluan. Jadi aku terpaksa berangkat sendirian.
Ketika aku keluar kantor menuju kantin, tiba-tuba mas guna menyusulku.
“Mau makan siang ya Vi, bareng mas ya?
“Eh memang mas Guna mau makan apa? Aku tambah was\-was dengan mas Guna kenapa dia mau makan bareng denganku. Padahal biasanya dia makan siang selalu didalam kantor. Karena Para petinggi di kantor ini sudah disediakan makan siang. Sedangkan staff biasa hanya diberi uang makan. Dan membeli makan diluar kantor.
“Bosen Vi, makan makanan kantor.
“Oh… Jadi mas mo makan apa? Tanyaku.
“Vivi mau makan apa? Mas pemakan segala kok, gak pilih-pilih makanan. Ucapnya sambil tersenyum.
Aku tertawa mendengarnya
dalam hati berkati karnifora dong nih orang.
“Kok ketawa Vi? Beneran mas itu orangnya gak neko-neko soal makanan. Apa yang disediain semua dimakan, yang penting halal.
“Hem, apa ya aku juga sih gak terlalu pemilih soal makan mas, cuma ada yang beberapa aku kurang suka aja. Biasanya aku makan dikantin belakang cuma jam segini kayaknya menunya udah mau abis deh, soalnya ini udah jam mau jam 13.00 mas kalau tadi jam 12.00 pasti masih lengkap. Cuma ya memang harus agak rebutan karena ramai. Aku menjelaskan padanya. Karena tadi aku juga Sholat dzuhur dulu dan mencari mba Nina makanya agak telat makan siang.
“Kita makan Bakso didepan aja ya. Soalnya ini udah lewat jam istirahat, kita gak bisa lama-lama. Ucap mas Guna
“Oh ya udah ayo, ucapku
“Kamu gak apa-apa kan kita makan di warung bakso? Sebenernya mas pengen ajak Vivi ke Rm.Langganan mas, cuma waktunya terlalu mepet nih.
“Eh gak papa lah Mas, aku malah doyan sama bakso. Cuma kadang males aja kalau sendirian makannya.
__ADS_1
“Oh pas banget kalau gitu. Mas temenin makan baksonya.
Sesampai di tempat Bakso. Mas Guna memesan 2 porsi. Bakso disini termasuk laris dan enak. Pengunjungnya selalu ramai dan tempatnya juga nyaman. Kami memulai menyantap bakso. Dan mas Guna memulai berbicara.
“Vi, kebetulan ini cuma kita berdua, mas mau bicara serius sama kamu. Tentang yang tadi mas bilang ke Vivi kalau ada hal yang ingin mas sampaikan.
Aku mulai panik, ya ampun mas guna kok mau ngomong serius diwarung bakso. Kalau didenger pengunjung disini kan gak lucu. Yang ada orng-orang pada ketawa dan pasti aku malu banget. Masa mau menyatakan cinta di warung bakso.
Astaga ini mas guna bener-bener gak tau malu, pikirku.
“Ehm aku bedehem. Emang penting banget ya mas, kok ngomongnya di warung bakso sih.
Mas guna agak bingung dengan ucapanku.
“Ya, lumayan penting sih Vi, soalnya butuh cepat. Karena mas harus segera dapat orangnya.
Hah, aku bertambah bingung dengan ucapan mas guna.
“Maksudnya gimana ya mas?
Aku terbengong mendengarkan mas Guna bicara. Astaga kegeeran banget deh ya pikirku, kirain mas Guna ada perasaan khusus ke aku. Eh gak taunya dia bermaksud baik ingin menawarkan pekerjaan.
“Kok bengong Vi? Tanya mas Guna
“Eh…Uh… gak kok cuma agak kaget aja. Gugupku. Karena dalam hatiku aku malu udah berpikir yang tidak-tidak.
“Jadi gimana, Vivi mau gak jadi sekretaris ditempat teman mas?
“Ehm… kayaknya Vivi gak bisa deh mas, Vivi takut ngecewain temen mas. Soalnya Sekretaris bukan jurusan dan keahlian Vivi.
Ucapku padahal dalam hatiku sangat ingin menerima pekerjaan itu. Tapi apalah daya, aku sadar akan kemampuanku bukan dibidang itu.
“Ini juga cuma sementara kok Vi, nanti kalau sekretarisnya sudah selesai cuti Vivi boleh berhenti. Tapi siapa tau Vivi cocok kerja disana. Vivi bisa seterusnya disana dan bekerja sesuai bidang yang Vivi mau. Maksud Mas menawarkan ini untuk batu loncatan buat Vivi agar dapat berkarir dan bekerja ditempat yang lebih nyaman Vi.
__ADS_1
Aku tersentuh dengan niat baik mas Guna. Tapi tetap saja aku takut mengecewakannya. Sudah merekomendasikan aku, aku takut nanti temannya tidak puas akan pekerjaanku. Yang ada temannya bila mau memberhentikan aku bekerja jadi tidak enak dengan mas Guna. Aku hanya ini mendapat pekerjaan dengan jerih payahku dan sesuai keahlianku. Bukan dari orang lain. Karena aku tidak mau berhutang budi dengan siapapun.
“Makasih banyak sebelumnya mas, atas penawarannya. Tapi mohon maaf Vivi tidak bisa menerima pekerjaan itu. Bukannya tidak mau, sebenarnya vivi mau banget. Cuma Vivi gak yakin bisa melakukan pekerjaan dibidang itu. Jadi vivi gak mau mengecewakan mas dan teman mas itu.
Hhm mas guna menggela nafas.
“Ya udah deh kalau itu keputusan Vivi. Eh udah yuk balik ke kantor, udah lewat ini jam istirahatnya.
“Eh iya mas, yuk.
Sambil berdiri aku langsung keluar dari warung bakso dam mas guna pergi membayar di kasir.
Kami berjalan beriringan menuju kantor. Dan kulihat Mba Yani sudah ada di meja tempat kami bekerja. Karena kami bertugas berdua.
Aku dan mas guna masuk bersama, dan seketika mba yani melihat ke arah kami. Mas guna menyapa mba Yani
“Hai Mba, udah makan belum?
“Udah dari tadi Gun, kamu aja yang kelamaan. Ini udah jam berapa coba? Ucap mba yani sambil melirik jam dinding yang ada dikantor.
“Aku tadi telat makan mba, aku sama vivi tadi keluar makan bakso didepan jam 1. Cuma setengah jam doang mba, ini kan baru jam setengah dua. Jawab mas guna sambil melihat jam tangannya.
“Oh yaudah kalau gitu. Vivi sini buruan ada yang mau mba kasih tau ke kamu.
“Iya mba, aku bergerak menuju ke samping mba yani.
“Eh mas Guna, makasih tadi traktirannya. Ucapku sambil melihat kearah mas guna.
“Iya. Jawab mas guna sambil berlalu
“Mba yani, tadi mau bilang apa ya? Tanyaku mengigat ada hal yang mau disampaikan mba yani.
“Oh iya vi, ini nanti mau ada tamu penting namanya pak setyo. Itu tamu pak Ridwan, nanti kalau udah dateng kamu langsung persilahkan ke ruangan pak Ridwan ya. Soalnya mba mau keluar bentar, ada perlu. Takut mba belum pulang, pak Setyo udah datang.
__ADS_1
Pak Ridawan adalah pemimpin perusahaan ditempatku bekerja.
“Iya mba. Jawabku.