Pria Penghibur

Pria Penghibur
3. Pertaruhan


__ADS_3

"Yaish!!!!!!!!" Noel beranjak dari kamar itu. Marah dan takut campur aduk dalam perasaannya. Ia berlarian keluar mencari Yera. Perempuan itu pasti belum begitu jauh. Dengan perasaan gugup setengah putus asa Noel mengitari setiap sudut lantai bawah tempat tinggalnya.


"Yeraaaaa ..."


"Yeraaaaa ..."


"Jangan bersembunyi ..."


"Jangan bersembunyi atau mencoba keluar dari sini!"


"Tidak tahukah kau kalau di luar sana berbahaya!


"Keluarlah!


"Aku ... Aku tidak akan marah atau menyakitimu! Ayo keluar!!"


Tidak ada jawaban ...


Noel berlari ke jalan. Ia berlari sampai sejauh mana sekiranya Yera mampu kabur, tapi ia tak mendapatkan apa-apa. Noel yang putus asa meraba sakunya untuk mencari handphonenya, tapi tak juga menemukan benda itu. Akhirnya ia berlari kembali ke rumahnya. Ia harus menghubungi Baekhyun untuk mengetahui ke mana perempuan itu akan pergi. Dia juga butuh bantuan untuk menemukan Yera. Tapi,apa mungkin mereka akan membantunya?


Dengan nafas yang tersengal-sengal Noel membuka pintu kamarnya. Baru saja ia masuk, ia mendapati Yera keluar dari kamar mandi. Perempuan terkejut mendapati Noel yang tampak berantakan. Yera segera membuang muka saat sadar telah menatap pria itu lalu berjalan menuju kasur dan berbaring membelakang pria itu. Yera benar-benar canggung dan bingung dalam bersikap, demikian pun Noel yang malu sendiri dengan kekonyolannya tadi.


"Aku ... aku, habis berolahraga tadi," Noel beralasan.


"Aku mau mandi." Noel melangkah masuk ke kamar mandi yang ada di kamar itu.


*


“Apa kau bisa bergeser ke sofa itu dulu. Aku harus mengganti sepreynya.”


Tanpa bicara Yera beranjak dari sana.


“Tolong pasang ini di kasur itu?” ujar Noel seraya menyerahkan sprey baru.


Yera menerimanya tanpa berkata sepatah kata pun.


“Aku akan masuk ini ke mesin cuci." Kata Noel lagi seraya beranjak dari sana.


Yera bangun dan melaksanakan tugasnya. Saat menatap kasur itu, Lagi-lagi bayangan pemerkosaan itu muncul di kepalanya. Yera meringis sembari berusaha menepis bayangan itu. Traumanya tak semudah itu hilang. Ia teringat kata-kata Chen. Semua sudah terjadi dan Yera harus memulai kehidupan barunya serta melupakan yang sudah terjadi. Sampai kapan ia terus berperang dengan batinya sendiri yang masih mempersoalkan hal yang sudah terjadi?


Sprey yang serasa ditarik dari arah depan membuyarkan pikiran Yera. Noel tiba-tiba sudah masuk dan membantunya memasang sprey itu.


“Aku sudah menyiapkan bubur untuk makan siangmu. Jadi kau tinggal makannya.”


“Bubur lagi?” Yera hanya bisa bersuara dalam hatinya.


Sebenarnya sejak kemarin kondisinya sudah memungkinkan untuk makan nasi. Bubur hanya membuatnya kenyang sesaat, dan tak lama ia merasa lapar lagi. Kenapa pria itu masih saja berpikir kalau dirinya sakit padahal jelas-jelas Chen sudah mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.


*


Yera kembali menghirup udara segar meski hanya di balkon rumah itu setelah 2 hari hanya terkurung di kamar. Perasaannya jadi sedikit membaik. Perlahan ia melangkah menuju pagar pengaman tempat ia akan melompat untuk membunuh diri.


Noel hanya menatapnya sembari menjemur sprey yang baru saja ia cuci. Pria itu tak curiga sama sekali jika Yera akan melompat lagi dari sana.


Benar saja ...


Yera hanya berdiri di sana sembari menatap ke bawah. Jantung Yera seketika berdesir menyadari betapa tingginya tempat ia berdiri sekarang. Wajar saja.. itu lantai 3.

__ADS_1


“Tinggi sekali bukan?” Noel tiba-tiba berdiri di samping Yera sembari ikut menatap ke bawah.


