Pria Penghibur

Pria Penghibur
Tempat Paling Aman


__ADS_3

Langit-langit kamar menjadi pemandangan pertama ketika Yera membuka matanya. Kepalanya terasa sakit membuat ia kesulitan untuk memejamkan matanya kembali. Yera mengangkat tagannya untuk memijat kepalanya yang sakit. Tapi, ia bahkan kesulitan menggerakkan tubuhnya sama sekali. Yera mengamati tubuhnya dengan menundukkan kepalanya. Barulah ia tersadar, tubuhnya terkunci dalam lilitan selimut. Saat itu pula Yera menyadari ia berada di sebuah ruangan asing.


"Apa yang terjadi semalam?" Pertanyaan itu menghantui pikiran Yera. Jantungnya berdesir mengingat tubuhnya yang kini dililiti selimut. Bola mata Yera secara perlahan bergulir ke samping. Samar-samar ia melihat sosok lain tengah berbaring di sisinya. Jantung Yera berdetak tak karuan. Ia mulai takut mungkinkah semalam dirinya sudah tidur dengan orang itu, tapi siapa?


Rasa penasaran membuat Yera memberanikan diri memalingkan kepalanya untuk menatap sosok itu.


Noel tengah tidur terlentang dengan pulasnya. Ketakutan Yera perlahan luruh. Detak jantungnya perlahan normal kembali. Secara tidak langsung dan tanpa di sadari, hati Yera sesungguhnya sudah lebih dalam menerima dan mempercayai Noel dalam hidupnya.


"Kau sudah bangun?"


Yera tersentak. Perasaan baru beberapa detik yang lalu Yera melihat pria itu masih terlelap dalam tidurnya.


Noel menghampiri Yera. Meraih punggung perempuan itu seraya melepas ujung selimut yang diselipkan di belakang tubuhnya. Sembari mendudukkan Yera, Noel membuka lilitan selimut yang membungkus tubuh Yera.


"Aku baru pindah ke sini pagi tadi. Melihatmu tidur pulas, aku jadi tak berniat melepas selimut yang melilit tubuhmu. Jadi sambil menunggumu bangun, aku berbaring di sebelahmu dan tertidur."


"Jam berapa sekarang?"


Noel meraih handphonenya di kasur itu, mengusap layarnya untuk melihat jam digital di sana.


"Pukul 10.00 lewat.  Apa kau mau pulang sekarang? Atau kau mau mandi dan sarapan dulu?”


"Aku tak punya pakaian ganti.”


"Aku akan meminjam pakaian Chen."


"Tidak usah!” Cegah Yera cepat .


"Tidak apa, Chen adalah saudaraku, berarti dia saudaramu juga. Sesama saudara sudah biasa saling pinjam pakaian. Aku sudah biasa meminjam dan tidak pernah mengembalikan. Barang yang kupinjam akan kembali sendiri jika tuanya membutuhkannya di rumah."


"Tapi ..." Yera mencegah Noel yang hendak bangun dari sana.


"Kau sudah menjadi bagian dari kami. Tunggulah di sini," ujar Noel seraya bangun dari sana.


"Tapi aku masih belum merasa sedekat itu dengan kalian."


Yera tiba-tiba teringat akan kejadian yang menimpanya semalam. Yera teringat bagaimana upayanya melarikan diri dari Baekhyun hingga akhirnya dia terjebak dalam selimut itu. "Di mana dia sekarang? Apakah masih di rumah ini?"


Pintu yang terbuka menyadarkan Yera dari pikirannya. Noel datang membawa pakaian di tangannya.


"Aku hanya membawa atasannya saja. Celana Chen pasti tidak ada yang muat untukmu."


"Terima kasih," ucap Yera seraya bangun dari sana. Meski penasaran, ia merasa enggan menanyakan keberadaan Baekhyun dengan Noel.


***


"Apa hubunganmu baik-baik saja?" Tanya Chen yang menyadari perubahan pada diri Baekhyun.


