
Alarm dari hpku berbunyi, aku segera mengambilnya untuk mematikan suara alarm. Jam menunjukkan pukul 04.30.
Aku segera kekamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholat subuh. Walaupun dengan malas, karena ibuku kalau sampai jam 05.00 aku tidak bangun untuk sholat. Pastinya akan menarikku dengan paksa kekamar mandi.
Selesai Sholat subuh, aku mengambil hp dinakas. Dan membaca pesan dari Ardi yang belum terbaca semalam.
Tapi ternyata dia juga mengirim pesan lagi.
“Sayang udah bangun Sholat subuh belum?
Jangan lupa sarapan juga ya…
Aku tersenyum membaca pesannya. Karena merasa dia seorang yang cukup sholeh juga karena menjalankan kewajiban umat muslim, yaitu sholat. Karena sekarang ini banyak orang yang lupa pada sholat 5waktu. Padahal ini adalah tiang agama. Walaupun aku juga bukan orang yang ahli agama, tapi aku berusaha untuk selalu menjalankan sholat 5 waktu. Karena sudah kebiasaan dari kecil, kedua orang tuaku selalu memaksakan anak-anaknya untuk tidak meninggalkan Sholat dimanapun berada. Mungkin karena didikan orangtuaku. Walaupun pertamanya harus disuruh & diingatkan tapi lama-lama menjadi kebiasaan. Jadi kalau belum sholat pada waktunya, aku merasa ada yang kurang dan tidak tenang. Merasa ada beban di hatiku.
“Udah, ini baru selesai sholat. Kamu udah sholat? Tanyaku
“Udah dong sayang. Aku juga do’a in kamu lho.
Semoga kamu segera menerima aku jadi kekasihmu. Semoga do’a ku segera diijabah Allah SWT. Aaamin…
Deg… Aku sedikit kaget dengan balasannya.
Apa benar dia memintaku padamu ya Allah… Hatiku jadi tersentuh, dan ingin menerimanya jadi kekasihku.
“Gak boleh minta yang aneh-aneh lho sama Allah. Balasku
“Lho apanya yang aneh? Aku beneran lho ingin kita manjalani hubungan yang serius. Aku gak main-main sama kamu. Aku deketin kamu karena beneran sayang kamu, dan ingin menjalin hubungan ke yang lebih serius.
“Eh udah jam 06.00, aku mo mandi dulu ya, kita jadi berangkat bareng kan. Jangan telat ya, dah ya aku mandi dulu takut terlambat.
Aku kembali mengalihkan pembiraan lewat pesan ini.
“Iya.
hanya pesan singkat balasannya.
Mungkin dia kesal dari semalam aku selalu mengalihkan topik bila membahas masalah hati.
Setelah sarapan nasi uduk yang dibelikan ibu. Aku hendak bersiap berangkat ke kantor. Kebiasaan ibu setiap pagi membeli nasi uduk kampung yang dijual didekat rumahku. Dia jarang membuat sarapan, karena ibu bilang membeli nasi uduk bisa membantu penjualnya. Karena dikampungku perekonomian warganya banyak yang pas-pasan.
Aku pamit kepada kedua orang tuaku untuk berangkat ke kantor. Setelah mencium kedua tangan mereka aku bergegas keluar rumah. Dan berjalan kaki menuju tempat yang biasa Ardi jemput, apabila kami ingin bertemu.
Jam menunjukkan pukul 7.05 aku pikir Ardi mungkin belum datang jadi dengan santai aku berjalan.
__ADS_1
Tapi dari kejauhan aku melihat motor Ardi sudah berada di Gang, Tempat kami sering bertemu. Kami sengaja memilih Gang, karena disini tempatnya lumayan sepi. Hanya dilewati para petani yang ingin kesawah. Tapi mereka sudah pagi-pagi sekali berangkat. Jadi jarang ada orang lewat. Aku yang pertama kali memilih tempat ini untuk bertemu, karena aku takut ketahuan oleh bapak. Karena bapakku galak, bapak termasuk orang yang kolot. Dia ingin anaknya bila dekat dengan laki-laki berarti itu adalah calon suaminya. Jadi aku takut bila dilihat aku jalan dengan lak-laki bapak akan langsung menikahkanku. Jadilah aku secara sembunyi-sembunyi jalan dengan lelaki. Karena bila sudah yakin dia adalah calon imamku maka aku akan memperkenalkannya ke bapak. Mungkin dari sinilah aku tidak ingin cepat-cepat memutuskan untuk menjalin hubungan dengan lelaki. Karena aku ingin orang yang menjadi kekasihku adalah orang yang akan menjadi suamiku.