“Andai saja aku gagal menangkap tanganmu kemarin, mungkin kau akan tergeletak dengan kepala yang hancur, otak yang berhamburan, serta tangan dan kakimu juga terpisah dari tubuhmu. Apa kau pikir kau akan langsung mati tanpa merasakan sakit?


Tentu saja tidak.


Tubuhmu akan menggelepar kesakitan selama satu jam atau bisa saja lebih. Selama nyawamu masih bertahan, artinya kau masih bisa merasakan sakit. Sayangnya proses berpisahnya roh dengan tubuh tak sebentar.


Ya... seperti yang kukatakan tadi. Sekitar satu jam atau lebih.” Noel membual seenak hati dan Yera termakan bualan itu.


Yera bergidik ngeri membayangkan semua itu. Untung saja ia berhasil diselamatkan saat itu.


"Bangunan ini hanya berfungsi bagian atasnya saja. Aku sengaja tidak memperbaiknya agar tidak terlihat bangunannya berpenghuni. Dari luar tampak seperti bangunan yang tak selesai. Tapi kau lihat sendiri ... Lantai atas ini sangat layak huni bukan?


Aku sengaja melakukannya demi menghindari orang-orang yang mencariku. Hanya kau, Chen dan ..." Noel tampak enggan menyebut nama Baekhyun.


" ... Baekhyun." Noel akhirnya menyebutkan nama itu. Ia pikir Yera harus terbiasa dengan keadaannya saat ini.


Noel melirik Yera untuk mengetahui perasaan perempuan itu. Jelas dari sorot matanya, nama yang ia sebutkan tadi benar mempengaruhi perasaannya.


"Ayo masuk." Noel menggenggam tangan Yera dan menariknya ke dalam.


*


"Kenapa? Kau tak suka buburnya?” Noel bertanya setelah menyadari Yera yang belum menyentuh makanannya sama sekali.


“Tunggu di sini, akan kubuatkan yang lain.”


“Aku ingin makan nasi,” ujar Yera membuat Noel mengurungkan niatnya berdiri.


“Kau baru saja sembuh dari sakit. Jangan paksakan perutmu untuk mencerna makanan yang padat.”


“Aku akan menanyakan Chen dulu." Noel mengambil handphonenya.


Yera hanya bisa terdiam dengan sikap Noel. Perempuan itu tampak memijit-mijit dahinya sendiri. Bukan karena sakit kepala, hanya saja sikap Noel ia pikir terlalu berlebihan.


“Apa apalagi?” Suara Chen terdengar risi.


“Ah ... Apa Yera sudah boleh makan nasi?”


“Kau meneleponku hanya untuk menanyakan itu?” Teriakan Chen terdengar hingga ke telinga Yera.


“Aku sudah bilang dia baik-baik saja. Dia sudah sangat sehat! Bahkan kau tak perlu memberinya obat lagi.”


“Baiklah ... terima kasih.” Noel langsung mematikan teleponnya.


"Tunggu di sini, aku ambilkan makananya untukmu.” ujarnya seraya berdiri.


Yera termenung.


Segala perlakuan baik ini begitu asing baginya. Jika selama ini dia melakukan segalanya seorang diri. Ya... meski ia memiliki Baekhyun saat itu. Tapi Yera tak pernah sekalipun merepotkan pria itu. Meski ia sakit sampai hanya bisa merangkak sekali pun, Yera akan berjuang sendiri sampai ia bisa pulih kembali.


"Makanlah ..." ujar Noel seraya meletakkan makanannya di hadapan Yera. Ia juga menuangkan air minum untuk perempuan itu.


Lagi-lagi Noel mendapatkan panggilan. Nama Mory yang terpampang di layar handphone itu sempat terlihat oleh mata Yera.


Perasaan Yera berdesir, ada apa lagi kini?

__ADS_1


"Apa?" Noel menjawab panggilan tadi.


"Aku dengar kau membawa Yera bersamamu! Kenapa kau melakukannya?!"


Suara Mory lagi-lagi terdengar di telinga Yera.


Noel menurunkan handphone dari telinganya.


"Makanlah dahulu, ada yang harus kuselesaikan," ujar Noel seraya beranjak dari hadapan Yera.


"Kenapa kau marah? Bukankan dengan demikian kau bisa memiliki Baekhyun seutuhnya?"


"Ya!! Aku memilikinya seutuhnya sekarang. Tapi apa yang kau lakukan bukankah sama saja mengkhianati pertemanan kita?! Dia baru saja membuat hal buruk terjadi padaku. Dan kau justru menampungnya?!"