Baekhyun menggeleng.


"Tapi di hatimu kau masih mencintainya bukan?"


"Entahlah, aku sendiri tidak mengerti apa yang kurasakan saat ini. Aku juga tidak tahu apa yang dia rasakan. Kami hanya berpura-pura seakan hubungan kami baik-baik saja. Itulah yang lebih jelas terasa."


"Apa perasaanmu akan kemabali  bila apa yang kau harapkan darinya, bisa ia beri padamu?"


Baekhyun mengangguk. "Ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan dariku. Aku selalu mengalah untuknya. Sekarang aku merasa lelah mengikuti segala keinginannya yang jika tak terpenuhi akan menjadi seperti ini. Aku juga lelah bersandiwara seakan kami baik-baik saja."

__ADS_1


"Lalu apa keputusanmu sekarang?"


"Saat ini ... aku hanya ingin beristirahat sejenak. Aku akan melakukan jika sandiwara itu dibutuhkan, tapi tidak jika aku harus datang lagi padanya. Aku tidak akan mengalah lagi untuk mengobati luka yang sebenarnya ia buat sendiri."


Chen tersenyum menanggapi kalimat terakhir sahabatnya itu. Nyatanya Baekhyun menyadari sendiri cintanya memang buta. Pada akhirnya ia lelah diperbudak oleh perasaannya sendiri, bahkan secara tidak langsung menjadi budak kekasihnya sendiri. Ia juga merasa miris dengan kepura-puraan Mory dan Baekhyu di hadapan ia juga Noel dan di di hadapan teman-teman Yera semdiri. Sayangnya sandiwara itu tidak berguna di hadapan Chen.


"Apa kau yang mengurus Yera semalam. Seingatku aku dan  Noel juga mabuk dan kau datang mengurus kami."


"Aku hanya mencegahnya pulang sendiri."


"Bagaimana rasanya mengurus mantamu sendiri?" Selidik Chen seraya tersenyum lebar.


"Kenapa kau menanyakan itu?"


"Kau sedang ada masalah dengan Mory. Sedikit banyak kemunculan Yera dan tindakan sekecil apa pun akan mempengaruhi perasaanmu bukan?"


Baekhyun terdiam tanpa berani menatap Chen. Perkataan Chen ada benarnya. Pengaruh itu ada walau hanya sedikit, dan Baekhyun akan menjaganya supaya tidak bertambah banyak.


"Kau tak perlu menjelaskannya karena aku dapat merasakan apa yang kau rasakan. Kau harus tetap menjaganya agar tidak bertambah semakin banyak. Noel sudah mendapatkan impiannya selama ini. Jangan hancurkan itu."


***


Noel tampak bahagia menyiapkan menu makan siang bersama Yera. Apalagi perempuan itu teelihat dengan senang hati membantunya. Yera sudah tak terbeban sama sekali. Entah sejak kapan wajah perempuan itu tampak biasa sekaan ia sudah lama menjalani kehidupannya yang seperti sekarang ini. Sekarang mereka tampak seperti sepasang suami istri yang sesungguhnya. Hanya saja Yera tampak masih kaku dan belum seakrab itu dengan Noel.


"Akh panas ..."


Spontan Yera menoleh, menyaksikan tingkah konyol Noel yang mendongkakkan kepalanya ke atas sambil terus mengunyah makanan panas itu dalam mulutnya.


Yera mengambil tisu kemudian memberinya pada Noel. Air mata pria itu berderai setelah berusaha menahan sakit akibat panasnya makanan yang ia kunyah dalam mulutnya.


"Terima kasih," ucapnya seraya menghapus air matanya sendiri.


"Benarkah? Aku tidak akan melakukannya lagi," sambut Noel seraya membuang tisunya ke bak sampah.


"Setelah makan siang, bagaimana kalau kita mengantar makan siang ke Chen juga?"


"Dengan pakaian ini? Yera menatap pakaianya yang jelas kebesaran di tubuhnya. Kita ke sana, tapi aku akan menunggumu di mobil."