“Ardi kamu udah sampai, dari jam berapa? Tanyaku
”Udah dari 15menit yang lalu.
haa… aku melongo mendengarnya.
“Lha kan kita janjian jam 7.10
ini masih 7.05 lho.
“Gpp aku sengaja agak pagi, soalnya takut kamu telat. Padahal niat Ardi ingin ngobrol dulu, dia dari tadi sudah menelpon Vivi untuk segera datang tapi karena tidak ada jawaban terpaksa Ardi menggu Vivi sampe datang.
“Oh ywd yuk berangkat, biar gak kelamaan disini. Ucapku
“Siap, tuan putri tersayang.
Jantungku langsung berdetak dan wajahku juga tiba-tiba memerah mendengar ucapannya.
Untung aku sudah berada diboncengan motornya.
Ardi mengendarai motornya dengan santai, sambil mengobrol kami melaju dijalan raya. Tidak terasa sudah hampir sampai dikantor tempatku bekerja. Aku melepas helm yang diberikan Ardi sebelum berangkat.
“Nanti pulan jam berapa? Aku jemput ya? Tanyanya
“Kok dikantin? Kenapa gak disini?
“Disini gakda kursi masa aku nungguin kamu berdiri depan kantor. Nti kalau aku capek gimana? Ucapku beralasan.
Padahal sebenarnya aku gak enak kalu dilihat pegawai kantor. Secara aku baru magang dikantor ini. Aku gak mau dikira tidak serius bekerja karena sibuk berpacaran.
“Oh ya udah kalau gitu. Aku pamit ya… ucap Ardi
Ketika aku hendak berbalik badan, Ardi berkata gak salim dulu sama calon suami.
Blush… wajahku langsung memerah
“Ih apaan sih… Aku segera bergegas masuk ke kedalam kantor.
Dari balik pintu kaca aku melihat Ardi senyum-senyum sendiri. Dan aku juga tersenyum akan kelakuannya.
Setelah absen kantor aku menyimpan tasku dibawah meja tempatku bekerja. Dan aku menuju dapur, untuk membuat minuman hangat.
__ADS_1
Didapur aku bertemu pak guna. Kepala staff pemasaran di kantor tempatku bekerja.
“Eh pak Guna, pagi pak. Sapaku
“Vivi baru dateng, mau buat apa? Tanyanya
“Mau buat kopi pak, biar gak ngantuk. Ucapku sambil tersenyum kikuk.
“Bisa sekalian buatin mas juga gak? ucap pak guna.
“Ehm.. eh iya pak. Aku sedikit gugup dengan dia menyebut dirinya dengan mas.
“Jangan panggil bapak dong, ketuaan. Panggil mas aja ya, biar lebih akrab.
Haa Aku melongo mendengar ucapannya.
“Kok begong, katanya mau buat kopi. Punya mas gulanya dikit aja ya gak usah manis-manis. Takut diabetes. Sambil tertawa dia berucap.
“Oh.. Eh… Iya pak ops mas maksudnya. Aku tersadar akan kebingunganku.
“Mas keluar dulu ya, nanti tolong anterin kemeja mas. Dia tersenyum sambil menepuk pundakku.
“Iy.. iya mas. Jawabku gugup.
Setelah membuat minuman, aku segera keluar dan mengantarkan kopi pesanan mas Guna.
“Ini mas kopinya, sambil metetakkan dimejanya.
“Makasih ya Vi, ucapnya sambil tersenyum.
Dalam hatiku berkata, Eh senyumnya kok manis juga ya. Astaga mikir apaan sih ni otak.
“Iya Mas…
Ketika ingin berlalu dia bertanya
“Vi, nanti sore kamu pulang sama siapa?
“Ehm, sama temen mas. aku sedikit berpikir ada apa dia bertanya. Pasti ada apa-apanya nih.
“Oh mas kira kamu pulang sendiri, ada hal yang mau mas omongin ke kamu.
“Kenapa gak sekarang aja mas? Aku penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan.
__ADS_1
“Ya bukan tempatnya lho, soalnya gak enak kalau ada orang lain yang denger.
Mo ngomong apa sih nih mas-mas, kok gak boleh didenger orang lain. Apa jangan-jangan dia suka ama aku lagi. Pikiranku agak was-was karena dari kemaren pada menyatakan perasaannya ke aku.