"Sebenarnya aku tidak begitu yakin. Buktinya polisi tidak menemukan bukti yang kau tuduhkan itu. Tapi ... sekalipun itu benar aku juga tidak peduli. Hubungan kita tak sampai di mana kau bisa mengatur apa pun yang kulakukan termasuk menampung orang yang kau benci. Kita punya ruang kehidupan yang berbeda satu sama lain di mana tak seorang pun yang bisa memasukinya."


Mori terdiam ... ingin sekali ia berteriak dan memaki pria itu, namun semuanya tertahan di hatinya. Sia-sia saja. Tidak ada ikatan atau hal apa pun yang dapat ia gunakan untuk sekedar mengancam atau menekan Noel.


"Aku tutup dulu. Aku sedang makan siang sekarang."


*


"Kau tak perlu khawatir. Mereka tak bisa mencampuri kehidupanku dengan masalah mereka. Bagiku mereka hanya teman dan pelanggan." Kata terakhir terlanjur meluncur dari mulut Noel. Ekspresi wajahnya yang sempat menegang tertangkap basah oleh Yera. Noel jadi salah tingkah.


"Ah ... tolong rahasiakan itu," pinta Noel salah tingkah.


"Apa Baekhyun mengetahuinya?" Yera bertanya sembari menatap tajam, Noel.


Noel menggeleng, "Apa pun yang kulakukan dengan mereka, itu sifatnya rahasia."


"Apa aku benar-benar sahabatnya? Bagaimana mungkin kau merahasiakan ini darinya?" Yera tak mampu menahan air matanya.


"Itu sudah terjadi sebelum aku tahu Baekhyun menyukainya. Janji tetaplah janji yang harus kutepati."


Yera terdiam. Perempuan itu memutar tubuhnya menghadap arah lain untuk menghindari tatapan Noel.


"Apa kau pikir; jika sebelumnya aku jujur tentang hubungan gelapku dengan Mory, maka Baekhyun akan menghindari wanita itu dan bertahan denganmu, lalu semua yang menimpamu kemarin tidak akan terjadi?"


"Ya!! Seharusnya semua ini tidak akan terjadi jika kau jujur dari awal ...


Aku sudah selesai. Terima kasih makanannya." Yera mengambil piringnya lalu membawanya ke dapur dan mencucinya. Tangisnya tak kunjung berhenti juga. Yera menangisi nasibnya sendiri. Haruskah ia mengatakan hal itu pada Baekhyun? Tapi bagaimana mengatakannya?


Cinta Yera memang luar biasa. Meski jelas-jelas Baekhyun telah mengkhianatinya, ia masih berbaik hati ingin menyelamatkan Baekhyun dari kekecewaan lalu berharap pria itu sadar dan kembali padanya.


Yera tiba-tiba mendapatkan sebuah ide ... Bergegas ia menghampiri Noel yang baru saja bangun dari tempatnya. Pria itu menatapnya heran.


"Aku akan menyerahkan diriku padamu. Kau bisa memperlakukanku sesukamu tapi dengan satu syarat. Aku ingin kau mengingkari janjimu pada Mory dengan mengatakan yang sebenarnya pada Baekhyun. Asal kau mengatakannya saja, aku akan melakukan apa pun yang kau mau."


"Baekhyun aku mengambilmu kembali dariku, itu yang kau harapkan bukan? Lalu bagaimana kau memenuhi syarat itu?"


Yera tertunduk. Sesungguhnya hal itu tak terpikirkan olehnya. Pemikiran itu ia dapatkan lalu ia utarakan tanpa memikirkannya secar mendalam. Benar saja. Bila Baekhyun mengetahuinya, ia marah dengan Mory juga Noel. Bisa saja Baekhyun menyelamatkannya juga dari tangan Noel. Akh ... sekarang semuanya jadi terasa mustahil. Sekalipun ia kabur dari sana menemui Baekhyun dan mengatakan yang sebenarnya, tentu saja Baekhyun tidak akan mempercayainya.


"Aku akan melakukannya untukmu. Aku juga akan membawamu untuk menyaksikannya sendiri. Jika hasilnya Baekhyun akan membenci Mory seperti yang kau harapkan, juga membenciku lalu dia memintamu kembali dariku. Aku akan memberikannya."


Yera hampir tak percaya mendengar pernyataan Noel. Yera terperangah sampai tak mampu mengatakan apa pun.


"Malam ini ....

__ADS_1


Malam ini aku akan menemuinya dan mengatakan semuanya. Aku juga akan membawamu untuk mendengarkannya sendiri."


__ADS_2