"Em ... kita ke toko pakaian dulu, lalu kita akan mendatangi Chen ke rumah sakit.”


"Aku tidak mungkin ke toko pakaian dengan pakaian ini. Orang-orang akan melihatku, aneh."


Noel mengangguk-angguk. "Kalau begitu kita pulang mengganti pakaianmu, lalu mengantar makan siang ini ke Chen, setelah itu kita jalan-jalan, bagaimana?"


"Jalan-jalan?"  Sudah lama hal itu tidak terbayangkan olehnya. Bisa jalan-jalan dengan begitu bebasnya dan membeli apa yang ia mau atau menikmati makanan yang ia suka. Yera ingat ia masih punya sedikit tabungan hasilnya bekerja. Rasanya ia masih segan jika Noel yang mentraktirnya. Tapi, bagaimana ia mengambilnya. ATM-nya sudah lama hilang semenjak kasus penculikan dan penyekapan itu. Tapi akan sayang sekali jika uangnya tidak diambil. "Apa Noel mau mengantarku mengurusnya?"


Yera jadi teringat akan kehidupannya sebelumnya. Ia jadi berpikir untuk kembali seperti  pada kehidupan sebelumnya tak apa dengan Noel di sisinya. Apakah bisa seperti itu?


"Ayo makan. Kau bisa mengatakan isi pikiranmu padaku sambil makan." Ujar Noel yang sadar Yera tengah memikirkan sesuatu setelah mendengar kata 'jalan-jalan' tadi.


"Apa kau takut?"


Lagi-lagi perkataan itu menjadi buah pikiran Yera. Benar saja. Hidupnya sudah tidak sebebas dulu lagi.Bagaimana mungkin ia bisa berpikir tentang jalan-jalan yang menyenangkan. Sampai sekarang dirinya masih menjadi incaran para penggemar Mory. Mustahil baginya kembali menjalani hidupnya yang dulu. Saat ini, di sisi Noellah tempat yang paling aman baginya.


"Kau tidak perlu takut. Asal kau di sisiku, aku pastikan kau akan selalu aman. Aku pasti melindungimu."


Deretan perkataan Noel sperti dialog drama yang kerap Yera dengarkan. Kali ini kata-kata itu ia dengar secara langsung dari Noel yang juga menjadi sosok pujaan para gadis seperti dalam drama. Akankah nasibnya benar-benar semanis cerita dalam drama itu? Yera jadi pesimis dengan hidupnya sendiri. Rasanya terlalu mustahil. Morylah yang hidup seperti dalam drama. Meski drama itu ia buat sendiri.

__ADS_1


"Aku masih punya uang di ATM-ku, tapi kartu ATM-ku juga hilang saat mereka  membawa dan menyekapku dulu."


"Buku tabunganmu masih adakan? Kita akan mengurusnya nanti."


"Ada, tapi di kontrakan."


"Baiklah ... kita akan ke sana setelah mengantarkan makan siang untuk Chen. Kita akan mengambil beberapa barang yang kau perlukan di kontrakan."


Yera mengangguk seraya tersenyum.  Tak sekalipun Noel berniat mengabaikan sahabatnya di saat ada kepentingan yang lain. Yera sendiri tak keberatan dengan itu. Ia justru kagum dengan sikap persahabatan Noel pada Chen. Pantas saja Chen terlihat begitu baik pada Noel juga dirinya.


"Saat ini rumahku adalah tempat paling aman. Maaf, jika aku tak bisa membiarkanmu sendiri. Kau akan baik-baik saja di rumahku."


***


Atas saran Chen, Yera akhirnya memutuskan untuk pindah ke rumah Noel dan tinggal di lantai atas rumah itu sementara Noel di lantai ke dua. Dengan bantuan ahli bangunan, ruang-ruang dalam rantai dua itu berhasil direnovasi dalam waktu kurang dari seminggu. Pada dasarnya keduanya tetap tinggal serumah. Hanya saja rumah itu diperluas sedikit karena sekarang akan ditempati oleh dua orang. Noel dan Yera jadi punya kamar masing-masing. Namun beberapa tempat seperti dapur, ruang keluarga, ruang tamu dan lain-lain tetap ditempati bersama. Alasan lainya adalah karena bertambahnya barang-barang di rumah itu karena Yera membawa semua barang-barangnya dari kontrakannya yang lama.


Yera tersenyum puas melihat hasil tataannya sendiri. Lantai atas itu selain terdapat kamar tidurnya sendiri, kini ruang lainya telah di sulap menjadi ruang santai untuk ia, Noel, juga Chen. Dapur tetap bertahan di sana karena butuh kerja ekstra lagi jika harus dipindahkan ke lantai dua. Sementara di lantai dua ada satu kamar untuk Noel juga ruang tamu yang luas.


"Jika kau merasa sungkan tinggal berdua dengan Noel, perluas saja ruanganya. Jadi ruang gerakmu tak lagi terlalu terbatas bukan? Kalian hanya suami istri yang belum terikat pernikahan." Kata-kata Chen kembali terngiang dalam benak Yera.


Sebenarnya Yera sendiri belum bisa membayangkan seperti apa kehidupannya ke depan. Apakah selamanya ia akan bersama Noel. Nyatanya ia sudah menjalaninya sekarang. Yera hanya tak bisa membayangkan kelanjutan hubungan mereka. Jika tinggal serumah seperti ini. Bukankah seharusnya mereka menikah. Tapi Yera sendiri masih belum bisa menerima Noel seutuhnya dalam hidupnya. Apalagi dengan kehidupan Noel yang sekarang.


"Wuaaaah ... apa tempat ini hanya akan menjadi ruang tamu?" Suara Chen bergema dari lantai bawah. Yera berlari kecil untuk melihat kehadiran Chen.


"Kenapa kau lama sekali? Perutku sudah sangat lapar," protes Noel sembari berkecak pinggang.


"Apa dapurnya masih di atas?" Chen tak menggubris pertanyaan Noel. "Yeraaaaa ... " Chen memanggil perempuan itu seraya menaiki tangga.


Di ujung tangga Yera muncul seraya tersenyum menyambut Chen.


"Dapurnya masih di atas?"


Yera mengangguk sembari melirik ke arah dapur menunjukkan tempat itu pada Chen.


"Aku membawakan makan malam untuk kita. Noel ... ayo ke atas. Makanlah dulu. Bukankah kau kelaparan."


Noel pun meninggalkan pekerjaannya dan berlari kecil menyusul Chen yang tengah menaki tangga."


"Apa Baekhyun tahu kau merenovasi rumahmu? Awalnya aku ingin mengajaknya. Tapi aku takut suasana akan menjadi canggung," ujar Chen setengah berbisik. Tapi suaranya samar-samar terdengar di telinga Yera.


"Kapan-kapan saja membawanya ke sini. Dia akan terbiasa dengan keadaan ini."


"Aku berharap itu akan segera terjadi, rasanya sangat aneh jika terus seperti ini. Oh ... besok Yuna akan ke sini. Aku harap kalian akan punya waktu untuk  bertemu dengannya."


"Benarkah? Dia seserius itu?"


"Kau pikir kami tak serius?" Ujar Chen seraya memukul punggung Noel.


"Aku hanya tak menyangka meski tinggal di negara yang berbeda, hubungan kalian akan sebaik ini."


"Aku tak salah memilih perempuan bukan?"


Noel tertawa ... "Aku sangat ingin bertemu dengannya, kapan ia datang?"


"Kemungkinan siang. Dia akan tinggal di rumahku."


Mata Noel mendelik hingga ia mendapatkan pukulan dari Chen lagi.

__ADS_1


"Aku tak seburuk yang kau pikirkan ujar Chen yang di sambut tawa keras Noel.


__ADS_2